
Ketidakhadiran Wilona dalam sidang tentu lebih mempercepat proses sidang dibandingkan persidangan pada umumnya, kali ini bahkan hanya dalam batas waktu dua minggu persidangan yang ketiga yang merupakan penentuan terakhir bisa di selenggarakan.
Dalam waktu yang mendesak itu pulalah Judika berusaha bertemu dengan Henry, yang masih berada dalam penjara. Sebab baginya Henry adalah kunci dari semuanya.
Hampir setiap hari di jam istirahat Judika selalu pergi ke penjara.
Ia meminta Henry untuk mau berterus terang padanya, sebab Judika tidak banyak tahu masa lalu Leony yang sebenarnya.
Pengetahuan Judika hanya sebatas Leony pernah satu sekolah dengan Henry dan sedikit cerita dari guru sekolah, tapi itu bukanlah hal yang sepadan untuk menjadi bukti masa lalu Leony.
"Untuk apa kau menyuruhku bercerita seperti itu?
Kehidupan mereka tidak ada hubungannya denganku lagi."ujar Henry menolak, ia pun hanya terdiam meskipun Judika memintanya terus menerus.
Namun pertemuan itu membuat Judika berkesempatan untuk bercerita pula dengan keadaan perusahaan dan kondisi ibu Henry yang sedikit menurun yang harus di larikan ke Rumah Sakit.
Begitu pun hari-hari berikutnya. Judika selalu datang.
Meskipun Henry sudah tahu alasan Judika adalah untuk membantu tuannya.
Henry tetap mau keluar untuk bertemu dengan Judika hanya sekedar ingin tahu kondisi ibunya saat ini.
Kesempatan itu di manfaatkan Judika untuk menggoyahkan perasaan Henry.
Judika bercerita bahwa Ayah sangat memperhatikan kesehatan ibunya. Begitu juga Okta yang menjadi lebih sering datang ke Rumah sakit untuk menjenguk ibu sambungnya.( Jadi Okta hatinya mulai melembut selembut sutera, padahal sebelumnya ia jarang sekali pulang ke rumah 😅).
Walaupun Judika berharap Henry mau bercerita padanya namun tetap saja Henry terdiam.
▪▪▪▪▪
Kehidupan Wilona
Sudah sebulan lebih Wilona tinggal di rumah bibi, ia membantu bibinya menjahit baju, memang hasil karya jahitan bibinya ini cukup terkenal di desa, mulai dari pakaian biasa sampai pakaian kantoran bahkan beberapa kebaya untuk acara besar juga siap di kerjakan.
Namun orderan sesuai permintaan pasar sedang sibuk-sibuknya dikerjakan saat itu.
Karyawan tailor juga ditambahkan untuk mengejar permintaan konsumen.
Wilona ikut ambil bagian mengelola usaha bibinya. Terkadang ia mengirimkan sendiri beberapa stok pakaian yang dibutuhkan pasar.
Keramahannya dan kecantikannya membuat ia juga dikenal secara cepat di pasar.
Wilona ini seperti Sasaran empuk bagi para ibu-ibu yang bercanda ingin menjodohkan anaknya dengan Wilona.
Karena memang sampai dengan sekarang ini berita perceraian tidak di ceritakan Wilona pada siapapun kecuali bibi dan ayah saja yang tahu, sahabat dan para karyawan kedai pun tidak.
Saat sedang sibuk-sibuknya di pasar, Wilona mendapat telepon dari Judika.
(Satu-satunya orang yang tahu nomor ponsel terbaru Wilona selain ayah, satu-satunya seorang informan yang mau membagikan info mengenai keadaan keluarga Wahardian.)
"Halo ada apa Jud, bagaimana kabar ibu?" tanya Wilona segera setelah nomor Judika muncul di layar ponselnya.
Keadaan ibu terlihat lebih baik dari sebelumnya nyonya.
"Oh, syukurlah kalau begitu."
__ADS_1
Nyonya...
"Ya?"
Saya mohon, nyonya mau menghubungi tuan Okta lagi.
"Ada apa dengannya? dia baik-baik saja kan?
Tunggu ... kalau hanya untuk pertemuan kita, kamu sudah tahu jawabanku kan, aku akan menolak hal itu dari awal."
Bukan nyonya, melainkan pertemuan tuan Okta dengan tuan Henry.
"Kamu ingin aku supaya meminta Okta mengunjungi Henry! seperti waktu itu?"
Benar nyonya. Jika nyonya yang meminta, tuan pasti akan menurutinya seperti waktu itu.
"Tapi ... ada apa lagi?"
