
Setelah semuanya usai maka rombongan tersebut bubar.
"Oh, nak Leony ... kamu juga datang?" sapa ayah yang akhirnya menyadari kehadiran Leony.
"Iya om, saya mengambil libur dan kebetulan langsung mampir kesini. Saya tidak akan pernah lupa dengan mendiang tante."
"Wah ... berarti kamu masih lelah perjalanan ... aku sangat berterimakasih padamu Leony."
"Sama-sama om."
"Mainlah kerumah juga." sapa istri tuan Wahardian.
"Baik tante, nanti saya akan main ke rumah juga. Sudah sangat lama sekali saya tidak main ke sana ... benarkan Henry?"
Henry hanya menganggukan kepala sambil tersenyum.
"Oh ya, dimana Wilona?" tanya ayah pada Okta.
"Ta-tadi aku melihatnya pergi ditemani Judika."
"Oh ... ya sudah kalau begitu. Ayah pulang dulu ya.
Leony! ... om pulang dulu." pamitnya sambil tersenyum
"Baik om, tante hati-hati dijalan."
Setelah semua orang sudah berpulang Okta dan Leony berjalan menuju parkiran mobil.
Disana ia melihat Wilona, dia berjalan juga menuju parkiran, matanya lesu menatap ke bawah.
Sedang Judika berjalan tepat di belakang Wilona.
Wilona benar-benar tidak memperhatikan jalan, langkahnya terasa berat dan bahkan kakinya tersandung sendiri. Hampir saja Wilona terjatuh.
Beruntung ada Judika yang sigap menangkap Wilona dan menegakkannya kembali.
Melihat itu, Okta hanya tersenyum sinis tidak percaya. Lalu menatap Wilona dengan kebencian.
Akhirnyalah mereka bertatap mata. Leony memandang Wilona yang masih saja memandang dengan tatapan sayu. Tampak kedua matanya sembab.
Leony segera masuk ke mobil dan mengambil kacamatanya.
"Pakailah ini, matamu sangat sembab, nanti wajah cantikmu menjadi berkurang." kata Leony.
*Cih*. Kembali Okta hanya melemparkan senyum kemarahan.
"Tuan." Judika hanya menatap tuannya dengan penuh harap, agar tuannya segera pulang dengan nyonya.
__ADS_1
"Pulanglah kamu dan antarkan dia." kata Okta pada Judika.
Mendengar itu, Wilona baru tergerak, matanya terangkat menatap Okta. Seketika juga Okta memalingkan wajahnya.
Dengan mata sembabnya, Wilona tersenyum dan dalam diam, berlalu menuju mobilnya.
"Tuan?"
"Antarkan saja dia. Setelah itu kamu boleh pulang, tidak perlu menemuiku."
Judika menundukkan kepala dan berlalu menuju mobil dimana Wilona sudah lebih dahulu berjalan.
Kenapa tuan menjadi berubah ... baik kepada nyonya dan juga kepadaku. Sebenarnya apa yang sedang terjadi dengan mereka berdua sebelumnya.
Okta hanya memandang Wilona yang berjalan menjauh. Melihat itu Leony segera memegang pundak Okta
"Ayo kita masuk." ajak Leony.
"Hm ..." saut Okta, namun matanya masih belum teralih pada Wilona.
Lalu mereka berpisah dengan mobil masing-masing.
Wilona dan Judika Di dalam mobil
"Nyonya bagaimana kalau anda saya antar ke kedai." karena pikir Judika, di kedai nyonya akan melupakan kesedihan dengan bertemu dengan ayah dan para karyawan disana.
"Antarkan saja aku ke rumah Jud."
Karena saking lelahnya Wilona tertidur di dalam mobil.
Sebaliknya Okta pergi berlalu dengan Leony menuju ke sebuah restauran untuk mengajaknya makan siang.
"Jam berapa kamu sampai di sini?"
Sambil menyandarkan kepalanya ke bahu Okta.
"Jam sebelas malam mungkin. Entahlah ...
Karena sudah sangat lelah aku langsung tidur di hotel saja. Barang-barangku semua masih di hotel."
"Benarkah? kalau begitu aku akan membantumu membawakannya pulang nanti."
Lalu Leony berusaha memancing pembicaraan lagi.
"Wilona dan Judika, mereka sedekat itu ya."
"Apa?"
__ADS_1
"Kalau tidak salah aku melihatnya berpelukan tadi."
Mendengar itu Okta hanya diam saja, membuat Leony yang bersandar pada bahunya menoleh pada Okta.
"Bagaimana menurutmu ... kalau mereka kita jodohkan saja."
Okta masih diam saja sambil tetap serius membawa mobilnya.
Sambil mengelus pipi Okta, Leony kembali berkata.
"Sayang apakah kamu marah?"
"Tidak, kenapa?"
"Sepertinya kamu tidak suka aku membahas tentang Wilona."
"Cih ... ceritakan saja dia sesukamu, aku tidak peduli padanya." kata Okta.
"Lima bulan lagi ... kamu akan di angkat menjadi Presdir dan kalian akan berpisah. Aku akan sabar menanti itu." lanjut Leony yang berbicara memandangi jalan di pundak Okta.
Tak sadar Okta tetap melaju sedangkan lampu lalu lintas di depan sedang berwarna merah.
*CIIITTT* Okta mengerem mobil secara mendadak.
Hampir saja Okta menabrak mobil yang sudah berhenti di depannya sejak tadi.
Dan untung saja seatbelt mampu menahan tubuh mereka supaya tidak terpelanting ke depan.
"Ka-kamu ... tidak apa-apa Leony?" Okta bertanya sambil mengusap rambut Leony.
"Tidak ... tenang saja, aku baik-baik saja." kata Leony sambil merapikan rambutnya dan masih dalam keadaan shock.
"Maafkan aku." Okta segera menggenggam tangan Leony dan menciumnya berkali-kali.
"Aku akan berhati-hati lagi."
Lampu sudah menunjukkan warna hijau.
"Ah ... aku tidak apa-apa, ayo jalan lagi aku sudah sangat lapar hari ini." Leony tersenyum pada Okta dengan sangat manisnya, lalu setelah melaju, ia melihat ke jalan dan senyum itu berubah.
●●●●●
Bersambung
Terimakasih ^^ buat dukungan semangat dan komentar kalian ya.
Ada yang gemes sekali dengan Okta.
__ADS_1
Buat yang belum VOTE ayo dukung author.🙏. GRATIS kok, cuma kumpulkan poinnya selama membaca dan tinggalkan vote untuk novel ini. Karena Vote kalian sangat berarti buat Author lebih bersemangat lagi.
Hari ini akan keluar 2 episode sebelum kita libur panjang. Jadikan novel ini favorit kalian di beranda supaya tahu setiap update episode yang keluar dan pencariannya lebih mudah lagi. ♡