
Keputusan Okta untuk kembali dengan Leony sudah bulat, Ia lalu mendiskusikan itu dengan ayahnya sesuai dengan permintaan ayah sebelumnya.
Dua hari kemudian, kedua orangtua Okta dan Wilona saling bertemu.
Hari itu, hati Wilona sangat cemas sekali, perihal pertemuan kedua orangtuanya. Sehingga Wilona sengaja untuk tidak masuk kerja.
Dia terus saja berdoa, memohon Tuhan agar ayahnya mau mengerti semua keadaan yang ia alami ini dengan lapang dada.
Malamnya, ia bersepakat bersama dengan Okta pulang ke rumah ayah. Hati berdebar dengan kecemasan level tertinggi membuat Wilona hanya terdiam sepanjang jalan. Tangannya dingin dan berkeringat, bahkan sepanjang perjalanan ia mengebaskan pergelangan tangan berkali-kali untuk menghilangkan ketegangan dirinya. Okta pun tak kalah tegang, ia berkali-kali menghela napas, sesekali ia melihat Wilona yang duduk tegang disampingnya sambil mengusap-usap punggung Wilona.
Akhirnya setelah sampai depan rumah , ayah sudah menunggu mereka sejak tadi, terlihat dari balik jendela, ayah hanya terdiam sambil memikirkan sesuatu. Dengan wajah bersedih keduanya berjalan pelan, Wilona bahkan tak berani menatap ayah, mereka berdua langsung berlutut di depan ayah Wilona.
*Plak*
Seketika Okta mendapat tamparan keras dari ayah. Namun Ia tak mencoba melawan karena memang itu pantas diterimanya.
Ayah Wilona sangat kecewa anak perempuannya dipermainkan sejauh ini, hanya untuk mengejar posisi.
"Ayah ... ini salahku juga, maafkan kami berdua." ujar Wilona sambil menangis bersimpuh.
"Nak ... ayah tidak menyangka kalian berbuat ...(ayah terdiam sejenak tak kuat berkata-kata) sejauh ini. Kamu tidak tahu perasaan ayah, kamu satu-satunya harta ayah yang paling berharga lebih dari kedai yang kamu perjuangkan ini."
"Maafkan saya ayah." ujar Okta ia tak sanggup berkata-kata lagi.
"Kamu ... duduklah kembali ke kursimu. Mulai hari ini jangan panggil aku dengan sebutan ayah lagi.
Aku harus menamparmu meskipun aku berusaha menahannya sejak tadi." ujar ayah yang tak mau sedikitpun menatap Okta.
Dengan terisak Wilona kembali duduk di kursi.
"Kalian tahu? Bagai tersambar petir, mendengar penjelasan Ardian siang tadi.
Aku ini ayah seperti apa ... tidak tahu sama sekali perjuangan anak sendiri."
"Bukan ayah ... ini salah kami, kami yang menjalani ini semua."jawab Wilona.
"Demi kedai? ... kamu rela menjatuhkan harga dirimu nak.
Kamu rela berkorban untuk ini semua. Maka dari itu ayah juga merasa sangat bersalah padamu."
"Ayah ... ini bukan pengorbanan, aku melakukannya dengan ikhlas ayah. jadi jangan mengira aku menderita atas ini semua." balas Wilona.
"Apapun alasanmu Ona ... Ah... ." ayah bahkan tak sanggup berkata-kata pula saking sedihnya.
"Meskipun terasa berat diawal, namun lambat laun kami menjalaninya dengan sukacita ayah, tidak ada tekanan sama sekali. Aku dan juga Okta sama-sama tidak mengalami kerugian. Namun kami tetap bersalah karena keputusan ini adalah keputusan dari kami berdua tanpa melibatkan ayah."
"Wahhh...." mendengar itu hati ayah mencelos, semakin tertunduk dan menangis.
Wilona lalu mendekat di sisi ayah dan melingkarkan tangannya di lengan ayah. Mengusap airmata dan mencoba tegar menghibur ayah yang terlihat terluka.
"Keputusanku akan tetap sama, meskipun kita memulainya lagi dari awal.
Sungguh Ona tidak menyesal.
Maafkan kami ayah, selama hidup bersama Okta, ia benar-benar menjagaku dengan baik, dia juga menghormati dan menghargaiku sebagai wanita, jadi aku tidak rugi apa-apa, sedikitpun tidak.
Karena itu Ona minta ayah jangan bersedih lagi ya."
"Lalu ... pernikahan kalian, bisakah kalian pertahankan itu?" tanya ayah.
Okta dan Wilona saling menatap sejenak.
"Maafkan saya ayah ... ." ujar Okta yang langsung di lanjutkan Wilona.
"Kami akan mengakhirinya ayah. Kita sudah sepakat akan hal itu."
"Kalian tidak saling mencintai?" tanya ayah sekali lagi.
