Pernikahan Sementara Dengan Orang Ternama

Pernikahan Sementara Dengan Orang Ternama
Tragedi Malam Sebenarnya


__ADS_3

Di Tempat Kerja Leony


Siang itu Okta hanya duduk saja melihat kekasihnya lewat kaca jendela, Leony saat itu sedang meeting dengan beberapa rekan model dan desainer disana.


Sepintas perkataan Bobby melintas lagi di pikirannya.


Okta sempat senyum sendiri mengingat kejadian semalam dan tadi pagi, dia berhasil mengerjai Wilona. Sepertinya membuat Wilona kacau adalah hiburan tersendiri buat Okta.


▪▪▪▪


Flash back


Okta mengendong Wilona dan hendak membawanya ke kamar Wilona..


Saat perjalanan ke kamar, Wilona sempat membual dalam keadaan mabuk.


"Kamu tahu Bobby, entah kenapa terkadang aku merasa nyaman saat dia baik, tapi ituuuu sesaat...selebihnya dia tetap menjadi orang jahat.


Dia ... dia Okta si kepala batu, manusia terkejam di dunia, monster yang tidak punya hati


,dia selalu jahat, orang jahat... ORANG JAHAAAT (Okta menghentikan langkahnya memelototi Wilona) dan kekasihnya ... hah dia juga sama jahatnya.


Lalu Wilona memeluk Okta erat..."huuuh aku pusing sekali."


Apa...bicara apa dia ini?.. batin Okta.


Karena badan Wilona seperti teayun-ayun dalam gendongan Okta.


Wilona kembali bangun dan mengakat kepalanya.


"Hah, si kepala batu tetnyata disini, aku ingin memukul kepalanya seperti ini sekali-kali." Wilona melantur.


Plakkk! Wilona memukul kepala Okta.


"Yah seperti ini ... hahahah ini terasa nyata."masih melantur lalu tertidur kembali.


Okta yang semakin kesal akhirnya sengaja membawa Wilona masuk ke kamarnya dan berencana memberikan pelajaran padanya esok hari.


Setelah sampai di pintu


Huuk...huuuk... Wilona menunjukkan tanda ingin muntah..


"Heiii...heeiii jangan muntah...", Okta buru-buru setengah berlari membawa Wilona ke wastafel..


Huuuk...hukk... sepertinya sebentar lagi isi perutnya akan tumpah ke keluar.


"Heeeiii sebentar ... ah merepotkan saja."


Hueeekkk( tumpah ruah\=sensor ^^)


Untungnya semua tepat...Saat sudah sampai di wastafel  Wilona memuntahkan semuanya.


Okta yang masih membopong Wilona merasa jijik dan ingin segera memanggil Judika.


Sial Judika bahkan tidak akan dengar kalau aku teriak dari sini.


Dengan jijik akhirnya Okta membersihkan wajah Wilona..dia membilas wajah leher Wilona..baju yang dikenakannya juga menjadi korban terkena cipratan air dan sedikit muntahnya.


Sialll.


Posisi Okta saat itu benar2 tidak bisa apa2 selain tetap menggendong wilona.


Okta lalu membopong Wilona ke kursi panjang tempatnya tidur waktu itu.


Tampak baju bagian leher dan separuh pakaiannya menjadi basah karena Okta membasuh wajah Wilona tadi.

__ADS_1


Dia ragu-ragu, bagaimana supaya baju yang basah itu bisa lepas dari tubuh Wilona.


Okta mulai dengan memegang tepi baju Wilona, ia mengangkat sedikit memperlihatkan sedikit perutnya. Lalu dia kembali melepas tangannya ... lalu Okta mencoba lagi kali ini tanpa melihat...tapi niatnya diurungkan sekali lagi.


"AAUURGHHH."Saat itu Okta emosi sekali.


Tidak mungkin aku meminta bantuan Judika soal ini.


"Heyyy bangunn. Merepotkan sekali!"


tetap saja Wilona tidak berkutik.


Okta lalu membiarkan Wilona tidur begitu saja dengan baju basah itu.


Saking frustasinya, ia menenangkan diri melihat pemandangan malam lewat balik jendela. Dan saat itulah Okta melihat beberapa lampu rumah di matikan.


Ia mendapat ide.


Akhirnya ia menyiapkan selimut di sebelah kursi tepat disamping Wilona.


Okta mematikan lampu, cahaya malam sedikit membantu Okta segera melepas pakaian Wilona.


