Pernikahan Sementara Dengan Orang Ternama

Pernikahan Sementara Dengan Orang Ternama
Menghindarimu


__ADS_3

Di Rumah Okta


Pagi-Pagi benar Wilona bangun dan segera menyiapkan sarapan seperti biasa.


Kembali seperti hari kemarin ia bangun lebih awal untuk menghindari bertemu dengan Okta.


Saat beberapa menu sudah tersaji di meja. Seketika Wilona berhenti. Matanya tertuju menatap Okta yang berdiri di hadapannya.


Berdirilah Okta dalam diam dan menatap wajah Wilona dengan sangat dalam.


Dan sesungguhnya semalam Okta tidak bisa tidur, karena ada begitu banyak pertanyaan dalam diri Okta pada Wilona seperti :


Kenapa kamu menangis?


kenapa kamu pilih Judika?


kenapa kamu seperti menghindariku?


apa yang sebenarnya terjadi dengan ibumu dan adikmu?


kenapa itu kenyataan pahit yang tidak terlupakan ...


bukannya aku disini yang setiap hari bersamamu.


setidaknya aku juga bisa melakukan sesuatu seperti yang kamu lakukan padaku saat itu? seberapa banyak hal yang aku tidak tahu tentangmu ... dsb


Dan hal itulah yang membuat Okta justru hanya bisa terdiam membisu melihat Wilona di depannya.


Sontak Wilona terkejut dan segera menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Ia kaget setelah melihat wajah Okta yang penuh dengan lebam di berbagai tempat, ada juga luka basah di sekitar hidungnya.


Sepertinya pagar tembok pertahanan Wilona runtuh seketika.


Padahal sebelumnya ia berjanji pada dirinya sendiri akan menghindari Okta, mengurangi kontak, tidak berkomunikasi dan tidak bertemu dengannya


Namun kali ini justru langkah kakinya bertindak sebaliknya.


Ia berjalan mendekati Okta, hingga berdiri persis di depannya.


"Pak? Ada apa dengan wajahmu?" Tanya Wilona lirih dengan wajah penuh kekhawatiran. Matanya bahkan jatuh pada setiap titik dimana luka dan lebam itu berada.


Okta hanya diam saja dan terus memandang Wilona. Tiba-tiba tangannya terangkat dan mencengkram lengan Wilona.


"Kemana saja kamu?" Tanya Okta yang menatap Wilona dengan tajam.


Sepertinya pertanyaan Wilona tidak di dengar sama sekali.


"Aaaah , sa-sakit pak." Wilona merintih sambil mengangkat pundaknya.


Seketika Okta melepas cengkramannya dan matanya ia alihkan pada meja makan.


"Kemana saja kamu?" Tanya Okta sekali lagi tanpa memandang Wilona dengan nada yang lebih datar.


"Sa-saya ... saya bekerja seperti biasa pak. Saya ... saya tidak kemana-mana." Lanjut Wilona.


Lalu Okta kembali menatap Wilona dan mereka bertatapan cukup lama saat itu. Masing-masing dari mereka punya banyak pertanyaan di kepala mereka yang tak terungkapkan.


Wilona lantas mendudukkan Okta dikursi ruang makan dan dia segera berlari mengambil kotak P3K di sebelah ruang dapur.

__ADS_1


Segera ia membuka salep dan mengoleskannya di luka sekitar hidung Okta.


"Aaaau ... "Okta mengaduh namun tetap memandang wajah Wilona.


Sambil meringis Wilona tetap mengoles... "i-iya, tahan sebentar, sebentar lagi."


Hembusan angin lembut keluar dari mulut Wilona. Membuat wajah mereka berdua berhadapan sangat dekat.


Tiba-tiba saja rona wajah Okta terlihat merah. Okta merasakan wajahnya terasa panas, seketika ia memalingkan wajahnya.


Namun Wilona kembali menggerakkan dagu Okta agar kembali mengarah kepadanya.


Dia tak merasakan bahwa orang yang ada di hadapannya bahkan sudah tidak bisa berlama-lama berada di posisi sedekat itu


Mereka berhadapan sangat dekat dan akhirnya


terciumlah bau sesuatu ...


