
Penentuan pemilihan CEO tinggal satu setengah bulan lagi.
Judika masih belum puas ketika dua orang pelaku sudah berhasil di amankan.
Targetnya kali ini pada seorang yang berkedudukan tinggi dan itu bukan kaleng-kaleng artinya.
Ia melakukan penyelidikan lebih dalam lagi tentang seseorang yang bernama Lindo.
Pergunjingan terselubung menjadi makanan para karyawan di dalam perusahaan, maupun anak cabang. Terlebih memang karir Okta merosot tajam.
Siapa yang akan lebih pantas duduk sebagai pimpinan Utama dari perusahaan terbesar itu.
Kebanyakan dari semua karyawan memang memilih Henry sebagai penerus ayahnya.
▪▪▪▪▪
Di suatu pagi
Judika menuju ruang Direktur Lindo yang kebetulan sedang sibuk dengan seseorang melalui saluran telepon.
Ia kaget melihat Judika datang dan berdiri di pintu masuk.
"Ada urusan apa kamu kemari?
Dimana kepalamu?"tanya Direktur Lindo yang sedikit ketakutan melihat kehadiran Judika. Ia pun melihay ke arah belakang memastikan hanya Judika seorang diri yang datang.
"Kedatangan saya kemari hanya untuk mengucapkan selamat." jawab Judika sambil tersenyum sinis.
"Selamat?"
"Benar ... selamat tinggal ... pada setiap rencana yang sudah anda susun selama ini."
"Apa katamu?"
Lalu Okta segera datang masuk menyusul Judika.
Okta langsung duduk pada kursi tamu, tanpa dipersilahkan terlebih dahulu oleh Direktur Lindo.
Hal itu membuat Direktur Lindo berpikir sejenak.
Apa yang sebenarnya kalian lakukan disini?
"Ahahahaha ... ada apa ini? sampai Seorang Direktur Utama datang kemari.
Jika saya tahu anda datang, maka saya akan menjamu anda dengan lebih baik lagi." ucapnya.
"Hampir saja tadi saya menghadiahkan tabung oksigen untuk anda ... hal itu akan sangat diperlukan nanti kalau anda sudah pindah."jelas Okta.( Direktur Lindo ada riwayat asma sebelumnya)
Direktur Lindo menatap Okta dengan curiga.
"Aku akan memberikanmu suatu pilihan
jeruji besi? atau kau berpihak padaku?"
__ADS_1
Tuan?
Mendengar itu Judika juga ikut kaget tak mengira tuannya masih mengharapkan seorang penjahat untuk meminta dukungannya.
"Apa maksud jeruji? anda mengancam saya pak?"
"Benar ... dan saya janji akan menghadiahkan tabung oksigen sebagai bonus kamu disana."
Direktur Lindo datang mendekat ke arah Okta. Judika dengan sigap menghadang.
"Aku sudah menemukan pelakunya ... "ucap Judika dengan nada tenang tapi sangat menakutkan tangannya terangkat menghadang Lindo yang berusaha mendekat pada tuannya.
Mendengar kabar itu Direktur Lindo menjadi berdebar debar, membuka matanya lebar-lebar.
"Bukankah anda yang mengganti tim pemasok batubara?
Laporan keuangan dengan bubuhan tandatangan tertera nama anda semuanya hanya bualan saja.
Dan kenapa produksi kertas hasilnya menurun , ternyata pemasok bahan baku semuanya berubah.
Apakah saya salah berbicara? ucap Judika dengan tangan yang masih menghadang tubuh Direktur Lindo.
"Atas dasar apa kamu melakukan semua ini?" tanya Okta.
Mendengar itu wajah Direktur menjadi pucat.
"Jangan sampai asma mu kumat sebelum aku selesai bicara.
Karena jasa ayah, kamu bisa berada di posisi seperti ini.
Direktur Lindo terkejut dan berjalan ke arah meja, kemudian ia menekan kode.(kode itu tanda meminta sekertaris membawakan minum untuk tamu)
"Ahahahaha... yah ... kita bisa bicarakan ini baik-baik." sembari perlahan berjalan duduk menemani Okta di sofa.
"Selama ini saya diam saja ... apa itu berarti anda bebas melakukan sesukamu?
Nama Wahardian dipikul semua karyawan, karena itu ... keburukan salah satu karyawan adalah keburukan kita semua.
Apa kamu mengerti?"
"Ah ... aku tidak memihak siapapun disini.
Pak Okta dan Pak Henry sama-sama orang yang berkompeten.
Dan anda pak Okta ... sebenarnya setelah anda memimpin, berbagai produk baru mulai tercipta dan merambah dimana-mana.
Itu jadi pertimbangan semua orang dalam memilih."ucapnya merayu.
Judika yang sudah tidak tahan langsung melemparkan beberapa lembar foto hasil penyelidikannya selama ini.
Pelan-pelan Direktur Lindo mengambil selembar foto yang ada di depannya.
Kembali lagi Direktur Lindo terkejut dan tak menyangka misi tersembunyinya terbongkar."
__ADS_1
"Sepertinya kasus siburonan itu sengaja kamu munculkan untuk menutupi kepentinganmu sendiri."ucap Judika.
Okta pun menambahkan, "Kamu tahu ... walikota dimanapun semuanya mengenalku.
Proyek besarmu itu aku juga sudah mengetahuinya.
Ckckck ... Penghianatanmu itu sudah mencapai ambang batas.
kamu mengerti!!!"
"Ba-baik ... aku ... aku akan mendukungmu, aku akan memilihmu."
Skakmat! batin Judika.
"Siapa pemegang saham dalam proyekmu itu?"tanya Judika sekali lagi.
"Ah ... tidak ... itu hanya ... ."
"Ah ... sudahlah tuan, mari kita antarkan dia ke kantor polisi." jawab Judika memotong pembicaraan.
"Urus saja dia ... aku tak membutuhkannya lagi." ucap Okta sembari berjalan keluar kantor Direktur.
Judika tersenyum sinis kembali pada Lindo.
"Kamu dengar ... nasibmu ada ditanganku saat ini."
Direktur Lindo ketakutan sambil menggelengkan kepala berkali-kali.
"Siang nanti adalah jadwal rapat. Aku ingin mendengar celotehanmu disana." lanjut Judika yang berjalan keluar dengan memasukkan kedua tangannya dalam saku celana
▪▪▪▪▪
Di kedai ayah
Wilona sedang membantu mengambil roti dari dalam oven seperti biasanya.
Entah mengapa capit roti itu terjatuh dan tak sengaja membuat jari manis Wilona terkena nampan panas dari oven.
*Aaauuu* teriaknya.
Buru-buru Wilona mengambil capit itu, dan segera mengangkat roti keluar dari oven dan menaruhnya di meja.
Kemudian ia melihat jari manisnya meradang.
Pelan-pelan ia melepas cincin pernikahan itu dan menaruhnya dalam saku celana.
Wilona merasakan sesuatu yang aneh dalam dadanya.
Perasaan apa ini? batinnya.
●●●●●
**Bersambung
__ADS_1
Halo semua hari ini akan keluar dua atau tiga episode. Ditunggu ya. Terimakasih**