
Sesampainya dibukit bintang Okta menggandeng tangan Wilona dan mencari tempat yang sepi, sementara Judika hanya menunggu di seputar mobil saja.
"Ona ... aku tidak menyangka ayah sudah mengetahui ini semua dari semula."
"Benar. Meskipun begitu aku tetap merasa bersalah padanya."
"Bahkan ayah nanti akan membantu kita menjelaskan semua ini pada ayahmu Ona."
"Benarkah? aku tidak menyangka ... ayah sangat baik padaku."
Okta sebentar menatap wajah Wilona, mencoba menenangkan diri lalu memegang kedua tangan Wilona sehingga mereka saling berhadapan.
Dengan menarik napas panjang Okta memberanikan diri untuk berkata-kata.
"Sejujurnya kebodohanku membuatmu menderita.
Aku tahu, selama ini aku sudah sangat mempermainkan perasaanmu itu.
Aku membuatmu harus berbohong, membuatmu harus terpisah dengan kekasihmu, membuatmu harus menderita sejak awal pernikahan kita, tidak mempedulikan dirimu saat kita berada di Paris.
Dengan bodohnya bahkan aku menganggap kamu adalah orang yang tidak punya harga diri, ketika kamu menyanggupi perjanjian itu hanya karena sebatas harga.
Namun setelah semua kujalani bersamamu, penilaianku terhadapmu berubah 180°.
Sesungguhnya aku sendirilah orang yang tidak tau diri Ona."
"Sssttt, tolong ja-jangan berkata seperti itu Pak."
"Saat ini aku menyadari, tetesan embun yang menyejukkan itu adalah dirimu.
Segala hal bersamamu ... segalanya, semua terasa indah.
Banyak pelajaran berharga yang tak sengaja kau berikan padaku.
Aku menjadi manusia seutuhnya, yang apa adanya ... tanpa perlu menunjukkan sisi tertentu pada dunia seperti yang selama ini kulakukan.
...
Kau membuat hidupku lebih bermakna.
Karena itu sejak kamu keluar dari rumah waktu itu ... saat itu ... saat dimana aku merasa ada yang hilang dari hidupku."
Wilona hanya diam tak menanggapi sedikitpun perkataan Okta, namun hatinya berdegup kencang mendengar perkataan lembut yang keluar dari mulut Okta.
__ADS_1
"Dari hatiku yang terdalam, aku sangat sangat ingin hidup bersamamu. Terpisah denganmu seolah membuat nafasku separuh pergi.
Aku tak bisa menahan lagi untuk berkata bahwa kamu sangat berarti dalam hidupku Ona, biarkan saat ini aku berkata ... bahwa aku sangat ... sangat ... sayang padamu." lanjut Okta.
Wilona menutup mulutnya tak menyangka Okta mengakui perasaan padanya.
Dan Okta memeluk Wilona sangat erat.
"Apa aku terlalu egois jika menginginkamu tetap dipelukan ini?"ujar Okta.
"Bagaimana dengan Leony? tidak mungkin kamu memiliki dua hati untukku dan dia bukan?"
"Maka dari itu aku bertanya pada egoku sendiri. Maka dari itu pula, aku mengungkapkan perasaan ini padamu.
Ada sesuatu disini yang terasa sakit jika aku tidak ... tidak mengungkapkannya(Okta menunjuk hatinya)
Aku mencintaimu Ona (Okta membelai lembut rambut Wilona), tapi aku tidak bisa bersamamu karena Leony, dia sudah berjuang bersamaku sejak lama.
Dia sudah lama menemani hari-hariku dan berjuang untukku."
"Pak Okta, aku sama sekali tidak ingin merebutmu dari siapapun, bahkan aku tidak berhak memilikimu, sungguh ini ku katakan dari hatiku yang terdalam.
Hanya saja tolong pikirkan baik-baik. Leony .... dia ... !" Wilona bahkan tidak berani melanjutkan kata-katanya.
"Dia?" tanya Okta.
"Ah ... tidak, hanya saja pertimbangkan baik-baik siapa yang akan mendampingimu seumur hidup. Bukan berarti aku yang terbaik, bukan itu maksudku, hanya saja aku mohon pertimbangkan itu dulu sebelum memutuskan.
Aku sungguh ingin Pak Okta hidup bahagia dengan siapapun wanita yang akan Pak Okta pilih."
"Ini sangat berat Ona ... (Okta mengambil napas panjang)
Keputusanku adalah ... aku akan tetap bersamanya.
Aku tidak mungkin tidak setia setelah selama ini dia selalu ada untukku.
...
Ona! ... kamu harus tahu ini sangat berat bagiku. Dan aku merasa sangat jahat karena mempermainkan perasaanku sendiri. (Okta mengusap dadanya berkali-kali)
"Pak ... apapun keputusanmu ... itu yang terbaik. Pernikahan kita memang hanya sebatas perjanjian semata, Itu artinya memang kita harus terpisah. Dari awal memang kita sudah saling sepakat,
tak perlu merasa jahat seperti ini."
__ADS_1
Okta membuang mukanya, dan melemparkan napasnya jauh-jauh.
Berkali-kali ia mengambil napas dalam. Dan menepuk dadanya sendiri mendengar pernyataan Wilona.
Wilona pun seperti tersayat melihat Pak Okta yang di hadapannya terlihat sungguh sangat berat melepaskan dirinya.
"Kita masih bisa berteman dan saling bertemu." ucap Wilona yang berusaha tegar dengan mencairkan suasana namun ia sendiri tampak menahan air matanya.
Sekali lagi Okta menarik tangan Wilona dan kemudian mendekapnya dalam pelukannya.
"Ona ... Wilona ... (suara Okta bahkan terdengar pelan dan merintih) Aku mencintaimu ... sangat mencintaimu. Maafkan aku."
Tiba-tiba tangan Okta menyentuh kepala Wilona, Perlahan Okta untuk mengecup kedua mata Wilona dengan lembut.
"Terimakasih ... kau sudah sangat baik, terimakasih aku boleh mengenalmu. terimakasih untuk segalanya."lanjut Okta.
"Hm."
Setelah mereka mulai menenangkan perasaannya.
Mereka kembali berjalan sambil bergandengan tangan menuju mobil.
"Wah ... setidaknya aku sudah mengutarakan semuanya padamu Ona." ucap Okta sambil melihat bintang di langit.
"Hm ... ."
Aku beruntung ... akhirnya malam ini Okta mau mengutarakan semuanya, setidaknya beban di hatinya sudah terlampiaskan dan lebih beruntung lagi dia tidak mengorek tentang perasaanku sendiri. Meskipun begitu akan lebih baik aku diam, supaya engkau tidak lebih berat lagi melepasku.
Judika sendiri dari jauh menyaksikan tuan dan nyonyanya saling berpelukan, dan saat mereka kembali menuju ke mobil ia melihat mereka saling bergandengan tangan.
Tuan ... nyonya ... perjalanan hidup kalian seperti takdir yang dipersatukan Tuhan. Aku ingin kalian bahagia sampai akhir!!!
●●●●●
Bersambung
Wah ... menjelang episode-episode terakhir author juga jadi kebawa suasana nih.
⚘ karena jujur komentar2 kalian bikin semangat menulis lagi.
💪🔥
Terimakasih buat para pembaca, mari dukung author dengan tinggalkan jejak berupa vote dan ♡ juga.
__ADS_1
kita lanjut besok ya^^