
Wilona sampai di hotel kira kira pukul sembilan malam, dia berpisah dengan Bobby dan buru-buru masuk menuju kamar hotelnya.
Tapi hotel masih tampak sepi, Wilona mencoba memanggil manggil Okta
"Pak Okta ... Pak Okta? "
Hmmm disini tidak ada.
Lalu Wilona mencari juga di ruang makan, kamar mandi dan ternyata Okta memang tidak ada. Saat itu, dia segera menyadari bahwa ternyata Okta belum pulang.
Wilona kemudian mencari hp nya, hendak melakukan panggilan dengan Okta, namun akhirnya di urungkan niatnya.
Mungkin dia memang tidak pulang hari ini. Apalagi dengan wanita secantik itu.
Oh ... iya siapa dia ya? kenapa tadi tidak kutanyakan saja pada Bobby?
Haaah Wilona...( sambil memukul kepalanya )
Perut Wilona sudah keroncongan saat itu, dia mondar mandir, sebab memang dia tidak tahu harus bagaimana di hotel, terlebih lagi dia tidak tahu bahasa yang di gunakan.
Haduuuh Okta, sebenarnya kamu mau pulang tidak?
Setidaknya kan bisa kabari aku disini.hiks (sambil memegang perutnya)
Wilona lalu membayangkan Okta bersama Leony sedang memadu kasih, mereka menghabiskan malam dan saling bercinta.
Tega sekali sih dia, sudah berapa kali dia tidur dengan wanita di luar sana..mengerikan.
Kata-kata Okta kemudian muncul di pikirannya
*Banyak perempuan lain di luar sana yang menginginkan aku menjadi kekasihnya*
*kruuuk...kruuuk*
Perut Wilona berbunyi, Akhirnya dia memutuskan menghabiskan sisa coklat yang ada ditasnya, kemudian membuat secangkir teh yang di sediakan di kamar hotel.
Hmm... lumayan lah.
Aku lebih baik tidur sambil baca novel dari hp saja.
Jam demi jam berlalu, Wilona membaca novel sambil sesekali melihat jam, waktu itu menunjukkan jam sebelas malam, Wilona tidak bisa tidur dan kembali membayangkan Okta sedang bercinta dengan wanita itu.
Ahh....kenapa aku kotori pikiranku sendiri dengan membayangkan Okta melakukan itu. Dasar laki-laki egois tidak tahu diri.
Tiba-tiba dari arah pintu masuk terdengar suara seseorang membuka pintu, dan suara melepaskan sepatu.
Wilona buru-buru mematikan hpnya dan menutup dirinya menggunakan selimut dan pura-pura tertidur di kursi panjang.
Ternyata dia tahu juga jalan pulang rupanya.
batin wilona.
Wilona memejamkan mata, sambil sedikit melirik melihat Okta pulang dan langsung menuju kamar mandi.
Jam sebelas malam baru pulang, kemana saja dia?
Setelah selesai mandi, Okta kembali ke kamar dan melihat Wilona sudah tertidur. Dia kemudian mengecek hp nya dan menelepon Leony
Halo sayang
"Hm... kamu sedang apa."
Aku baru selesai mandi dan bersiap-siap tidur sekarang, ada apa?
"Tidak, cuma ingin mendengar suaramu saja. Yasudah selamat tidur ya."
Hm... kamu juga.
Okta mematikan hp nya, memandangi lampu jalan dari jendela, kemudian berdiri dekat Wilona. Melihat Wilona sambil menggelengkan kepala tapi ....
*krruuuk kruuuuk* perut Wilona kembali berbunyi.
Okta kemudian mendekatkan telinganya ke arah Wilona untuk memastikan suara itu.
Haduuuh kenapa perutku harus berbunyi begini siiiiih.
Wilona melirik melalui celah kelopak matanya yang terpejam.
Okta kenapa juga kamu memastikan suara perutku ini.
*kruuuk kruuuk*
Tidak...jangan...stop please, kenapa bunyi di saat begini.
Okta melihat Wilona yang sedang tertidur dan,
"Hey ... hey ..." Okta memanggil Wilona sambil menggoncangkan badannya.
Wilona pun bingung dan berpura-pura.
