Pernikahan Sementara Dengan Orang Ternama

Pernikahan Sementara Dengan Orang Ternama
Kesetiaan Okta di Uji ... (The End)


__ADS_3

Seminggu kemudian Wilona di jemput Judika dari rumah bibi


Dalam perjalanan pulang.


"Jud ... kau tahu sendiri kan, selama ini aku dan Okta, hm... kita tidak pernah menjalani masa pacaran, tapi Okta berani begitu saja memutuskan melanjutkan pernikahan ini.


Yah ... meskipun masa sembilan bulan ini... sebenarnya aku mulai sedikit tertarik padanya, tapi itu tidak cukup ... kan tidak bisa begitu juga!


Pernikahan yang benar adalah memilih untuk hidup bersama atas dasar keputusan bersama.


ya kan?


Aku tidak tahu ... perubahan apa yang terjadi kalau aku hanya menurut saja padanya seperti selama ini." Wilona terus saja berbicara sepanjang jalan.


"Lalu ... nyonya mau seperti apa?" tanya Judika.


"Aku ... aku juga tidak tahu *hening sejenak* ah ... semuanya serba mendadak."


"Em ... kalau begitu ...


Nyonya ... kali ini saya akan ikhlas membiarkan nyonya bertindak atas tuan." kata Judika


"Maksudmu?"


"Tuan adalah orang yang sangat menghormati wanita yang dicintainya, mungkin yang nyonya rasakan di awal pernikahan selama ini karena tuan Okta tidak sepenuhnya mengenal nyonya."


"Lalu?" tanya Wilona sambil memejukan badannya, ingin mendengar dengan seksama


"Saya akan persilahkan nyonya melakukan pre-test sebelum memutuskan untuk lebih serius lagi hidup dengan tuan."


"Hm ... Okeyyy. Setuju, itu artinya kamu akan diam saja kan?"


"Benar nyonya."jawab Judika.


"Janji?" tanya Wilona memastikan ulang.


"Baik nyonya ... saya janji."


▪▪▪


Perjalanan kisah cinta Wilona akhirnya dimulai


Wilona menginginkan kisah pernikahannya dimulai lagi dari awal.


Segala kenangan buruk yang ia alami harus di balik keadaannya dan ia hanya ingin merasakan kebahagiaan untuk mengganti masa-masa beratnya dalam pernikahan sebelumnya.


Itu adalah tantangan dan juga syarat yang harus dipenuhi Okta untuk menentukan hasil keputusan Wilona akhirnya.


Kesepakatan itu tentu sangat di setujui Okta, karena artinya hanya selangkah lagi dengan cara yang mudah ia bisa menjadikan Wilona istri sesungguhnya.


Dan untuk membayar itu semua, mereka memutuskan untuk kembali ke Paris menebus segala kerugian atas semua perlakuan Okta pada Wilona selama ini.


...****************...


♡♡♡♡♡


PARIS


Hari pertama


Perjalanan panjang membuat mereka sudah cukup kelelahan sehingga hari pertama mereka hanya menghabiskan waktu di kamar saja.


Namun kebalikan di waktu itu, kali ini Wilona membiarkan Okta tidur di kursi persis seperti yang ia alami saat pertama liburan di Paris.


PikTor Okta Off seketika setelah tahu tujuan mereka sekamar ternyata tidak sesuai impiannya. Seketika Okta menjadi lesu dan menunjukkan wajah sedihnya dihadapan Wilona.


Namun Okta berusaha tenang, karena sekali saja Wilona mendengar Okta marah, maka semuanya akan berakhir itulah ancaman Wilona.


Fiuhhhh


Dan untungnya Okta tahan dan bisa melalui itu semua.


♡♡♡♡♡


Hari Kedua


*Ting-tong*


Bel kamar berbunyi.


Saat mereka berdua sarapan ternyata Bobby datang tanpa sepengetahuan Okta.


Ia sengaja di undang Wilona untuk membantunya menguji Okta.


