Pernikahan Sementara Dengan Orang Ternama

Pernikahan Sementara Dengan Orang Ternama
Kenangan tak terlupakan


__ADS_3

...Pagi hari...


Wilona bergegas bersih-bersih rumah dan menyiapkan sarapan dengan buru-buru, tapi sepertinya waktunya tetap tidak cukup, ia sudah tampak kelelahan. Keringat bahkan sudah mengalir membasahi tubuhnya.


Okta kebetulan turun untuk minum. Aroma masakan mengisi sudut ruangan menggugah selera siapa saja yang mendekat.


Langkah kakinya terhenti, terdiam sesaat mengamati Wilona yang begitu sibuk mondar mandir menyiapkan segalanya.


Rambutnya diikat jambul tergulung ke atas, apron hitam yang melekat  sempurna  pada baju tidur dan celana mini yang masih di pakainya. Keringatnya bahkan mengalir membasahi tepi rambut, leher sampai baju belakangnya.


Seketika Okta teringat akan alm. Ibunya, sewaktu ibunya masih hidup, selalu menyibukkan diri di dapur, membuat masakan spesial untuk Okta dan ayah.


Banyak pelayan disana, tak membuat ibu bersantai, melainkan dengan sukacita menyiapkan masakan sambil bersenda gurau dengan para pelayan, tampilannya bahkan sama seperti Wilona saat ini, dengan pakaian sederhana, rambut yang terikat dan apron yang terpasang.


"Selamat pagi Pak." Wilona menyapa sambil menaruh telur omelet di meja.


Okta tersadar dari lamunannya kemudian berlanjut mengambil botol mineral di kulkas.


Sementara Wilona masih sibuk menata nasi dan lauk lain di meja.


Saat akan menuju ke meja makan, kembali Okta melihat Wilona dari belakang, kenangannya akan ibunya sepintas datang lagi, ia mencoba mengalihkan pikirannya dengan melihat dinding ruang makan.


Sampai akhirnya pandanganya jatuh pada omelet telur di meja.


Okta begitu terkejut karena ini sama persis dengan yang dulu sering di buat Alm. ibunya.


Okta kemudian mencengkeram pundak Wilona, memutar badannya sehingga mereka saling berhadapan dengan sangat dekat.


"Auuu, sakit." Wilona tampak meringis kesakitan sambil memegang pundaknya.


Mereka saling bertatapan dengan jarak yang sangat dekat.


"Sakit Pak." ujar Wilona sekali lagi.


Okta kembali tersadar dan melepaskan tangannya, menggeser tubuh Wilona, sehingga ia hampir saja kehilangan keseimbangan. Okta lalu duduk menenangkan pikirannya sambil terus menatap omelet tanpa berkedip sekalipun.


"Aku, mau makan sekarang." Suaranya lirih.


"Haaah, tapi ini kan masih panas, Pak Okta sebaiknya mandi dan bersiap-siap saja dulu, aku juga masih berkeringat seperti ini!"


Okta menatap tajam Wilona tanpa berkata-kata sedikitpun. Wilona mulai bisa mengerti arti tatapan itu (lama-lama sinyalnya kuat seperti Judika ya ^^)


"Se-sebentar aku ambilkan piring dan sendok dulu." Dengan buru-buru Wilona segera menuju rak piring dan mengambil semua yang diperlukan untuk sarapan.


Sekarang perasaan apa lagi yang ia rasakan. Pagi-pagi sudah menghadapi laki-laki aneh begini. Batin Wilona.


Segera Okta mengambil potongan omelet di depannya, dan memakannya dengan cepat.


Semua nostalgia tentang ibunya kembali terulang.


Sebab baik dari bentuk dan rasa semuanya ini sama persis dengan kenangan yang masih menancap di pikirannya.


Okta menatap wajah Wilona begitu lama, begitu juga dengan Wilona yang menatapnya sambil berulang kali berkedip karena bingung dengan sikap Okta di pagi ini.


Dia kenapa ya? apa yang sebenarnya dia pikirkan? Kenapa sikapnya aneh pagi ini.


"Ehem ( Wilona  mencoba berdehem untuk memulai pembicaraan ), bagaimana pak rasanya?


