
Halo semua mari kita lanjutkan. ^^
Okta dan Wilona sudah tiba di bandara Indonesia.
"Hiks ... ini terlalu cepat." Wilona menunjukkan ekspresi sedihnya ke arah Okta.
Okta menanggapinya sambil menganggukkan kepalanya.
Mereka langsung pulang ke rumah karena sudah sangat letih hari itu, terlebih hari terakhir di habiskan Wilona untuk membeli souvenir untuk teman-teman kerjanya.
Dia mampir ke sana kemari mencari yang bagus dan terjangkau harganya lalu langsung perjalanan pulang ke Indonesia.
*****
Malamnya dirumah
Okta keluar kamar dan terlihat sepi sekali rumahnya.
"Hey.... hey... kamu sedang apa?" Okta berdiri di depan kamar Wilona.
"Ada apa pak, saya sedang sibuk."
"Sibuk apa, cepat keluar."
Huuuh dasar kenapa sih tidak bisa tenang sehari saja.
Wilona membuka pintu.
"Ada apa pak Okta?"
"Kamu sedang apa di dalam." Okta mendongak melihat ke dalam kamar Wilona.
"Hey, itu berantakan sekali." Okta memaksa masuk ke dalam dan melihat berbagai macam bungkusan pelastik yang berserakan di lantai.
"Ini ... ini oleh oleh yang kamu bicarakan itu?"
Wilona menghela napas.
"Iya pak, besok saya mau bagikan semua ke kerabat, sahabat juga teman kerja, se-mu-anya."
"Temanmu yang mengantarmu, itu juga?"
"Ya tentu saja."
"Mana berikan padaku barangnya."
Maksudnya apa orang ini.
"Mana barang yang untuk teman-teman kerjamu?"
Wilona cemberut sambil menunjukkan barangnya. Okta segera memegang barang itu. Yang di pegang Okta adalah gantungan kunci berbentuk menara Eiffel dan juga beberapa cemilan.
Oh ... hanya barang ini untuknya, cih...
"Aku lapar, cepat siapkan omelet telur lagi."
Okta segera keluar dan menutup pintu.
Haiiisss maksudnya apa orang ini. Wilona terheran-heran.
Dengan langkah kesal, Wilona langsung turun ke bawah, dan lihatlah Okta juga sudah di ruang makan menunggunya (sabar Wil .... T.T)
"Kenapa lama sekali? Aku capek menunggu, tau tidak?"
Wilona hanya memicingkan mata ke arah Okta, tidak menjawab dan langsung ke dapur mengolah wortel keju dan telur.
Setelah jadi makanan di hidangkan di meja.Okta tersenyum senang melihat omelet kesukaannya ada di hadapannya saat ini.
Wilona segera melepas apron dan hendak berbalik ke atas.
__ADS_1
"Hey ... tidak sopan sekali, temani aku makan disini."
Wilona hanya berdiri diam melihat kelakuan aneh Okta.
Haduuuuh baru hari ini sampai di Indo, tolonglah sehari ini jangan kumat. batin Wilona.
"Cepat, aku sudah lapar. Apa kamu mau berdiri di situ saja?"
Wilona lalu duduk berhadapan dengan Okta. Disambut Okta yang tersenyum puas karena perintahnya dituruti.
"Tidak ada minum? ambilkan minum juga."
Wilona lalu melihat dengan kesal.
"Apa? Minum? Tidak ... aku tidak mau, aku bukan pembantu disini, aku tidak mau, ambil sendiri saja."
"Kalau tidak mau bilang saja, tidak usah panjang lebar begitu." Okta segera berlalu mengambil botol minuman.
Saat Okta sedang menikmati omelet kesukaannya Wilona melihat cincin yang terpasang di jari Okta.
"Ah ... cincin itu, cincin kalian berdua ya."
"Iya."
"Bagus sekali, kalian pantas memakainya."
"Apa kamu iri?"
"Kenapa harus iri? Aku tidak, orang yang pantas mendampingimu memang Leony, kalian sangat serasi.
Kamu harus mempertahankannya tidak ada wanita secantik dia.
Kalau aku, aku tidak akan meminta sesuatu yang mahal pada pasanganku, tidak perlu barang , cukup dia perhatian, ah ... dan satu lagi tambahan penting, dia bukan orang yang suka marah-marah."
