
Berita pengunduran diri Okta mulai merebak, hampir semua media meliput segala hal berkaitan dengan Okta.
Banyak wanita-wanita diluar sana yang begitu kecewa dan berduka melihat peristiwa yang heboh terjadi di seantoero tanah air ini.
Dan hal demikian ternyata begitu mudah sampai di telinga Leony juga.
Apa? mengundurkan diri?
Berkali-kali Leony mencoba masuk dan menghubungi Okta, namun nada panggilan itu tak pernah masuk sedikitpun.
Tidak ... aku tidak akan membiarkan ini semua terjadi.
Tunggu ... Henry? Kau pasti ada di balik semua ini.
Benar aku yakin itu.
Dengan segera Leony mengambil waktu libur, membeli tiket untuk bisa terbang kembali ke Indonesia.
Aku tidak akan biarkan ini semua terjadi.
▪▪▪▪▪
Di kantor Okta
Dengan penuh percaya diri, Henry datang dan masuk ke dalam kantor Okta.
"Kakak?" ucap Henry.
Mendengar itu, Okta hanya menatap Henry dengan tajam dan dari sorot matanya, terpancar kemarahan yang sangat besar.
"Ah ... tatapan itu menyakitkan aku, tolong hentikanlah kak." ucap Henry yang menangkis tatapan itu dengan lengannya sendiri.
"Mau apa lagi kamu?"
"Tak perlu berkata seperti itu kak, nanti pita suaramu terputus.
ahahaha ..."
Okta kembali terdiam.
"Ow ... baiklah, kalau begitu aku hanya ingin menepati janjiku saja, Apa kakak ingat?
...
Saat kakak berani mengumumkan pengunduran diri, saat itulah aku akan menganggapmu sebagai kakakku yang sebenarnya.
Bukankah ini adalah berita yang baik?
Atau ... haruskah kita merayakannya?
"Jika kamu tidak ada urusan lagi, silahkan pergi dari ruangan ini!!!"
"Ckckckck ... kejam sekali. (menunjukkan wajah sedih)
Baiklah aku langsung pergi saja kalau begitu.
__ADS_1
Ah ... ayah akan kesini sebentar lagi, aku minta kakak menjaga perkataanmu padanya." ucap Henry sambil tersenyum, ia berlagak merapikan pakaiannya dan segera pergi keluar dari ruangan Okta.
Selang setengah jam ayah benar-benar datang sesuai perkiraan Henry.
Ia segera duduk di kursi utama dan Okta segera menyusul mendekatinya.
"Oktav ... ayah kecewa padamu.
kenapa kamu tidak bicarakan ini terlebih dahulu dengan ayah?"
"Hm ... saya rasa ayah akan memahami keputusanku ini."
"Meskipun Henry ini sudah ayah anggap sebagai anak ayah sendiri, tapi sejujurnya ayah sangat menginginkan kamu yang memegang jabatan menggantikan ayah."
"Maafkan saya ayah, saya merasa saya belum mampu."
"Jadi ... menurutmu Henry lebih menguasai ini semua?"
"Benar." kata Okta yang tertunduk menahan gejolak batinnya sendiri.
"Ayah sendiri belum yakin sejauh ini nak. Yah ... meskipun kinerjanya sangat bagus dan rapi.
Tapi ... entah kenapa ayah merasa dia belum layak di posisi itu.
Bisakah kau pertimbangkan ulang keputusanmu itu?
Ayah mohon pikirkanlah baik-baik nak, Aku tahu selama ini kamu selalu berpikir matang dalam mengambil keputusan."
"Maafkan saya ayah."
"Baiklah ... ayah tidak bisa berbuat apa-apa, sebab ayah percaya padamu.
Hanya saja, kamu harus ingat Oktav, selain aku adalah pemimpin tertinggi disini, jangan kamu lupa kalau aku ini adalah seorang ayah bagimu.
Ceritakan apa yang ada di benakmu selama ini.
Seperti dahulu kamu mengandalkan ayah semasa kecilmu."
"Baik ayah, saya mengerti. Ayah adalah orang tua yang terbaik."
"Kenapa kamu berkata seperti itu?"
"Aku kira, ayah akan marah besar padaku. Tapi ... ."
"Ah ... soal itu ... melihat kamu bahagia bagi ayah itu adalah yang terbaik.
Ayah ini sudah tua, tak ingin memaksakan kehendak ayah untuk memuaskan keinginan pribadi, dan juga kalian sudah dewasa.
Untuk apa ayah ikut campur lagi.
Tapi ingat Oktav ... hanya satu pesan ayah,
Selesaikan segala sesuatu dengan hati, cerdik dan berkelas. Ayah tahu kamu sudah mewarisi teknik ini."
"Ayah."
__ADS_1
...
Apakah selama ini ayah mengetahui persoalanku dengan Henry?
Segera ayah berdiri menepuk pundak Okta.
"Nak ... berjuanglah, ayah masih sangat mengharapkanmu."
Ayah segera berlalu meninggalkan Okta, tepukan dan kata-kata itu membuat harapan Okta kembali bangkit.
▪▪▪▪▪
Setelah beberapa hari pengumuman pengunduran dirinya,
beberapa jajaran direksi meminta agar Henry segera di lantik secepatnya, karena sudah bisa dipastikan hanya dia seorang yang terpilih menjadi pimpinan tertinggi selanjutnya.
Akhirnya diadakan rapat darurat mengingat beberapa pihak mendesak untuk di segerakan percepatan pelantikan itu.
Okta memilih untuk hadir dan hanya terdiam mendengarkan beberapa orang saling melontarkan keberatan atas keputusan itu.
Beruntung ayah segera muncul secara virtual pada layar LED yang cukup besar, saat mereka masih saja saling berdebat.
"Semuanya ... tolong perhatiannya!" ucap ayah yang ditayangkan dari layar.
Semua peserta sontak terdiam mendengarkan kata yang keluar dari seorang pemimpin utama.
"Apa yang sudah aku tetapkan ... tetap akan berlaku.
Itulah keputusanku!
Pelantikan harus sesuai dengan keputusan dari semula.
Apa maksud kalian dengan percepatan itu, hal itu tidak lain hanya membuat kegaduhan di beberapa karyawan lainnya.
Tidak ada bedanya, kalau memang hanya ada seorang saja kandidatnya.
Jangan ada perbantahan lagi!"
Semua karyawan patuh dan menganggukkan kepala. Namun ada dari mereka yang kecewa ada pula yang puas( sebab mereka masih berharap Okta kembali mencalonkan diri sebagai kandidat CEO selanjutnya)
▪▪▪▪▪
Sedang Judika ... dia kesulitan menemui beberapa karyawan yang sudah di keluarkan perusahaan, sebab setelah ditelusuri semua karyawan itu pindah ke lokasi di luar kota, dan mereka terpencar ke segala penjuru.
Sial ... mengapa semuanya berada di lokasi yang terpencil, apa ini semua ulah Henry juga... sampai-sampai mereka yang sudah di keluarkan, di buang jauh dari tempat mereka tinggal.
Kurang ajar sekali anak itu!!!
Namun Judika tidak patah semangat, demi sebuah bukti ia harus mengejar ini semua.
●●●●●
Hai ... dukung author dengan ♡ dan bantu vote juga. Terimakasih komentar kalian dan yang setia menunggu,
beberapa info penting akan author umumkan melaui chat, silahkan bergabung.
__ADS_1
Mari kita habiskan hari sabtu 26 September ini dengan episode-demi episode💪💪🔥