Pernikahan Sementara Dengan Orang Ternama

Pernikahan Sementara Dengan Orang Ternama
Sandiwara 1


__ADS_3

Setelah sekian waktu keluarlah Wilona dengan tampilan barunya, tim make up dan busana benar-benar berhasil mengubah Wilona yang biasa menjadi wanita yang anggun mempesona.


Dress semi formal berwarna pink, dipadukan dengan ankle strap heels putih, rambutnya pun tertata rapi dengan hiasan makeup natural namun elegan, Wilona benar-benar menawan saat itu sampai-sampai Judika di buat terkagum-kagum melihatnya.



"Nyonya." Tampak Judika senyum cerah saat menyambut nyonya keluar dari ruang tata rias, membuat Wilona sedikit tersipu dengan tampilan barunya.


"Mari nyonya, sekarang saatnya saya mengantar nyonya menuju kediaman Tuan Wahardian." Judika membantu membukakan pintu mobil.


"Baik."


"Bagaimana dengan pak Okta?"


"Baru saja tuan memberi kabar kalau urusan perusahaan sudah hampir selesai, Tuan akan segera menyusul ke rumah."


...


...Di perjalanan menuju kediaman tuan Wahardian...


"Semoga saja pak Okta segera datang." Wilona bergumam lirih sambil melihat lampu-lampu jalan.


"Sepertinya nyonya sedang merindukan tuan." Judika berkata sambil tersenyum. Ternyata Judika mendengarkannya juga perkataan lirih yang terucap dari mulut Wilona.


"Hey ... apa katamu? merindukan?


Cih ... itu bukan kata yang tepat Jud ..


Bukan merindukannya, tapi lebih tepatnya mengharapkan pak Okta disana, karena hanya dia yang aku kenal." Menjelaskan dengan senyum kecut.


"Baik nyonya, maafkan saya." Berkata sambil menahan tawa.


"Sudah kalau mau ketawa, ketawa saja, tidak usah di tahan begitu!!"


"E-ehem (mencoba berdehem untuk memfokuskan diri), tidak nyonya, maafkan saya." Judika kembali serius sambil mengendarai mobil.


"Ternyata kamu jahil juga ya Jud, aah ... sudah santai saja, aku tidak marah kok, tapi lihat saja pembalasanku besok..hahahaha." Wilona juga turut meledek, membuat Judika kembali tersenyum.


Ternyata ini yang menyebabkan Tuan terlihat senang beberapa hari ini, Nyonya Wilona selain baik hati dan menawan ternyata anda adalah wanita yang menarik. Semoga nyonya benar-benar berjodoh dengan tuan. (Pikiran yang terlintas membuat Judika kembali tersenyum dimobil )


....


...Di kediaman Wahardian...


"Ah, Wilona... selamat datang."


Mereka saling bertatap muka dan bersalaman di teras rumah.


"Mari... mari masuk ke dalam."


Tibalah Wilona di kediaman Wahardian. Disambut langsung dengan senyum cerah dari ayah.


Di sebelah ayah berdiri seorang wanita yang masih terlihat sangat anggun, dengan rambut cepaknya menatap wilona dengan senyum tenang.


sudah pasti ini istrinya, saat pernikahan waktu itu memang dia hadir berdampingan dengan ayah. Tapi aku benar-benar tidak mengenal bagian keluarga ini. Ah ... sudahlah, sepertinya pak Wahardian ini sangat hangat. batin Wilona.


Kami pun duduk di ruang tamu, ruang yang sangat luas dengan kursi yang mewah tertata rapi, lampu menggantung tepat berada di tengah ruangan di tambah akuarium yang terang dengan kehidupan di dalamnya membuat suasana menjadi lebih hidup.

__ADS_1


"Tadi Oktav mengabarkan kalau urusannya sudah beres dan akan segera datang menyusul."ujar ayah Ardian.


"I-iya ayah."


"Pak Sim, tolong siapkan minum. "


"Baik tuan." Kata seorang pelayan yang sudah tampak tua dan sejak tadi berdiri tidak jauh dari pak Wahardian, dengan pembawaan yang tenang segera berlalu meninggalkan ruang tamu.


"Bagaimana kabarmu Wilona?" ujar Ayah.


"Ah, baik ayah, setelah menikah kami melanjutkan dengan urusan pekerjaan masing-masing, dan rasanya itu menjadi lebih menyenangkan. Bagaimana dengan ayah dan ibu sendiri?"


"Ahahaha, seperti yang kamu lihat disini ayah dan ibu (sambil memegang lutut wanita disebelahnya) baik-baik saja. Ah sejujurnya kami disini sangat cemas mendengar kabar kamu sakit di hotel pada waktu itu."


Sambil menundukkan kepala Wilona tersenyum, "hanya demam biasa, mungkin karena terlalu lelah saat itu."


Tiba tiba datang seorang pria yang tinggi mengenakan sweater lengan panjang berwarna biru tua mendekat.


"Hai, kakak ipar." Pria ini berjalan mendekat dan mencoba untuk berjabat tangan, sontak Wilona berdiri dan membalas dengan bersalaman.


"Ah Wilona, ini adik Oktav, kamu mungkin belum kenal sebelumnya. " ayah menjelaskan.


Wilona menundukkan kepala sambil tersenyum menyapa "senang berkenalan denganmu."


"Hmm ... saya juga, panggil saja saya Henry, Apa kakak tidak bersamamu?" tanya Henry.


"Ah... dia masih ada urusan sebentar."jawab Wilona.


