
Sampai Dirumah benar saja rumah tampak kosong.
Wilona membuktikan dia benar-benar tidak pulang malam itu
Tapi berhubung isi kepala Okta sudah dipenuhi dengan masalah perusahaan, dia langsung segera mandi dan menuju ruang kantor untuk menyelesaikan beberapa urusan lalu langsung menuju kamar beristirahat.
Okta bahkan melewatkan makan malamnya.
Keesokan harinya sepertinya Okta menjadi terbiasa dengan kesendiriannya lagi. Dia mempersiapkan dirinya dan langsung berangkat lebih awal saat itu.
Entah mengapa masalah di perusahaan justru bertubi-tubi datang padanya. Selama seharian itu Okta menjadi lebih serius lagi.
*kring-kring*
Okta dengan segera mengangkat telepon kantor.
Selamat pagi pak, Pak Wahardian ingin berbicara. Kata sekertaris.
"Sambungkan."
Pagi Oktav.
"Pagi Presidir." Jawab Okta serius.
Oktav ayah tahu kamu memikul banyak tanggung jawab dan itu sangat besar, ayah khawatir kamu tidak bisa fokus, kamu sudah beristri sekarang. Terlebih sudah berkali-kali masalah datang
"Presdir, aku akan menyelesaikan semuanya."
Apa sebaiknya sebagian anak cabang aku serahkan semua pada Henry?
Hal itulah yang sangat tidak ingin di dengar Okta.
"Presdir, aku akan menyelesaikannya."
Okta tidak bisa menanggapi permintaan ayahnya, dan hanya itu saja yang bisa keluar dari mulutnya.
__ADS_1
Judika yang melihat tuannya hanya bisa menunduk sambil menghela napas, ia merasa sangat bersalah tidak bisa memberikan yang terbaik pada tuannya.
Akhirnya dia kembali mendapat pesan bahwa salah satu pelaku yang berusaha kabur sudah berhasil di tangkap.
Melihat tuannya masih berbicara dengan tuan Wahardian. Judika keluar dan langsung pergi menuju lokasi.
Pelaku yang kabur tersebut sudah berhadapan dengan Judika.
"Kamu, sudah tahukan kamu bahwa keuntunganmu ini membawamu dalam kehancuran?"
Pelaku itu diam saja.
"Nasib anak dan istrimu ada di tanganku."
Pelaku itu lalu berani menatap Judika.
Dia tidak menyangka bahwa anak istrinya yang sudah di sembunyikan bisa terendus oleh Judika.
"Mak ... maksudnya pak?"
"Aku tidak sudi, apabila ayahku adalah seorang pencuri, cabul, dan kabur menjadi seorang yang memalukan dan tidak bertanggungjawab."lanjut Judika
Pelaku itu lalu tersungkur dan berlutut memegang kedua kaki Judika.
"Dia dimana, kamu taruh mereka ... dimana pak Judika. Tolong ampuni saya, jangan apa-apakan keluargaku."
"LEPASKAN TANGAN KOTORMU!"
Pelaku itu buru-buru melepas tangannya dan tetap berlutut sambil menangis.
"Keluargaku, apa yang terjadi dengan mereka? Mereka dimana?"
"Dimana pelaku yang satunya, CEPAT KATAKAN!"
"Pak Jud, saya ... saya tidak tahu.
__ADS_1
Dia, dia lah yang melecehkan karyawan wanita. Bu-bukan saya, maafkan saya...maafkan saya."
"Apa dengan ceritamu hukumanmu akan lebih ringan HAH?
Sampai semuanya jelas dan bahkan sampai kamu masuk dalam bui aku baru akan melepaskan keluargamu."
"Tidak, pak ... maaf ... maaf, saya perlu uang itu karena saya mengetahui semua kejahatan Leo, dia ... dia menawarkan saya kedudukan tinggi di perusahaan, dia juga tahu bahwa hutangku sangat banyak. Jadi saya ... saya diam selama ini, semua kejahatan dan pelecehan wanita, semuanya saya tahu dia melakukannya. Tapi... tapi saya hanya diam saja. Karena jika saya membeberkan semuanya, dia ... dia akan kembali menjatuhkan saya sekeluarga. Tolong ampuni saya pak." pelaku akhirnya menceritakan semuanya.
"Cih ... bodoh." Judika mendekat dan menginjak tangan pelaku itu.
"Kamu tidak tahu watak seorang Okta? Dia adalah seorang pemimpin yang bisa saja menolongmu lebih dari yang kamu kira, tapi tangan ini? Tangan ini kotor dengan meminta pada seorang yang sama-sama sudah dipinggir jurang.
Okta adalah seorang pemimpin yang akan meninggikan derajatmu dan sebaliknya bisa menjatuhkanmu sampai ke dasar jurang."
"Anak, istri saya.... pak...ampun, saya minta ampun."
*PLAKKK* Judika menampar pipi pelaku itu.
"Dengan kebodohanmu kamu hanya pikirkan dirimu sendiri?"
"Jika tuan Okta hancur, berapa banyak orang akan ikut hancur, berapa banyak anak perusahaan akan tutup dan berapa banyak keluarga disana akan menerima getahnya."
"Maaf, pak..ampuni saya yang bodoh ini."
"Pengawal." Judika memanggil pengawal yang berdiri di luar.
Empat orang pengawal masuk ke ruangan.
"Bawa dia ke kantor polisi, SEKARANG."
"Tidak... pak keluarga saya... saya mohon ampun ... saya mohon selamatkan keluarga saya. Biarkan saya yang dihukum tapi jangan anak istri saya. Pak ... pak ... pak"
Pelaku itu terus berbicara sekalipun badannya sedang diseret oleh para pengawal.
Sebenarnya Judika sudah memindahkan keluarga pelaku yang diseret tadi ke sebuah kota terpencil. Akan tetapi Judika masih meminta pengawal untuk merawat mereka supaya tidak ada orang lain yang menjatuhkan keluarganya terlebih anaknya yang masih kecil dan tidak tahu apa-apa.
__ADS_1
●●●●●
Bersambung