__ADS_1
"Hooaaahmmm ... eh pak Okta, kamu sudah pulang. Jam berapa ini?"
"Kamu sudah makan?"
Wilona dengan cepat menggelengkan kepala dengan wajah memelas.
"Memang ini jam berapa kenapa jam segini belum makan?" Okta membentak.
Wilona pun terbawa kesal dan balik berkata.
"Aku kan sudah bilang aku tidak bisa makan sendiri, lagipula aku tidak tahu bahasa disini, bagaimana aku bisa makan kalau begitu." Berkata kesal dengan muka cemberut.
Dasar ... aku memang sengaja karena kukira kamu belum makan. Huuh...apa yang kupikirkan ternyata cuma kebodohanku saja.
"Dasar bodoh."ucap Okta.
"Apa....?"
Okta pun segera meninggalkan Wilona yang kesal lalu menuju telepon kamar dan menelpon layanan hotel untuk membawakan makanan ke kamar.
Mereka berdua kemudian diam di kamar, Wilona ikut duduk dengan muka kesal.
*krruuuk...kruuuk*
Hiiih kamu kenapa bunyi terus sih. Wilona kesal sambil menepuk perutnya berulangkali.
Lalu staff hotel datang membawa troli yang penuh berisi menu makanan.
"Cepat makan." Kata Okta ketus.
Wilona kemudian beranjak berdiri di depan Okta.
"Pak Okta tidak makan? Kalau tidak makan, Setidaknya temani saya pak." Dengan wajah berharap.
"Cerewet sekali, sudah sana makan."
Wilona kemudian melihat Okta dengan tatapan kesal lalu beranjak ke ruang makan dan segera menyantap hidangan di meja.
Baru habis tiga sendok makanan, Okta kemudian menyusul ke meja makan sambil diam memainkan hpnya. Wilona menghentikan makannya, memandang Okta.
"Sudah cepat makan." Okta ternyata sadar kalau Wilona mengamatinya. ia berbicara tanpa menatap Wilona melainkan masih tetap menatap hp-nya.
Wilona kemudian tersenyum senang karena Okta akhirnya menemaninya makan, ia lanjut menghabiskan makanannya.
Setelah semua selesai di santap, Wilona kemudian memulai pembicaraan.
"Wanita itu...ah Leony."
"Dia cantik sekali."lanjut Wilona sambil tersenyum.
"Benarkah? ... hm, memang tidak ada wanita secantik dia di dunia ini." Menceritakan dengan bangga sambil menyilangkan kakinya dan duduk santai menaruh satu lengannya di belakang sandaran kursi.
Wilona mengangguk setuju.
"Oh iya, Judika sempat mengatakan kamu memutus pacarmu itu, benarkah?"tanya Okta.
Judika? Bagaimana dia bisa tahu kalau aku putus dengan Bastian?(batin Wilona)
"I-iya ... benar sekali." jawab Wilona sambil meneguk segelas air.
"Kamu sadis juga ternyata."
Wilona melirik dengan kesal.
"Bukan begitu pak. Justru saya tidak tega, membuatnya bersedih melihat saya menikah dengan orang lain.
Dia baik, bahkan sangat baik.
Aku aku punya harapan hidup bahagia dengan menikah dengannya, tapi justru berakhir begini."
"Tapi ini kan sementara, seharusnya kamu ceritakan semuanya."
"Tidak! Aku tidak mau dia hidup terpuruk dalam kesedihan, sudah kubilang justru karena aku sangat mencintainya, aku tidak tega pak."
"Cinta???" Okta menatap Wilona dengan serius.
"Tentu saja, dia baik, pekerja keras dan yang pasti setia, kami selalu kompak.
Saat terberat bagiku adalah terpaksa mengatakan aku tidak mencintainya ... Pernikahan ini membuat kami berpisah, sekalipun begitu dia berkata seperti ini ...aku akan tetap setia.
...
Sampai akhirnya aku terpaksa cerita bahwa aku akan menikah denganmu.
Dia sempat menemuiku sekali sebelum pernikahan, dan mengatakan bahwa dia tidak percaya akan kenyataan ini, dia juga tidak percaya aku tidak mencintainya lagi.
...
Untuk pertama kalinya aku melihatnya menangis. Lalu entah kenapa, setelah itu dia pergi menghilang.