"Ooo... mari duduk lagi kakak ipar."


Hmmm adiknya ramah sekali seperti ayah, dia juga murah senyum tidak seperti kakaknya, mereka berbeda jauh sekali.


...


Sebuah ruangan luas kemudian di masuki Wilona, ini adalah kamar okta sendiri, Ayah mempersilahkan Wilona untuk istirahat sejenak sambil menunggu hidangan di persiapkan.


Kamar yang sangat besar.


Di sudut ruangan terdapat lemari kaca yang di beri lampu khusus, di dalamnya diisi dengan berbagai mainan mini superhero) di sebelahnya lagi terdapat buku-buku yang berjajar rapi, kamar ini punya jendela berukuran besar dari atas ke bawah juga terdapat sofa panjang di dekat jendela. Ada ruangan khusus lagi untuk ruang ganti yang penuh dengan koleksi sepatu dengan berbagai macam merek.


"Wah kamarnya saja bisa seluas ini."


Mata Wilona kembali tertuju pada koleksi buku yang di pajang pada sudut kamar, dia kemudian melihat-lihat dari dekat.


"Oh, ini novel 'Love In Paris', seorang Okta yang terkenal kejam bahkan membaca novel romantis ini?" Kemudian Wilona mengambil novel tersebut.


Novel ini sudah cukup lama, mungkin sekitar SMP kelas 2 waktu itu aku pertama kali baca.


Tiba-tiba dari arah samping seorang membuka pintu.


Wilona menoleh dan melihat Okta berdiri dipintu.


Okta terdiam sebentar, sedikit memiringkan kepalanya sambil melihat Wilona di depannya.


Kenapa dia melihatku seperti itu?


Karena merasa aneh dan juga malu, Wilona kemudian kembali menghadap rak buku sambil tetap memeluk novel di tangannya.

__ADS_1


Sambil berjalan mendekat,  tampak senyum tipis muncul di wajah Okta .


"Apa yang kamu lakukan disini?"


"Ah, ayah menyuruhku untuk istirahat di kamar sambil menunggumu datang."


Ngomong-omong, Pak Okta membaca novel ini juga ya? Ini juga salah satu novel favorit saya


Sebuah perjalanan perjuangan cinta yang sangat luar biasa mengharukan." Wilona menjelaskan sambil tersenyum mengingat isi cerita dalam novel.


Selembar foto tiba-tiba jatuh ke lantai yang kemudian segera di ambil oleh Wilona.


Seorang wanita dengan rambut panjangnya berseragam sekolah sedang tersenyum manis sambil membawa sekuntum mawar di tangannya.


Okta kemudian mengambil foto itu dan kemudian menyelipkanya pada novel yang di ambil dari tangan Wilona.


"Novel ini milik wanita di foto tadi." Meletakkan novel kembali pada posisinya.


"Ayo, kita turun ke bawah." Okta kemudian menyodorkan tangannya ingin mengajak Wilona bergandengan.


Wilona tertegun melihat tangan yang di ajukan ke arahnya. Kemudian dengan paksa Okta memegang tangan Wilona mengajaknya keluar dari kamar.


Wilona bingung dengan sikap Okta dan entah kenapa dia pasrah saja pada ajakan Okta. Sampai di pintu kamar mereka berhenti sesaat.


"Ingat, kita harus terlihat mesra di hadapan ayah." Okta menjelaskan, diikuti dengan Wilona yang hanya diam saja sambil menundukkan kepala.


Mereka berjalan menuju ke arah tangga keluar dari kamar, dan saling bersentuhan, namun ada suatu perasaan aneh yang muncul dalam diri Wilona yang segera di tepisnya karena dia harus segera berakting sebentar lagi.


Setelah tiba di ruang makan, tampak ayah tersenyum senang melihat mereka berdua datang sambil bergandengan tangan, bahkan Okta sempat menarik kursi dan mempersilahkan Wilona duduk terlebih dahulu di sampingnya.


Wilona memandang aneh pada sikap Okta, tapi Okta memberi kode dengan matanya agar wilona segera duduk.


Cih, Okta kamu pandai sekali.


Mereka pun segera menyantap hidangan bersama-sama setelah itu di lanjutkan mengobrol di ruang keluarga


Mereka semua sepertinya bahagia, orangtua dan adik Okta orang yang ramah (wilona melihat mereka satu per satu) ini merupakan suatu kehidupan keluarga yang normal, yang tidak normal ternyata cuma satu ...


Hm ... orang itu ... yaitu Okta si kepala batu yang tidak berperasaan. Bagaimana bisa Kehidupanmu itu penuh sandiwara ditengah keluarga yang baik ini.


"Jadi ayah memutuskan ... ," Tiba-tiba ayah mengangkat suatu pembicaraan serius membuat semua terdiam dan mata tertuju padanya.


"Pak Sim...!" Ayah memanggil kepala pembantu, membuatnya berjalan mendekat dan kemudian menyerahkan amplop putih di meja.


Semuanya terdiam masih dalam suasana penasaran.


"Nah, Wilona ambil ini." pinta ayah Ardian.


"I-iya." Mengambil amplop yang tadi diletakkan di meja oleh pak Sim.


"Ini adalah tiket honeymoon." Ayah tampak tersenyum senang.


"Honeymoon?" Wilona dan Okta sontak bicara bersamaan


...


Bersambung

__ADS_1


Haloo readers bantu author dengan Like nya yah❤🙏


__ADS_2