
...Kedai ayah...
"Pagi ayah, pagi semua." Sapa Wilona dengan senyum ceria.
Pagi yang cerah Wilona datang di kedai ayah dengan sangat bersemangat, terlebih besok adalah hari libur yang sangat menyenangkan baginya.
"Selamat pagi Kak Wilona," sapa para karyawan.
Sebelum kedai di buka, kebiasaan yang selalu mereka lakukan adalah doa bersama, mereka berkumpul lalu saling memberi semangat satu dengan yang lain.
Tiga karyawan dan juga ayah langsung menuju ke dapur mempersiapkan adonan, satu karyawan menata roti yang sudah siap santap pada etalase kaca dan Jojo yang membuat pengunjung ramai berdatangan, sedang melap kaca jendela.
"Jojo kamu tidak kuliah hari ini?" sapa Wilona.
"Hari ini hanya ekstra saja, jadi lebih baik disini." sambil menyemprot kaca dengan cairan pembersih lalu di gosok dengan semangat.
"Oh begitu, senang ya masih bisa kuliah. Bisa belajar bareng, nongkrong, kumpul dengan orang banyak."
"Em ... bukannya yang enak itu yang sudah dapat pekerjaan? Orang kuliah kan tujuannya supaya bisa kerja!" Jojo menjelaskan dengan senyumnya.
Ya, Wilona pun juga menikmati kehadiran Jojo dikedai, tanpa sadar dia melihat wajah Jojo cukup lama.
Ya ampun Jo, kamu manis sekali. kenapa ada senyum seindah itu ya, sudah murah senyum, manis dan rajin begini pantas saja kedai ayah ramai pengunjung.
Kali ini Jojo tampil trendy, pakaian longgar dengan lengan baju panjang yang di lipat, tangan kanannya penuh dengan gelang bergantungan, dengan sepatu kets andalan ditambah pakai apron hitam milik kedai membuatnya terlihat menarik.
Dari luar kedai ada anak-anak berpakaian seragam sekolah berbisik-bisik satu dengan yang lain.
"Pagi kak Jojo" mereka menyapa dengan bersemangat sambil melambaikan tangan.
Anak-anak sekolah itu menyempatkan melewati kedai ayah hanya sekedar menyapa Jojo.
Sepertinya itu menjadi kebiasaan di pagi hari sekarang, sapaan yang terdengar dari jalan untuk seorang yang bernama Jojo yang memiliki senyum menawan.
Dan dengan santainya Jojo tersenyum, menganggukan kepala dan mengangkat tangan membalas sapaan mereka.
Hanya dengan tindakan simpel Jojo itu saja, sudah membuat mereka kesengsem berat dan berlalu meninggalkan kedai dengan muka berseri-seri.
"Hah, anak-anak sekarang, bahkan wanita sekarang lebih berani mendekati pria lebih dulu." kata Wilona sambil menggelengkan kepala.
"Mereka lucu." Kata Jojo yang masih mengelap kaca sambil tersenyum manis.
Ya ampun Jo, bisa tidak kalau bicara jangan tebar pesona melulu. (batin Wilona)
Lalu Jojo menghentikan lap kaca dan memandang Wilona "Tapi menurutku ... yang lebih menarik adalah wanita yang santai, tidak mementingkan penampilan, rajin dan yang pasti hatinya ... ya aku juga melihat hatinya ." Kali ini bicara Jojo tanpa senyum sedikitpun.
"Hmmm ... memang ada ya Jo?" Wilona tampak berpikir sambil berkacak pinggang melihat orang yang lalu lalang lewat kaca jendela.
"Ada ... dan sayangnya orang nya sedikit bodoh." tersenyum kembali dan melanjutkan kerjanya.
"Bodoh? Hahaha kenapa ada bodohnya? tipemu aneh sekali sih Jo."
