Pernikahan Sementara Dengan Orang Ternama

Pernikahan Sementara Dengan Orang Ternama
Semua karena Doamu


__ADS_3

Malamnya Wilona keluar bersama Okta.


Okta sudah menunggu di bawah, kali ini ia sengaja menutup dirinya dengan jaket besar dan topi agar orang-orang disana tak mengenalinya.


(Padahal ngga ada yang kenal juga waktu itu^^)


Sekali lagi Wilona turun dari kamarnya mengenakan kaos putih dan celana jeans kesukaannya.


Okta yang melihat tampilan Wilona berdecak sambil menggelengkan kepala.


"Apa cuma pakaian itu di lemarimu? kenapa hampir setiap hari aku melihatmu dengan kaos ini?"


"Eh ... jangan menghina pak, kaos saya banyak di lemari. Ada beberapa baju pemberian Bobby juga, cuma aku sayang saja memakainya..hehehe."


"Bobby? dia membelikanmu baju?"


"Iya, kejadian waktu saya tidur di kasur pak Okta itu, pakaian yang kena muntah ... itu adalah baju yang dia belikan juga disana."


Okta mengingat masa itu dan tiba-tiba wajahnya memerah, ia mencoba mengalihkan wajahnya ke arah langit-langit rumah.


"Pak? kenapa?" tanya Wilona kebingungan.


Okta mengedipkan mata berkali-kali dan mencoba mengalihkan pandangannya kearah taman tanpa menjawab Wilona sedikitpun.


Sebenarnya Pak Okta ini kenapa. batin Wilona.


Dan yang sebenarnya ada dipikiran Okta adalah kejadian saat Wilona mabuk di Paris waktu itu.


Dimana Okta dengan terpaksa melucuti pakaian Wilona yang basah terkena cipratan air dan sedikit muntahnya.


Dan tanpa sepengetahuan Wilona, Okta menggendongnya ketempat tidurnya. Disitu ia berhadapan dan memandang wajah Wilona yang tertidur cukup lama.


Sekali lagi Wilona menyusul keluar dan bertanya


"Pak Okta kenapa?"


"Ke-kejadian itu ... ." Okta kaget setelah melihat Wilona sudah berdiri disampingnya.


"Ah ... bukan apa-apa.


Tunggu ... bukankah kamu sudah kuberikan kartuku. Kenapa tidak kamu pakai belanja saja untuk beli baju?


Bahkan baju yang lebih bagus dari anak itu (Bobby) juga kamu bisa!" ujar Okta.


"Aku tidak mau suatu saat, Pak Okta menuntut itu semua setelah kita berpisah nanti." ujar Wilona yang tersenyum kecut.


"Heyyyy." Okta lalu membekap mulut Wilona lalu melingkarkan tangannya lagi di leher Wilona.


"Sudah kubilang jangan bilang itu lagi. Ayo jalan sekarang."


Sekali lagi tubuh Wilona lebih kecil dari Okta tak kuasa melawan himpitan lengan Okta yang besar.


Dan mereka pun melaju menuju ke bukit bintang yang dulu pernah mereka kunjungi.


Komplit sekaligus berkunjung ke warung dengan menu oseng mercon yang menjadi makanan favorit dadakan Okta.


▪▪▪▪▪


Di bukit bintang


"Ona."


"Hm?"


"Ceritakan tentang ibumu."


Wilona kaget dan melihat wajah Okta.


"Aku ... hanya penasaran saja, tapi ... kalau kamu tidak mau cerita tidak apa-apa."lanjut Okta.


Wilona terdiam cukup lama.


"Kejadian itu ...

__ADS_1


Waktu itu aku sudah duduk di bangku kelas 3 SD. Adikku juga sudah masuk kelas 1.


Hari pertama dimana aku menyuruh adikku untuk berani tidur di kamarnya sendiri.


...


Saat itu, aku terbangun untuk ke kamar mandi dan melihat ada kepulan asap di rumah roti.


Aku sangat ketakutan, hanya bisa menangis di tempat.


Mendengar tangisanku itu, ibu berlari ke arahku.


Ia segera melihat situasi di dalam rumah roti.


Begitu ia membuka pintu, asap mengepul keluar menghantam tubuh ibu.


Ternyata apinya sudah menjalar sampai ke langit-langit rumah.


Ayah juga terbangun saat mendengar ibu berteriak. "Ayah...ayah...ayah."


Ledakan pertama terjadi ... disitu ibu melindungi tubuhku dengan tubuhnya.


Ibu saat itu masih berdiri dekat pintu.


ledakan itu membuat ibu terluka.


Aku melihat, ada di kepala dan lengan kiri ibu terluka akibat tertimpa perabotan yang terlontar keluar.


