Pernikahan Sementara Dengan Orang Ternama

Pernikahan Sementara Dengan Orang Ternama
Perasaan apa ini?


__ADS_3

Sebuah bangunan vila nan megah yang sangat terjaga privasinya, dan hanya kalangan elit yang biasa memesan, kali ini di pilih Leony sebagai tempat tujuannya.


Ada rumah utama dan ada juga rumah-rumah kecil



Tibalah Okta dan Leony di vila tepat pukul dua siang,


Beberapa tas dan keperluan dikeluarkan mereka dari dalam mobil.


Okta teringat pesan Judika padanya


"Tuan ... nona Leony mengajak anda secara mendadak kesebuah vila. Saya berfikir mungkin ini adalah salah satu rencana Nona dengan Bastian."


"Kalau begitu aku harus bisa menjaga diriku." Balas Okta.


▪▪▪▪▪▪


Okta dan Leony berlanjut menata barang mereka di kamar.


Kamar mereka sengaja dibuat terpisah.


Leony segera ke dapur dan menyiapkan daging untuk di panggang malam harinya. Pelayan tidak diikutkan untuk menjaga privasi mereka.


Okta turut menyusul ke dapur dan membantu Leony.


"Kamu yakin masakan ini enak?"


"Hey ... kamu meragukanku?"


"Ya ... sedikit, hahaha.


Apa yang bisa ku bantu?" tanya Okta.


"Oh ... tolong potong paprika ini."


"Oke ... tidak masalah." Okta segera melancarkan aksinya.


"Beginilah cara Wilona memotong paprika. Dia suka potongan paprika dengan ukuran yang agak besar. Cih ... dasar anak itu, apa saja yang berbau buah dan sayur dia sangat suka." kata Okta tanpa sadar.


Leony terkejut mendengar itu. Dia hanya menertawakan dirinya sendiri.


Cih ... haruskan kamu membahas dia saat ini?


"Aku akan membuka usaha di Indonesia." kata Leony memutus pembahasan tentang Wilona.


"Hah ?" Okta sedikit terkejut.


"Yah ... seperti yang kamu tahu sayang, kita tidak mungkin terpisah kedepannya, jadi kenapa tidak, aku juga mencoba merilis hasil karyaku di sini."


"Oooh ... i-itu bagus." kata Okta.


Leony lalu mendekat dan mulai merayu Okta.


"Kamu setuju?" tanya Leony sambil mendekatkan wajahnya pada Okta.


"Hm ... tapi ... tolong jangan dimulai Ony ..." kata Okta mencegah mereka melakukan ciuman di dapur.


"Kenapa?"


*Cup* Leony mulai menyerang Okta, dan bibir mereka bersentuhan. Tiba-tiba ada gejolak yang muncul menyeruak seketika dari diri Leony.


Tetapi saat itu Okta benar-benar ingin menolak serangan Leony.


*BRUK* sebuah tas jatuh tepat di belakang mereka.


Okta menoleh kebelakang dan terkejut dengan kehadiran Wilona disana.


Wilona dan Bastian juga hanya bisa berdiri mengamati mereka berdua.


Namun kali ini Bastian diam saja dan hanya mengamati Wilona.


"Ayo kita pindah ke depan saja." ucap Wilona yang berbalik badan dan menarik tangan Bastian.


Seketika Okta menyadari ternyata yang disampaikan Judika benar. Bahwa dirinya dan Wilona berada dalam rencana mereka(Bastian dan Leony)


"Tu-tunggu! kenapa kalian kesini?" tanya Okta.


"Aku yang mengundang mereka." jawab Leony tersenyum.


"Apa?"


"Setidaknya akan lebih seru kita menikmati liburan dengan pasangan masing-masing." lanjut Leony.


"Cih ... benar sekali." jawab Wilona yang berjalan menuju ke ruang lain sambil merangkul lengan Bastian. Hal itu membuat Bastian tersenyum dan kembali menatap Okta.


Setelah mereka berlalu Okta kembali bertanya


"Kenapa kamu tidak cerita?"


"Hahaha, yang namanya surprise pastinya tidak akan cerita.