"Wooow, sangat tepat saya datang ya, kebetulan lapar sekali." kata Bobby dengan bahasa yang masih berlogat bule ini tiba-tiba duduk dan tersenyum menatap Wilona.


Mereka pun makan bertiga dengan Okta yang terlihat sedikit kesal dengan kehadiran Bobby.


Selesai makan, mereka pun berjalan sampai ke Lobby.


"Baiklah ... kali ini aku akan pergi dengan Bobby."ujar Wilona tiba-tiba.


"Apa?" kata Okta protes sambil membelalakkan mata.


"Aku hanya ingin membalas kebaikannya selama aku disini. Kalau tidak ada dia, mungkin aku akan mati kesepian waktu itu." jawab Wilona dengan santai.


"Dengan senang hati. Semua orang akan senang berjalan dengan wanita cantik sepertimu." ujar Bobby menggoda.


"Heyyy jaga kata-katamu Bobby, dia sudah bersuami." Okta sudah mulai mengeluarkan kata emosinya.


"Baiklah ayo kita pergi ... (kata Wilona merangkul lengan Bobby ) aku akan ganti membelikanmu baju saat ini." kata Wilona yang cuek, tidak menggubris Okta.


Mereka akhirnya berjalan menjauh.


"Hey ... Jud ..." Okta memberi kode pada Judika dengan kepalanya, maksudnya agar ia bertindak menghentikan mereka berdua.


Namun Judika hanya diam saja. Sebab ia sudah berjanji pada nyonya tanpa sepengetahuan Okta.


"Apa yang kau lakukan ... kejar dia..." kata Okta yang kesal sambil meninju pelan lengan Judika.


Judika tetap diam tidak berkutik, ia hanya menundukkan kepala serta pergi meninggalkan tuannya.


Ah ... ada rasa tidak nyaman dalam hati Judika sebab baru kali ini ia berontak dan tidak patuh pada perintah tuannya.


Sepanjang waktu Okta di hotel, hanya bisa menghubungi Wilona dan memastikan ia baik-baik saja.


Sampai larut malam Wilona pergi.


Sekalipun hatinya merasa bersalah dan tidak enak meninggalkan Okta, tapi ia harus melakukan itu semua.


Sedang kesabaran Okta sudah di ambang batas. Ia kelaparan menanti Wilona persis seperti yang Wilona alami waktu itu.


Sangkanya mereka akan makan malam romantis bersama di suatu restaurant mewah, namun waktu berlalu sampai malam dan Wilona tidak kunjung datang.


Okta sudah menunjukkan wajah kesal saat tahu Wilona pulang larut malam.


Ia membukakan pintu dan menunjukkan mimik kesalnya.


"Apa-apaan ini ... kau menghabiskan waktu dengan orang lain, kau sama sekali tidak memikirkan aku disini?" tanya Okta.


"Memang itu yang aku rasakan dulu." kata Wilona yang melepas sepatu dan mantelnya.


"Tapi ... baiklah aku salah, tapi itu dulu... Kamu tahu Ona ... ini balas dendam namanya!" ujar Okta dengan nada sedikit keras.

__ADS_1


Wilona memalingkan wajah dan menatap Okta. Tatapan itu membuat Okta kembali diam. Seketika kesalnya berangsur surut.


"Aku lapar." Wilona diam tidak membahas percakapan itu, sebaliknya ia memilih mengajak Okta makan karena sebenarnya ia sengaja tidak makan, ia tahu Okta pasti juga menunggunya makan bersama.


Ajakan itu membuat Okta menurut dan mereka makan bersama.


Lalu Wilona melanjutkan mandi dan membersihkan tubuhnya.


Suatu hal yang di nantikan Okta, melihat istrinya malam ini akan ada waktu romantis dengannya dalam satu kamar.


Pikiran segar kembali merasuk dalam setiap sel otaknya.


Hati dan perasaannya berpacu melebihi kecepatan seorang pelari dalam ajang lomba.