...
__ADS_1
Saat itu aku benar-benar hancur, harapanku, kenangan termanisku, kebahagiaanku.
...
Pak ... Aku pernah terluka kehilangan orang yang kucintai, dan dia membantu membalut lukaku.
Tapi ternyata luka itu teriris kembali.
...
Saat itu aku berfikir, semuanya tidak adil.
Entah kenapa Tuhan selalu membiarkanku menderita kehilangan orang-orang yang kucintai.
Kakek, ibu, adikku dan saat ini kekasihku.
Tapi ... kembali aku diingatkan, kalau aku masih punya ayah.
Saat ini yang penting bagiku hanyalah ayah.
...
Aku rela, melakukan segalanya buat ayah.
Hanya dia satu-satunya yang aku punya dan satu-satunya alasan aku harus bahagiakan dia, karena orang yang lebih kusayangi tidak boleh sampai bersedih lagi karena aku."
Tak terasa air mata menetes membasahi pipi Wilona. Okta hanya diam saja mendengar cerita Wilona.
"Ah... kenapa jadi sedih begini." Kata Wilona yang masih terisak, menghapus air matanya dan kembali tersenyum.
"Em ... besok, pak Okta ada acara?"
Okta yang sejak tadi hanya menatap Wilona kemudian berkata ;
"Ya ... besok ... aku ada janji dengan Leony lagi." Okta menjawab dengan lirih, manggut-manggut sambil kembali memainkan hp-nya.
"Hm... oke, kalau begitu aku akan jalan-jalan dengan Bobby lagi." Menjawab sambil menganggukkan kepala, tersenyum dan meninggalkan meja makan.
Sedang Okta masih duduk termenung di meja makan. Selang beberapa waktu dia mendengar Wilona menelpon seseorang.
"Janji ya besok kita ketemu lagi.
Iya aku lebih siap kalo begitu, hahahaha.
Apa ... em, aku ikut saja.
Em ... Ok, terimakasih ya, sampai jumpa besok.
bye selamat malam." Memutuskan telponnya sambil tersenyum.
"Itu Bobby?" Okta bertanya di belakang Wilona.
"Ya." Sambil tersenyum menjawab.
"Cih ... Kalian sudah akrab rupanya." Berjalan menuju bed dan segera duduk.
"Bobby baik sekali ya Pak, untungnya dia bisa bahasa Indonesia, saya jadi merasa nyaman dengannya. Oh iya ... sepertinya saya juga akan pulang malam besok."
"Ke-kenapa?" Buru-buru bertanya.
"Ya karena ini kesempatan emas. Saya ingin menikmati Paris, selagi ada disini, apalagi di temani oleh orang yang sudah kukenal ... tidak perlu biaya pemandu wisata.. hahahaha.
Pokokknya tidak akan menyia-nyiakan kesempatan yang langka." Kembali tersenyum.
"Aku sarankan jangan terlalu dekat dengan orang asing." sahut Okta cepat.
"Siapa? Maksud pak Okta ... Bobby?"
"Bukan dia ... ya ... ya tentu saja dengan orang lain yang baru kamu kenal, siapapun mereka, kamu harus hati-hati, kamu ini seorang wanita, harus bisa menjaga diri, tahu tidak!
Dan ... satu lagi ... rubah mimik mukamu itu... jangan mudah tersenyum pada laki-laki. Mengerti!!! "
"Memangnya kenapa?"
"Ah ... sudah jangan berisik, aku mau tidur, waktuku terbuang percuma hanya karena menemanimu makan." Buru-buru berbaring di tempat tidur dan menutup dirinya dengan selimut.
Cih, dia aneh sekali.
Sekali lagi dia meninju udara ke arah Okta dan kemudian menyusul tidur di kursi panjang.
Malam itu Wilona akhirnya bisa tidur nyenyak, karena Okta sudah ada di kamar bersama dengannya, dan terlebih lagi, dia sudah kenyang.
...
Bersambung
Hai, hampir setiap hari ide tentang cerita ini bermunculan. semoga besok bisa menampilkan cerita yang lebih menarik.
Terus dukung dengan kasih like, dan vote novel ini ya.
__ADS_1