
"Katakan dimana kamu sekarang?tanya Okta
"Memangnya ada apa lagi pak?"
Tanya Wilona melalui saluran telepon.
"Kau janji akan bertemu setelah aku mau menemui Henry ... ."
Ah siall ... ini semua gara-gara Judika. batin Wilona, sebab ia tidak tahu Okta telah mengakhiri hubungannya dengan Leony.
Sebenarnya setelah Okta pulang dari Paris, ada perasaan kecewa yang teramat mendalam dan juga rasa tak percaya pada segala hal yang terjadi, sebab selama ini ia menaruh kepercayaan seratus persen pada Leony.
Jalinan cinta ini mereka pupuk sudah hampir mencapai 10 tahun.
Kesetiaan Okta ini dibuktikannya sampai akhir, namun ternyata pupus bak tersapu angin.
Kandasnya kesetiaan cinta yang tidak ingin di harapkan siapapun akhirnya jatuh pada Okta.
Dengan perasaan kecewa dan berat hati, kembali ia mencoba menghapus semua kenangan Leony yang tertumpuk rapi dalam memori ponselnya.
(Para reader sudah tahu kan dari episode awal bahwa Okta suka sekali lihat hasil potret di ponselny yang ia pakai untuk curi-curi foto Leony).
Di dalam pesawat pun Judika merasakan kesedihan tuannya.
Ia hanya bisa terdiam, sambil sesekali melihat tuannya, menjaga tuannya tetap tenang, tak membiarkan seorang pramugari mendekat untuk memberikan jamuannya, Judika paham betul bahwa ia harus memberikan waktu sepenuhnya pada tuannya untuk menghapus semua jejak kenangan terindah bersama Leony.
▪▪▪▪▪
Kembali ke percakapan Okta dan Wilona
"Ba-baiklah ... setelah sidang terkahir saya janji akan bertemu pak Okta." jawab Wilona dengan perasaan kacau.
"Tidak ... melainkan besok aku ingin kita bertemu." tegas Okta
"Aku tidak bisa pak ... kerjaan disini juga banyak. Lusa di hari persidangan saja yah... aku janji."
Ah ... Judika sungguh membuat ide yang merepotkan. Baiklah ... setidaknya setelah sidang itu waktu yang lebih baik, aku tidak ingin Leony berburuk sangka padaku lagi, pikir Wilona.
"Baik ... lusa adalah hari terakhir persidangan kita... karena sudah janji maka kamu wajib datang, Oke." tegas Okta.
Dengan berat hati Wilona mengiyakan permintaan Okta.
▪▪▪▪▪
Hari persidangan perceraian ke tiga pun tiba.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama atau mungkin serasa seribu tahun tak bertemu bagi Okta, Okta datang dengan wajah berseri- seri, terlebih karena kali ini ia bisa bertemu dengan Wilona.
Wajah sumringah dan mata berbinar bak kuntum bunga yang merekah dari wajah Okta tak bisa di tutupi, membuat Wilona mengambil kesimpulan;
Mungkin karena sebentar lagi keputusan terakhir kita akan berpisah dia terlihat lebih lega sekarang.
__ADS_1
Wilona sengaja tidak mau bertemu dengan Okta lebih awal. Karena itu ia masuk dan hadir berpapasan dengan dimulainya sidang.
"Dengan ini ... saya putuskan kasus perceraian antara saudara Oktavianus Indra Wahardian dengan saudari Wilona Cynthia dibatalkan, sehubungan dengan semua gugatan perceraian ditarik dan di batalkan oleh kedua belah pihak.
*Tok-tok-tok* ketok palu terakhir.
Wilona terdiam sambil membuka matanya lebar-lebar. Melihat semua dewan persidangan berdiri dan meninggalkan area satu persatu.
Sampai-sampai ia tidak memperhatikan ada seorang pria mendekat dan sebuah tangan terulur padanya.
"Hey ... ayo kita bersalaman." ucap Okta memecah lamunan Wilona, perlahan tapi pasti pandangan Wilona mengarah ke arah suara yang tidak asing di telinganya, Wilona pun membalas menjabat tangan meskipun pikirannya masih mencari jawaban.
"Nyonya selamat ... ." Ujar Judika yang berdiri di belakang tuannya sambil tersenyum senang.
Ucapan Judika ini memperjelas pertanyaan besar yang masih saja berputar di kepala Wilona.
Di batalkan!!! batin Wilona berpikir keras.
"Tunggu ... batal?" tanya Wilona memastikan semuanya.
"Benar." Okta menaikkan sedikit kepalanya ke atas, dan menatap ke langit-langit seolah ia dengan sombong memenangkan suatu perlombaan.
Wilona bahkan terdiam tak menunjukkan reaksi, bak patung yang dipajang sebagai hiasan.
Melihat reaksi Wilona, Okta pun dengan gemas memeluk Wilona.
"He-hey ... kenapa?" tanya Wilona mencoba melepaskan pelukan Okta.