Ibu berkata pada ayah.


"Cepat bawa Wilona, aku yang akan menggendong Nita keluar."


Ayah segera membawaku keluar rumah.


Aku masih berdiri di luar dengan segala ketakutanku.


Saat ayah mau kembali masuk ke rumah, ledakan kedua terjadi.


...


Ona tenang jangan takut ... ada ibu disini.


Aku melihat ibu tersenyum saat itu, padahal lukanya terlihat jelas sangat menyakitkan.


(Wilona mulai terlihat berlinang air mata).


Yah ... Seperti itulah kejadiannya.


...


Seandainya saat itu aku segera berlari membangunkan ayah, ibu dan adikku.


Seandainya saat itu aku tidak diam saja berdiri di depan rumah roti.


Mereka semua pasti selamat.


Kita pasti ... masih bersama.


Begitu juga dengan peninggalan kakek dan nenek, semuanya akan terjaga aman sampai sekarang.


...


Aku ... aku ... ."Wilona tak kuasa menahan lagi air mata yang tertampung di pelupuk matanya. Okta segera memeluk erat Wilona.


"Sudah ... jangan lanjutkan! Maaf ... kamu jadi ingat kejadian itu." ucap Okta.


"Sampai saat ini aku masih merasa bersalah akan kejadian itu pak Okta.


Sampai saat ini bahkan aku tidak berani meminta maaf pada ayah.


Terlalu besar kesalahanku itu."


Entah mengapa Okta justru mengecup kening Wilona dan menegakkan kepala Wilona yang tertunduk.

__ADS_1


"Dengarkan aku ... lihat mataku Ona ... ini bukan kesalahanmu.


kamu masih sangat kecil saat itu.


Jika saja kamu tidak bangun saat itu ... jika saja kamu tidak menangis saat itu. Ibu dan ayah masih tertidur di kamar.


Kamu sudah menolong keluargamu Ona.


Semua sudah digariskan Tuhan.


Tidak ada manusia di dunia manapun yang bisa mengatur kehidupan dan kematian.


Kesalahan terbesarmu hanyalah ... kamu masih merasa bersalah sampai saat ini."


Jelas Okta.


"Aku minta maaf harus mengungkit masa lalumu Ona." ucap Okta yang sekali lagi memeluk tubuh Wilona.


"Hm ... Aku yang minta maaf tidak bisa mengontrol emosiku pak." ucap Wilona yang mengusap air matanya sekali lagi.


"Selama ini aku bersalah pada ayah ... karena itu sebisa dan sekuatku, aku harus bahagiakan ayah.


Aku harus tetap mempertahankan senyum itu tidak memudar dari hidupnya." Wilona sudah mulai lebih tenang dan mencoba tersenyum kembali.


Okta menengadah ke langit.


Jadi karena ini Ona rela menikah denganku. Tak kusangka aku menjadikanya tameng selama ini.


"Maafkan aku Ona."


"Tidak pak ... kenapa Pak Okta yang justru minta maaf?


Jujur saja ... selama ini aku tidak pernah membicarakannya pada siapapun.


Kejadian sedetail ini hanya pak Okta saja yang mengetahuinya. Sahabatku pun tidak."


"Kenapa?"


"Mereka sudah kuanggap saudara-saudaraku. Entah mengapa orang yang dekat denganku dan ayah ... aku tidak berani menceritakannya sampai sekarang. Karena aku masih takut akan kesalahanku itu." jelas Wilona.


Okta lalu mengusap pundak Wilona.


"Terimakasih sudah mau berbagi denganku.


Aku harap, suatu saat ayah mengetahui perasaan bersalah yang kamu pendam selama ini.


Dengan begitu aku yakin kamu akan bernafas lebih lega dari biasanya."


"Benarkah seperti itu ...?"


"Aku tidak tahu ... coba saja kamu lakukan."


Wilona menganggukan kepala tanda mengerti.


"Lalu ... bagaimana dengan Pak Okta?"


"Hm?"


"Kedatangan pak Okta ke sini untuk melepaskan beban di sini bukan?" Wilona menunjuk ke arah dada Okta.


Okta kemudian mengacak rambut Wilona.


"Tunggu saatnya ... aku pasti akan terbuka padamu.


Ah ... apakah kamu sudah mendoakanku seperti janjimu?"


"Tentu saja ... kenapa bertanya begitu."


"Hm ... kalau begitu, jalan yang mulai sedikit terbuka ini semua juga karena doamu."


"Hm?" Wilona semakin bingung


"Sudah jangan banyak bertanya ... aku ingin menikmati malam ini saja." ucap Okta sambil tersenyum.

__ADS_1


●●●●●


Bersambung


__ADS_2