PikTornya mulai On lagi sesaat ia membayangkan akan merayu Wilona dan menghabiskan malam panjang bersama.


Ia melihat Wilona berjalan di kamar ganti dengan rambut basahnya.


Dengan tersipu Okta berjalan mendekat, namun saat ia mencoba mendekati Wilona dan memegang hair dryer untuk membantu mengeringkan rambut istrinya, penolakan pun terjadi:


"Apa yang kamu lakukan pak?" jawab Wilona dengan sedikit membentak.


"Aku ... aku ... ." Okta bingung harus menjelaskan apa, Ia meletakkan hair dryer kembali ketempatnya pelan-pelan. PikTor Okta off seketika.


"Saya lelah sekali hari ini." ujar Wilona melanjutkan.


"Aku akan berikan pijatan enak malam ini."kata Okta cepat dengan senyum yang sedikit kaku.


"Kenapa?"tanya Wilona.


"Kau ... kau kan lelah."


"Baiklah ..." ujar Wilona sembari kembali mengeringkan rambutnya.


Sinyal kuat Okta meningkat drastis karena akhirnya ia bisa memulai melancarkan jurus mautnya.


Tapi harapan itu sia-sia. Saat Okta sedang memijat kaki Wilona, Wilona mengatakan....


"Cukup ... aku mau tidur saja."


"Apa??" tanya Okta dengan nada protes.


"Kenapa?" balas Wilona


"Tidak ... ha-hanya saja ... kau tidak ingin kita menghabiskan malam ini lebih lama?"


"Tidak ... Hooaaahhhmmm aku ngantuk. Selamat tidur." Wilona segera masuk ke dalam selimut dan memejamkan mata.


Sedang Okta berjalan menuju kursi panjang dengan perasaan kesal kembali.


Wilona dalam hati tertawa melihat reaksi Okta. Namun akhirnya ia senang karena Okta mampu menjaga sikap padanya.


♡♡♡♡♡


Hari ketiga


Mereka kembai sarapan kali ini.


"Ona aku mau buah itu, tolong ambilkan."


"Baik pak." sahut Wilona mengambilkan potongan buah apel.


"Bisakah kamu tidak memanggilku dengan sebutan itu?" tanya Okta.


"Lalu ...?" tanya Wilona.


Cih ... kau tidak tahu saja selama ini aku memang hanya memanggilmu Okta pada orang lain.


"Jangan panggil aku pak ... kita kan sudah suami istri sah sekarang."


"Tidak ... pa-panggil aku dengan nama saja, atau .... ."


"Atau?"


"Tidak ... tidak apa-apa, panggil nama saja cukup."


"Baik ... akan kucoba."


Dan mereka melanjutkan makan bersama.


"Aku berencana, Hari ini kita akan ..." perkataan Okta terputus karena Wilona melanjutkan.


"Hari ini aku sudah ada janji dengan Bobby."timpal Wilona cepat.


"Apa? lagi? Lalu ... kita?"


"Nanti saja bisa." ujar Wilona.


"Apa ini wajar!" protes Okta seketika.


"Pak Okta .. em maksudku Okta kamu mau protes?"


"Tidak ... silahkan saja kamu bersenang-senang." jawab Okta yang mencoba menyurutkan kesalnya.


Namun kali ini sebenarnya Wilona mempersiapkan kado kejutan untuk Okta.


Wilona sengaja pergi dengan Bobby untuk mencari gaun putih.


Sebenarnya selama perjalanan kemarin, waktu dihabiskan Wilona untuk menceritakan semua kisahnya pada Bobby.


Karena itulah Bobby punya ide brilian untuk mereka-reka ulang pernikahan kecil untuk Wilona dan Okta.


Sehingga saat itu Bobby mengajak Wilona datang ke sebuah toko untuk memilih gaun putih sederhana untuk dipakainya.


Setelah semua urusan selesai, Bobby membantunya memilihkan sebuah lokasi dengan bangunan arsitek bergaya kuno untuk mereka.


