Pernikahan Sementara Dengan Orang Ternama

Pernikahan Sementara Dengan Orang Ternama
Pembalasan


__ADS_3

Tibalah mereka di sebuah bar yang berada di dalam sebuah hotel.


Bar Winston namanya, cukup dekat lokasi mereka karena hanya berjarak dua blok dari sasana boxing tempat mereka latihan sebelumnya.


Di dalam bar dengan khawatir Judika melihat tuannya.


"Tuan."


Dan karena mereka terkoneksi super kencang Okta mengerti kekhawatiran Judika


(ya mungkin karena sudah baikan ya ^^)


"Tenang Jud, satu gelas saja. Aku bisa mengontrol diriku."


Okta lalu meminta pelayan bar untuk membawakan kompres es.


"Tempelkan itu di wajahmu." Okta lalu menyodorkan kompres itu pada Judika.


"Terimakasih tuan."


Setelah meminum dua teguk Okta memulai membongkar perasaannya.


"Entah mengapa ... aku seperti ini Jud."


Judika hanya diam menatap tuannya.


"Aku seperti kehilangan akal saja saat itu. Aku selalu salah menilai segala sesuatu tentang Wanita itu."


(haduh Okta susahnya apa si nyebut Wilona😫)


"Maksud tuan?"


Sambil menghela napas Okta melanjutkan, "Aku juga tidak tahu,


Cih ... Selama bersamanya, aku menjadi seperti aku yang sesungguhnya, bukan Okta yang selama ini orang lihat."


"Tuan."


"Herannya kenapa aku juga bisa bodoh, kalang kabut, salah persepsi, dan menjadi orang jahat seperti kemarin jika itu berkaitan dengannya."


Okta lalu menghembuskan napas lewat mulutnya sekali lagi.


"Lanjutkan kompres wajahmu." Okta memandang Judika dengan lembut.


"Adakah bagian lain yang sakit?"


"Tidak tuan. Saya baik-baik saja."


"Menurutmu ... apakah dia menangis karena kehadiran Leony atau ada hal lain?"


"Awalnya saya berpikir demikian tuan, namun sepertinya bukan itu alasan nyonya menangis. Sebaiknya tuan menanyakan langsung pada nyonya."


Okta lalu menganggukan kepalanya.


"Tuan ... bahkan tuan minum minuman ini apakah juga karena nyonya?"


"Hm ... entahlah, seperti ada sesuatu yang tertahan disini." terang Okta sambil menunjuk dadanya.


"Saya merasa semenjak ada nyonya, Tuan memang menjadi seperti tuan yang dulu saya kenal."


"Benarkah? ah ... mungkin karena pembawaan wanita itu yang ceria.


Yah benar ... karena setiap hari aku bertemu dengannya."


Judika menganggukkan kepalanya sebagai tanda mengerti.


"Hampir setiap hari aku melihatnya, dia ternyata wanita yang kuat, tegar dan hebat tapi entahlah dimataku dia adalah wanita yang lemah, dan sepertinya ... aku hanya ingin melindunginya.


Hm ... mungkin karena itu, aku menjadi sangat emosi, ketika dia lebih dekat dengan mu saat di makam kemarin." Okta mengeluarkan uneg-unegnya.

__ADS_1


Judika hanya menganggukan kepala.


"Ya sudah Jud, kamu pulanglah. Hari ini aku ada janji dengan Leony. Kamu tidak perlu menemaniku."


"Baik tuan."


"Oleskan juga salep di sekitar mulutmu itu." Okta melanjutkan.


Lalu mereka berpisah.


▪▪▪▪▪


Di Rumah Okta


Waktu mendekati jam tujuh malam. Okta sebenarnya ingin segera berangkat untuk makan malam dengan Leony.


Berulang kali ia melihat jam di tangannya.


Okta menunggu kepulangan Wilona karena hampir seharian ini bahkan ia tak bertemu dengannya.


Kenapa wanita itu tidak sampai rumah jam segini? Sebenarnya Apa yang dia lakukan?


Saat itu Okta mengeluarkan ponselnya dan mencoba menghubungi Wilona. Tetapi niat itu di urungkannya.


Okta berjalan mondar mandir bahkan sampai melihat dari teras rumah.


Apakah dia tidak ingat waktu ... ini sudah malam... dasar wanita bodoh... kemana saja dia pergi?


Sambil mengusap mulutnya melihat waktu janjian dengan Leony semakin mendesak. Okta memutuskan segera pergi.


Sedikit cerita dari Judika tadi sore mengenai Wilona yang menangis saat itu. Membuat Okta terusik pikirannya sepanjang perjalanan.


▪▪▪▪▪


Akhirnya Okta menghabiskan waktu malam itu dengan Leony.


Sehingga privasinya sangat terjaga.


Bilik kayu, dengan warna kayu yang mengkilap hasil plitur yang sangat sempurna menjadikan ruangan itu juga nampak lebih elegan.


