
Hi ... setelah berhenti sekian waktu, mari kita lanjut kisah perjalanan Wilona ini.⚘⚘
▪▪▪▪
Berita mengenai kasus kebakaran itu mampu membuat karyawab grup Wahardian kelimpungan, media kembali datang untuk menelusuri kebenaran yang sebenarnya terjadi lewat beberapa bukti yang mulai di share ke publik.
Alhasil Okta kembali di buat pusing, mengenai kehebohan yang terjadi. Sebenarnya ia sendiri pun, masih menjadikan kasus itu sebagai misteri di kepalanya. Karena sangat jelas bahwa kejadian di masa lampau hanya sebagai alasan untuk menutupi suatu bukti.
*Kring-kring*
(telepon di kantor Okta berbunyi dan seorang sekertaris langsung berkata)
Pak, ada telepon masuk dari pak Judika.
Judika ... cih kemana saja dia selama ini. batin Okta.
"Sambungkan!" perintah Okta pada sekertaris.
Tuan. Judika mengawali pembicaraan.
"Heeeyyy Jud ... kemana saja kamu ini? pergi tanpa mengabari sedikitpun. Apa kamu mau mati!"
Tuan .... ma...( belum selesai berbicara Okta sudah memotong)
"Cepatlah kembali ke sini, aku membutuhkanmu." nada suara Okta kembali mereda, karena sebetulnya ia sangat merindukan Judika disisinya.
Maaf Tuan, saya tidak bisa mengabulkan permintaan anda.
"Apa maksudmu?" tanya Okta.
Judika teringat ancaman Henry padanya, sehingga ia tidak berani menampakkan diri sebelum misinya berhasil.
"Tidakkah kau lihat disini situasinya sangat kacau."
Benar tuan, karena itu saya mempunyai sedikit permintaan dari tuan.
"Kau gila ... cepatlah kemari, maka aku akan menuruti permintaanmu itu."
Tuan, saya hanya meminta anda tenang dan berdiam diri saja.
"Apa???"
Tenang dan berdiam diri saja tuan. Sekalipun pemberitaan di media sedang heboh, saya minta anda tidak perlu merespon sedikitpun pada media.
"Apa kamu mencoba peduli padaku Jud, kamu tinggalkan aku dengaan masalah yang makin bertambah seperti ini? Tapi ... aku lebih mengenalmu dari siapapun, jadi katakan apa sesuatu yang kamu sembunyikan dari padaku?"
Mendengar itu hati Judika luluh. Sehingga ia sedikit membongkar misinya.
Tuan ... tuan Henry adalah masalah dari semua ini. Karena itu, saya sedang membongkar semua kejahatan yang selama ini terselubung. Hanya itu yang bisa saya sampaikan sekarang ini.
Judika sengaja tidak membicarakan kaitan Henry dengan Leony sementara ini. Ia harus tetap berhati-hati agar Tuannya bisa tetap selamat.
Sebaliknya hati Okta terasa lebih lega, ia kembali duduk dan menyandarkan tubuhnya ke kursi, sebab sedikit kejelasan mengenai Judika sudah ia dapatkan, dan ia merasa ada sedikit ketenangan mendengar Judika benar-benar tidak meninggalkannya sendiri.
Sebaliknya di hari yang sama, Leony bertemu dengan Wilona di sebuah kafe tidak jauh dari kedai ayah.
__ADS_1
"Ada perlu apa?" tanya Wilona dengan mata yang sayu, sebab ia tahu, ia selalu saja kalah dengan Leony.
"Apa kamu masih ingat permintaanku hari kemarin? Perjanjian kalian ... cepat lambat akan terbongkar."
"Terbongkar?
tunggu ... apa benar Henry tahu semua ini darimu?"
"Itu tidak penting sekarang. Yang aku khawatirkan saat ini adalah ... saat media menggosipkan pernikahan palsu kalian."
Mendengar itu Wilona terdiam.
"Apa kamu tidak berpikir, Okta akan menderita kerugian besar dengan gosip itu?" lanjut Leony.
"Lalu apa maksudmu?" tanya Wilona.
"Lebih baik kalian segera berpisah. Okta memilih mengundurkan dirinya untuk menyelamatkanmu, Setidaknya dengan perpisahan kalian, jika berita itu muncul, itu tidak akan seheboh saat kalian masih bersama. Dan Okta tidak berada dalam pilihan sulit lagi.
Bayangkan, ada berapa investor yang percaya Okta, pada akhirnya akan mangkat dan meninggalkannya.
Begitu juga dengan beberapa pihak yang sedari awal tidak menyukai Okta.
Keyakinan dan kepercayaan mereka akan sangat jatuh. Apa kamu tidak berpikir sejauh itu?