"Em... jadi waktu itu aku sedang menunggu hujan berhenti di sebuah toserba, lalu aku melihat seorang wanita yang mengenakan payung duduk di dekat tempat sampah, ternyata dia memindahkan seekor anak kucing yang kehujanan, dia memindahkan di tempat yang aman, setelah itu dia berlari ke toserba dimana aku menunggu hujan berhenti. Dia membeli sesuatu yang sepertinya makanan, lalu berlari lagi menuju anak kucing tadi."
"Wah itu keren Jo, kalau ada orang yang bisa perhatian sama hewan liar seperti itu, pasti memang hatinya baik. Aku juga suka dengan orang-orang seperti itu, itu namanya keren Jo, bukan bodoh." tutur Wilona.
__ADS_1
"Bodohnya dia adalah, dia tidak sadar, tidak memegang payung selama sibuk mengurus anak kucing itu, jadi dia sendiri basah kuyup. Aku penasaran dengan wanita itu, dan lama-lama aku menjadi tertarik dengannya". Menceritakan dengan senyumnya.
"Wah, lucu sekali." kata Wilona sambil tersenyum
"Kenapa tidak kamu dekati saja?"
Menatap Wilona cukup lama dan kemudian tersenyum, "Aku sudah tidak bisa, nasibku sepertinya ... cukup menjadi pengagum rahasia." ulas jojo dengan senyum penuh kehangatan.
"Hah, dia sudah punya pacar? Kamu masih mengaguminya?" Wilona semakin penasaran.
"Ya, bahkan sejak dia punya pacar pertama kali." Jojo mendongakkan kepala ke atas, menatap langit-langit, mulut seperti orang bersiul, melepaskan napas panjang sejenak lalu kembali tersenyum pada Wilona.
Wilona lalu mendekati Jojo dan memegang pundaknya.
"Siapa yang tidak mau sama kamu sih Jo, buktinya kedai ayah seramai ini cuma karena kamu ada disini, kamu adalah orang yang menarik ditambah kamu rajin dan baik, pasti wanita di luar sana beruntung bisa jadikan kamu kekasihnya. Hanya saja kamu kurang berani maju Jo." Wilona menjelaskan sambil menatap Jojo dengan iba.
Kemudian Jojo dengan tenang menatap wajah Wilona cukup lama, pandangan dalamnya membuat Wilona menjadi malu dan mengalihkan pandangannya lalu berlalu menuju meja kasir.
Melihat Wilona berlalu Jojo kembali tersenyum lalu melanjutkan melap jendela yang lain.
Hey kenapa aku jadi berdebar-debar begini sih. Jo bisa tidak tatapanmu di atur jangan seperti itu. Jangan-jangan aku ini juga terpesona seperti anak-anak sekolah di luar tadi ya
(batin Wilona sambil menyibukkan diri di meja kasir).
Pagi berlanjut beberapa pelanggan mulai berdatangan, tak jarang orang berpakaian kantor juga datang hanya sekedar untuk menikmati segelas kopi di pagi hari sebelum beraktifitas.
Ayah sedang sibuk juga di dapur, meskipun roti yang sudah terkenal turun temurun terus dibuat, namun ayah selalu saja bereksperimen menciptakan roti baru. Ayah sangat menikmatinya, sehingga cukup menghabiskan waktu yang lama di dapur.
Siang itu Wilona di datangi dua sahabatnya di kedai. Seperti biasa Jesi sangat antusias dan mencuri-curi pandang pada Jojo yang sibuk melayani pelanggan lain.
"Sudah terima saja, tapi bukanya nanti di rumah saja ya." tutur Petra.
"Ah, disini saja ya, jangan buat aku penasaran." tutur Wilona.
"Jangan Wil, nanti yang lain akan bingung lihat ini." Kata Jesika sambil tersenyum.
"Yasudah, terimakasih ya. Em ... kalian mau minum apa?" Tanya Wilona.
"Em ... aku mau Jojo saja Wil." Kata Jesi dengan muka memelas.
"Hahaha, aku mau Cola saja." Petra menyambung.
"Tapi ... tunggu ... tolong biar Jojo yang antar saja ya, hahahah." Jesika malu lalu menutup mulutnya.
"Iya siap." Wilona tersenyum segera pergi meninggalkan mereka berdua.
