
Wilona akhirnya sampai juga dirumah.
Rumah masih tampak sepi, sepertinya Okta juga belum pulang saat itu.
Judika masuk dan menyalakan beberapa lampu ruangan dan memastikan bahwa rumah dalam keadaan aman.
"Nyonya."
"Kamu bisa pulang Jud."
"Baik nyonya."
"Terimakasih ya buat hari ini."
"Saya yang lebih berterimakasih nyonya."
"Ha? ... kenapa?" Tanya Wilona penasaran.
"Bukan apa-apa, saya permisi nyonya."
"Yasudah kalau begitu ... hati-hati di jalan ya."
Wilona lalu masuk ke dalam rumah.
Rasa lapar sudah hilang dari tubuhnya, padahal saat itu dia sengaja untuk tidak makan berhubung Okta mengajaknya untuk makan malam bersama.
Jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam.
Wilona teringat bahwa Jojo juga membuatkan pangsit untuknya yang bisa di hangatkan ulang.
Dia segera turun.
"Setidaknya aku harus mengisi perutku."
Wilona lalu menghangatkan kuah yang sengaja di pisahkan jojo dari pangsitnya.
Saat mematikan kompor, terdengar suara mobil datang, menandakan Okta pulang.
"Aku pulang.
Sedang apa kamu?"
lalu Okta berjalan mendekati Wilona dengan ragu.
Wilona tak menjawab apa-apa, dia hanya fokus membawa kuah pangsit yang masih panas ke meja.
"Ma-maaf aku ...aku tidak bisa menepati janjiku."
Namun Wilona diam saja tidak menjawab, dia justru sibuk meniup kuah yang masih mengeluarkan uap yang panas.
"Ka-kamu tadi datang ke restoran itu?
Ah ... mungkin kamu tidak ke sana, bukti nya kamu sedang makan saat ini."
__ADS_1
Wilona menghela napas dan berkata.
"Pak Okta mau ini? Ini pangsit kuah buatan Jojo, dia spesial membuatkannya untukku.
Makanan ini sangat menggugah selera, dan makanan yang sederhana iniΒ lebih cocok buatku.
Jojo adalah orang yang sangat baik, bahkan saat pulang dia masih meninggalkan ini untukku.
Kamu mau Pak?
Aku bisa membaginya juga untukmu."
Okta melihat Wilona dan mangkok di depannya dengan kesal.
"Habiskan saja! Aku tidak selera dengan makanan tidak jelas itu."
Okta segera naik ke atas dengan kesal dan langsung masuk menuju kamarnya.
Ia membuka blazer nya dan melemparkannya ke sofa lalu berjalan membuka tirai jendelanya.
Okta lalu mencoba menghubungi Judika.
Ternyata di ponselnya ada 5x panggilan dari Judika.
"Jud, maaf aku tidak sempat melihat hp tadi."
Nyonya Wilona menunggu anda cukup lama tuan.
"Apa?"
Nyonya bahkan mempersiapkan semua tuan, dia berpakaian rapi dan cantik malam tadi.
"Jadi dia datang?"
Benar tuan. Nyonya menunggu anda.
Segera Okta melemparkan ponselnya dan berjalan dengan cepat turun ke bawah. Setelah mencapai anak tangga terakhir ia berjalan pelan mendekati Wilona dengan perasaan bersalah.
"Tadi ... kamu datang?"
"Benar." Wilona yang sudah menghabiskan makanannya, lalu berdiri membawa mangkuk menuju wastafel dan hendak mencucinya.
Okta lalu berjalan mendekati Wilona. Ia berdiri persis di belakang Wilona.
"Maafkan aku ... tapi ... kenapa kamu justru saat ini, memakan makanan ini?
Seharusnya kamu bisa habiskan makanan disana, aku sudah membayarnya, kamu bisa menikmati sesukamu."
"Aku lebih suka makanan ini. Makanan buatan Jojo yang sederhana ini lebih enak." Balas Wilona.
Dengan segera Okta memaksa memutar tubuh Wilona sehingga mereka saling berhadapan.
"Jangan menyebut nama laki-laki itu di depanku!"
__ADS_1
"Ada apa denganmu?
Seharusnya aku yang marah disini ... kenapa kamu tidak datang sesuai janjimu?"
"I-itu ... A-aku ...!"
Belum selesai Okta berbicara Wilona kembali menyaut.
"Bagaimana aku bisa menikmati makanan itu sendirian. Apa kamu tidak bisa memahami bagaimana perasaanku berada di sana sendirian pak?"
Aku lebih memilih makanan Jojo, karena aku tahu dia memberikannya padaku dengan sukacita."
"Sudah ku bilang jangan pernah menyebut namanya!"
"Leony? Kamu pasti bersamanya kan?
Satu-satunya orang yang bisa merubah keputusanmu hanya dia. Benar kan?"
Oh t**idak! ...kenapa aku harus tiba-tiba membahas Leony saat ini, aku seperti melemparkan bom ke tubuhku sendiri ... tapi memang itu yang Sebenarnya sejak tadi ada di pikiranku.
"APAAA? kenapa kamu berbicara seperti itu? kenapa kamu harus membahas dia saat ini ? apa kamu cemburu padanya?"
"Tidak ... sama sekali tidak!!
Tidak ada alasan bagiku untuk cemburu dengannya.
Tapi mulai hari ini, aku tidak akan pernah lagi datang ... sekalipun Pak Okta memesan menu ... di tempat semegah istana sekalipun."
Wilona segera berjalan menuju ke kamarnya dengan cepat.
"Apa? Heyyy ... heeyyy.... Yaakkkk!!"
Diatas Wilona segera masuk dan berdiri di balik pintu.
Orang jahat ... orang jahat ... sikapnya bahkan tidak berubah, sama seperti saat pertamakali bertemu. Selalu saja memikirkan dirinya sendiri.
Wilona lalu menyeka air matanya.
Apa ini? ... kenapa aku menangis ... aku adalah orang yang kuat. Aku sudah biasa diperlakukan seperti ini. Jangan menangis Wilona ...jangan menangisi orang yang seperti itu
Sebaliknya di kamar Okta.
Okta juga mengamuk. Ia duduk di bed dan berulang kali memukul-mukul bed dengan tangannya. Bahkan selimut yang terlipat rapi di hamburkannya ke lantai. Sampai akhirnya ia menjatuhkan diri di lantai dan menutup kedua matanya.
(Okta ... kamu ini marah, sedih atau jengkel sihhh π€)
βββββ
Bersambung
Sekian untuk hari ini...kita lanjutkan besok ya ^^
Tinggalkan β‘ dan vote juga. Terimakasih yang sudah ikut memberikan komentarnya.
__ADS_1