Lokasinya ada di atas bukit dan sangat indah sekali.


Okta yang tidak tahu apa-apa di antar Judika karena tiba-tiba Wilona menghubunginya untuk menjemputnya di sebuat tempat terpencil itu.


Sampai akhirnya Okta tiba di sebuah bangunan cantik.


Ia terkejut sekali, mendadak melihat Wilona tampil dengan sangat cantik mengenakan gaun putih, bermahkota bunga di atas kepalanya.


Wilona berdiri di depan Okta,


berdiri dengan karangan bunga mini di tangannya.



Bobby lalu keluar membawakan Tuxedo untuk Okta yang sudah ia simpan sejak tadi di dalam mobil.


Okta hanya terdiam langsung mengenakan tuxedo itu sambil terus saja tersenyum menatap Wilona. Pandangannya tak teralih sedikitpunpada yang lain.


"Apa ini?" tanya Okta yang mendekati Wilona dengan wajah penuh dengan senyuman.


"Pernikahan! ... aku ingin ... kita memulai lagi dengan hati yang tulus ... kali ini."


Okta menghentikan langkahnya, ia menutup mulut dangan satu tangannya.


"Itu artinya ... ?" Okta tidak sanggup melanjutkan saking senangnya ia tidak menyangka kejutan ini sangat spesial baginya.


"Aku menerimamu." jawab Wilona yang terus saja tersenyum melihat Okta yang terlihat bahagia.

__ADS_1


Dan ... seperti mengulang waktu.


Wilona kembali ke sebuah acara


Acara pernikahan sederhana yang hanya di hadiri Judika di sana, sedangkan Bobby hadir sebagai moderator acara.


"Saya Oktavianus Indra Wahardian, memilihmu dan menerimamu Wilona Cynthia sebagai istriku, saya akan (mulai tersendat berkata-kata saking terharunya) menjaga dan mencintaimu secara utuh dalam suka maupun duka seumur hidupku, sampai akhir hidupku, sampai maut memisahkan kita." ujar Okta.


Begitu pun Wilona mengucapkan janji yang serupa dan mereka akhirnya menumpahkan semua perasan mereka dengan saling mengecup bibir satu sama lain.(masih malu-malu☺)


Saking bahagianya Okta tak kuasa menahan air matanya, dan memeluk Wilona dengan sangat erat.


"Ona ... terimakasih kamu bersedia memilihku. Aku ... beruntung dan berjanji ... kamu adalah satu-satunya wanita yang akan aku bahagiakan selamanya." Okta masih mendekap Wilona dengan eratnya.


Merekapun akhirnya saling berpandangan dan melemparlan senyum bahagia yang tiada hentinya.


"Aku mencintai mu... sayang." ucap Wilona lembut di telinga Okta dan sekali lagi ia mengecup pipi Okta dengan lembut. Membuat Okta tak bisa menyembunyikan wajah bahagianya, wajah Okta bersemu merah, dan perasaan mereka semakin memuncak, mereka pun akhirnya saling bercumbu.


Plok-plok-plok


Tepuk tangan dan siulan terdengar meriah meskipun hanya ada Bobby dan Judika di sana.


▪▪▪▪▪


Kembali ke Hotel


Mereka sudah duduk berdua.


Entah mengapa, keduanya menjadi kaku dan gelisah tak berujung.


"Se-sejak kapan, kamu mulai jatuh cinta padaku." tanya Wilona dengan kaku.


"Aku tidak tahu pastinya ... " jawab Okta cepat.


Mereka saling menganggukan kepala dan menjadi tegang kembali. Enggan bertatapan satu sama lain.


"Tapi ... (Okta mulai memandang wajah Wilona tiba-tiba) saat kamu mulai akrab dengan Bobby waktu dulu ... entah mengapa aku sudah mulai cemburu."


"Benarkah?" Wilona tidak percaya dan ia menatap Okta sehingga mereka saling bertatapan cukup lama.


