
...Rumah Okta ...
Dan entah kenapa terdengar kehebohan dari bawah.
Wilona memutuskan untuk turun. Karena sejak awal dia merasa tidak yakin meninggalkan mereka berdua di dapur.
Dari atas tangga dia sudah mencium aroma ketidakberesan pada masakan mereka.
Astaga, mereka sedang apa?
Kepulan asap hampir memenuhi isi dapur. Karena panik Wilona melangkahkan kakinya lebih cepat menuruni tangga.
"Astaga! Apinya matikan pak!" Wilona teriak melihat api kompor yang terlalu besar.
Tak pelak hasilnya akhirnya.
Dan ... Taraaaa ^^
Bentuk makanan yang tidak karuan tersaji di meja.
Setelah semua sudah tersaji, mereka duduk bertiga dalam diam, hening menyaksikan tampilan di depan mata merela.
Wilona memperhatikan raut wajah nelongso Okta, sedangkan Judika hanya mematung, enggan memperhatikan meja di depannya.
Sungguh ... olahan daging yang tampak kehitaman, sayur yang sudah overcook dan warnanya sudah tidak segar lagi, semuanya tampak sangat tak layak untuk di santap.
Lebih baik serahkan saja padaku sejak tadi.
batin Wilona sambil terus melirik wajah Okta dan Judika.
Ya sudahlah ... mau bagaimana lagi.
*Plok-plok-plok* Wilona bertepuk tangan.
"Wah akhirnya kalian selesai juga, aku tidak sabar ingin segera makan.
Ayo kita makan sekarang." kata Wilona berpura-pura ceria.
Wilona lalu berdoa dan mulai mengambil nasi dan daging hitam tersebut.
*hap*
satu sendok sudah masuk mulut Wilona, mata kedua orang di sekitar Wilona gugup memperhatikan bagaimana reaksinya.
Setelah mengunyah 3x Wilona mengernyitkan wajah.
Okta yang memperhatikan menutup matanya, sambil menarik napas dalam. Sedangkan Judika mengambil selembar tisu dan meminta Wilona untuk menumpahkan saja makanan di mulutnya.
Tapi karena tidak ingin mengecewakan, Wilona terus lanjut saja memakannya.
"Ayo di makan." Wilona menawarkan pada yang lain.
Dengan ragu Okta juga mencoba daging buatannya, lalu setelah dicicipi..dia langsung memuntahkannya di tisu.
__ADS_1
"Tidak usah dimakan." ucap Okta kesal.
"Tidak apa-apa." lanjut Wilona.
"Sudah kubilang tidak usah, ya jangan di makan. Sudah buang saja, Bagaimana nanti kalau perutmu sakit." tutur Okta sekali lagi.
"Karena ini sudah di masak, maka bisa dimakan." kata Wilona sambil tersenyum.
Judika pun akhirnya ikut memakan sekalipun wajahnya juga menunjukkan enggan memakan makanan ini.
Wilona tertawa dan ...
"Kenapa tertawa, menghina sekali." spontan Okta berkata itu.
"Tidak pak, aku merasa salut dengan kalian berdua, meskipun ini masakan kalian pertama kali, kalian sudah mencoba yang terbaik."
*Cih, b*agaimana dia tahu ini pertama kalinya aku memasak.
batin Okta.
"Kita harus menghargai yang memasak, harus menghargai yang menciptakan dan juga menghargai orang diluar sana yang bahkan tidak bisa makan daging seperti kita. Karena itu jangan dibuang.
Terimakasih pak Okta dan Judika."
Wilona menghela napas dan kemudian melanjutkan memakan makannya.
Dan akhirnya mereka bertiga memakan daging hitam dengan rasa dan aroma yang tidak karuan itu.
Fiuuuuhh!
Malam itu Setelah Judika pulang ke apartemennya.
Wilona mengajak Okta untuk duduk santai di bangku taman sambil memandang bintang yang bertebaran di langit.
Okta menyadari bahwa tamannya kali ini sedikit berbeda.
"Tunggu sebentar." Okta mendekat pada salah satu tanaman.
"Sepertinya ini pohon mangga. Benar tidak?"tanya Okta.
Wilona tersenyum dan berkata.
"Benar pak ini mangga." lalu Wilona memegang tangan Okta dan mengajaknya ke tanaman yang lain.
"Ini belimbing, ini jambu air, ini srikaya lalu yang di sana ayo pak." Wilona lalu menarik Okta ke tempat yg lain.
"Ini jeruk lemon, jeruk pomelo, yang ini pohon kelengkeng yang sebelahnya lagi pohon sawo."tutur Wilona.
"Kamu yang menanamnya?"
"Tidak, aku membeli semuanya dan kuserahkan pada tukang kebun. Sayang sekali kalau taman seluas ini tidak ditanami buah-buahan juga."
"Hahaha, lalu yang sebelah sana masih ada tanah luas, mau kamu tanam juga?" Okta menunjuk sebelah rumah dengan kepalanya.
__ADS_1
Wilona tersenyum dan menganggukan kepala.
"Aku sangat ingin punya kebun sendiri.
Pak Okta kan tahu.
Rumahku dan kedai jadi satu atap, tidak ada tanah lagi yang tersisa.
Sudah mentok, kebetulan aku lihat disini masih banyak ruang kosong, jadi kenapa tidak."
"Silahkan ... yah boleh saja, asal kamu suka."
"Tentu saja saya suka pak." mata Wilona berbinar-binar.
Lalu mereka kembali ke bangku taman.
"Ibuku dulu sangat suka menanam." tutur Okta sambil merenung menatap langit, Wilona diam menoleh ke arah Okta.
"Ibu?"
"Ya, Ibuku meninggalkan kenangan hasil tanamannya di rumah ayah."
"Maksud pak Okta?"
"Ibu kandungku yang sudah meninggalkan ku lebih dahulu, yang ada sekarang ibu tiri, kamu sudah tahu kan?"
Wilona menganggukan kepala.
"Buah kesukaannya Apel dan sawo, persis seperti yang kamu tanam di sana." Okta spontan menunjuk tanaman sawo milik Wilona.
"Ada beberapa hal darimu ... yang tiba-tiba mengingatkanku pada ibu?"
Okta dan Wilona saling bertatapan.
"Apa itu pak?"
Okta menatap wajah Wilona cukup lama.
"Rahasia ..." Okta lalu menyandarkan tubuhnya pada bangku sambil menyilangkan kakinya tersenyum menatap langit.
Melihat itu Wilona juga melakukan hal yang sama.
"Dua hari lagi, acara peringatan kematian ibu. Apa kamu mau menemaniku?" lanjut Okta.
Mereka berdua kembali bertatapan, lalu Wilona menjawab dengan menganggukkan kepalanya sambil tersenyum manis.
"Aku akan mengenalkanmu padanya." kembali Okta menatap ke langit sambil tersenyum.
●●●●●
Bersambung ... Like dan komennya ya dear.
Next episode sosok Leony yang mulai tercium oleh Bastian.
__ADS_1
Haiiii dukung author dengan vote pakai poin gratis kalian, like, komen, kritik dan sarannya juga ya.