"Ini, enak." jawab Okta dengan mulut masih mengunyah.


Eheey masa sih, (dengan ekspresi menyangkal) ini Okta kenapa ya, biasanya dia tidak pernah merespon yang positif setiap kali aku bertanya. Kenapa aku jadi merasa dia aneh dan menakutkan ya kalau jadi begini.


Akhirnya mereka sarapan bersama menghabiskan semua makanan di meja. Wilona juga terpaksa menemani Okta sekalipun bajunya sudah basah penuh dengan keringat.


"Pak Okta." Wilona kembali bertanya setelah makanan sudah hampir habis, Okta kemudian menatap Wilona

__ADS_1


"Emmm, sepertinya aku tidak punya cukup waktu kalau harus bersih-bersih rumah dan membuatkan sarapan sepagi ini, rasanya jadi terburu-buru sekali karena aku butuh persiapan juga sebelum berangkat kerja."


Okta kemudian melihat baju Wilona yang basah karena keringat.


"Memang kapan aku menyuruhmu bersih bersih sepagi ini?" ujar Okta dengan nada menghina


"Apa???"


Yah sifat aslinya muncul kembali, selalu protes setiap aku berbicara.


"Se-setidaknya bantu saya untuk cuci piring dan membereskan meja ini."


"APA??? Hey! Berani sekali kamu main perintah saat ini."


"Ya kan kita sama-sama bekerja setelah ini, paling tidak pak Okta juga harus tanggungjawab selama tidak ada pelayan di rumah.


Lagian Judika pernah bilang semua pelayan disini di pulangkan ke rumah, kenapa juga sih pak, bukannya lumayan kalau ada mereka disini." Wilona berbicara sambil menaruh gelas piringnya di wastafel.


Okta mendekati Wilona, sambil membawa gelasnya.


"Ohhh, jadi kamu mau kita tidur satu kamar."


"Hah?tidur? hahaha pastinya tidak akan pernah sama sekali, tidak akan, jangan konyol pak. Kenapa juga tiba-tiba membahas hal tidak penting itu."


"Benarkah? Kamu tidak tertarik sama sekali?"


"Tentu saja tidak."


"hey bodoh ... kalau begitu gunakan otakmu, Kalau kamu mau pelayan tinggal di sini, itu artinya kamu harus mau juga tidur di kamarku, memangnya kamu tidak tahu bahwa pelayan-pelayan ini akan selalu siap melaporkan segala sesuatu jika ayah bertanya tentang kita."


"Ahhh benar ... jadi itu alasan mereka tidak ada disini."


"Dasar bodoh." Berjalan mendekati Wilona sambil menaruh gelasnya di wastafel.


Wilona sedikit merinding merasa Okta yang menaruh gelas dan tepat berada dibelakangnya sedekat itu.


"Mulai besok aku yang cuci piringnya." Lalu Okta berlalu menuju kamarnya.


Wilona mengentikan aktivitas mencuci piringnya, membiarkan air kran mengalir deras membasahi tangannya. Pandanganya teralih melihat Okta yang berjalan menjauh.


Dia tidak percaya kalau Okta pengusaha ternama, terkenal dan kaya raya itu ternyata mau juga diajak kerjasama dalam urusan dapur.


Hehehe..kenapa aku jadi senang begini ya ( senyum sendiri sambil berkali-kali menoleh kebelakang ), bukannya dia keras kepala?


aku seperti memenangkan pertempuran besar kalau dia mau menurut begini. Nah gitu dong, sekali-sekali nurut.


Akhirnya mereka berdua kembali bekerja sesuai rutinitas masing-masing.


...Sore harinya ... Persiapan menuju ke rumah ayah...


Wilona yang menuruni tangga menyapa Judika yang sudah menanti sedari tadi di bawah.


Kali ini Wilona tampil dengan lebih rapi, rambutnya di ikat separuh, mengenakan hem berwarna putih dan celana kain hitam di sertai sepatu kulit pemberian ayahnya.


