
Leony yang kesal mengubah strateginya.
Aku tidak akan tinggal diam.
Aku harus bergerak cepat saat ini. Sebelum Henry mengungkapkan semuanya, aku akan memisahkan mereka berdua bagaimanapun caranya.
Teringatlah kembali Leony dengan Bastian.
Ia lalu mengirimkan pesan padanya.
Bastian, aku ada rencana untukmu. Temui aku di resto Gangmi besok pukul empat sore
Dan tidak lama, Bastian pun menjawab dengan balasan;
Ok!
▪▪▪▪▪
Sore itu sesuai dengan janji mereka bertemu di sebuah resto
"Apa maksud rencanamu itu."tanya Bastian.
"Aku dikejar oleh waktu, karena itu, secepatnya aku akan menjadikan Wilona milikmu lagi."
"Perjelas maksud perkataanmu!"
"Aku mohon kamu bertemu lagi dengan Wilona, akan kusediakan hotel atau tempat ... atau apa saja asal kalian ada waktu berdua."
"Lalu?"
"A-aku akan kembali merayu Okta."
"Bukankah itu sudah pernah kita lakukan?"
"Ti-tidak, kali ini … ."
Rupanya Leony sengaja, mencari cara untuk menjebak mereka berdua, hanya saja Bastian merasa aneh dengan kegugupan Leony.
"Tolong jelaskan maksudmu, atau aku tidak akan meresponi idemu sama sekali." Ucap Bastian.
Sontak Leony kaget, karena ia merasa terpojok, mau tidak mau ia berkata jujur pada Bastian. Ia berkehendak memberitahu media bahwa kalian adalah pasangan kekasih.
"Jadi kamu ingin, membuat nama Wilona hancur dengan memberi info itu?
Tidak … aku tidak akan membiarkan itu terjadi." sanggah Bastian.
"Dengar ya, mereka akan berpisah satu bulan lagi, toh Wilona itu adalah milikmu, jadi kenapa tidak kita beritahu kepada semua orang, siapa kekasih Wilona sesungguhnya. Yaitu kamu … kamu orang yang berhak memilikinya."
"Tapi, bukankah saat ini perusahaan itu sedang goncang?"
"Tolong berpikirlah, siapa wanita yang tidak tertarik memiliki pendamping seorang Okta, sebentar lagi dia akan diangkat menjadi CEO, apa kamu tidak berpikir, Wilona akan tetap bersamanya?"
"Wilona bukanlah wanita yang tertarik dengan harta. Aku percaya padanya, katamu mereka akan berpisah, lebih baik aku akan menunggu mereka bercerai."
"Jangan bodoh, jujur saja ... aku yakin kamu juga khawatir mereka tetap bersama bukan?
Kalau aku … aku sangat khawatir mereka akan tetap bersama dan melanggar janji mereka."
"Janji?"
Dengan terpaksa lagi dan lagi kembali Leony menceritakan bahwa mereka terikat kontrak.
"Tapi kontrak itu bisa saja gagalkan, kalau mereka berdua memilih tetap bersama. Kau siap kehilangan Wilona?" Tanya Leony.
"Kurang ajar sekali pria itu. Jadi selama ini ia memanfaatkan Wilona. Hah ... memang selama ini aku sudah curiga pada mereka berdua."
"Aku mohon lakukanlah sesuai ideku, bukankah kita berjanji untuk saling membantu?" Pinta Leony dengan sangat.
__ADS_1
"Baik … aku janji, aku akan memisahkan mereka berdua seperti saat di puncak waktu itu. Wilona adalah milikku dan tidak ada yang lain yang bisa menggantikanku. Ayo kita jalani rencanamu."
Tak disangka kesepakatan itu membuat seorang wanita berdiri di tengah mereka.
Ya, tanpa di sadari Wilona mendengar semua percakapan antara Leony dan Bastian.
"Apa … aku tidak salah dengar?" Ucap Wilona.
Bastian terperanjat dan segera berdiri, ia kaget melihat Wilona berdiri di sampingnya.
"Ah … O-Ona .. ka-kamu disini?" Tanya Bastian dengan paniknya.
Sebaliknya Leony hanya diam tak menyangka siasatnya kali ini harus hancur dengan kehadiran Wilona.
"Jadi … acara puncak waktu itu juga ide kalian berdua, untuk menjebakku?" Tanya Wilona.
Dengan perasaan takut, Bastian berusaha memegang lengan Wilona.
"Ka-kamu, salah … salah mengerti Ona."
Segera Wilona melepas genggaman Bastian dari tangannya.
"Tian?" Wilona menatap Bastian masih tak percaya, pada semua yang ia dengar.
"Benar (Leony segera berdiri dengan tubuh menantang Wilona.) Ini semua ide kami, kau sangat menggangguku." Ucap Leony dengan wajah penuh kebencian.
