Pernikahan Sementara Dengan Orang Ternama

Pernikahan Sementara Dengan Orang Ternama
Menjauh


__ADS_3

Saat itu keadaan Wilona masih sangat lemah. Okta buru-buru memasukkan Wilona ke dalam mobil, membuka jaketnya dan menutupi tubuh Wilona yang basah.


"Tunggu...." kata-kata Wilona bahkan terdengar tidak berdaya.


"Aku harus pulang bersama ... ." Belum selesai Wilona berbicara, Okta segera membuat jok Wilona turun kebelakang, sehingga ia berada di posisi setengah berbaring.


*Uhhuk-Uhuuk.* Wilona masih saja terbatuk.


"Jangan banyak bicara dulu!" bentak Okta.


Okta segera melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.


Dan setelah sampai ia kembali membopong Wilona menuju kamar.


"Tidak pak ... aku bisa ..." ucap Wilona yang bahkan tak didengar sedikitpun oleh Okta. Wajah Okta masih terlihat sangat tegang saat itu.


"Turunkan aku."pinta Wilona masih dengan nada yang lemah.


"Makanlah yang banyak!" perintah Okta membuat Wilona berhenti berucap dan menatap Okta dengan kesal.


"Apa ini? ... badan se-enteng ini, sampai ke puncak gunung juga aku bisa bawa." jawab Okta dengan nada keras. (Kamu itu marah, apa kasihan sih taπŸ€”)


Wilona lalu di dudukkan di atas sofa kamar.


Okta segera membongkar pakaian Wilona dari tas ranselnya.


Bola matanya hampir saja keluar saat terkaget tidak sengaja menyentuh pakaian dalam Wilona.


Okta segera mengambil handuk, memakaikannya pada Wilona, dan meminta Wilona segera berganti pakaian.


Wilona hanya bisa menuruti dan hampir tak berdaya di depan Okta.


Setelah Wilona selesai bersalin, Okta masuk kembali ke kamar dan mendudukkan Wilona pada tempat tidur.


Tubuh tingginya membuatnya harus berada dalam posisi berlutut agar bisa berhadapan dengan Wilona.


Okta mulai menyibakkan rambut Wilona.


"Perlukah kita ke rumah sakit?"tanya Okta dalam keadaan cemas.


Wilona hanya menjawab dengan menggelengkan kepala.


"Apa kamu tidak bisa berenang?"


"Ta-tadi tiba-tiba saja aku lemas." Jawab Wilona.


"Haaaiiis (menggosok wajahnya)... maafkan aku, aku tadi tidak memperhatikanmu Ona."ucap Okta.


Penyebutan kata 'Ona' dari mulut Okta membuat Wilona menatap Okta lebih dalam lagi.


Sebab baru-baru ini saja, Okta menyebut nama asli Wilona.


Panggilan itu saja sudah membuatnya heran.


Kali ini Wilona dibuat terheran lagi ketika Okta menyebut dirinya dengan kata 'Ona' (bagi Wilona panggilan Ona kesukaannya).


"Aku tidak tahu harus berkata apa-apa tadi saat melihatmu jatuh tidak berdaya."


"Te-terimakasih."jawab Wilona


Seketika Okta memeluk Wilona dan membuat Wilona terbelalak kaget.


"Mulai sekarang kamu tidak boleh berenang lagi ...


Haruskah kututup saja kolam di rumah?"


Wilona menggelengkan kepalanya.


"Kalau begitu jangan pernah mendekati kolam tanpa pengawasanku ... mengerti?" lanjut Okta


"Hm ... ." jawab Wilona menganggukan kepala.


Okta segera melepaskan pelukannya.


"P-pak ... maaf ... Segeralah keluar dari kamar ini!" pinta Wilona.


"Apa?" Okta heran mengapa Wilona tiba-tiba mengusirnya.


"Ke-kenapa jadi begini, Seharusnya biarkan Bastian yang mengantarku?


Pak Okta sudah meninggalkan Leony disana ... itu adalah kesalahan besar."

__ADS_1


"Apa?"Okta tidak sanggup berkata kata lagi.


"Tolong tinggalkan saya sendiri Pak." pintanya sekali lagi, membuat Okta berdiri dan berjalan mundur sambil tetap menatap Wilona.


"Mengapa kamu jadi sedingin ini? aku perhatikan kamu menghindariku, sejak awal kamu datang.


Atau ... adakah Leony mengutarakan sesuatu yang membuatmu seperti sekarang ini?"


"Aku hanya tidak mau Leony salah paham dengan kita." ucap Wilona.


Belum selesai percakapan mereka,


"WILONAAA." terdengar dari belakang Bastian berlari, masuk kekamar dan segera memeluk Wilona.


"Kamu tidak apa-apa Ona?"Tanya Bastian sambil tangannya memegang wajah Wilona memastikan semua baik-baik saja.


"Heeyyy, jaga sikapmu?" Okta membentak dengan keras.


Mata Wilona akhirnya memandang Leony yang hanya berdiri di pintu dengan tatapan kesal.


"Aku ingin istirahat." jawab Wilona berada di posisi bersalah.


"Baik ... segeralah tidur Ona. Aku akan menjagamu disini." jawab Bastian.


"Heeyyy...." belum saja Okta protes pada Bastian, Leony kembali memanggil Okta.


Segera Okta menoleh kebelakang dan melihat Leony berjalan mendekatinya.


"Wilona kamu sudah baikan? Aku sangat mengkhawatirkanmu tadi." ucap Leony.


"Baiklah kalau begitu, karena Wilona ingin segera istirahat, lebih baik kita segera keluar dari sini.


