
...Hari peringatan kematian ibu kandung Okta tiba...
Rumah Okta
Wilona dan Okta yang telah bersiap, segera turun dari tangga, mereka mengenakan setelan serba hitam.
Judika yang sudah menunggu dibawah menyapa.
"Selamat pagi Tuan, Nyonya." dengan senyuman khasnya.
"Pagi Jud." Balas Wilona.
Mereka pun berjalan menuju ke mobil.
"Jud, apa pesananku sudah kamu bawa?"tanya Wilona.
"Sudah nyonya, saya taruh di mobil."
"Terimakasih Jud."
"Pesan apa kamu?"tanya Okta.
"Bukan apa-apa pak."
Lalu saat mereka segera masuk ke dalam mobil.
"Nyonya ini bunganya."
Wilona lalu melihat ke bangku depan. Sebuah buket cantik bunga baby breath putih pesanan Wilona.
"Baik biar di situ saja Jud." Kata Wilona tersenyum.
Okta tertegun melihat buket bunga di bangku depan.
Bunga itu ... kesukaan ibu. batin Okta.
Okta lalu teringat, ibu dulu selalu menaruh bunga itu dalam sebuah vas, dan diletakkan di atas piano yang sering ia mainkan hampir setiap hari.
Bahkan Okta tidak memikirkan itu sama sekali, selama ia mengunjungi makam ibunya.
Dia tidak menyangka, untuk kesekian kalinya Wilona berbuat sesuatu yang benar-benar menyentuh hatinya.
Sejenak Okta memandang Wilona dalam diam.
Lalu tangan Okta menyentuh tangan kiri Wilona, dan mereka saling berpandangan.
__ADS_1
"Terimakasih." ucap Okta lirih.
Tangan Wilona yang sebelah kanan lalu menepuk-nepuk genggaman tangan Okta.
"Sama-sama pak."
Mendengar Tuan dan nyonyanya Judika senyum-senyum sendiri di depan.
Nyonya, berapa banyak lagi kebaikan yang tersembunyi di hatimu.
Anda benar-benar luar biasa, persembahan ini bukan hanya untuk nyonya Wahardian saja, tetapi tanpa anda sadari hal kecil ini akan sangat berkesan juga untuk tuan Okta dan tuan Wahardian.
"Baik Jud kita jalan sekarang." Lanjut Okta.
"Baik tuan."
Dan mereka pun melaju menuju kediaman Wahardian, sebelum menuju ke makam.
▪▪▪▪▪
Flashback Hari sebelum ke makam ibu.
Malam itu, saat Wilona naik ke kamar setelah berbincang-bincang di taman dengan Okta semalam.
Wilona mencoba menelpon Judika.
"Ya nyonya."
"Em ... Bunga baby breath nyonya."
"Oh ya? Bunga kecil itu? Aku juga suka bunga manis itu.
Jud aku minta tolong bawakan satu buket bunga itu saat peringatan kematian ibu ya. Aku mohon bantuanmu."
"Dengan senang hati nyonya." Judika menjawab dengan senyum.
"Baik terimakasih, selamat istirahat Judika. Semoga mimpi indah."
Mendengar itu Judika hanya tertegun sambil membelalakkan matanya. Sampai-sampai ia lupa membalas kata-kata nyonya Wilona. Hingga akhirnya sambungan sudah terputus dan ...
"Baik nyonya, selamat malam." Judika tetap melanjutkan kata-katanya.
Sebab untuk pertama kalinya, Judika mendengar kata-kata perhatian yang manis secara khusus untuknya.
Judika lalu memejamkan matanya sambil tersenyum mengingat kata nyonya Wilona.
Flashback Off.
__ADS_1
▪▪▪▪
Lalu berangkatlah secara rombongan mobil dari kediaman keluarga Wahardian menuju ke Heaven Park(Lokasi pemakamam ibu Wahardian)
Staf khusus dan tim keamanan Wahardian turut serta hadir.
Beberapa mobil lain sudah ada juga yang lebih dahulu tiba, mereka menunggu juga di parkiran.
Mereka adalah beberapa karyawan yang sudah purna tugas yang sudah membaktikan dirinya untuk keluarga Wahardian.
Heaven Park sendiri adalah Sebuah makam elit dengan rentetan taman yang tertata rapi dan sangat luas.
Khusus untuk keluarga Wahardian memang disiapkan makam dengan fasilitas pribadi, taman luas, akses privat, perawatan makam dan pos sekuriti tersendiri.
Wilona dan Okta juga turun menyusul rombongan.
Ayah kemudian menyapa dengan kasihnya kepada orang-orang yang turut serta hadir ke makam. Dengan keramahannya ayah memberikan salam pada semua orang yang hadir.
Lalu pandangan ayah jatuh pada bunga putih yang ada di tangan Wilona.
Ayah menatap sangat lekat beberapa detik lamanya.
Sepertinya apa yang dirasakan Okta sama dengan yang dirasakan ayah. Sekilas memori tentang istrinya kembali terulang.
(Apa yang di pikirkan Judika tadi di mobil ternyata benar juga ^^)
Wilona pun dipanggil mendekat dengan gerakan jari ayah.
Segera Wilona mendekat dan berdiri di samping ayah.
Sambil menepuk lengan atas Wilona, ayah berkata.
"Nak, terimakasih."
Sepatah ucapan yang sama persis seperti yang di ucapkan Okta di mobil.
Wilona tak menyangka bahwa buket kecil yang ia bawa, membawa arti mendalam pada anak dan ayah Wahardian.
Lalu ayah mulai memasuki area makan diikuti oleh istrinya, Okta, Henry dan anggota yang lain menyusul di belakang.
*Tempat ini ... a*ku tidak menyangka, ada tempat makam yang seindah ini.
Batin Wilona sambil melihat-lihat area makam.
●●●●●
Bersambung.
__ADS_1
Terimakasih dukungannya buat yang sudah vote novel ini ya, Like dan komen nya di tunggu juga.🌹
next Episode akan keluar hari ini terbit pukul 1 siang karena masih ada yang harus di edit dan di review dari pihak noveltoon. Terimakasih ^^