
Sebaliknya Okta dan Leony berada di sebuah gedung dimana di sana sedang mengadakan suatu acara fashion show.
Sebuah panggung nan megah dan kokoh dengan nuansa gelap siap menyambut lenggak lenggok kehadiran para pragawati.
Kursi yang berjejer rapi dan beberapa tamu undangan yang sudah mulai berdatangan sepertinya acara sudah mau dimulai.
Leony sibuk kesana kemari karena dia menjadi koordinator acara saat itu. Memastikan setiap kontestan tampil dengan penampilan terbaik mereka, bertemu dengan beberapa tamu undangan bahkan pihak kameramenpun tak lepas ia berikan pengarahan.
Okta hanya mengamati Leony dari kursi penonton, ia sangat bangga pada kekasihnya itu.
Matanya tak pernah lepas sedetikpun dari Leony.
Terkadang Okta tak dapat menyembunyikan senyum tipis di mulutnya sendiri, memandang kekasihnya yang diliputi dengan segala kesibukan.
Sesekali Leony melambaikan tangan dan tersenyum pada Okta. Membuktikan jalinan kasih yang indah antara mereka berdua.
Acara fashion show berjalan sangat lancar hari itu, pukul tiga baru Leony bisa keluar secara penuh dan menemui Okta.
Mata Leony berbinar dan senyum cerah merekah di wajahnya saat melihat Okta memberikan sesuatu padanya.
"Okta ... wah ... terimakasih, ini cantik sekali."
Leony menerima buket bunga mawar pink dari Okta.
Okta hanya tersenyum senang melihat ekspresi Leony.
Leony lantas mengecup pipi Okta, memandang beberapa detik lalu merangkul tubuhnya. Mereka melanjutkan bergandengan tangan menuju mobil untuk segera makan di sebuah resto yang sudah di pesan Leony sebelumnya.
Sorenya Leony mengajak Okta ke apartemen miliknya untuk beristirahat sebentar dan berganti pakaian berhubung malam nanti akan ada acara perjamuan pesta ulang tahun rekan kerjanya. Wow benar-benar hari yang sibuk dan melelahkan.
*****
...Di Apartemen....
"Leony, tiga hari lagi aku akan balik ke Indonesia." kata Okta yang saat itu sedang duduk di sofa.
Leony yang sedang melepas anting di kamar, kembali mendekat pada Okta dan mengulurkan tangannya.
Okta pun segera merespon dengan mengulurkan tangannya dan berdiri sangat dekat dengan Leony.
Mereka saling bertatap sangat dekat, kemudian Leony melingkarkan tangannya pada pundak Okta.
"Tidak bisakah kamu lebih lama di sini?"pinta Leony sambil memalingkan sedikit kepalanya dan memandang Okta sangat lekat.
"Ah... tidak sayang ... aku kesini bukan untuk liburan seperti biasanya, aku harus mengurus perusahaanku juga, kamu mengerti kan?" ujar Okta.
__ADS_1
Leony pun segera mengecup bibir Okta lalu mereka saling berpandangan cukup lama. Okta segera menarik leher Leony mendekatinya, sehingga mereka bercumbu cukup lama saat itu, perlahan langkah kecil mendaratkan tubuh mereka di sofa.
Karena momen yang sangat tepat, dan mulai memanas, Leony pun berusaha melepas kancing bajunya satu per satu, sambil matanya yang terus menggoda Okta.
Okta sangat berdebar saat itu melihat apa yang ada di depan matanya.
Sampai pada kancing yang ketiga, tangan Okta pun menempel pada dada Leony, mencegah Leony melakukannya tindakannya lebih lanjut.
Tangan Okta yang sudah menyentuh sebagian dari bagian sensitif tubuh Leony kemudian dengan reflek terangkat keatas. Okta memalingkan pandangannya.
"Maaf Ony ... aku ... aku tidak bisa melakukan itu." tegas Okta yang enggan menatap Leony.
Leony pun menyerah, kali ini usahanya gagal lagi, memang sudah berulang kali Leony berusaha untuk mengajak Okta tapi akhirnya semua usahanya sia-sia.
"Aku mengerti sayang." Leony segera mengecup pipi Okta dan berlalu meninggalkan Okta.