Entah siapa yang mendorong kepala Okta sehingga, ia mengecup sekali bibir Wilona dengan lembut.


"Sebenarnya ... ini (kiss) bukan hanya hari ini saja." kata Okta.


"Ini?" Wilona menyentuh bibirnya.


"I-itu ... itu semua tidak sengaja terjadi.


Waktu ... waktu kamu mabuk pertama kali (episode 31) dan waktu kamu tenggelam lalu aku memberi napas bantuan. Kita sudah berciuman."


"Apa ... berciuman? kamu anggap itu berciuman?"tanya Wilona sambil tertawa geli.


Kali ini suasana kembali hangat.


"Tentu saja ... bibir ini adalah bibir ekslusif... tidak sembarang wanita bisa menerima ini."


Cup ... Wilona mengecup kembali bibir Okta dengan lembut.


"Hari ini ... selamanya (bibir) hanya untukku." kata Wilona lembut. Senyuman Wilona itu membuat Okta memanas, ia menggendong Wilona dan membawanya ke tempat tidur.


Dan akhirnya ... mereka bisa merasakan kebahagiaan bersama.


(super sensor ya😍, kasihan kalau ada reader yang masih di bawah umur)


THE END


Nb: pagi-pagi Okta terbangun, ia kaget karena ia seorang diri di kamar.


Apa ... mimpiiii!!!


.


.


.


*Bukk** terdengar Wilona menutup buku dengan keras.


Seperti yang di alami Wilona waktu itu.( episode 29)


"Cih ... Sudah Puas Kamu? Wilona berkata dengan nada menyindir.


"Apa yang terjadi?" tanya Okta bingung.


Jadi ini semua hanya mimpi? batin Okta.


"Kamu ... berani beraninya tidur di kamarku dan menggodaku semalam." ujar Wilona.


"APAAA?"


"CEPAT TURUN !" Wilona membentak.


Okta segera turun dari bed.


Saat berdiri, dia segera sadar, bahwa tidak ada satu helai pun pakaian di tubuhnya.


Sehingga dengan buru-buru Okta mengambil selimut dan menutup dirinya. (persis dengan kejadian Wilona waktu itu)


"Siapa yang suruh kamu menutup dirimu dengan selimut!" kata Wilona yang ikut bersemu merah melihat tubuh Okta suaminya.


"Kamu sudah melewati batas ya.


Kamu ingat apa konsekuensinya kalau kamu melewati batas?


Cepat pakai baju dengan benar ..." teriak Wilona.


"Apa?"


"Kau ingin aku melihat tubuh ini terus?" bentak Wilona


"Ma-masuk ke ruang ganti dan cepat ganti bajumu."lanjutnya


Karena masih bingung Okta menurut saja pada Wilona.


Aku pasti kena karma kali ini. batin Okta ... rupanya ia juga ingat pernah memperlakukan Wilona seperti itu.


Hahahaha. .. terdengar tawa Wilona dari ruang tengah.


Wilona pun segera menyusul ke ruang ganti.


Membuat Okta semakin cepat berpakaian.


"Sayang ... maaf aku mengerjaimu." kata Wilona yang datang mendekat dan memeluk Okta.


Okta pun terdiam sejenak dan bernapas lega ... ternyata yang disangkanya mimpi indah semalam adalah sesuatu yang real terjadi.


"Jantungku hampir saja copot... aku kira aku melakukan kesalahan."


Mereka pun berpelukan dan saling tertawa.


"Ayo sarapan ... aku akan siapkan kopi untuk."Ujar Wilona sambil memajukan wajahnya agar dapat kiss di pagi hari oleh Okta.


SEKIAAAAN ... KALI INI BENAR-BENAR END.😁

__ADS_1


Keterangan personel lain di kisah Wilona Author tulis di sapa Author episode setelah ini ya, jangan lewatkan juga


Tinggalkan LIKE dan VOTE juga donkkk


__ADS_2