
Judika dan Okta sudah berada di sasana boxing.
Fit Elite Kickboxing adalah tempat favorit kalangan high class, disana para pelanggan akan mendapat pelayanan super prima.
Termasuk tenaga profesional yang sudah beroleh banyak medali siap menjadi pelatih mereka.
Berbagai perlengkapan gym pun tersedia
komplit di ruang lain, sasana tinju yang sangat besar.
Dan Berada di lokasi strategis, tak heran sering menjadi tempat khusus bagi kalangan atas untuk memakai tempat dengan fasilitas terlengkap tersebut
Sebuah tempat yang mendadak sepi berhubung telah disewa Judika sehingga tidak ada seorangpun yang bisa masuk kecuali sang pemesan tunggal.
Seperti biasa, Judika yang sudah terbiasa datang kesana saling beradu di atas ring dengan tuannya.
Judika sadar, kali ini tuannya datang dengan emosi penuh. Maka ia harus lebih siap lagi menghadapi serangan tinju tuannya.
*Buk-buk-buk* mereka saling beradu tinju.
AAARGH ... Okta benar-benar meluapkan segalanya.
Sambil terengah-engah Okta bertanya "Apa ... yang ...kalian ... lakukan di makam saat itu." Tangannya tak berhenti meninju Judika sambil terus berbicara. Judika dengan sigap menangkis ke segala arah.
"Apa tuan?" Judika terdiam fokus dengan pertanyaan tuannya.
Tak pelak sasaran tinju mengenai muka Judika karena berada di posisi lengah.
*Hah ... hah... hah * nafas terengah Okta.
"Kenapa ... dia ... sampai memelukmu saat itu?"
"Tuan ..." Judika tertegun dan *Buk* ... kembali wajah Judika diterjang Okta.
Namun kali ini Judika sudah menemukan jawaban apa di balik perlakuan tuannya yang berbeda selama 2 hari ini.
Dalam lelah Judika lalu melakukan kunci dengan merangkul tuannya, untuk menahan pergerakan tinju Okta.
__ADS_1
"Lepaskan ... hah...hah..Ayo lagi... ayo ...!"
"Tuan." Judika semakin erat menahan saat itu bagian gusinya berdarah dan mengalir darah keluar lewat sela-sela mulutnya.
Judika sebenarnya sangat jago dalam hal boxing, dia orang yang bahkan menjadikan gym dan boxing sebagai bagian dari hari-harinya sebelum istirahat malam.
Dari penampilannya, yang hanya mengenakan kaos saat itu bentuk tubuh dan ototnya sudah menjadi bukti rajinnya dia berolah raga.
Sebenarnya dengan sangat mudah dia bisa saja membalas balik serangan Tuannya. Tapi kali ini dia mengalah.
Melihat ada darah yang mengalir di mulut Judika.
Okta segera mundur kebagian pojok ring, dan terduduk lemas di situ. Masih dengan nafasnya yang terengah-engah.
Judika berjalan sambil menghapus darah di sekitar mulutnya sendiri, ia mendekat pada tuannya dan membukakan botol air mineral yang ada di sebelah tuannya.
"Tuan, minumlah dulu." Judika menyodorkan botol tersebut.
Sekali lagi darah masih mengalir lewat sela-sela mulutnya. Secepat mungkin Judika melap itu dengan menggunakan baju bagian lehernya.
Okta menatap Judika dengan tatapan kesal.
"Aku sudah berpikir ... *hah-hah* sekuat mungkin, itu adalah suatu kebetulan, sebab aku percaya padamu...*hah-hah-hah* tapi ... pikiran burukku selalu keluar."
"Tuan ..." Judika lalu duduk dengan berlutut di depan Okta.
"Sampai dengan saat ini, saya juga tak mengerti tuan. Mengapa Nyonya menangis kuat saat itu.
Saat itu saya memang memperhatikan nona Leony datang dan mendekat, berdiri di samping tuan.
Lalu tak berapa lama Nyonya mundur dan pergi menjauhi kerumunan.
Karena taman terlalu luas, saya memutuskan mengikutinya dari belakang.
Saya melihat dia menangis, dan berkali-kali mengusap air matanya.
__ADS_1
Saya tidak tahu, kemana dia akan pergi ...
dan bahkan cara berjalannya saja sudah terlihat berat.
Lalu ...
saya memanggil nyonya.
Saat itu dia berbalik dan tiba-tiba memeluk saya dengan isak tangis yang lebih keras lagi."
"Menangis?? Kenapa dia menangis?"
Judika menggelengkan kepala.
"Saya sendiri tidak tahu tuan. Sepertinya nyonya juga sengaja menyembunyikan kesedihan wajahnya dibalik tubuh saya. Jadi saya hanya berdiam diri. Membiarkan nyonya melampiaskan semuanya."
"Kenapa ... apa yang terjadi sebenarnya?
Aku kan ada disana?
kenapa pula dia memilihmu, melampiaskan itu padamu?"
"Mohon maafkan saya tuan. Atas sikap saya yang kurang ajar ini." Judika menundukkan kepala.
Hahahahaha...Okta.tertawa keras...menertawakan kebodohan dan kesalahpahamannya selama ini.
Tiba-tiba saja Okta berkata, "Aku ingin minum. Ayo temani aku."
"Tuan." Judika terperanjat, sebab tuannya selama ini tidak menyukai alkohol tapi mengapa kali ini dia bahkan mengajaknya ke sebuah bar.
Tuan ... ada apa lagi ini?
●●●●●
Bersambung
Oke 1 episode lagi...semoga rampung hari ini edit-editmya jam 20.00 malam terbit ya. semangat
__ADS_1