
"Benar, 2 hari lagi kalian akan berangkat ke New Zealand."tutur ayah.
"Tapi !!! ... ayah, masih banyak urusan kantor yang harus saya selesaikan."Okta menyanggah.
"Ah ... tidak apa-apa, kalian harus mengambil waktu untuk berlibur bersama, urusan kantor sementara akan ayah pantau." Berbicara sambil terus tersenyum.
"Hari pertama saja Wilona sempat sakit, kemudian hari berikutnya kalian sudah sibuk bekerja, kapan kalian menikmati waktu bersama kalau begitu ?
Bisa-bisa nanti ayah disebut orangtua kejam karena menyuruh anaknya tetap bekerja setelah kalian menikah."lanjut ayah.
Tiba-tiba Okta mengeserkan duduknya sambil lingkarkan tangannya dipinggang Wilona dari samping.
Terlihat Okta memeluk Wilona dari samping.
Wilona kaget. Melihat ke arah Okta dengan perlahan.
"Bahkan dirumah saja kami sudah bahagia ayah." jelas Okta tersenyum.
Wilona sedikit bergidik mendengar pernyataan Okta, namun ia pun ikut berpura-pura tersenyum.
Cup...Okta kemudian mengecup pipi Wilona, membuat mereka saling beradu tatap dengan kaku dan akhirnya tersenyum kembali.
Wilona pun ikut melingkarkan tangannya ke pinggang Okta dan mencubitnya dengan sangat keras.
(*AAUUUU WANITA INI .... ARGH CUBITANNYA SAKIT SEKALI...* teriak Okta dalam hati.)
"Tidak, kalian harus meluangkan waktu untuk berbulan madu, ini keputusan ayah, setidaknya biarkan istrimu berlibur dan bahagia Oktav." Ayah melanjutkan.
Wah ayah baik sekali, sebenarnya aku juga mau kalau di suruh berlibur ke new zealand pemandangan disana kan indah sekali.( tutur Wilona dalam hati ).
"Kalau begitu saya akan pilih ke Paris saja ayah."
"Paris? hmmm ... boleh juga, tapi bagaimana kalau New Zealand lalu setelahnya kamu bisa lanjutkan ke paris?"
Wah mauuu kapan lagi!!!(batin Wilona excite)
"Tidak ayah, sepertinya honeymoon di Paris saja sudah cukup." Okta dengan yakin menjelaskan.
"Baiklah kalau itu keputusanmu, sebenarnya ayah sudah memesan semuanya supaya kamu tinggal menikmatinya, ya sudah nanti ayah cancel saja ."
Wilona melirik antara ayah dan Okta
Hah, cancel!!! kan sayang sekali ... bukankah ini sudah di pesan?
Orang kaya bahkan tidak memikirkan kerugian apapun, kalau cancel kan cuma berapa persen yang di kembalikan. Keluarga ini benar-benar keterlaluan.
"Nanti biarkan Judika saja yang mengurusnya ayah." Sekali lagi Okta mengecup pipi Wilona dan dilihat lagi oleh semua orang yang ada di sana. Wilona tampak tegang dan malu namun hanya bisa pasrah dan tersenyum saja.
Mereka pun akhirnya berpamitan untuk pulang, di dalam mobilpun tangan mereka masih tetap bergandengan sampai pada saat jangkauan pengawasan ayah sudah menjauh baru kemudian tangan keduanya di lepaskan, namun anehnya sepanjang perjalanan mereka justru menjadi diam saja sampai tiba di rumah.
Setelah sampai di teras rumah, Judika keluar membukakan pintu mobil untuk tuannya, Okta keluar dan berhenti sejenak.
"Jud, setelah ini kamu boleh langsung pulang, dan ini (menyerahkan amplop putih) cancel semuanya, dan segera siapkan perjalanan untuk kita ke paris dua hari lagi. Aku serahkan semua padamu."
"Baik tuan." Judika mengambil amplop putih dari tangan tuannya lalu menundukkan kepala melihat Okta segera masuk ke rumah.
Kebetulan hari itu ada pelayan dirumah yang belum pulang. Sehingga Judika tidak perlu membukakan pintu rumah terlebih dahulu.
__ADS_1
Wilona di mobil melihat Okta meninggalkannya.
Wah ... benar-benar jago akting dia, bisa-bisanya sekarang diam saja meninggalkan aku di sini. Ah, tapi memang apa yang aku harapkan? Wil sadar ...
"Nyonya! " Judika menunggu di pintu mobil sedari tadi.
"Ah, Jud maaf ya." tersadar dan buru-buru keluar dari mobil.
"Nyonya saya permisi."
"Ya, hati-hati di jalan." Menjawab dengan suara lirih, pandangannya tertuju ke pintu rumah dengan tatapan kosong.
Judika akhirnya berlalu, memantau Wilona yang masih berdiri di luar dari kaca spion mobilnya.
Sebenarnya apa yang terjadi hari ini, biasanya mereka selalu ribut di mobil, tapi kali ini mereka berdua diam saja. Dan tiket ini (melihat ke amplop putih sebentar)... apa yang sebenarnya terjadi di sana tadi. batin Judika.
Wilona kemudian masuk ke dalam mengambil sebotol air mineral dan duduk di ruang makan.
