Pernikahan Sementara Dengan Orang Ternama

Pernikahan Sementara Dengan Orang Ternama
Karyawan tampan


__ADS_3

Niiit..niiit....niiiit (Alarm berbunyi)


Pagi menjelang, entah kenapa mereka berdua (Okta & Wilona) bisa pulas malam itu.


Wilona dibangunkan oleh jam alarm yang terpasang di meja.


Waktu Jam menunjukkan pukul lima pagi.


Lampu tidur yang remang-remang, selimut yang cukup menghangatkan tubuh melawan hawa dingin di dalam kamar, mata yang terasa berat membuatnya enggan bangun dari tidurnya.


Akhirnya kemalasan yang memenuhi seluruh tubuhnya bisa di lawan Wilona.


Dengan langkah yang berat, ia berjalan masuk menuju ke kamar mandi yang berada di sebelah kamarnya.


Ia berniat untuk menggosok gigi saja, tanpa mencuci muka.


Setelah selesai, meluncur turun saja ke lantai satu untuk mengambil botol air mineral, sebab itulah pemandangan yang ia lihat saat pertama kali masuk rumah ya di lantai satu (masih ingat Okta langsung membuka kulkas kan😊)


Rambutnya masih tampak berantakan, kerah bajunya pun tampak miring ke salah satu sisi tubuhnya.


Wilona sempat berhenti di anak tangga sebentar untuk menguap, sambil meregangkan badannya melihat-lihat ruangan.


Merasa asing dengan ruangan di dalam rumahnya, ditambah lagi saat itu kebetulan beberapa lampu memang dimatikan, turun perlahan sambil mengingat-ingat ucapan asisten Judika kemarin saat mengenalkan ruangan per ruangan.


Setelah tahu lokasi kulkasnya, Wilona langsung mengambil botol minuman dan meminumnya, air segar dan dingin mengalir membasahi tenggorokannya membuat kantuknya lama kelamaan memudar.


Ohhhh tidaaaak, Tuhaaaaan.( Wilona terkejut memejamkan mata, jantungnya berdegup kencang ... apa yang terjadi???)


Saat berbalik, ternyata tepat di hadapannya seorang bertubuh tinggi besar menghadang, Wilona sontak kaget.


Badannya Wilona sontak langsung mundur menabrak kulkas di belakangnya, matanya terpejam dan badannya meringkuk seolah-olah dia melihat hantu.


Jangan mendekat-jangan mendekat. batin Wilona.


Memang keadaan lampu yang tidak semua ruangan dinyalakan, hawa dingin dan ditambah suasana yang tenang membuat siapa saja akan kaget bila tiba-tiba hadir sosok lain selain dirinya.


Ternyata seorang yang berbadan besar adalah Okta yang juga kebetulan turun untuk mengambil air minum.


Okta juga dibuat kaget, melihat Wilona terkejut padanya ditambah lagi tampilan Wilona dengan rambut berantakannya, ada di depan matanya.


"Heiii, minggir." Okta tampak kesal.


Ā Tersadar bahwa itu suara Okta, Wilona membuka matanya memastikan bahwa itu benar-benar Okta, dia memastikan dengan melihatnya dari atas hingga ke bawah.


"Sudah kubilang minggir." Menggeser tubuh Wilona dengan paksa, membuat Wilona hampir saja terjatuh.


"Ah...iya, maaf." Wilona berjalan menuju meja makan yang kebetulan berdekatan dengan dapur, dia duduk mencoba untuk menenangkan jantungnya yang berdetak tidak karuan melihat kejadian yang barusan di alami.


Okta yang sudah mengambil botol juga membawanya air minum itu ke meja.


Mereka duduk berdua dalam diam, tanpa saling menatap.


Suasana yang asing bagi mereka berdua membuat kecanggungan muncul begitu saja.


"Kenapa kamu kaget begitu?" Okta memulai pembicaraan sambil menggaruk-garuk kepalanya.


"Sa-saya tidak tahu kalau itu anda Pak."


Okta melihat kembali wajah Wilona "Heeey, memang ada siapa lagi ... ckckck dasar aneh."


"Saya kan masih belum paham ruangan ini.


Dimana letak sakelar lampunya.

__ADS_1


Dan itu ... lampu yang dinyalakan juga bukan lampu yang terang.


Lalu anda, tiba-tiba berdiri di belakangku tanpa suara, dengan badan setinggi itu siapa yang tidak kaget!"