Lalu Jojo datang dengan satu tangan yang membawa nampan dan minuman.
"Ini dia, apa kalian mau pesan yang lain." Jojo menyerahkan Cola pada Petra dan Jesika sambil tersenyum. Sedang Wilona masih sibuk melayani pelanggan di kasir.
Melihat senyum yang menawan membuat Jesika justru diam saja, tidak bisa berkata-kata tapi tangannya di bawah meja meremas tangan Petra sangat keras.
"Em ... bagaimana kalau kali ini saya traktir kalian saja, kebetulan Pak Bos tadi buat menu roti varian baru."
"Varian baru? tidak usah nanti kita pesan sendiri saja." Petra menolak, sementara Jesika diam tidak berkutik.
__ADS_1
"Tenang saja, kali ini spesial buat sahabat-sahabat Wilona sejak kecil." Lalu Jojo berlalu meninggalkan mereka.
"Eh ... Dari mana dia tahu kita bersahabat dari kecil?" Petra penasaran.
"Ya tentu saja, pasti ayah Wilona yang cerita padanya." Pada akhirnya Jesi mulai bisa bicara setelah Jojo pergi.
Waktu berlalu dan kedai ayah berjalan lancar saat itu.
...Malam harinya di rumah...
"Kyaaaa, apa yang kalian lakukan, kadonya ... seperti ini?" Wilona menelpon Jesika saat itu. Dipegangnya beberapa pakaian dalam yang tampak menggoda saat itu.
"Hey Wilona memangnya kenapa? Itu adalah barang yang paling berharga yang kamu perlukan saat bulan madu." Jesika tersipu sendiri di kamar.
"Kalian, aku kan tidak ... ," mencoba mengerem kata-katanya secara mendadak.
"Tidak apa? Tidak sabar ya..hahaha, sudah di pakai saja, jadikan malam di Paris itu, malam paling romantis sepanjang sejarah hahahaha." kata Jesika menggoda.
"JESIKAAAA"
Malam pertama apanya, aku saja tidak suka padanya, kalian kenapa berlebihan sekali ... tapi Aku juga tidak bisa mengatakan apa-apa padamu..hiks
"Sudah, segera masukkan dalam koper ya, jangan sampai suamimu lihat sekarang, kan jadinga ngga seru." Tersenyum bahagia.
"Ah ... sudahlah terserah kamu, thanks ya kadonya."
"Ok, sama-sama cantik."
Wilona tidak bisa berkata apa-apa, dia cuma bisa diam sambil menarik napas panjang.
"Kenapa berisik sekali..." tiba-tiba saja pintu kamar dibuka oleh Okta.
Wilona yang saat itu sedang memegang pakaian dalam sudah tidak sempat menyembunyikannya lagi.
Membuat mereka terdiam mematung beberapa saat.
Okta juga kaget melihat apa yang di pegang Wilona membuat ia tanpa berkata-kata langsung pergi ke kamarnya dengan wajah tegang.
Haiiisss, kenapa jadinya beginiiiii, mau di taruh mana mukaku. Wilona gemas menjatuhkan mukanya telungkup ke bed.
...
...Pagi Hari...
Pagi harinya mereka turun dengan membawa koper masing-masing.
Wilona tampil manis dengan baju motif bunga-bunga di padukan dengan celana jeans favoritnya. Sedang Okta tampil modis dengan kaos putih bergaris dibalut jas light blue yang dikenakan, tidak lupa sepatu kets putih dan kaca mata yang membuat aura berkelasnya semakin nyata.
Mereka berdua berangkat dengan penuh semangat. Wilona yang sangat antusias karena baru pertama kali merasakan pergi ke luar negeri. Sedangkan Okta juga tersenyum cerah karena akhirnya dia akan bertemu dengan seseorang yang dinanti-nantikannya sekian lama.
...
Bersambung
Terimakasih sudah membaca sampai episode ini. Jangan lupa selalu jaga kesehatan.
__ADS_1
dan sempatkan untuk like dan vote juga ya. ^^