
Sore harinya Wilona memutuskan untuk pulang terlebih dahulu bersama Bastian.
"Sebaiknya kamu pulang bersama kita saja Wilona."pinta Leony yang berpura-pura baik padanya.
Okta hanya terdiam menatap Wilona menunggu jawaban yang keluar dari mulutnya.
"Tidak ... aku a-ada acara bersama Tian hari ini, benarkan Tian?"
"I-iya." jawab Bastian walaupun sebenarnya, tidak ada janjian sebelumnya antara mereka.
Akhirnya mereka pulang dengan mobil masing-masing, Okta bersama Leony dan Wilona bersama Bastian.
▪▪▪▪▪
Dan inilah kemenangan yang dirasakan Leony, ia bisa kembali ke Paris dengan jaminan Wilona lebih memilih dengan Bastian.
Maka dari itu dalam perjalanan pulang, dia hanya bisa tersenyum puas.
Karena misinya berhasil.
Lihat saja Wilona, kalau kamu berani macam-macam akan kubongkar semua yang buruk dari dirimu.
Flashback
Sebenarnya secara diam-diam Leony mencuri foto kebersamaan Wilona dan Bastian saat itu.
dan memang inilah misinya sendiri untuk menghancurkan Wilona tanpa sepengetahuan Bastian jika Wilona berani mengambil langkah yang salah di kemudian hari.
▪▪▪▪▪
Di mobil
"Sayang ... aku sudah tidak sabar menunggu kamu di lantik, lalu aku akan mengurus kepindahanku ke sini lagi dengan segera ." ucap Leony yang menyandarkan diri di pundak Okta.
Saat itu Okta sedang serius membawa mobilnya melaju menuju kediaman Leony.
Okta hanya terdiam tak menanggapi sama sekali pernyataan Leony, kenyataan yang terjadi adalah karena pikiran Okta melayang jauh kepada sosok Wilona.
Sama -sama pulang kerumah, kenapa dia memilih pulang dengan makhluk tidak jelas itu.
"Sayang?" Leony tiba-tiba menyadarkan Okta.
"Ah ... ya?"
"Bagaimana menurutmu?" tanya Leony.
Okta bahkan sampai mengedipkan mata berkali-kali karena ia bahkan tidak tahu apa yang sedang Leony bicarakan.
"Ah ... ya, itu ... itu menyenangkan." jawab Okta.
__ADS_1
"Benarkah?" Leony kembali tersenyum dan merangkul lengan Okta dengan erat.
Mereka pun melaju dan tidak mampir kemana-mana lagi berhubung Leony perlu waktu packing barang untuk kepulangannya ke Paris esok harinya.
Sesampainya dirumah Okta melihat Wilona dengan kaos oblong dan rambut terikat cepol sedang duduk di bangku taman seorang diri.
"Apa yang kamu lakukan disini." tanya Okta yang turun dari mobil.
"Hm ... bukan apa-apa."jawab Wilona sambil tersenyum kemudian Okta langsung menyusul duduk di sebelahnya.
"Aku hanya memikirkan bahwa sudah banyak hal yang kita lalui bersama selama ini, mulai dari hal yang lucu, menegangkan sampai pertengkaran-pertengkaran kita.
Jadi aku ingin mencoba menikmati semua pengalaman itu.
Karena aku akan segera keluar dari sini."
Perkataan itu membuat Okta memalingkan wajah enggan mendengarkan.
"Bisakah kita tidak membahas tentang itu?"
"Justru itu, aku ingin kita mulai sepakat sekarang ini."
"Sepakat?"
"Ya ... benar, sepakat usahakan kita tidak bertengkar lagi."
Wilona melirik Okta dengan wajah kesal.
"Ah ... ya-ya baiklah. " nada Okta menurun seketika.
Melihat ekspresi itu Wilona kembali tersenyum.
"Setelah kamu di angkat, maka tujuan kita akan mencapai garis finish.
Aku bukanlah bagian keluarga ini lagi jika saatnya tiba, maka dari itu setidaknya aku ingin meninggalkan kesan baik di matamu."
Pembicaraan itu membuat Okta berpaling lagi enggan mendengarkan kata-kata Wilona.
"Oh ... ya... apa yang bisa kubantu selama masa-masa ini?tanya Wilona.
"Tidak ada, dukung doa saja agar semua urusanku menemui titik terang."
"Hanya itu? ... baiklah, aku akan mendoakanmu mulai hari ini." ucap Wilona yang tersenyum pada Okta. Okta hanya terdiam memandang senyum itu.
Senyuman itu, akankah segera berakhir juga? batin Okta.
Kemudian Wilona melanjutkan untuk berbicara.
"Memangnya ada kemungkinan pak Okta tidak diangkat selain karena tuntutan pernikahan ini?"
__ADS_1
"Tentu saja tidak, bukan hanya itu dan tidak semudah itu."
"Bukankah Grup Wahardian dibentuk ayah, besar kemungkinan pak Okta akan terpilih kan?"
"Henry ... dia juga dipilih beberapa orang untuk menjadi pemimpin selain diriku."
"Henry? adikmu yang baik itu?
kenapa justru menjadi pesaing pak Okta?"
"Menurutmu dia baik?"
"Ya ... aku bahkan tidak melihat ada ambisi dalam dirinya untuk menjadi pemimpin pak."
"Maka dari itu doakan saja agar aku menemui titik terang itu. "
Hm... ada apa dengan mereka berdua? sebenarnya baru hari ini aku menyadari ... kalian berdua bersaudara namun tidak ada komunikasi sama sekali diantara kalian.
Henry? ... dari ekspresi Okta sekarang ini aku merasakan suatu kebencian yang memancar dari sorot matanya.
Wilona kemudian menyentuh pundak Okta.
"Aku yakin pak Okta akan terpilih."
"Darimana kami yakin akan hal itu?"
"Kalau tidak nasibku bagaimana?"
"Apa?"
"Ahahaha ... tidak ..maaf Aku cuma bercanda saja Pak."
Hahaha, Wilona berjalan masuk rumah.
"Hey ... masakkan aku sesuatu."
"Memangnya pak Okta belum makan?"
"Ayolah ... jangan banyak bertanya, mau buatkan tidak?"
"Hahaha iya-iya baiklah."
Mereka pun segera masuk ke rumah sambil saling tertawa.
●●●●●
Bersambung
Henry ... sebenarnya siapakah sosok Henry sampai-sampai hanya Okta sendiri saja yang tidak menyukainya.
__ADS_1