Pernikahan Sementara Dengan Orang Ternama

Pernikahan Sementara Dengan Orang Ternama
Aku Tidak Peduli Padamu


__ADS_3

"Permisi saya masuk dulu."


Pada akhirnya Wilona pergi bergegas menuju kamarnya. Meninggalkan Okta dan Leony di bawah.


Entah mengapa Okta hanya terdiam menyaksikan semua ini. Matanya hanya memandang ke atas, ke arah kamar Wilona berada.


"Sayang, sepertinya aku harus pergi juga.


Ini sudah malam."


"Ah ... baiklah kalau begitu."


"Apakah dia baik-baik saja, aku mengkhawatirkannya." ucap Leony sekali lagi.


"Ahahaha ... tenang saja, kau tak perlu memusingkan hal itu." kata Okta sambil menganggukkan kepala.


"Baiklah ... aku pulang yah." Entah apa, sepertinya Leony juga menjadi terburu-buru.


"Hm ... hati-hati di jalan."


Setelah Leony berlalu, segera Okta naik ke lantai dua dan berdiri di depan kamar Wilona.


Sesaat ia ragu untuk mengetuk pintu.


"Wi-wilona ... keluarlah, aku mau bicara sebentar."


Wilona yang duduk di jendela, enggan sekali menuruti permintaan Okta.


Rasa kesal pada dirinya sendiri masih menyelimuti.


Bagaimana dirinya tega berkali-kali membohongi Bastian, bahkan ketika itu sesuatu keadaan yang sulit sekalipun.


"Ada apa?" Wilona lalu membuka sedikit pintunya.


"Ah ... kamu sudah makan?"


"Aku sudah makan bersamanya." jawab Wilona tanpa bersemangat.


"Apa yang sedang kalian lakukan hari ini?


Hey ... bisakah kita bicara di ruang tengah saja, kenapa kita ngobrol dengan berdiri seperti ini?"


"Aku lelah ... aku akan istirahat dulu." Wilona lalu segera menutup pintu,


Namun kaki Okta menghalangi sela pintu, alhasil kakinya terjepit dan ia berteriak kesakitan.


"Arrgggh. Hey ... sakit tahu tidak!" Teriak Okta.


"Ada apa lagi pak?"

__ADS_1


"Ada apa denganmu kenapa kamu terlihat kesal seperti ini?" Masih dengan memegang kakinya yang terasa sakit.


"Apa yang kalian bicarakan disana?


Kemarilah ... ." Okta kemudian menarik tangan Wilona keluar kamar.


Namun, Wilona lalu memelanting tangannya sehingga genggaman Okta terlepas.


"Jelaskan apa yang terjadi? Apa yang kalian bicarakan disana sampai kau marah seperti ini." ucap Okta yang menjadi kesal dengan sikap Wilona.


"Kenapa wanita itu ada disini?


Apa kamu tidak bisa menjaga dirimu?"


"Dia? maksudmu Leony ?... apa masalahnya denganmu,


sudah kubilang waktu itu, kamu pasti cemburu padanya."


"Aku juga sudah bilang pak, sama sekali bahkan tidak sedikitpun aku cemburu padanya


Tapi bagaimana kamu bisa tega ...


sejak awal di Paris Engkau selalu saja bertindak sesukamu."Jelas Wilona.


"A-apa?" Secara cepat Okta membalas.


"Bukankah kau sudah janji pak.


Lalu di paris seperti apa kenyataannya.


....


Oke ... lambat laun, saya bisa terima.


Karena tidak ada seorangpun yang mengenalmu disana.


Tapi sebenarnya janji adalah janji pak.


Sebenarnya sejak awal saya sudah sangat kesal , ketika saya tahu bahwa Leony mengetahui kebenarannya.


...


Tapi, bagaimana dengan disini?


dan Itu ... Luka itu ... luka di wajahmu itu, bukankah itu semua karena kesalahanmu?


Janji seperti apa sebenarnya yang engkau maksud?" Wilona melampiaskan emosinya, sudah diluar kendali lagi, ia menumpahkan kekesalannya.


"Kau sendiri bagaimana? kau juga bebas dengan pria itu." balas Okta.

__ADS_1


"Jangan samakan aku dengan dirimu ... bahkan sampai sekarang hanya diriku sendiri yang tahu rahasia itu.


....


Apa yang Bastian lihat kemarin semua adalah kesalahanmu.


Aku sudah merelakan diriku, harga diriku, kekasihku, tapi Engkau yang menghancurkannya."


"Apa maksudmu." Bentak Okta.


"Dengan cara apa lagi aku harus menyimpan rahasia ini pak?


dengan cara apa lagi aku harus lebih banyak berbohong pada orang lain untuk menutupi kesalahanmu?"


Wilona lalu mendekat ke arah Okta.


"Apa yang sebenarnya ada di hatimu pak, kenapa begitu jahat ... sangat jahat.


Engkau egois.


(Wilona mengatakan sambil menepuk dada Okta berkali-kali)


Pernahkan sekali saja, Engkau mengerti perasaanku?"


"Itu karena kamu merahasiakannya dari pria itu,


Seandainya kamu bisa terbuka seperti hubunganku dan Leony, maka semuanya akan baik-baik saja."


"BAGAIMANA DENGAN PERJANJIAN KITA?" Balas Wilona yang sudah tidak tahan lagi dengan sikap Okta.


"Sedari awal kau sudah melanggarnya." lanjut Wilona, ia lalu berjalan menuju kamarnya kembali.


"YAAAKKKK." Okta juga menjadi emosi saat itu. Ia segera berlalu menuju kamarnya sambil membanting pintu.


Dikamar Wilona


Empat bulan ... kenapa itu lama sekali.


Wilona menuju lemari pakaiannya dan mengambil beberapa baju lalu memasukkkanya pada sebuah koper mini miliknya.


Ia segera keluar dari kamar dan langsung menuju ke bawah.


Perasaan yang tidak tertahan lagi membuatnya ingin segera keluar saja dari rumah ... entah kemana dia harus pergi, ia sendiripun tidak tahu.


"Mau kemana kamu?" Tanya Okta yang keluar kamarnya dan melihat Wilona berjalan ke arah pintu keluar.


Wilona hanya diam saja sambil terus berjalan membawa koper besarnya.


"Pergilah ... aku tidak peduli padamu?" dengan nafas terengah Okta kembali masuk ke dalam kamarnya.

__ADS_1


●●●●●


Bersambung


__ADS_2