Segera Bastian mencoba menengahi mereka, karena ia takut Leony bersikap kasar pada Wilona.
*Plak*
Tak disangka ternyata Wilona lah yang berani menampar Leony.
"Jaga mulutmu, kepada siapa lagi kamu bongkar semua ini? Tak kusangka Okta mencintai seorang wanita dengan hati yang busuk sepertimu!" Ucap Wilona, Wilona sendiri sudah sangat merasa jengkel karena Leony sama sekali tak bisa menjaga rahasia kontrak itu.
Tamparan dan kata Wilona sontak membuat Leony diterpa amarah yang besar.
"Lepaskan aku!" Ucap Leony.
Segera Bastian berusaha menjauhkan Wilona dari Leony.
Namun sekali lagi Wilona menangkis bantuan yang Bastian berikan.
Segera Leony sadar, kehadiran Judika membuatnya lebih menahan dirinya.
Sehingga perlahan Judika melepas genggamannya.
"Sudah cukup Judika … ayo kita pergi." Ucap Wilona.
"Baik nyonya." Segera Judika berjalan dan berdiri di dekat Wilona.
"Tunggu … Ona, dengarkan aku dulu." Pinta Bastian.
Wilona hanya menatap Bastian, tampak air mata menggenang di kelopak matanya.
Dan Wilona segera pergi tanpa menanggapi Bastian sedikitpun.
Hati Bastian mencelos, ia memegang kepalanya, tak menyangka sesuatu yang buruk terjadi padanya.
"Kamu (tangannya menunjuk ke arah Leony) Aku tidak akan mau lagi bertemu denganmu." Bastian yang marah dan juga turut meninggalkan Leony sendirian di dalam resto.
▪▪▪▪
Flashback
"Nyonya, ada yang ingin kusampaikan padamu!" Ucap Judika di siang hari sebelum hari pertemuan Leony dan Bastian.
"Ada apa Jud? Katakanlah."
__ADS_1
"Resto Gangmi jam tiga, temui saya disana."
"Oh ... baiklah."
Ini adalah siasat Judika, agar nyonya Wilona bisa mengetahui rencana antara Leony dan Bastian.
Penyadapan ponsel Leony yang dilakukan Judika ternyata membantunya menyelesaikan sedikit demi sedikit permasalahan yang ada.
Karena dari situlah sumber Judika mengetahui pertemuan mereka.
(Uhhh Judika, aku padamu 😍).
▪▪▪▪▪
Di dalam mobil
Setelah kejadian dari Resto itu Wilona segera pulang.
"Nyonya, anda baik-baik saja?"
"Hm … . Terimakasih Jud, sekalipun aku tidak menyangka semua terjadi seperti ini, setidaknya aku tahu persekongkolan mereka."
"Maafkan saya nyonya, kalau anda jadi tahu kebenarannya."
"Sekarang ... aku hanya kasihan pada Pak Okta. Kenapa begitu banyak Orang kejam disekelilingnya, dan hari ini entah kenapa aku berpikir jahat, Aku tidak ingin Leony mendampinginya."
"Apakah nyonya akan memberitahukan semua ini pada tuan?"
"Aku sendiri bingung, karena pak Okta sangat mencintainya."
Nyonya … apa engkau tidak sadar tuan sebenarnya juga menaruh hati padamu. batin Judika.
"Apa nyonya menyukai tuan Okta?" Tanya Judika mendadak.
"Benar (jawab Wilona tanpa ia sadari). Ah … bukan, maksudku aku menyukai sifatnya yang sebenarnya baik, dia orang yang baik, hanya saja sekelilingnya yang buruk, ia berubah menjadi terlihat kejam, karena semua hal yang menerpanya ... itu saja." Jawab Wilona yang akhirnya tersadar.
Mendengar itu Judika tersenyum.
"Benar nyonya, saya sendiri tidak tega, mengungkapkan semua pada tuan. Karena ia terlalu baik."
Jawaban Judika membuat Wilona menganggukkan kepalanya.
"Ah … nyonya, bantu saya agar tuan mau bertemu dengan tuan Henry."
"Memang kenapa Jud?"
"Bukan apa-apa, ini hanya permintaan saya saja."
"Em … Aku rasa itu mustahil."
"Tapi hanya nyonya yang bisa melunakkan hati tuan." pinta Judika.
"Baik … akan kucoba."
"Adakah sesuatu yang ingin kamu ceritakan padaku?" tanya Wilona yang penasaran.
"Tidak nyonya. Maksudku untuk sementara ini ... saya juga masih menunggu."
"Hm ... baiklah. aku percaya padamu Jud."
●●●●●
Bersambung
Terimakasih buat support lewat komentar kalian.
Dukung terus author dengan vote dan juga like nya.
__ADS_1
Kita sambung esok hari.. see you