"Tidak!" buru-buru Wilona menjawab pertanyaan ayah.
Okta sendiripun yang tadinya tertunduk kembali menatap Wilona. Ia akhirnya mendapat jawaban bahwa Wilona sejatinya tak tertarik dengannya selama ini, meskipun sedih Okta menjadi semakin bertambah, ia sadar, memang tetap mereka tidak bisa bersatu.
"Baiklah ... ayah juga sudah memikirkannya sejak tadi, ayah hanya minta, kalian segera urus perceraian kalian. Dan kamu (ayah akhirnya menatap Okta) ... tolong jaga agar nama baik Wilona tidak hancur setelah perceraian ini."
Ayah segera berdiri ;
"Dan satu lagi ... setelah perceraian kalian, sebaiknya kalian tak usah saling bertemu lagi." setelah menyampaikan itu ayah segera masuk ke kamarnya.
Wilona berjalan mendekati Okta sambil menghapus sisa airmatanya.
"Akhirnya bebanku untuk menjelaskan pada ayah sudah selesai." ucap Wilona.
Sementara Okta hanya terdiam, tak bisa berkata apa-apa lagi.
"Secepatnya kita akan serahkan berkas-berkas kita."lanjut Wilona.
__ADS_1
Judika yang berada di luar pun turut sedih, Ia hanya menatap sedih dengan harapan kosong usai Tuan dan nyonyanya keluar dari kedai ayah.
▪▪▪▪▪
Kediaman Okta
Dua hari setelah kejadian itu, berhubung hari itu adalah hari minggu, Wilona sengaja datang kerumah Okta.
Seperti bertamu ia bahkan tak berani lagi asal masuk kedalam rumah Okta.
*Ting-tong*
Berdirilah seorang Leony yang ternyata membukakan pintu dari dalam.
"Ada apa kamu kemari?" tanya Leony dengan menunjukkan mimik wajah kebenciannya.
"Ada perlu sesuatu ... (Wilona menatap Leony dari atas sampai bawah) pagi ini Kamu juga sudah berada di rumah pak Okta ada apa?"
"Rumah pak Okta?
Ini adalah rumahku, rumah kita berdua, dan aku juga sudah tinggal disini." dengan senyum liciknya Leony bercerita di depan Wilona.
Apa ... tidur?
Okta ... bahkan perceraian kita belum usai. Sepertinya saranku tidak kamu cerna dengan baik. Baiklah ... terserah padamu ... biarlah cintamu itu kau bawa sampai mati. batin Wilona.
"Kalau begitu kedatangan saya hanya untuk mengambil dokumen dokumen perceraian saja." jawab Wilona tegas.
"Oh begitu ... masuklah!"
Wilona lalu bergeas masuk dan melihat Okta baru saja turun dari tangga.
"O-ona?"
"Aku harus mengambil berkas perceraian pak." jawab Wilona cepat tanpa memandang Okta sedikitpun ia segera naik menuju kamar yang ia pakai sebelumnya.
"Berkas?"tanya Okta yang hanya melihat Wilona berlalu.
Melihat kalian sudah hidup bersama sebelum perceraian ini, entah kenapa saat ini aku benar-benar marah, Ona sadarlah mereka memang pasangan sejak dulu, kenapa kamu jadi emosi seperti ini. batin Wilona.
Wilona segera naik keatas dan membiarkan Okta tetap terdiam di anak tangga tanpa diberi kesempatan berbicara sedikitpun.
Okta segera menyusul ke atas dan membantu Wilona mengambil tas di atas lemari.
Wilona enggan menanggapi komentar Okta. Ia hanya sibuk melihat berkas-berkas di dalamnya.
Ia segera bergegas ketempat lain dan mengambil barang-barang pribadinya tanpa melihat Okta yang terus mengikutinya sejak tadi.
"Ona tunggu ... (Okta memegang lengan Wilona sebab sejak tadi ia diam saja) biar Judika yang mengurus semua ini."
"Tidak pak... tidak apa-apa akan saya urus sendiri." Wilona masih tetap enggan menatap Okta.
"Ona ... kenapa kamu marah padaku?" tanya Okta
"Tidak ... aku tidak marah."
Lalu dari arah luar Leony yang sejak tadi memperhatikan ikut berkomentar.
"Ada yang bisa kubantu?" Leony segera masuk juga ke kamar.
"Tidak ... ini sudah cukup, saya hanya perlu mengambil ini dan ini saja."jawab Wilona.
"Kalau kau perlu apa-apa kau bisa minta tolong padaku Wilona."
Wilona diam tak menjawab sedikitpun. Ia hanya menundukkan kepala menanggapi komentar Leony.
Wilona segera turun, dan sekalipun Okta mencegah untuk dia agar tidak buru-buru pulang Wilona tetap bersiskukuh untuk pulang segera.
Setelah sampai di depan pintu Wilona berpamitan. Ia berhenti dan berbalik menghadap Okta.