"Ada bau ...bau apa ini?" Tanya Okta hidungnya seperti mengendus-endus sesuatu.


Wilona kaget dan segera berlari kedapur. Dan buru-buru mematikan kompor.


Daging kuah olahannya sudah kering kerontang.


"Yaaaah." Katanya sedih.


Dia lalu menunjukkan isi pancinya pada Okta dari dapur.


Dengan muka sedih dan bibir yang tiba-tiba melengkung ke bawah segera Wilona menaruh panci itu di wastafel dan menyiramnya dengan air.


Seketika asap mengepul keluar dari panci yang sangat panas itu.


"Kita sarapan itu saja ya pak." Wilona menunjuk menu yang di meja.


"Dasar, pekerjaan begitu saja tidak becus kamu. Tidak ada pekerjaanmu yang jelas selama ini." Saut Okta.


Entah kenapa wajah puas terlihat dari mimik Okta ketika berhasil menghina Wilona.


Namun pagi itu sepertinya Wilona enggan menanggapi apa-apa dan masih menatap makanannya dengan sedih.


Melihat itu Okta lalu terdiam dan ...


"Aaah disini juga sakit ... disini." Dia lalu menunjukkan Wilona area yang terasa sakit di sekitar dagunya.


Wilona lalu melirik dengan sebal namun tak berdaya dan tetap saja berdiri dan mengambil salep untuk luka lebam Okta


"Dimana pak? Tanya Wilona.


"Ini ... ini dan disini juga." Okta menunjukkan area yang terasa sakit.


Wilona kembali mengoleskan salep untuk luka haematom ( lebam) dengan sedikit tekanan karena saking kesalnya sudah dikatakan tidak becus baru saja.


Memangnya siapa yang kemarin masak di dapur dan hasilnya lebih parah dariku. Andai saja aku balas dengan perkataan ini bisa-bisa kita perang dingin lagi.


(Oh ternyata Wilona dengar ya tadi ^^)


"Heeey, pelan-pelan bisa tidak, ini masih sakit?" Bentak Okta.

__ADS_1


"Iya."


Wilona kembali mengoles dengan hati-hati.


"Sarapan ini saja sudah cukup." Lanjut Okta.


Wilona menanggapinya dengan menghela napas saja.


"Dan ...sore! ... sore nanti tidak usah masak." lanjut Okta.


Wilona diam dan menatap Okta.


"Kita makan diluar saja." tutur Okta.


"Apa?"


"Kita makan malam di luar saja. Bukankah terakhir kali aku mengajakmu makan, sewaktu kita berada di paris? Selama disini aku belum pernah mengajakmu."


"Tapi di bukit bintang kita sudah pernah makan malam juga pak?"


"Itukan kamu yang ajak. Bukan aku." Bentak Okta.


"Kenapa?" Tanya Wilona penasaran.


"Ah ... sudah, kamu ini banyak bertanya ... karena kalau lapar ya harus makan ...bukan kenapa... kenapa, pertanyaannya?"


Okta lalu pergi berlalu dan naik ke atas kamar meninggalkan Wilona sendirian di ruang makan.


Bukan begitu pak ...


Wilona lalu menghela napas ...


aku hanya ingin menghindarimu saja. Aku tak pantas berada disini, aku tak pantas menimbun kenangan indah.


bagaimana aku bisa bahagia lagi saat ini. Kalau di ujung nanti akan ada airmata dan kesedihan menimpa banyak pihak.


Tiba-tiba saja dari atas Okta berteriak sambil melihat ke bawah.


"Heey.... heyyy!"


Wilona segera berdiri dan berjalan melihat ke arah atas.


"Jam tujuh malam nanti biar Judika yang menjemputmu."


Okta langsung masuk ke dalam.


Wilona memejamkan mata sambil menghela napas sekali lagi.


●●●●●


Bersambung


Dukung dengan Like juga komen ya.


Hai ... kita jumpa lagi... ^^


ayooo semangat

__ADS_1


masih ada episode selanjutnya hari ini...di tunggu ya


__ADS_2