"Sudah jelas ... sekalipun aku terlalu tampan, dan bahkan terlalu banyak wanita yang mengharapkanku, tapi ... hm ...sebuah keberuntungan untukmu bahwa aku menjatuhkan pilihan tetap bersamamu." jawab Okta dengan wajah sombongnya.
"Kau sulit sekali dihubungi ... bagaimana aku bisa... ."
Tanpa mendengar ucapan Okta lebih lanjut, Wilona menarik tangan Judika keluar, sedangkan Okta ia tinggal sendirian di ruangan, Okta heran dengan sikap Wilona yang tidak menyambutnya seperti yang ia duga.
"Hey... hey". teriak Okta sambil melihat mereka keluar, tanpa mempedulikannya.
Diluar Ruangan Sidang
"Apa yang sebenarnya terjadi ..
aku tidak mau merusak hubungan mereka. Meskipun aku memang tidak menyukai sifat Leony." ujar Wilona setelah ia berhasil membawa Judika ke tempat sepi.
Dengan tersenyum Judika menceritakan semuanya dari awal.
Tentang Bagaimana keadaan Tuannya selama ini, begitu juga dengan final keputusan hubungan Okta dan Leony.
"Judika kamu kurang ajar ... berani kamu bersikap begini?" tiba-tiba Okta datang, dengan nada keras.
"Ah maaf tuan." jawab Judika cepat-cepat menundukkan kepala dan menggeserkan tubuhnya.
"Aku yang memintanya keluar." bela Wilona dengan gestur menantang.
__ADS_1
Okta berjalan mendekat dan menatap Wilona dengan lekat, ia tak menyangka bisa melihat Wilona kembali ada di dekatnya.
"Apa pak Okta ingin kita benar-benar serius?"tanya Wilona.
"Tentu saja ... ."jawab Okta santai.
"Tapi ... memangnya saya mau dan setuju?" lanjut Wilona.
"Apa?" tanya Okta dengan wajah herannya.
"Bagaimana saya harus hidup bersama pria arogan seperti ini Jud?" tanya Wilona pada Judika dengan nada keras.
"Apa?" sekali lagi Okta tak percaya ia ditolak.
"Dan lagi ... rambutku akan lebih cepat memutih tiap melihat dia bersikap seenaknya." ujar Wilona yang berkata kepada Judika.
"Kita ... kita bisa mulai dari awal ... ." kata Okta sedikit ragu dan memelankan suaranya... ia teringat bulan yang lalu, ayah bertanya apakah mereka saling mencintai dan Wilona menjawab tidak dengan tegas.
"Lalu ... kalau tidak cocok ... kita pasti akan benar-benar berpisah bukan?"tanya Wilona sekali lagi.
"YAAAKKK jangan sebut kata-kata itu lagi." dengan nada membentak Okta menangkis pernyataan Wilona.
Begitulah akhir kisah mereka ... setelah menghabiskan waktu berbincang, akhirnya Wilona bersedia memutuskan untuk bersiap kembali ke kehidupannya bersama Okta ... yah meskipun mereka berjanji masih pisah kamar seperti semula.
Mereka kembali berpisah sebab Wilona harus kembali ke rumah bibi.
▪▪▪▪▪
Di Kedai Ayah
Tanpa sepengetahuan Wilona.
Okta hampir setiap hari berkunjung ke kedai ayah.
Setidaknya aku harus merebut hati ayah terlebih dahulu untuk bisa menerimaku kembali. batin Okta
Ia berjuang untuk mendapat restu dari ayah.
Setiap malam setelah pulang kerja, Okta menghabiskan waktu menemani ayah sehingga membuat ayah Wilona benar-benar tersentuh hatinya.
"Okta ... ayah tahu pribadi kamu yang sebenarnya baik, dan mengapa kamu mengambil keputusan untuk kembali pada Wilona ... ayah juga sudah dikabari oleh Ardian( ayah Okta). Jadi ayah memang sudah menerimamu, dan ayah juga minta maaf atas kejadian diwaktu ayah bersikap tidak baik padamu.
Tapi ... semua keputusan ada pada Wilona. Ayah hanya bisa memberikan saran dan restu, Wilona berhak memutuskan kehidupannya, Asal ia bahagia, ayah pun akan bahagia." kata ayah.
"Baik ayah ... maafkan saya akan kejadian waktu itu." ucap Okta.
"Ayah hanya berharap ia bahagia nak. Sejak kecil kenangan penderitaan memang lebih banyak ia alami dari pada kebahagiaan, karena itu ayah berharap kamu bisa membalikkan semua keadaan dan kesedihan yang pernah ia alami." pinta ayah.
"Baik ayah ... saja janji, saya sungguh berjanji." tegas Okta meyakinkan ayah.
✒Ups ... episode terkahir up hari ini jam 21.30 WIB yah. tinggalkan jejak dulu di episode ini🙏
__ADS_1
●●●●●
Bersambung