Pernikahan Sementara Dengan Orang Ternama

Pernikahan Sementara Dengan Orang Ternama
Kejadian Semalam yang Terlupakan


__ADS_3

...Pagi hari di hotel...


"A-aduh kepalaku."


Wilona bangun memiringkan badannya dan memegangi kepalanya. Dia sempat membuka mata dan menutupnya sekali lagi karena merasakan pusing dikepala saat ini.


Tunggu!


Wilona langsung membuka mata lebar-lebar.


Sudah pagi?


Matanya melihat sekeliling sampai sudut ruangan.


Hah ... ini kamar Okta!


Wilona memastikan sekali lagi, beberapa helai rambutnya yang jatuh di wajah coba di sibakkan. Untuk memperjelas apa yang di sangkanya.


Ia melihat pakaiannya kemarin bahkan hanya tergeletak di lantai.


"I-itu ..." Wilona kaget. Ia langsung melihat tubuhnya, ternyata ia hanya mengenakan tank top tipisnya saja, ia menutup mulutnya dan berfikir keras.


Bukkk!!!


(terdengar suara dari belakang Wilona).  Ternyata itu adalah suara Okta yang sengaja menutup buku dengan keras. Ia sedang duduk di sofa yang berhadapan langsung dengan bed tidur.


"Cih ... Sudah Puas Kamu? Okta berkata dengan nada menyindir membuat Wilona terperanjat kaget. Buru-buru Wilona duduk sambil menahan selimut agar tetap menutupi tubuhnya.


Tangan yang satu meraba-raba tubuh bagian bawah, dan untung saja celana short masih menempel di tubuhnya.


"P-pak Okta. Apa yang terjadi?"


"Kamu ... berani beraninya tidur di kamarku dan menggodaku semalam."


"APAAA? A-aku ... aduh pusing." Wilona seketika memegang kepalanya kembali.


"CEPAT TURUN !" Okta membentak.


Wilona segera turun dari bed. Rambutnya berantakannya pun seperti turut menambah kekacauan dirinya saat itu.


Saat berdiri, dia segera sadar hanya pakaian tanktop dan celana mini yang melekat di tubuhnya. Sehingga dengan buru-buru Wilona mengambil selimut dan menutup dirinya sekali lagi


"Siapa suruh kami menutup dirimu dengan selimut!"


Wilona hanya melihat kaku tidak berani menjawab.


Okta berdiri.


"Semalam saja kamu tidak malu melepas bajumu satu per satu."


Wilona menundukkan kepala mengingat-ingat apa yang terjadi namun sampai detik ini, ia belum mengingat sama sekali.


Okta mendekat. "Berani-beraninya kamu!


"Pak..maaf saya tidak...."


"TIDAK APA? kamu sudah melewati batas Wilona.


Kamu ingat apa konsekuensinya kalau kamu melewati batas?


Aku memang janji tidak akan mengambil aset ayahmu, tapi kamu! Kamu sendiri yang menawarkan akan menjadi pelayanku seumur hidup jika kamu melanggar.

__ADS_1


Wilona berlutut.


"Pak aku...aku minta maaf. Tolong maafkan aku.


Aku janji tidak akan mengulanginya lagi."


"Hari ini aku tidak mengijinkamu keluar. Kamu mengerti?"


Wilona menangis karena ketidaktahuannya.


Aku tidak  tahu..aku tidak tahu...


Terisak berkali-kali.


Melihat airmata Wilona keluar. Okta menjadi bingung menghadapinya, biasanya seorang Wilona akan berani melawan namun ini tak disangka, Wilona justru menangis dihadapannya.


"Ma-masuk ke ruang ganti dan cepat ganti bajumu." Okta masih kebingungan melihat sikap Wilona.


Wilona segera masuk ke ruang ganti.


Tapi yang menjadi masalah adalah, Kopernya!


Ia ingat bahwa kopernya sudah di kamar yang lain. Sedangkan yang ada di depannya hanyalah pakaian Okta saja.


Wilona kembali bingung.


Apa yang harus kulakukan sekarang?


Sesaat lamanya dia hanya diam tidak bisa memutuskan apa-apa. Dia menutup mulutnya dengan tangan.


Kalau aku pakai ini jangan-jangan dia akan lebih marah.


Tanpa pikir panjang akhirnya wilona memakai baju Okta. Baju yang bisa di bilang menjadi ukuran bigsize di tubuhnya, Celana panjangnya bahkan terlalu longgar, Wilona bingung harus menaikkan celananya berkali-kali.


