Pernikahan Sementara Dengan Orang Ternama

Pernikahan Sementara Dengan Orang Ternama
Keputusan yang sulit


__ADS_3

DI Dalam mobil


"Menurutmu siapa orang yang berani bermain api itu?"


"Saya masih belum mendapatkan gambaran tuan."


Sebenarnya saya berfikir anonim ini adalah tuan Henry. Kasta Langit Barisan, Secara logika ada kata 'Kalasan' Bila itu di singkat.


Kalasan adalah tempat lahir tuan Henry.


Semoga saja pikiranku ini salah.


Tapi ... kalau memang benar tuan Henry, berarti dia sudah benar-benar menunjukkan bendera perang disini. Batin Judika yang tidak berani ia utarakan pada tuannya di dalam mobil.


Tibalah Okta dan Judika sesuai perjanjian mereka di hotel Lux Grande.


Sesuai dengan email mereka bertemu di ruang pertemuan di lantai lima.


Judika membuka pintu dan di dapati seorang pria yang sedang duduk seorang diri sambil menyilangkan kaki menantikan kedatangan mereka.


"Selamat datang." sambutnya sambil tersenyum.


Okta hanya berdiri terdiam masih di pintu masuk.


"HENRY ... KAU!!! Jelaskan apa maksud semua ini!" ucap Okta.


"Mari silahkan duduk terlebih dahulu." senyumnya tak pernah lepas dari wajahnya. Lebih tepatnya senyum liciknya yang tersimpan selama ini.


Okta berjalan pelan sambil mengepalkan tangannya lalu duduk di depan Henry.


"Tak kusangka kakak merespon secepat ini. Aku patut mengacungi jempol dan bertepuk tangan untuk asisten kesayangan kakak yaitu Judika."


*Prok-prok-prok*


Judika yang sedari tadi hanya diam berdiri di belakang tuannya hanya mengerutkan keningnya.


Bahkan Henry tahu bahwa Judika yang bergerak cepat untuk menyelesaikan semua persoalan tuannya.


"Apa tujuanmu cepat katakan!"


"CEO!" ucapnya sambil tersenyum.


"Apa?"


"Kalau tidak ingin berita ini menyebar lebih jauh, begitu juga dengan pernikahan kontrak kakak. Aku meminta kakak segera mundur dari calon kandidat."

__ADS_1


"Kau gila!"


"Terserah ... hanya saja sudah pasti jika berita ini tersebar dan sampai ayah tahu bahwa pernikahan kalian palsu sebelum pemilihan. Kakak tahu akibatnya akan lebih parah bukan?"


"Tak kusangka kau bertindak sejauh ini. Benar-benar licik."ujar Okta dengan nafasnya yang tidak stabil.


"Ah ...Begini saja ... Karena aku baik hati, aku kasih tenggang waktu satu minggu.


Kebetulan Minggu depan ada rapat, dan di kesempatan yang baik itu, kakak sebaiknya mengumumkan untuk mengundurkan diri.


Maka di hari yang sama foto-foto itu akan tersimpan aman, tapi jika tidak... aku pastikan semuanya akan tersebar bahkan sampai ke pelosok sekalipun.


"Aku sudah berjuang untuk meraih itu semua." ucap Okta.


"Begitu juga denganku ... kakak."


"Jangan panggil aku kakak, aku tidak menganggapmu adik sejak dari dulu."


"Hahahaha ... meskipun begitu aku terpaksa mematuhi aturan yang ada." ujar Henry dengan senyum liciknya.


Judika turut mengepalkan tangannya, tak menyangka apa yang di perbuat Tuan Henry sudah sangat melampaui batas.


"Baiklah kalau begitu ... poinku sudah kusampaikan. Aku rasa aku harus segera pergi dari sini."kata henry yang segera berdiri dari tempat duduknya.


"Ah satu hal lagi ... kalau kakak secara gentlemen mau menyelamatkan nama baik Wilona, Leony, dan ayah dengan cara mengundurkan diri, maka sejak saat itu ... aku akan mengakui engkau sebagai kakakku yang sebenarnya." lanjut Henry yang tertawa senang dan berlalu namun ia berhenti sejenak dan menepuk pundak Judika kemudian melanjutkan keluar dari ruangan.


Sepertinya sebuah keputusan yang sulit harus keluar dari Okta minggu depan.


"Tuan ... maafkan aku yang tidak berguna ini."


"Kau sudah melakukan yang terbaik Jud." jawab Okta.


"Meskipun begitu, aku lalai tidak memikirkan tentang tindakan Tuan Henry."


Ah ... benar ... berarti dugaanku benar. Kalasan adalah asal tempat tuan Henry dilahirkan karena itu dia memberi nama itu. Sial ... kenapa aku baru yakin akan hal itu saat ini. batin Judika.


Mereka berlalu dan akhirnya kembali menuju hotel.


▪▪▪▪▪


Di Hotel


Ternyata Wilona belum tidur saat itu. Ia menantikan kedatangan Okta. Perasaannya tidak tenang saat tadi Okta berpamitan untuk pergi keluar.


*ting-tong* (bel kamar berbunyi)

__ADS_1


Wilona membukakan pintu dan melihat ada judika dan Tuannya di luar.


"Jud ... kamu bisa pulang."


"Baik. Saya permisi Tuan Nyonya." Judika pamit berlalu.


Tinggallah Wilona dan Okta di kamar.


Raut wajah Wilona menunjukkan kecemasan.


"Apa yang baru saja terjadi?" tanya Wilona.


Okta menghembuskan napas sambil menatap lekat Wilona. Satu persatu langkahnya berjalan mendekat dan berdiri persis di depan Wilona.


"Pak?"


Okta terdiam beberapa saat dan segera memeluk Wilona. Wilona tak kuasa untuk menolak sebab ia tahu Okta sedang dalam kekalutan saat itu.


Sedangkan dengan Okta sendiri, ia mendekap Wilona memeluknya dengan segenap tubuhnya, seperti seolah enggan melepaskan Wilona saat itu.


Matanya terpejam, dan Okta tampak menggelengkan kepala pelan.


Perasaan berat bahkan lebih berat dari semua masalah yang selama ini ia hadapi.


Sebuah kedudukan yang selama ini ia perjuangkan. Bahkan mendiang ibunya sendiri pernah berpesan:


..."Jika kamu besar nanti, kamu harus bisa melindungi ayah. Sekalipun banyak orang yang terlihat baik dari luar....


... Kita tidak tahu bagaimana hati mereka."...


Dan semenjak ia menjalani dunia pekerjaan, semua yang dikatakan ibunya adalah benar. Banyak orang yang terselubung berniat menjatuhkan ayah. Karena itu Okta bersungguh-sungguh untuk mencapai posisi seperti ayah suatu saat nanti.


Kenyataan itu sepertinya akan segera berlalu. Okta tak menyangka posisi sulit ini akan sangat berat ia putuskan.


"Pak ... semua keputusanmu pasti yang terbaik. Apapun itu aku percaya kepadamu."Ucap Wilona mencoba menenangkan Okta


Perkataan itu justru membuat Okta semakin memeluk erat Wilona. Berkali-kali ia menghela napas mencoba melepaskan beban yang berat ini di hatinya.


Ona ...


Semua impianku, semua harapan dan perjuanganku.


Sepertinya ... semua harus segera berakhir.


●●●●●

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2