Pernikahan Sementara Dengan Orang Ternama

Pernikahan Sementara Dengan Orang Ternama
Maaf yang Sukar 1


__ADS_3

Maaf edit ulang author pindah ke tempat lain saja menulis novelnya. Jadi Pembalut Luka tidak akan lanjut di aplikasi ini. karena beberapa readers tidak bisa buka novel author.


●●●●●


Mari kita lanjutkan


Hari itu adalah hari dimana para pelayan datang kerumah. Jadi sebenarnya Wilona bisa lebih santai di kamar.


Namun karena kebiasaanya bangun di pagi hari.


Sepertinya ia menjadi terbiasa akan itu


Saat menuruni anak tangga, tampak lampu masih remang-remang menyala, entah mengapa tidak ada seorangpun pelayan yang hadir.


Tetapi ada cahaya lampu terang di sebelah kantor pribadi Okta, Wilona sepertinya mendengar langkah kaki dan nafas yang terengah-engah dari ruangan itu.


Mendengar suatu yang janggal, di lalu menuju sumber suara tersebut.


Okta?


Wilona lalu mengusap kelopak matanya sekali lagi.


Benar ... tapi ... sepagi ini?


ia melihat Okta yang berolah raga dengan treadmill di ruang olahraga sebelah kantornya.


keringat bercucuran di sekujur tubuhnya, bahkan rambutnya basah bercucuran keringat



Enggan bertemu dengan Okta, Wilona segera berlalu meninggalkan ruangan itu.


Wilona sudah melupakan kekesalan kejadian malam itu. Toh dia juga harus menjalani ini semua lima bulan lagi.


Hanya saja ia benar-benar mengindari Okta, menghindari terjadinya kemarahan yang tidak terduga diantara mereka.


Tapi ... kemana para pelayan ya?


Wilona berjalan menuju ke dapur untuk mengambil botol mineral dan dua buah apel.


Sebaiknya aku bawa buah ini saja sebagai pengganti sarapan.

__ADS_1


Kali ini Wilona benar-benar membulatkan tekad untuk tidak bertemu dengan Okta.


Kali ini ... sekalipun tubuhmu berlumuran darah ... aku tidak akan berhenti seperti hari kemarin. Aku tidak akan menggubris apapun yang terjadi padamu.


Sepertinya Okta menyadari Wilona sudah keluar dari kamarnya,


karena ruang Olah raganya hanya dilapisi oleh dinding kaca, dia bisa melihat bahwa beberapa lampu di sudut ruangan menyala.


Okta lantas mengentikan laju treadmillnya dan menuju ke lemari kecil mengambil handuk kering dan berganti dengan kaos kering.


Dengan nafas terengah dia berjalan menuju ke ruang makan sambil mengusap titik-titik keringat yang masih keluar dari tubuhnya.


Saat itu, Wilona berjalan dengan terburu-buru, sambil membawa dua buah apel dan air mineral, Wilona berjalan cepat menuju kamarnya.


Dianak tangga bahkan Wilona sudah melihat Okta yang berjalan menuju ke ruang tengah.


Tidak ... jangan sampai kita bertemu. Batin Wilona yang merasakan bahwa ada langkah kaki yang mendekat padanya.


"Tunggu!" teriak Okta.


*Deg ...*


batin Wilona.


Wilona melangkahkan kakinya lebih cepat lagi.


"Wilona tunggu!" teriak Okta sekali lagi.


*Deg ...*


Apa?... dia ...


*Hah..hah..hah* napas terengah-engah.


"Aku tahu kamu mendengarku" lanjut Okta.


Wilona pun berhenti mematung di anak tangga, tanpa memandang wajah Okta sekalipun.


"Aku aku salah ...(*hah-hah-hah*)


Wilona ... aku salah." ujar Okta yang masih berdiri terdiam terpaku dengan nafas yang tak beraturan, ia tidak berani mendekat pada Wilona.

__ADS_1


Mendengar namanya disebut, Wilona sempat dibuat kaget, sehingga kedua matanya sedikit membesar.


"Wi-wilona ... aku salah, aku salah ... maafkan aku."


Wilona tetap terdiam.


Apa aku bermimpi?


Tunggu ... mengapa pagi ini terasa aneh sekali.


Memanggil namaku dan minta maaf?


Wilona lalu mencubit pahanya sendiri dan


Adu...du..duhhh sakit.


"Wilona ...." Sekali lagi Okta memanggil.


"Kenapa?" Tiba-tiba Wilona melontarkan pertanyaan karena ia tidak tahu harus berkata apa lagi saat itu.


"Aku sudah merenungkannya, sebenarnya aku yang salah, semua kejadian kemarin ... adalah kesalahanku.


Wilona ... maafkan aku." pinta Okta yang masih diam tak berani mendekat.


Mendengar namanya disebut sekali lagi, sepertinya kali ini Wilona sadar ia benar-benar tidak bermimpi. Ia benar-benar mendengar dengan telinganya bahwa Okta kali ini memanggilnya dengan nama... dan itu baru pertama kali di dengar Wilona.


"Kejadian itu ... Aku sudah melupakannya." kata Wilona lirih ia pun melanjutkan naik ke atas menuju kamarnya meninggalkan Okta sendirian di bawah.


●●●●●


Bersambung


Hai jumpa lagi.


Kali ini author juga disibukkan membuat novel berjudul " Pembalut Luka " karena itu novel kontes yang hanya diperuntukkan bagi 100 orang pemenang terpilih, makanya saya berjuang mencoba membuat novel baru dalam waktu sehari. Semoga bisa menang dan bergabung dalam Next Star Writer.


Maaaaf ya karya ini jadi tertunda. Semoga para readers juga bisa sempat membaca karya author yang satunya...Terimakasih.


Kali ini kisah Wilona akan saya lanjutkan 1 episode lagi, semoga waktunya cukup, akan terbit pukul 20.00 WIB


Terimakasih buat kalian yang masih sabar dan setia menunggu.

__ADS_1


__ADS_2