"Hai Jud, kamu sudah dari tadi ya?" Menyapa dengan senyum dan mata berbinar-binar( siapa yang tidak tersenyum melihat seorang pria yang sopan tampan dan baik hati seperti Judika, bak seorang rose yang di tunggu jack di bawah tangga dalam film titanic ^^)


"Selamat sore nyonya."


"Em...dimana Pak Okta? Dia belum turun ya?"


"Tuan masih ada dikantor nyonya." Sambil tangan nya mengeluarkan hp dari saku.


*Cekrek* 


Wilona lebih fokus menuruni tangga dan tidak tahu bahwa dengan terampil  Judika mengambil foto Wilona diam-diam kemudian mengirimkan pada tuannya.

__ADS_1


Di layar tampak Judika sedang chat dengan tuannya;


*Ci**h, sudah kuduga wanita itu. Lanjutkan*


Baik tuan.


Hmmm, lumayan setidaknya tidak ada perdebatan dimobil sekarang( wilona bergumam melihat ketidakhadiran Okta)


...


Di dalam Mobil


"Jud?" tanya Wilona.


"Ya nyonya."


"Apa kalian tidak pernah bertengkar selama ini?"


"Bagaimana caranya kamu bisa terpilih?"


"Sepertinya tidak ada orang yang bisa bertahan lama dengan orang antik itu kecuali kamu ya."


"Emmm,  begitu ya Nyonya." Judika membalas singkat dengan senyumnya.


"Kamu bisa ceritakan padaku kalau kamu kesal padanya, ya sekedar meluapkan emosi, jangan di tahan, aku janji padamu tidak akan cerita padanya.


Kamu kan sudah bersamanya terlalu lama, tidak mungkin kalau tidak kesal padanya. Iya kan?


Aku bahkan setiap detik sangat ingin sekali memukul wajahnya, atau setidaknya menjambak rambutnya kalau dia kumat."


"Wah, nyonya saya tidak akan berani berbuat seperti itu." timpal Judika.


"Benarkah? Ahahahaha Jud kamu hebat karena bisa bertahan selama ini." Wilona menepuk pundak Judika.


"Saya hanya membalas budi karena Tuan pernah menyelamatkan saya dan keluarga saya."


"Hah?"


"Ah, bukan apa-apa nyonya." Judika tersenyum menanggapi namun matanya tetap fokus mengendarai mobil.


Hmmm, balas budi? mungkin ada benarnya juga kenapa Judika bisa tetap bertahan selama ini. Wilona terdiam sambil merenungkan kata-kata Judika.


Perjalanan berlalu, mereka sudah memasuki kawasan elit dimana bangunan bertingkat dan lampu kotanya sudah mulai nampak berjejer, Akhirnya mobil berhenti pada pusat perbelanjaan ternama.


"Eh Jud, kenapa kita di sini?" Wilona bingung melihat sekitar kawasan yang tampak megah. Sedang Judika diam saja keluar dan membukakan pintu untuk Wilona.


"Nyonya, mari saya antar kedalam."


"I-iya." Masih tampak bertanya-tanya dalam hati, kenapa mereka turun disini.


Sesampainya di dalam, tampak beberapa petugas berseragam berjejer, menyambut Wilona. Seorang Laki-laki dengan postur tinggi berbalutkan jas mewah datang mendekat.


"Selamat sore nyonya, perkenalkan saya Clinton Kepala bagian departemen ini, saya yang akan membantu nyonya hari ini.


Hah, apa ini? membantu apa? ( mata Wilona terbelalak, ekspresinya tentu menjadi bingung, dia menoleh ke kanan ke kiri mencari jawaban ada apa dengan sistuasi ini)


Judika yang berdiri di belakang Wilona memberi kode pada para petugas dengan menundukkan kepala. Dan segera para petugas membawa Wilona masuk ke dalam ruangan.


"Eh... tapi..." Wilona berjalan sambil menoleh ke belakang tempat Judika berdiri, Dia hanya melihat Judika tersenyum sambil menundukkan kepala padanya.


Hey...aku mau di bawa kemana?


...


Bersambung

__ADS_1


^^^hai semua, terimakasih sudah membaca sampai episode ini, semoga terhibur dan jangan lupa klik tombol like dan vote nya juga ya.^^^


__ADS_2