Pernikahan Sementara Dengan Orang Ternama

Pernikahan Sementara Dengan Orang Ternama
Berkunjung ke makam


__ADS_3

Pagi itu Wilona keluar dengan berpakaian hitam. Dia sudah siap-siap akan berangkat. Okta turun dari tangga.


"Pagi sekali, kenapa sudah rapi begitu, mau berangkat?" Tanya Okta.


"Iya, mengejar waktu pak.


Oh iya, hari ini tidak ada nasi tapi saya sudah siapkan omelet dan sandwich di meja. Pak Okta sarapan itu saja ya."


"Okta lalu berlalu menuju ruang makan mengambil roti sandwich buatan Wilona dan memakannya."


"Pak saya jalan dulu ya." Wilona bergegas membuka  pintu dan berlalu.


Okta hanya diam saja sambil mengunyah.


Kenapa anak ini buru-buru seperti di kejar penjahat saja.


Pagi itu Wilona menuju kedai dan berangkat bersama ayah memakai mobil pickup. Ini adalah kegiatan rutin Wilona dan ayah setiap datang ke makam, sambil membawa buket bunga yang sudah ayah siapkan di mobil.


Perjalanan membutuhkan waktu tiga jam.


Setelah dari makam mereka biasa berkunjung ke tempat bibi saudara ibu, yang kebetulan lokasinya masih satu desa dengan makam ibu.


Makanya mereka berangkat lebih pagi.


...


...Di Makam...


Sampai di makam. Wilona melihat ada seorang pria sudah berdiri di makam ibunya.


*Deg*


I-itu Bastian.(mantan Wilona)


Rasa haru, senang bercampur sedih berkecamuk di hati Wilona. Setelah sekian lama ia tidak mendapat kabar tentang Tian.


Dia berjalan mendekat ke makam, pandangannya tertuju pada Bastian yang tidak sadar kehadirannya mendekat.


Ia teringat, Bastian selalu menemani Wilona di makam setiap memperingati hari kematian ibu dan adiknya setiap tahun.


"Tian." Sapa Wilona.


Bastian pun menoleh dan sadar ada Wilona dan ayah dibelakangnya.


" Wilona... Om ..." Bastian menundukkan kepala dengan sopan.

__ADS_1


"Kamu sudah dari tadi?" Tanya ayah.


"Ah ... ti-tidak, saya barusan saja datang om."


"Terimakasih sudah datang ke sini." Sambung ayah sambil menepuk pundak bastian.


Bastian pun kembali menundukkan kepalanya.


Merekapun mulai menaburkan bunga dan berdoa bersama.


Wilona tidak bisa berkata apa-apa setiap kali datang ke makam, ia hanya bisa meneteskan air mata, kesedihannya menjadi berlipat melihat Bastian yang masih setia berkunjung ke makam keluarganya.


Dia lega mendapati kenyataan bahwa Tian baik-baik saja selama ini.


"Ona, kamu bisa menyusul nanti saja, ke rumah bibi.


Bastian, om titip antarkan Wilona nanti ya."


Sepertinya ayah tahu Wilona dan Bastian perlu waktu untuk menyelesaikan urusan mereka berdua.


Ayah sangat tahu Bastian adalah laki-laki yang sangat baik dan bertanggungjawab. Ayah pun menyukai kepribadiannya, hanya saja ayah tidak mengetahui sama sekali kenapa hubungan anaknya dengan Bastian berakhir, dan Wilona memilih keputusan menikah dengan pria lain.


Maka dari itu Ayah segera berlalu dan pergi sendiri meninggalkan mereka berdua.


Bastian pun mengeluarkan sapu tangan dari tas ransel nya. Sapu tangan biru muda dengan motif garis di tepinya. Dia sengaja membawa dua sapu tangan, karena selalu teringat Wilona pasti akan menangis di makam ibunya.


Aku tak menyangka kamu bahkan masih punya dan merawat saputangan yang tidak berharga ini.