Wilona mengulurkan tangan, membuat Okta sekali lagi bertambah bingung.
Apa ini? kenapa kau megulurkan tangan seolah kita tidak akan bertemu lagi. batin Okta.
"Saya pamit, jaga dirimu baik-baik pak." ucap Wilona yang akhirnya menatap wajah Okta.
Okta hanya diam, menatap tangan yang terulur itu, karena ia takut tangan ini menyiratkan perpisahan mereka untuk selamanya.
"Sa-sampai jumpa di pengadilan nanti." ucap Okta yang enggan membalas uluran tangan Wilona.
Wilona pun hanya diam tak menjawab.
Lalu ia segera pamit dan berlalu meninggalkan rumah Okta.
Kepergian Wilona meninggalkan sekelumit pesan tak tersirat yang sedikitpun Okta enggan menebak itu dikepalanya.
__ADS_1
Sebenarnya ketakutan Okta benar adanya, sesuai permintaan ayah, Wilona tidak perlu menemui Okta lagi.
Ona berencana untuk pindah ke rumah bibinya, yang tinggal didesa dekat makam ibunya.
Dan semua proses peradilan sidang cerai hanya ia wakilkan saja. ( ini Author sampe baca pasal-pasal perceraian kemarin malam 😅, karena kagak ngerti.)
Tunggu kenapa Wilona terlihat berbeda dari biasanya. Aku bahkan belum pernah melihatnya seperti ini. Apa ... . Oktapun menatap sebentar kepada Leony dan ia berjalan cepat memegang ponselnya dan berjalan menuju ke kamarnya.
Melihat Okta yang tidak memperhatikan dirinya, membuat Leony merasa jengkel seketika.
&
Wilona keluar sambil membawa dokumen juga tas dan berjalan sampai keluar pintu gerbang.
Ada mobil khusus datang persis didepannya. Rupanya Okta menghubungi seorang penjaga gerbang untuk segera menjemput dan mengantar Wilona.
Namun Wilona menolak tawaran driver tersebut.
"Nyonya ... saya diminta tuan mengantar anda."
Sambil tersenyum Wilona membalas.
"Tidak pak ... saya mau jalan-jalan sendiri saja."
"Tapi nyonya... ."
"Lanjutkan saja tugasmu pak Candra. Terimakasih bantuannya. Saya mau berjalan sambil menikmati sekitar sini juga."
Petugas itu hanya bisa tersenyum dan menundukkan kepala, tak menyangka bahkan nyonyanya bersikap sopan padanya dan lebih lagi nyonya mengingat namanya. Yang bahkan tuannya pun tidak pernah menyebut nama itu sama sekali.
Okta segera mendapat laporan bahwa Nyonya tetap memilih pulang sendiri dan tidak mau di antar.
Hati Okta mencelos dan ia terduduk di tempat tidurnya.
Leony segera datang ia cemburu sekali melihat sikap dan perhatian Okta pada Wilona, ia duduk tepat di sisi Okta. Sementara Okta berusaha tersenyum di depan Leony.
▪▪▪▪▪
Flashback
Sebenarnya Hari itu Leony tidak benar-benar menginap di rumah Okta, ia hanya ingin menghabiskan waktu bersama Okta, mumpung Okta tidak masuk kerja, dan seminggu lagi ia harus kembali ke Paris.
Kesempatan itu digunakan Leony dengan datang pagi-pagi buta ke rumah Okta dan berniat menyiapkan sarapan untuknya.
Namun kehadiran Wilona membuatnya berani berkata dusta untuk membuat Wilona membenci Okta dan ternyata usahanya berhasil.
▪▪▪▪▪
Wilona duduk di sebuah halte, ia terdiam sambil memeluk dokumen untuk keperluan perceraian mereka.
Segera ia mengeluarkan ponselnya dan mengirimkan pesan untuk Okta.
...***Cincin pernikahan ini juga sudah berakhir masanya***....
...***Akan menyedihkan bila masing-masing kita masih menyimpan*** ***kenangan ini***...
...***tapi***...
...***Saya*** ***tidak tega membuangnya***,...
...***laci tempat menyimpan surat kontrak kita***....
...***cincin itu ada disana***....
Akhirnya Waktu berlalu, semua berjalan seperti semula. Kau sudah bersamanya, dan kau sudah mendapatkan semuanya.
Semoga kau bahagia, sekalipun aku berharap kau tak bersamanya.
*Ah ... tidak ... ada apa dengan diriku?
Mengapa aku mengharapkan suatu yang jahat* ...
Baik ...
Mulai detik ini ... aku akan rubah pemikiranku.
Aku berharap Leony berubah menjadi baik, sehingga ia menjadi pasangan yang tepat untukmu. Dan kalian hidup bahagia selamanya.
●●●●●
Bersambung
Jangan lupa tinggalkan Like dan vote episode kali ini ^^
__ADS_1