Masihkah kamu mementingkan dirimu sendiri?" tanya Leony berusaha meyakinkan Wilona.
Wilona terdiam sambil berpikir keras untuk hal ini.
"Sekarang, aku sedang berusaha membuat Henry tidak jauh bertindak,
dan aku ... aku tidak tinggal diam, sedang berusaha agar Okta sajalah yang di lantik.
Apa kamu tidak lihat keseriusan dan usahaku.
Ini adalah kesempatan yang baik kalian berpisah, disaat mereka berfokus pada kasus yang santer terjadi, perpisahan kalian secara diam-diam tidak akan digubris media."
"Tapi ... sebentar lagi, memang perjanjian kita sudah akan segera berakhir."ucap Wilona.
" Tidak ... lebih cepat lebih baik."
"Apa?"
"Baiklah satu hal lagi yang aku mau jujur padamu, aku tidak ingin kalian terikat satu sama lain, ini sangat menggangguku. Mengapa aku berkata seperti itu? karena aku tahu Okta mengundurkan diri untuk menyelamatkanmu. Lalu aku sebagai kekasihnya, apa kamu tidak tahu betapa sedihnya aku, aku yang selama ini ada untuknya. aku ayng berjuang dan membantunya dalam susah dan senang. Karena itu lebih cepat lebih baik. Renungkan saja perkataanku tadi. Aku mohon pikirkan Okta yang akan menerima kejatuhan berlipat-lipat. Tolong pedulilah pada kami berdua."pinta Leony dengan mata berkaca-kaca. Ia pun segera memakai kaca mata untuk menutupi kedua matanya. Dan segera pergi meninggalkan Wilona sendiri di dalam kafe.
Setelah sampai di mobil, Leony segera melepas kacamatanya, dan tersenyum senang karena setidaknya dia berhasil mengaduk perasaan Wilona.
Ia pun melanjutkan perjalanannya menuju kantor Okta.
Leony bergegas naik ke lantai atas dan menuju ke kantor Okta. Dia berjalan tanpa basa-basi menuju ke pintu masuk.
Kedatangan Leony membuat sekertaris itu langsung menunjukkan wajah tidak sukanya.
Setelah sampai di pintu masuk, sekertaris Okta menghadang.
"Maaf nona, pak Okta sedang tidak ingin di temui siapapun."
__ADS_1
"Bukakan saja aku pintunya."
"Maaf nona."
Leony dengan lancang menggeser tubuh sekertaris yang menghadang dirinya.
Tapi dengan sigap sekertaris itu kembali menghadang.
"Maaf nona, saya hanya menjalankan perintah."
"Apa aku perlu untuk berkata kedua kalinya?" bentak Leony.
Namun sekertaris itu dengan tegas berkata.
"Maaf kalau saya tidak sopan, tapi mohon menunggu sebentar, saya akan bertanya dengan pak Okta terlebih dahulu."
Leony menghela napas dan memberikan kode dengan gerakan tangannya untuk sekertaris itu melakukan sesuai kehendaknya.
Lalu sekertaris itu masuk dan segera keluar setelah ia melaporkan tamu yang datang.
"Silahkan nona." jawab sekertaris itu sambil membukakan pintu.
Leony menggelengkan kepala sambil tersenyum sinis pada sekertaris.
Di dalam kantor
"Sayang apa kamu sibuk?"tanya Leony
"Ya, tapi ini sebentar lagi akan selesai."jawab Okta yang masih sibuk menandatangani beberapa berkas.
Leony segera duduk dan memperhatikan Okta yang masih saja sibuk di meja kerjanya.
Lihatlah Ony ... sebentar lagi, kamu akan mendampinginya, menjadi istri seorang CEO terkenal yang tampan dan penuh pesona ini. batin Leony yang tersenyum sendiri melihat kekasih di hadapannya.
"Ada apa?" tanya Okta.
"Tidak ... aku hanya khawatir denganmu."
"Ah ... terimakasih sudah mengkhawatirkan aku, tapi tolong jangan ikut berpikir keras soal ini."
"Sayang ... kamu terlalu baik."ucap Leony.
Mendengar Itu Okta hanya tersenyum lalu berfokus pada beberapa lembar di meja kerjanya.
"Setelah kalian, berpisah nanti, apa yang akan di lakukan Wilona." tanya Leony.
Hali itu membuat Okta berhenti terdiam.
"Sayang, aku punya saran yang terbaik untuk Wilona."
▪▪▪▪
Sepertinya Leony menggunakan taktik halusnya lagi seperti tadi terhadap Wilona, untuk mengoncang perasaan Okta.
●●●●●
__ADS_1
Bersambung