"CEPAAAT, APA KAU MAU AKU MASUK KE DALAM!" sekali lagi Okta memerintah.


Karena celana Okta berulang kali jatuh, maka Wilona keluar dan hanya mengenakan kemeja kedodoran Okta saja, untung baju itu sudah menutupi sebagian tubuhnya yang kecil. Dan lagi celana short yang masih menempel membuat ia merasa lebih aman sementara ini.


Wilona lalu menghadap Okta dan hanya merapikan rambut seadanya. Pandangannya jatuh ke lantai, Dia tidak berani memandang wajah Okta sama sekali.


Melihat kekacauan wilona, Okta tersenyum tipis


Baru tahu rasa kamu, hm ... tapi ... kenapa jadi terlihat imut begini!


Haiiis ... apa yang aku pikirkan. batin Okta.


Okta segera berlalu ke meja makan, tanpa berkata apa-apa, meninggalkan Wilona yang masih berdiri kaku.


"CEPAT KESINI AKU LAPAR."


Wilona segera berlari ke ruang makan. Dia hanya berdiri di pojokan tidak berani mendekat.


Okta melihat wilona dan memberi kode dengan matanya untuk segera duduk.


Pelan-pelan Wilona melangkah dan duduk di hadapan Okta.


Dan akhirnya Okta mulai makan hidangan di meja.


Wilona segera membuka miliknya, makanan untuknya sangat berbeda, ada sup dan juga bubur hangat yang sepertinya menggoda untuk segera masuk mengisi perutnya yang masih sedikit mual.


"Terimakasih pak."

__ADS_1


sepertinya makanan di depannya melupakan sesaat kejadian tadi. Wilona menyantap hidangan di depannya dengan segera..dia merasakan perutnya sudah mulai nyaman setelah menelan habis makanan hangat itu.


Okta tampak melihat Wilona sebentar dan tersenyum lalu melanjutkan makannya.


"Minum itu supaya pengar mu hilang."


Okta menyuruh Wilona meminum madu hangat yang sudah disiapkan juga di depannya.


"B-baik."


Apa yang terjadi ya, kenapa dia baik seperti ini sekarang, aku merasa ini sedikit mengerikan. seperti orang yang memberimu hadiah namun ada kejutan mengerikan di balik hadiah itu.


Setelah hidangan bersih mereka berdua diam.


Wilona hanya diam membisu, kedua matanya tidak berani menatap Okta. Sedang Okta juga diam saja melihat wilona sambil memiringkan kepala.


Lalu Wilona mencoba memberanikan diri bertanya.


"Pak, kenapa ... saya ada di kamar ini?"


" Itu karena ulahmu sendiri. Kamu datang mengetuk pintu kamar dan tiba-tiba mendekatiku lalu merayuku.


Kamu mulai melepas bajumu satu persatu dan langsung terjun ke tempat tidur.


Kamu berubah menjadi gadis nakal.


Bagiku..aku cukup menikmatinya,


bagaimana mungkin aku menyia-nyiakan sesuatu yang bisa menghangatkan tubuh di malam yang dingin ini.


Tak kusangka aku melihat wanita bodoh berubah menjadi wanita liar malam itu." Okta menjelaskan dengan dagu terangkat dan ekspresi menghina.


"Apa? Pak Okta jangan bicara seenaknya...saya tidak mungkin begitu pak." Wilona ikut menaikkan nada bicaranya.


"Lalu apa yang kamu ingat, HAH?"


Wilona hanya diam tidak tahu harus bicara apa. Dia benar-benar lupa kejadian semalam.


Ah bobby...benar aku harus tanya pada Bobby.


"Aku akan bertanya pada Bobby dulu."


Wilona segera keluar dengan berjalan cepat, namun Okta segera menghadang di depannya membuat Wilona hampir saja menabrak Okta saat itu.


"Sudah kukatakan kamu tidak boleh keluar! Aku juga tidak mengijinkamu kontak dengan siapapun. Itu pelajaran buatmu!"


"Pak...!"


Okta kemudian mencubit dagu Wilona, membuatnya mendongak ke atas melihat wajah Okta. "Hp mu juga aku sita sekarang!"


Okta segera berlalu, berganti pakaian lalu pergi meninggalkan Wilona di kamar.


...


****Bersambung.


Halo semua..maaf baru bisa update hari ini, sepertinya kedepannya hari minggu dan senin saya off menulis indah dulu.


Baru di hari selasa dan kawan-kawannya mulai aktif lagi**.


Terimakasih buat yang masih setia menunggu ♡**

__ADS_1


__ADS_2