Okta ayo kita segera kembali ke kamar, biarkan Wilona beristirahat dulu sekarang" kata Leony dengan lembut.


Okta menatap lekat Wilona namun akhirnya ia segera berlalu meninggalkan kamar.


"Tian ... kamu bisa kembali ke kamar, aku sungguh baik-baik saja." pinta Wilona.


"Baik ... panggil aku kalau kamu butuh sesuatu." Bastian mengusap lengan Wilona dengan lembut dan meninggalkan Wilona di kamar sendirian.


Perasaan sesak ini


Aku sudah bisa menjawabnya sekarang


....


Engkau bersama dengan wanita itu


Karena disini ...


hanya aku seorang diri yang menyadari dan melihat selubung topeng di wajahnya.


....


Aku tidak terima


kamu jatuh dalam pelukannya


....


Tapi ... Wanita itu benar,


aku bukanlah siapa-siapa


Karena itu aku hanya bisa terdiam


sampai sekarang ini.


Okta ... Entahlah ... seburuk apapun sikap yang kauntunjukkan padaku


Aku tahu ... sebenarnya hatimu baik


β–ͺβ–ͺβ–ͺβ–ͺβ–ͺ


Hm... Oke Wilona, kamu sudah menemukan jawabannya kan


aku yakin itulah yang membuatku sesak jika mengingat mereka berdua.


Wilona merenung sendiri, meyakinkan dirinya bahwa itu bukanlah perasaan cinta, melainkan hanya sekedar mengasihiani Okta semata.


●●●●●

__ADS_1


Pagi menjelang


Paginya Wilona seperti biasa dengan terampilnya memasak di dapur kembali di temani Bastian.


Wajahnya sudah nampak ceria lagi, terlebih Bastian memang suka sekali usil pada Wilona.


Noda tepung menempel di pipi sebelah kiri Wilona, membuat Bastian mendekat dan membersihkan noda tepung itu, namun Bastian berulah lagi dengan menyolekkan tepung lain dipipi sebelahnya.


"Heeey ...lihat balasanku ya." mereka saling tertawa bersama.


Okta datang mendekat.


"Aku sudah lapar, bisakah kalian lebih cepat sedikit dan jangan banyak bercanda?"


"Lalu kamu sendiri sedang apa? kita bukanlah pembantu disini." balas bastian.


"Baik ... aku akan bantu." Okta segera berjalan ke dapur (hmmm ... sepertinya kamu cuma cari alasan aja supaya bisa dekat Wilona ^^)


"Stop ... tidak usah, aku tidak mau ruangan ini dipenuhi asap seperti waktu itu, duduklah saja, sebentar lagi matang." ucap Wilona mencegah Okta mendekat.


Tiba-tiba Wilona terIngat tragedi keluk asap saat Okta memasak serba hancur bersama dengan Judika.


Okta sudah kehilangan akal dan akhirnya dia memilih untuk duduk, ditambah lagi Leony sudah datang membawakan kopi buatannya ke meja.


Seolah hidupnya sudah di krangkeng dan ia tak berkutik lagi.


Makanan sudah tersaji, Akhirnya mereka siap menyantap makanan.


"Hahhh, liburan yang menyenangkan. Aku tidak yakin, kita bisa seperti ini lagi kedepannya." jelas Leony sambil menatap Wilona.


"Baiklah selamat makan semuanya ..." ucap Leony dengan wajah cerianya sambil membubuhkan nasi dan segala lauk di piring Okta.


"Terimakasih."ucap Okta pada Leony, namun sekali lagi pandangan Okta teralih pada Wilona yang lebih memilih melayani Bastian daripada dirinya.


Okta meremas sendok di tangannya.


Apa urusanmu ... melayani mahkluk itu.


Setelah itu mereka melanjutkan berjalan-jalan di sekitar puncak menikmati keindahan berbagai bunga dan hiasan alam di sekeliling taman.


Okta berjalan dengan Leony dan Wilona berjalan dengan Bastian dibelakang mereka.


"Tian ... apakah ada sesuatu yang ingin kamu tanyakan padaku? tanya Wilona.


"Tidak ... kenapa?"


"Hahahha ... tidak bukan apa-apa."


Wilona sebenarnya penasaran, mengapa Bastian seolah diam saja dan tidak protes seperti waktu ia menghajar Okta saat melihatnya berselingkuh.


Leony dan Okta akhirnya memilih duduk di sebuah taman.


Okta semakin dibuat panas saat melihat Wilona berjalan bersama Bastian dan saling tertawa.


Terlebih saat melihat Bastian menyisipkan bunga di telinga Wilona yang membuat Wilona tersenyum malu.


Statusnya saat ini istriku ... kenapa tangan makhluk itu berani macam-macam.


Kenapa Wilona diam saja dan tidak menjaga sikapnya...mau sampai sebatas apa mereka melanggar.Batin Okta.


Segera Okta mengeluarkan ponselnya dan mengirim pesan pada Wilona.


Hey jaga sikapmu Ona, bukannya kamu yang kemarin memperingatiku.


Ini di tempat umum, Apa tidak bisa kalian jaga jarak.


Wilona membuka ponselnya balik dan membaca pesan dari Okta.


Ia lalu melayangkan padangan kesal pada Okta.


Okta balas dengan menantang dan mengangkat dagunya. Saat itu Leony sedang sibuk juga dengan ponselnya.


Wilona membalas.


Sekalipun disebelahku ini adalah Judika aku akan tetap sama, bersenang-senang menikmati bunga di bersamanya.


Aku masih sadar diri pak ... hanya menikmati keindahan bunga. balas Wilona.


Wikona bahkan sengaja menarik Bastian menjauh, jauh dari pantauan Okta.


●●●●●

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2