Aku ini kenapa sih, kenapa aku bisa jadi sedih, seharusnya kan aku senang acara tadi berjalan lancar lagipula sebentar lagi bisa jalan-jalan ke paris.
Lalu hp berbunyi, rupanya ayah Wilona mencoba menelpon malam itu.
"Ayah."
Hai, Ona bagaimana makan malam hari ini, apa kamu sudah pulang?"
"Iya sudah, baru saja sampai rumah, acaranya lancar ayah, mereka semua sangat baik, apalagi ayah Ardian, dia menyambutku seperti anaknya sendiri."
Hahahaha, ya memang Ardian orang yang sangat baik sejak dulu.
Paris? Sepertinya kemarin Ardian sempat mengatakan New Zealand.
"Ah, ayah tahu soal itu ya?"
Hahaha, iya nak, kemarin Ardian meminta ijin pada ayah juga, tentu saja ayah sangat senang sekali, apalagi kalau putri satu-satunya ayah bisa bahagia, pasti ayah akan selalu ijinkan.
"Iya yah, tapi akhirnya Okta memilih untuk liburan ke Paris saja."
Baguslah kalau begitu, ayah percaya Okta pasti punya tujuan yang menarik untuk kalian disana. Kamu tenang saja Ona, jangan pikirkan ayah. Ayah sangat baik-baik saja. Disini juga banyak karyawan, jadi kamu tidak perlu kawatir soal itu.
"Iya ayah, yang penting obat dan makan jangan pernah lupa ya. "
oooo, tentu saja.
"Yasudah ayah selamat istirahat ya."
Ya,selamat malam Ona.
Kemudian Wilona kembali menaruh hpnya di meja.
"Bicara dengan ayah?" Tiba-tiba Okta sudah berdiri di anak tangga.
"Hmm..." jawab Wilona sambil menganguk.
Okta kemudian juga menuju kulkas untuk mengambil botol air mineral lalu duduk di ruang makan berhadapan dengan Wilona.
"Kamu khawatir pada ayah?"
__ADS_1
"Hmm (mengangguk lagi), belum pernah aku jauh dari ayah, apalagi kita akan keluar negeri." Wilona menjelaskan dengan tangan yang menopang dagu, pandangan mata Wilona tampak sayu.
"Apa aku perlu siapkan penjaga di rumah ayahmu?"
"Tidak perlu, ada teman-temanku, ada Jojo juga dan karyawan lain disekeliling ayah." masih dengan wajah yang sayu.
"Ah laki-laki itu."
Kemudian Okta membuka sedikit bajunya dan di lihatnya pinggang bekas cubitan Wilona tampak membiru.
"Hey, lihat ini, sakit sekali tahu?" Menunjukan lebam biru pada Wilona, Wilona mengernyitkan wajah melihat bekas cubitan yang benar-benar membiru.
"Ah ... maaf."
Wilona tampak menunjukkan muka bersalah saat itu kedua tangannya dikatupkan di mulutnya, sedang Okta sangat senang ketika melihat ekspresi Wilona yang seperti itu.
Kemudian Wilona kembali melihat Okta dengan serius.
"Tapi waktu itu aku benar-benar kaget ketika Pak Okta menciumku di depan mereka." Melawan dengan nada tinggi.
"A-aku, aku ... " Okta tampak gugup.
"Yah tentu saja aku harus tunjukkan itu di depan mereka."
"Tapi, memang harus seperti itu? dua kali?
habis ini aku pasti akan cuci muka berkali-kali, bagaimana Pak Okta bisa berbuat seperti itu dengan santai."
"Apa, cuci muka? hey itu tidak sebanding dengan bekas cubitan ini, mungkin bisa berbulan-bulan baru hilang bekasnya." Okta melebih-lebihkan cerita.
"Makanya juga jangan melakukan 'itu' secara mendadak!" Wilona menjawab dengan emosi.
"Sebuah kebanggaan ada wanita yang bisa kuperlakukan seperti itu, banyak diluar sana berebut menjadikan aku kekasih mereka."
"Aku tidak." Wilona menjawab dengan cepat. membuat Okta tidak bisa berkata-kata lagi.
"Ah, sudah aku mengantuk. Dua hari lagi kita akan ke Paris, besok kamu hanya perlu siapkan baju dan keperluanmu saja, yang lain biar Judika yang atur."
"Ah baju, bagaimana dengan baju yang kupakai ini? Kapan bisa aku kembalikan gaun ini?"
"Kalau kamu tidak mau buang saja."
Okta segera berlalu meninggalkan ruangan.
Wah ... manusia kejam. Ok... ini sudah biasa, makananku setiap hari adalah beradu mulut dengannya. Aku sudah terbiasa, tenang Wilona (mencoba melakukan nafas dalam).
Tapi tega sekali dia bilang buang pada baju semahal ini, baju olahraga jaman sekolahku saja masih ada dan kupakai sampai sekarang. Dasar tidak tahu menghargai.
Wilona yang kesal turut juga naik ke atas menuju kamarnya.
(Yah, bukan Okta dan Wilona namanya kalau tidak bertengkar.^^)
...
Bersambung.
Terimakasih semua sudah mampir sampai episode ini, jangan lupa komentar, saran, like dan juga vote ya.
__ADS_1