Wilona terdiam mencoba bertahan, karena dia tidak tahan lagi untuk tidak menangis dan memeluk Bastian.


Melihat Wilona yang hanya tertunduk terdiam, Tangan Bastian pelan-pelan terulur memegang pundak Wilona.


Wilona tidak tahu harus bagaimana menahan perasaan itu.


Yang bisa ia lakukan adalah dengan cara meremas saputangan dengan kencang, sedangkan tangan yang satunya mencoba menutupi kedua matanya. Napasnya sudah menunjukkan ia terisak.


"Menangislah Wilona."kata Bastian sambil tetap memegang pundak Wilona.


Wilona lalu jatuh terduduk. Kedua lututnya terkulai lemas. Tangisannya pecah begitu saja. Dia merasakan suatu kenyataan yang pahit. Kenyataan bahwa orang yang sangat dia sayangi terpisah oleh suatu keadaan yang kusut.


Aku sudah jahat padamu, kenapa kamu masih terlalu baik saat ini. Betapa kejamnya diriku.



Wilona kembali mengingat semua kenangan manis bersama Tian, tak hanya itu ... perhatian kecilnya bahkan masih menancap di hati Wilona. Perhatian seorang pria yang tidak mungkin ada lagi selain dirinya di dunia ini.

__ADS_1


Aku kejam ... Tian maaf aku terlalu kejam. batin Wilona.


Wilona memukul pahanya sendiri. Bahkan berkali-kali dia melampiaskan emosinya dengan memukul pahanya sendiri.


Aku terlalu kejam Tian ... terlalu kejam padamu.


Melihat keterpurukan itu, Bastian juga tak tahan dan segera memberanikan diri memeluk dan mengusap usap punggung Wilona.


Bastian telah mengenal Wilona cukup lama, Dia bisa merasakan kesedihan Wilona saat ini bukan sekedar karena mengingat ibu dan adiknya saja.


 Tapi karena Wilona menahan perasaan yang lain.


Sejak saat itu Bastian memantapkan diri tidak akan menjauhi Wilona lagi, dia semakin yakin ada sesuatu di balik pernikahan Wilona yang mendadak dan yakin bahwa Wilona masih mencintainya.


"Tenang Wilona ... aku mohon tenanglah."


Bastian mencoba menenangkan dengan memeluk erat Wilona. Saat Wilona sudah mulai tenang, dia memandang Tian cukup lama, isaknya bahkan semakin kencang melihat wajah Bastian orang yang sangat dicintainya saat ini ada di hadapannya.


Karena sudah tidak terbendung lagi, Wilona pun segera memeluk Bastian, dan mereka hanya bisa berpelukan sambil menumpahkan air mata bersama.


Bastian pun sudah tidak bisa menahan ketegarannya, Ia juga menumpahkan perasaan dan kesesakan hatinya.


Sejatinya ia masih sangat mencintai Wilona.


Hatinya seolah teriris pisau tajam melihat kekasih hatinya menangis sambil memukul-mukul tubuhnya sendiri.


Apa yang kau sembunyikan selama ini Ona ... aku bisa merasakan kesesakanmu ...


Tuhan ... aku tidak bisa melihatnya terpuruk seperti ini, bahkan pernikahannya ... ah ... pernikahan apa yang membuatnya datang sendiri ke makam orangtuanya.


Mungkinkah suaminya saat ini berlaku kasar padanya?


Ada apa di balik ini semua ... ahhhhh....


Perasaan Bastian pun berkecamuk melihat kenyataan di depan matanya.


Kepedihan, kemarahan, iba bercampur rasa cinta yang masih kuat membulatkan tekadnya untuk kembali berada di sisi Wilona.


Ona ... apapun yang terjadi padamu ... aku mau ikut menanggungnya. aku janji akan membahagiakanmu mulai saat ini.


*****


Bersambung


Terimakasih semua yang sudah mampir untuk membaca disini.

__ADS_1


Tinggalkan jejak dengan vote,like dan komen juga


__ADS_2