"Yah memang rakyat jelata tidak akan mampu membeli ini, apalagi kamu." Tersenyum menghina.
"Salah besar, aku tidak berminat samasekali dan aku tidak akan manja minta ini itu. Kamu lihat aku sekarang pak, tidak ada barang berharga yang menempel di tubuhku.
Nah satu satunya barang yang mahal hanya cincin pernikahan kita."
"Kalau begitu siapa yang mau sama kamu? kalau kamu mau rajin perawatan dan merubah penampilanmu kamu akan terlihat cantik."
Ups ... aku salah bicara. Okta tiba-tiba menghentikan perkataanya berharap Wilona tidak mendengar apa-apa.
"Apa? Pak Okta tadi bilang apa?"
"Ah ... maksudku kamu akan lebih menarik. Di mata orang, saat kalau kamu mau merubah penampilanmu. Saat ini aku yakin hanya orang yang aneh mau memilihmu jadi pacarnya."
"Apa? pak Okta menghina sekali, Justru dengan aku berpenampilan sederhana aku bisa melihat siapa orang yang tulus padaku pak.
Kalau ada yang mau menerima aku apa adanya, maka aku juga bisa melihat kesederhanaan hatinya."
"Ah ... itu terlalu banyak teori."
"Pak Okta sendiri? Dengan kedudukan dan jabatanmu yang sekarang dipunyai, apa yakin orang disekelilingnya adalah orang baik dan bukan memanfaatkan keadaan saja."
Mendengar perkataan itu, mendadak Okta diam. Dia seperti memikirkan sesuatu.
"Aku naik dulu." Tiba-tiba saja memutuskan pembicaraan. Okta langsung berdiri dan berjalan naik ke kamarnya.
"Dia kenapa? " Wilona menoleh mengikuti pergerakan Okta menuju kamarnya.
Apa bicaraku keterlaluan ya?
Atau apa dia benar-benar di manfaatkan orang di sekelilingnya?
biasanya dia orang yang selalu membantah saat bicara, tapi kali ini...
Wilona merasa bersalah, menutup mulutnya dengan tangan lalu memukul pelan bibirnya.
__ADS_1
Wilona segera naik, mengambil snack kentang kaleng kesukaannya.
Em ... coba aku hibur dia.
Lalu Wilona mengetuk pintu kamar Okta.
*Tok ... tok ... tok.*
"Pak ... pak?" Wilona mengetuk pintu berkali kali namun tidak ada respon.
"Pak, ayo bantu aku habiskan cemilan kentang ini."
Wilona lalu berhenti mengetuk pintunya. Lalu membalikkan badan, bersandar pada pintu kamar Okta. Dia menghela napas dan sekali lagi memandang pintu kamar Okta dengan sedih.
Wilona tidak bisa apa-apa, pelan dia berjalan balik ke kamarnya.
Sebenarnya Okta tidak tidur, dia mendengar semuanya dengan jelas, dia memilih duduk di lantai bersandar pada tempat tidurnya. Pandangannya sedih. Tak di sangka perkataan Wilona tadi membuatnya berpikir tentang kehidupannya.
Tiba-tiba dari balik kamar jendelanya terdengar Wilona yang menyanyikan lagu
*I won't give up* Jason Mraz.
Ya ... Wilona sengaja membuka kamar jendelanya dan menyanyikan lagu itu dengan keras, lagu kesukaanya yang membuatnya selalu bersemangat setiao menghadapi masalah.
🎶
Well, I won't give up on us
(Aku takkan menyerah dengan keadaan kita)
Even if the skies get rough
(Bahkan jika langit mulai memburuk)
I'm giving you all my love
(Aku akan memberikan seluruh cintaku)
I'm still looking up
(Aku masih mengaguminya)
Well, I won't give up on us
(Aku takkan menyerah dengan keadaan kita)
God knows I'm tough enough
(Tuhan tahu, itu cukup sulit )
We've got a lot to learn
(Banyak pelajaran yang kita dapat)
God knows we're worth it
(Tuhan tahu bahwa kita pantas untuk itu)
🎶
Okta lalu tersenyum mendengarnya.
Cih suaramu jelek sekali.
Dia segera bangun, membaringkan diri, memeluk guling dan kembali tersenyum mendengar lantunan lagu dari Wilona.
*****
Bersambung
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan vote,☆ dan ♡ nya ya..