Saya juga mencari jawaban dari situ nyonya. Saya mohon.
"Kau tahu kan Jud, selama ini ... kenapa aku mengganti no ponselku."
Saya mohon aktifkan lagi untuk sekali ini saja nyonya ... Hanya sekali ini.
Permintaan Judika ini tiba-tiba menyentuh perasaan Wilona.
"Baiklah ... besok pagi aku akan menghubungi Okta ini semua hanya demi hubungan keduanya."
Baik nyonya. Terimakasih sebelumnya.
Setelah urusan selesai Wilona kembali pulang ke rumah bibi untuk melepaskan lelah.
Leony pasti akan marah kalau aku menghubungi Okta pagi-pagi, mereka kan sudah tinggal bersama.
Karena itu, Wilona memutuskan
menghubungi Okta dengan nomor lamanya yang masih ia simpan.
Yaitu waktu dimana Okta masih berada di kantor.
Dan terjadilah percakapan diantara keduanya;
"Ona ... dimana kamu? bagaimana keadaanmu?
kemana saja kamu selama ini? apa kamu tidak tahu aku sampai putus asa menghubungimu selama ini."
"Sa-saya tinggal di tempat saudara pak."
"*Saudara? k**atakan dimana itu. Kenapa kamu harus pergi menjauh*?"
"Bu-bukan apa-apa. Saya ... saya hanya ingin hidup lebih tenang saja. Tinggal disini membuatku merasa lebih tenang pak."
"Kalau begitu, ijinkan aku menemuimu, Bagaimana mungkin kita berpisah seperti ini.
Kita sudah hidup bersama sekian lama, bukankah sebaiknya kita berpisah dengan cara yang layak. Bagaimana kamu bisa setega itu Ona, berpisah tanpa mengatakan apa-apa padaku."
__ADS_1
Wilona merasa bersalah pada Okta, karena memang benar apa yang di ucapkan Okta baru saja.
"Ba-baiklah ... nanti saya akan kabari pak Okta kalau saya sudah kembali. Tapi sebelumnya ... saya mau bertanya lebih dahulu."
"Bertanya apa?"
"Apakah pak Okta sering mengunjungi Henry?"
"Kau sudah menyuruhku waktu itu, dan juga sudah kuceritakan padamu kalau aku sudah menemuinya bukan?"
"Jadi hanya di waktu itu? lalu ... bagaimana dengan beberapa bulan ini?"
"Tidak ... tidak ada alasan lagi aku bertemu dengannya. Kenapa justru kamu menanyakan soal Henry?"
Namun Wilona enggan menanggapi melainkan terus saja ia bertanya.
"Kalau begitu ... sebelum pertemuan perpisahan kita, pak Okta harus janji untuk bertemu dengan Henry terlebih dahulu."
"Tunggu Ona ... memangnya apa yang harus kulakukan disana?"
"Yah ... yah sekedar bertemu, begitulah seharusnya sebagaimana saudara, hubungan kakak dan adik ya ... hubungan kakak adik." Wilona juga tidak tahu harus memberi alasan apa, namun akhirnya ia menemukan alasan yang tepat.
"Asal kamu tidak mematikan ponselmu lagi, aku janji."
Apa? ... kenapa jadi begini? batin Wilona.
"Se-secepatnya kabari saya ya pak. Kalau begitu saya su-sudahi dulu ya ... saya masih sibuk ."
dan ... Tut-tut-tut .... pembicaraan terputus.
Fiuuuhhh ... maafkan aku yah. batin Wilona.
▪▪▪▪▪
Untuk kesekian kalinya Judika berkunjung ke sel, dan kali ini ia bercerita tentang kisah Wilona selain kabar mengenai ibu Henry yang masih dalam perawatan.
"Sidang perceraian tinggal beberapa hari lagi, bisakah anda membantu sedikit saja.
Sebab saya tahu, Leony bukanlah wanita yang baik.
Dan Wilona ... wanita itu ... dialah yang sudah berkorban untuk segalanya, bahkan perubahan sikap tuan Okta semua berasal darinya.
Saya mohon tuan Henry mau mengerti.
Tolong beri kebahagiaan buat orang tua kalian, juga Wilona yang sudah lebih dahulu mengajarkan kebaikan pada semuanya.
Saya mohon.
Ini semua untuk kebaikan bersama.
Saya mohon tuan ... kebahagiaan orang tua dan keluarga, adalah yang terpenting dari semuanya.
Saya mohon ...."
●●●●●
__ADS_1
BERSAMBUNG
Terimakasih buat para pembaca, mari dukung author dengan tinggalkan jejak berupa vote dan ♡ juga komentarnya