__ADS_1


Baiklah saatnya memanggang ... ayo kita bawa ini ke taman dekat kolam." lanjut Leony tersenyum senang.


Apa lagi rencanamu saat ini Ony? Batin Okta.


Sore hari adalah saat yang paling tepat untuk bersantai, namun hanya Okta yang berbaring dengan santainya di bangku kolam.


Dari tempat ia duduk ia memandang Wilona dan Bastian yang sibuk memanggang daging. Sesekali Wilona memberikan potongan daging pada Bastian untuk mengecek kematangan.


Okta lalu berjalan mendekat sambil memasukkan kedua tangannya kedalam saku celana, dia berdiri di antara Wilona dan Bastian.


"A-aku mau coba rasanya!" Ucap Okta.


Wilona dan Bastian diam saja tak menanggapi.


"Itu yang dagingnya sudah kecoklatan, coba sini aku cicipi dulu."


"Belum ... ." jawab Bastian.


"Aku tidak minta padamu." lanjut Okta.


"Cepat yang itu ..." pinta Okta sekali lagi pada Wilona.


Namun tiba-tiba Wilona di panggil Leony, sehingga ia meninggalkan Okta dan Bastian di alat pemanggang.


▪▪▪▪


"Momen yang tepat bukan?


kita bisa menikmati liburan dengan pasangan masing-masing." sahut Leony.


Wilona diam saja, sambil mencuci daun selada yang akan mereka santap nanti.


"Aku peringatkan kamu sekali lagi!" kali ini Leony berkata lebih serius, membuat Wilona terdiam menatapnya.


"Sebenarnya aku curiga kamu memanfaatkan Okta ...


Tidak ada orang yang tidak tertarik dengannya.


Harus kamu ingat, jangan sampai kamu berniat melanggar janji kontrakmu itu.


Kamu bukanlah siapa-siapa disini, hanya figuran semata.


Setelah ini semua berakhir kamu bahkan sudah tidak di anggap ada lagi.


Lebih baik kamu perhatikan nasihatku ini, kurangi hubunganmu dengan Okta dan perhatikan kekasihmu sendiri.


Kamu sudah membohongi banyak orang, jangan kamu buat mereka jatuh terlalu dalam. Kamu mengerti?"


"A-apakah sudah siap?"


Wilona kemudian segera keluar membawa makanan lain ke taman.


Apa yang kalian bicarakan? batin Okta.


▪▪▪▪▪


Wilona segera melayani Bastian dengan mengisi piring dengan berbagai menu dan memberikannya pada Bastian.


Hal itu membuat Leony tersenyum tipis.


Anak pintar.


Lain halnya dengan Okta, dia hanya terpaku terdiam menyaksikan semua ini.


Setelah acara makan usai dan mereka mulai berjalan menuju ke puncak lewat jalur khusus untuk melihat keindahan lampu kota dari atas.


"Hm ... Bastian, aku ingin mendengar ceritamu ... bagaimana kamu bisa dekat dengan Wilona."tanya Leony


"Sebenarnya dulu ada beberapa pria yang tertarik dengannya, entah mengapa Wilona lebih memilihku.


Mereka tertarik lebih kepada hatinya,kesederhanaannya, kebaikannya, keceriaannya dan apapun bersamanya semua dijadikan positif.


Kami berdua ikut misi pelayanan waktu usia sekolah, dari situlah aku mulai dekat.


Semakin dekat, semakin mengenalnya semakin ingin menjaganya."ujar Bastian.


Mendengar itu Okta hanya terdiam menatap Wilona.


Benar ... semua yang di katakan makhluk satu itu benar.


semakin mengenalnya semakin ingin menjaganya.


"Tapi saat ini, entah mengapa sepertinya ada tembok pemisah antara aku dan Wilona, ada sesuatu yang sampai sekarang aku tidak tahu tentangnya, aku berharap suatu saat tembok itu akan runtuh." lanjut Bastian.


"Cih .. membosankan .... haruskan aku mendengar ceritamu itu?" ucap Okta seketika.


"Kalau begitu denganmu Okta ... Apa harapanmu kedepannya." tanya Leony.