"Sayang aku siap-siap mandi dulu ya." Leony segera berlalu meninggalkan Okta.
Okta akhirnya duduk dengan lemas, kepalanya disandarkan pada sofa, dengan tangan satu menutup kedua matanya.
Hah, hampir saja aku tidak mengontrol diriku. Ibu maafkan aku
(Ingatannya kembali terkenang pada ibunya).
Saat itu ibu Okta pernah berkata
Terlebih saat kamu sudah besar nanti, kamu harus bisa menjaga kesucian wanita. Kesetiaan dan kesucian keduanya tak boleh di pisahkan dan wajib kamu jaga dan hormati.
Dengan **ber***sikap begitu pada wanita, kamu juga berarti menghormati ibu mu sendiri*.
Ingatannya itu membuat hasrat Okta menurun dan stabil kembali. Berulangkali ia menghembuskan nafas panjang untuk membuang hasratnya jauh-jauh.
Sehingga sore itu semuanya berlangsung aman. (fiuhhhh.... hampir saja^^)
Pesta Ulang Tahun
Pada malamnya Okta dan Leony menghadiri acara pesta. Beberapa pasang mata terpana dengan kehadiran mereka, karena kali ini Leony menggandeng seorang pria tinggi tampan dengan mengenakan tuxedo tampil bersamanya.
Aura dan pesona Okta membius beberapa orang untuk menatapnya.
Banyak dari antara mereka mengatakan bahwa mereka berdua sangat serasi malam ini, hal itu justru membuat Leony semakin berbunga-bunga mendengarnya.
Namun karena Okta tidak terlalu menyukai menjadi pusat perhatian, ia memilih berpisah dari Leony dan membawa gelasnya, berjalan menjauh dan duduk sambil mengamati kekasihnya yang saat itu masih seru berbicara dengan tamu yang lain, Leony berpenampilan sangat sangat cantik saat itu. Okta yang sudah bertahun-tahun bersamanya saja masih saja terpesona dengan kekasihnya Leony. (Di mabuk cinta namanya ^^)
Ah sudah jam sembilan malam.batin Okta.
__ADS_1
Tiba-tiba Okta teringat bahwa kemarin malam Wilona berkata akan pulang larut. (Duh si Bapak baru sadar malamnya bagaimana sih😒)
Okta segera mengambil ponse nya dari saku dan menelpon Wilona, nada sambung terdengar tapi Wilona tak kunjung mengangkat telponnya.
Ia mencoba menelpon berkali-kali tapi tak segera di angkat.
Sudah gila dia ya, berani-beraninya tidak mengangkat panggilanku . batin Okta.
Akhir nya setelah sambungan ke lima Wilona mengangkat.
"Iya, ada apa?"jawab Wilona.
"Hey, kenapa tidak diangkat dari tadi."
"A-aku tidak dengar."(padahal sebenarnya Wilona malas Mengangkat telpon.
"Kamu dimana?"tanya Okta cepat.
"Aku masih di luar, ada apa ?(Wilona sedang dalam perjalanan pulang dengan Bobby) ... cepat katakan."
"A-apa?? berani sekali kamu membentak aku." ujar Okta
"hm...(mengambil nafas pelan). Maaf pak, tapi sebenarnya anda menelpon saya ada tujuan apa?" (Wilona kembali berbicara dengan sopan)
Sebenarnya Okta juga bingung harus menjawab apa pada pertanyaan Wilona.
"He-heeey, makanlah di luar dengan Bobby, jangan sampai kamu kelaparan seperti kemarin merepotkan orang saja."
"Baik pak."
Tuuut.tuuut.tuuut Wilona segera menutup telepon nya.
Wah ...wah ... wah...kurang ajar sekali wanita ini, tidak tahu sopan santun rupanya.Okta tampak marah-marah sendiri dengan hp nya. Kejadian itu membuat Okta ingin pulang dan segera memarahi Wilona.
Sudah kusuruh jaga diri sebenarnya dia ingat tidak.
Okta pun kesal dan menghabiskan wine yang tadi ia pegang dengan sekali teguk.
**Bersambung
haiii, selamat bergabung dalam novel ini bagi yang baru membaca
mohon untuk bisa kasih like, bintang 5 dan vote juga ya**.
Jangan lupa pantau juga episode selanjutnya.
__ADS_1
^^