"Dari dulu juga aku memang sudah setampan dan setinggi ini, apa kamu tidak sadar." Okta berjalan ke ujung ruangan dan menyalakan lampu.


Wilona yang melihat Okta berjalan dengan berbaju piyama akhirnya menyadari bahwa Okta adalah orang yang sangat tinggi. (Terus selama ini pikiranmu memangnya kemana^^).


"Buatkan sarapan untukku!"(masih berdiri di ujung ruangan)


"A-apaa?" tanya Wilona tersentak.


"Kamu kan bisa lihat, disini tidak ada pelayan, jadi sesuai perjanjian kita kamu wajib buatkan aku sarapan setiap dua hari. (Okta mengatakannya sambil berjalan menuju tangga dan tiba-tiba berhenti), dan satu lagi ... kamu itu manusia ... bukan zombie. Pastikan kamu rapikan dulu rambut mengerikan itu sebelum keluar kamar!" Okta berlalu menaiki anak tangga dengan santainya, dia tidak sadar Wilona menatapnya dengan tatapan sangat kesal.


Ah... iya perjanjian konyol itu. batin Wilona yang akhirnya tersadar.


Setelah urusan dapur dan sarapan selesai Wilona lantas buru-buru mempersiapkan diri di kamar.


"Astaga... rambutku! kenapa begini bentuknya? sepintas melihat dirinya di cermin.


(kamu kan bukan zombie, jadi pastikan rapikan dulu rambutmu) kata-kata Okta teringat kembali membuatnya seketika juga menjadi kesal lagi.


Setelah mandi berganti pakaian dan semua urusan selesai, entah kenapa mereka bisa bersamaan keluar dari kamar.


Wilona tampak santai dengan kaos putih yang dimasukkan ke dalam celana jeans biru mudanya membawa tas gantung berwarna cokelat.



Sedangkan Okta keluar dengan kemeja putih dan jas yang masih mengantung di tangannya, sebuah jam Rolex melingkar di tangan kirinya, tangan yang satu sibuk memainkan hpnya, rambutnya tersisir rapi dan aroma parfumnya yang membuatnya makin berkelas dan menjadikannya sangat-sangat sempurna. Dengan saling tak bersuara, kemudian mereka turun menuju ke meja makan.


"Roti? Kenapa kamu cuma siapkan roti?"


"Karena memang cuma ada roti disini." Wilona membalas.


"Huh.."(Okta pun duduk mengambil secangkir kopi yang telah di siapkan di meja).


Akhirnya pagi ini diawali dengan momen pertama kalinya mereka sarapan bersama, menyeruput kopi sambil memakan roti.


"Apa yang akan kamu lakukan hari ini?" Kata okta sembari menyantap roti di mejanya.


"Aku akan kembali bekerja di kedai ayah, membantunya berjualan roti."sahut Wilona.


Suara mobil dari luar pun terdengar dan masuklah Judika yang siap menjemput tuannya kembali bekerja.


Okta pun mengeluarkan dompetnya dan mengambil kartu kemudian menyodorkannya pada Wilona.


"Pakai ini untuk keperluanmu dan gunakan juga untuk belanja makanan." Wilona mengambil kartu tersebut tanpa berkata-kata.


"Pastikan besok sudah ada nasi dan lauknya di pagi hari." Okta kemudian berdiri meninggalkan Wilona. Selang beberapa langkah Okta berhenti kembali memandang Wilona dan berkata;


"Hari ini aku ada rapat dan akan pulang malam."


"I-iya, semangat bekerja ya." Wilona yang masih duduk di meja memaksakan sedikit mulutnya untuk tersenyum, tangannya bergerak melambai mengantar kepergian Okta.


Kemudian Okta kembali berjalan sambil menggelengkan kepala, ikut tersenyum melihat ekspresi Wilona yang tampak canggung tadi.


Kenapa jadi aneh begini, kenapa dia harus berpamitan? si kepala batu dengan mulut kasarnya itu...kenapa dia berbeda? dan kenapa juga mulutku...tanganku ini....ahhhh


(Wilona menepuk mulutnya berkali-kali...merasa aneh dengan mulutnya yang tidak sadar ia ucapkan barusan)


Di ruang tamu.


"Selamat pagi Tuan." Judika menyapa sambil berdiri, ada sesuatu yang aneh, dia melihat tuannya tampak berjalan sambil tersenyum, ini bukan hal yang biasanya dia lihat pada tuannya.

__ADS_1


"Pagi Jud, ayo kita berangkat sekarang."


"Baik, tuan."