Okta berhasil melepas baju basah Wilona melemparkannya di lantai dan


Buru-buru Okta menutup tubuh Wilona dengan selimut lalu menyalakan lampu.


Fiuuuhh ... Okta kemudian berdiri menatap Wilona..sambil berkacak pinggang dan menggelengkan kepala.


Dia tidak menyangka malam itu dikerjai Wilona dengan kemabukannya.


"Ibuuu...ibu..." rintih Wilona.


"Apa? ibu?..kenapa dia selalu menyebut nama ibunya setiap ia mengigau."


"Ibu dingin."


Okta kembali membenarkan posisi selimut pada Wilona.


Okta masuk ke dalam kamar mandi mengambil handuk dan membasahi ujungnya.


Kemudian kembali melap wajah dan tubuh wilona supaya lebih bersih lagi.


Melihat Wilona yang kedinginan Okta kembali mengangkat Wilona yang tertidur pulas ke tempat tidur.


Saat sudah berbaring dan ingin melepas tangannya dari tubuh Wilona. Sedikit gerakan Wilona membuat bibir mereka saling bersentuhan. Membuat Okta kaget dan melepaskan Wilona seketika.


Brukkk!!


Wilona membuka matanya dan dia menatap Okta persis di depan matanya.


"Hm...Okta, si penjahat tidak punya hati...pergi saja kamu bersenang dengannya, pergi sana." Wilona lalu memukuli dada Okta berulangkali tanpa ia sadari.


"Orang jahat..jangan tinggalkan aku sendiri disini.." kembali Wilona berbicara dengan mata terpejam dan tertidur pulas.


Okta yang posisinya masih membungkuk berhadapan dengan Wilona, mencoba tetap membungkuk.


Dia melihat Wilona cukup lama. Hampir saja jarinya berusaha menyentuh pipi Wilona namun diurungkan.


Maaf. batin Okta.


Lalu Okta kembali berdiri dan duduk di sofa sambil memperhatikan Wilona yang tertidur pulas.


Hpnya berdering dan ternyata Leony yang menelpon.


*B**agaimana? apa terjadi sesuatu dengan Wilona*?

__ADS_1


"Ah tidak hanya saja saat ini Wilona sedang mabuk berat.


Aku dan bobby membawanya ke kamar.


Mabuk?


"Ya, mungkin karena dia belum pernah mencoba alkohol sama sekali jadi dia minum dengan asal-asalan."


Hm ... yasudah kalau gitu..kamu juga lanjut istrahat ya.


"Hm..."


Okta tidak berani bercerita secara detail   karena tidak ingin menyinggung perasaan kekasihnya malam itu.


** flashback selesai**


▪▪▪▪


...Di kantor Leony...


"Sayang.... sayang..." Leony berulangkali memanggil Okta.


Okta kembali sadar dari lamunannya "Ah..iya..ada apa?"


"Hari ini aku bisa pulang lebih awal, bagaimana kalau kita belanja dan masak dirumah."


Okta kemudian diam sejenak.


Bobby benar aku harus memperhatikannya, aku sudah membuatnya jauh dalam skenario ini setidaknya aku harus beri perhatianku sedikit untuknya, terlebih saat ini dia sedang sakit.


"Em... Leony..aku minta maaf, sepertinya aku menemani sampai siang ini saja."


"Wilona ya?"


"Em ... ya sebenarya... em...dia tadi saat kutinggal dia tidak enak badan..jadi aku harus memantau kondisinya lagi."


"Apa perlu ke rumah sakit?


Aku sampai lupa menanyakan kabarnya hari ini padamu."


"Iya tidak masalah , sepertinya tidak perlu. mungkin istrahat saja sudah cukup. "


"Baiklah segera pulang, aku takut dia kenapa-kenapa di hotel sendiri."


Okta saat itu diam dan tidak berani mengatakan bahwa ada Judika di hotel.


"Ba-baiklah kalau begitu, aku balik kehotel lagi."


Okta lantas memeluk Leony dan mengecup keningnya.


"Hm hati-hati di jalan..dan salam buat Wilona ya.." dengan tenang dan tersenyum pada Okta.


"Hm.."


Leony menujukkan ekspresi khawatir sambil mengantar kepergian Okta, namun setelah Okta berlalu, ekspresinya berubah.


Wilona...ada-ada saja akalmu.


Leony segera mengambil tasnya dan pulang kerumah nya sendiri dengan kesal.


*****


Bersambung


Eh Leony atau Wilona nih Pak Okta..

__ADS_1


Jangan lupa like nya juga


__ADS_2