"Semua lancar... itu saja." jawabnya singkat.


Saat itu Wilona mengusap-usap lengannya, Okta sadari Wilona orang yang tidak tahan dengan suhu dingin seperti di kejadian saat pertama mereka menikah.

__ADS_1


Belum selesai ia membuka jaketnya, Bastian sudah lebih dahulu melakukannya.


Okta lalu berkata;


"Cih ... apa kamu akan diam saja diperlakukan seperti itu pada pria lain? sudah kubilang bukannya kamu harus jaga sikap." ketus Okta pada Wilona.


"Lalu apakah aku harus lihat kalian bercumbu lagi seperti tadi siang?" balas Wilona.


"APAAA?"


Sepertinya misi Leony berhasil, senyum tipisnya terpaksa ia sembunyikan, mereka saling bertengkar.


"Sudahlah ... ini sudah malam, kenapa kalian bertengkar?


Mari kita menikmati malam ini lalu setelah itu kita menuju ke pemandian air panas, supaya kita bisa istirahat dengan nyenyak malam nanti." Jelas Leony.


▪▪▪▪▪


Mereka lanjut berangkat menuju ke pemandian air panas dengan mobil masing-masing, lokasinya juga tidak jauh dari vila.


Wilona dan Leony mencemplungkan diri di kolam, sedang Bastian sedang memesan kopi di kedai.


Okta sibuk dengan ponselnya berisi laporan pekerjaan yang harus ia teliti lebih dalam lagi.


Wilona yang berendam berjalan menjauhi Leony dan Okta.


Ia ingin menikmati waktunya sendiri.


Terlebih lagi ia merasa seolah pengganggu disana.


Perkataan Leony seolah mengganggu pikirannya, terlebih lagi entah mengapa ada perasaan sesak di dada ketika mengingat Okta bercumbu dengan Leony di dapur.


Wilona berkali menepuk dadanya di dalam air.


Hah ... kenapa aku harus teringat itu.


Tapi bayangan ingatannya mereka bercumbu terus saja muncul.


Jangan bodoh Wilona.


Wilona memilih merendam seluruh tubuhnya, dan justru rendaman itu membuat napasnya semakin sesak lagi.


Hey ... Ona ... kenapa kamu ini, mereka memang pasangan kekasih, memangnya apa yang kamu harapkan.


▪▪▪▪▪


*Deg*


Dengan segera dan tiba-tiba Okta melempar ponselnya.


Ia berlari dan melompatkan dirinya ke kolam.


Dan membawa Wilona keluar dari dalam air. Wilona dalam keadaan tidak sadar dan lemas saat itu.


Bastian yang saat itu kembali membawa kopi juga berlari ke arah Wilona.


Okta menepuk muka Wilona berkali-kali.


"ONA-WILONA-WILONA SADARLAH!"


Segera diberikannya napas bantuan untuk menolong Wilona.


Okta sangat panik dan mengoncang tubuh Wilona berkali kali.


Leony juga turut shock melihat kejadian itu.


"Ona bangunlah ...!" Bastian juga mendekat.


Sekali lagi Okta memberikan napas bantuan dan membuat Wilona segera sadar dan terbatuk mengeluarkan air dari dalam mulutnya.


Melihat Wilona yang sudah tersadar , Okta segera memeluk Wilona dengan erat. Sedang Wilona masih terkulai lemas dalam pelukan Okta.


"Maaf aku tidak memperhatikanmu tadi." ucapnya dengan tubuh gemetar.


"APA YANG TERJADI DENGANNYA?" ucap Bastian yang marah kepada Okta.


Okta tidak menanggapi sama sekali dan langsung membopong tubuh Wilona pada kedua tangannya, ke dalam mobil dan mereka segera berlalu menuju vila.


Leony semakin shock melihat ini semua, ia berjalan terhuyung ke belakang.


"Kejadian apa ini?


ini tidak mungkin ..."


Bastian segera menangkap Leony yang masih terlihat shock.


"Ayo cepat kita kembali ke vila." ucap Bastian pada Leony


●●●●●


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2