Okta pamit sebentar untuk pergi ke toilet.


Di wastafel, sebentar ia mengecek ponselnya. Tetapi tidak ada pemberitahuan apa-apa yang masuk di hpnya.


Dia juga tidak bisa meminta tolong pada Judika karena sudah menyuruhnya untuk beristirahat dirumah malam ini.


Okta kemudian kembali berjalan sambil menghela napas, saat mau membuka pintu, ia kembali membuat ekspresi senang dari mimik wajahnya.


Okta kemudian duduk bersebelahan dengan Leony.


Saat Okta hendak mengangkat gelas minumannya.Tiba-tiba


*BRAKKK* Pintu terbuka.


Seorang laki-laki muncul dengan mata garangnya.


Sambil mendekati Okta. dia berkata


"JADI INI YANG KAMU LAKUKAN SELAMA INI!"


Okta spontan berdiri melindungi Leony.


Kerah baju Okta kemudian di tarik.


" DASAR PENGKHIANAT." ucap pria itu sambil meninju muka Okta, menyebabkan Okta terjatuh terpelanting ke belakang.


"Tidaaak." sambut Leony yang langsung duduk di bawah, memegang Okta yang terjatuh di lantai.


"Apa yang kamu lakukan?" Teriak Leony pada pria penyerang itu.

__ADS_1


Okta kemudian kembali berdiri dan menarik Leony agar terlindung di balik tubuhnya.


"Jadi ini sifat aslimu ...HAH?" kata pria itu.


Sekali lagi ia ingin meninju Okta, namun dengan segera Okta menangkis serangan itu dan balik memukulnya.


Tak pelak Perkelahian terjadi disitu.


Hidung Okta mengeluarkan darah akibat pukulan pertama yang sangat keras dari laki-laki itu.


Sedang Leony hanya bergetar ketakutan di sudut ruangan, menyaksikan perkelahian keduanya.


Sayang sekali Judika tidak ada bersama Okta untuk melindungi tuannya.


Ya ... lelaki yang berani maju menyerang pria ternama itu ternyata adalah Bastian ...dan mengapa ia ada di sana malam itu?


Bastian kembali menarik kerah baju Okta.


"Aku bertanya-tanya waktu itu ... dimana suaminya sewaktu Wilona datang ke makam ibunya?"


"Apa maksudmu?" tanya Okta.


"Sesibuknya dirimu hai orang terkenal! Setidaknya kamu bisa mendampingi istrimu yang menangis di makam ibunya.


APA KAMU TIDAK TAHU?... Hari kematian ibunya dan adiknya ...


adalah hari kematian yang paling menyesakkan bagi Wilona." ucap Bastian dengan wajah penuh kegeraman.


Okta tertegun menanggapi dengan napas tersengal. Kemudian Okta mendorong Bastian sampai badannya terhimpit pada dinding.


"JELASKAN ...APA MAKSUDMU!!!" tanya Okta dengan keras, matanya terbuka lebar, giginya terkatup rapat. Kali ini ganti Okta yang menarik kerah Bastian


sambil tetap menghimpit tubuh Bastian di dinding.


"Ck.ck.ck yang harus kamu tahu hai orang terkenal ... bahkan sampai dengan saat ini tidak ada yang bisa menyembuhkan luka Wilona." timpal Bastian.


Okta terdiam ... pikirannya menjadi kalut. Kelopak matanya tiba-tiba saja berair. Genggaman tangannya pada tubuh Bastian melemah.


Melihat Ekspresi itu Bastian melanjutkan.


"Sepertinya kamu tidak tahu apa-apa tentang dia, HAH?


sungguh... Wilona yang malang, apakah dia tahu saat ini suaminya justru bersenang-senang bersama wanita lain."


Okta hanya terdiam kaku. Keringat dan air mata tiba-tiba mengalir begitu saja dari wajahnya.


"Dan sekarang aku sudah tahu alasan dari pertanyaanku selama ini, tanpa perlu penjelasan dari siapapun.


...


Asal kamu tahu, mulai kejadian di makam itu, Aku bertekad akan menjadikan Wilona ... milikku lagi."ujar bastian dengan geramnya.


Pada waktu itu dua sekuriti datang kebilik.


Bastian segera mendorong Okta.


Okta kembali terpelanting kebelakang, namun kali ini ia sanggup menahan tubuhnya supaya tidak terjatuh.


"Camkan kata-kataku ini." lalu Bastian pergi meninggalkan bilik itu sambil kembali menutup pintu dengan keras.


●●●●●


**Bersambung


WAOW ... hari sabtu yang panjang. Mari kita berjumpa lagi hari selasa besok ya.


Jangan lupa Vote juga please🙏 Supaya karya ini bisa mendapat perhatian lebih banyak pembaca lagi di luar sana.


Terimakasih yang sudah meninggalkan jejaknya..komen kalian sudah saya balas. Sekali lagi terimakasih banyak perhatiannya**.

__ADS_1


__ADS_2