Dengan ekspresinya itu,hmmm sepertinya rapat akan aman hari ini. batin Judika.


Mereka pun berlalu dengan mobilnya, meninggalkan Wilona yang masih duduk dimeja memegang kartu dari Okta, termenung.


Apa semua orang kaya seperti ini ya, semua bisa di dapat dari kartu ini, aku tidak percaya bacaan dari novel benar-benar aku alami sekarang.


"Baiklah, Wilona ayo semangat, pagi ini sudah berlalu besok juga dan begitu seterusnya sampai sembilan bulan berakhir..semangaaaaat kamu bisa." Wilona mengepalkan tangannya menyemangati dirinya sendiri kemudian beranjak dari duduknya, membereskan semua yang ada di atas meja, kemudian mengambil tas yang sedari tadi berada di sandaran kursi dan siap untuk bekerja kembali.


Di kedai roti


"Pagi ayaaaah." Wilona menyapa ayahnya seperti biasa dengan wajah cerianya.


"Waaah, Ona kenapa kamu datang kesini." terkejut melihat kedatangan ayahnya.


"Ah...aku kan juga perlu bekerja membantu ayah, memang siapa lagi yang akan menjadi kasir cantik selain aku?"


"hahahaha, kamu tidak perlu datang kesini lagi sayang, nih ayah sudah punya tenaga tambahan (mencari seseorang dan kemudian..) Jos...Joshua kemarilah."


Seorang laki-laki tinggi, tampan, berkulit putih, dengan rambut kecoklatan datang mendekat tersenyum ramah memperkenalkan diri.


"Halo perkenalkan nama saya Joshua, panggil saja saya Jojo." menyodorkan tangan untuk bisa bersalaman dengan Wilona.


"Ah..iya Jojo senang berkenalan denganmu." Wilona terpana melihat lelaki tampan di depannya, bukan hanya tampan tapi saat tersenyum membuatnya tampak manis dan mempesona,memakai kemeja kotak-kotak dengan ujung lengan baju yang dilipat sampai pada separuh tangannya, tangan panjangnya memperlihatkan otot kecilnya yang membuktikan bahwa dia pekerja keras ditambah lagi dengan apron hitam yang di pakai.



"Kak Jojo saya mau beli ini..." teriak seorang pelanggan di belakangnya.


"Emm..kalau begitu saya permisi dulu ya." Jojo berlalu sambil tersenyum ramah.


Wilona lalu memandang ayahnya sambil sedikit tersenyum..."Ayah dia siapa? kenapa bisa ada orang tampan di kedai kita?"


"hahahaha, iya kebetulan dia sedang kuliah ... kalau tidak salah sudah semester lima. Semenjak kamu menikah... ayah memang memasang lowongan part time.


Jadi kalau tidak ada jam kuliah, dia mengambil part time untuk bekerja di kedai ini.


Orangnya rajin, baik, dan entah kenapa setelah kedatangannya kedai kita selalu ramai...hahahahaha mungkin dia membawa hoki kali ya."


Ayah lucu sekali, ayah tidak sadar bahwa ketampanannya menjadi daya tarik tersendiri di sini.


Dia sih terlalu tampan untuk bekerja di kedai ini, hmmmm tipe begini sih sudah layak jadi aktor drama romantis.


(Wilona sekali lagi melirik Jojo yang sedang tersenyum ramah dengan pelanggannya)


"Wilona, dua sahabat mu juga sering mampir kesini, dia selalu menceritakan betapa beruntungnya kamu bisa menjadi istri seorang pengusaha tampan."


"hahaha...benarkah ayah?"


Tapi sepertinya bukan cuma itu saja alasan mereka sering kesini ayah, pasti karena ada Jojo disini.


Apalagi Jesika. Hmmmm ... sudah pasti Jojo termasuk tipe pria idamannya.


Wilona yang duduk di kasir dibuat kaget saat di balas juga dengan tatapan Jojo padanya dengan senyum ramahnya. Wilona lantas tertunduk pura-pura mencari sesuatu di meja kasir..


Eh...mataku ini kenapa?


Telinganya memerah seketika juga, buru-buru Wilona melepaskan ikatan rambutnya yang di gulung ke atas untuk menutupi telinganya yang terasa panas.


...

__ADS_1


Bersambung


Halo semua, terimakasih sudah mau mampir dinovel ini ya, jangan lupa setelah membaca klik ā™” dan dukung author dengan kasih vote sebanyak-banyaknya, lewat poin yang kalian kumpulkan secara gratis


__ADS_2