Pernikahan Sementara Dengan Orang Ternama

Pernikahan Sementara Dengan Orang Ternama
Wilona dan Okta di Paris


__ADS_3

Akhirnya perjalanan menyenangkan mereka di mulai. Namun sepertinya Wilona melihat ada sesuatu yang kurang.


"Lho, Jud di mana kopermu?" Wilona tersadar tidak ada koper milik Judika disitu.


"Maaf nyonya saya tidak ikut."


Ehhhh... bisa kacau nih, Judika adalah penenang di saat aku ribut dengan Okta, kalau dia tidak ikut bagaimana nasibku disana?


"Kenapa Jud?" Wilona melanjutkan bertanya pada Judika dengan muka melas.


"Saya masih harus mengawasi urusan kantor nyonya." Judika menjelaskan dengan tenang. Mendengar alasan itu, Wilona menunjukkan ekspresi wajah yang cemberut ke arah Okta.


"Kenapa? Kenapa kamu melihatku seperti itu?" Kata Okta melihat wajah Wilona yang tampak kesal padanya. Wilona tetap diam saja masih  dengan muka kesalnya.


Melihat sesuatu yang tidak beres Judika pun melanjutkan, "Nanti di hari ke tiga saya akan menyusul ke Paris nyonya."


"Benarkah?" Wajah Wilona kembali berseri-seri ke Judika.


"Janji ya Jud." Lanjutnya dengan tersenyum dibalas dengan Judika yang tersenyum pula sambil menganggukkan kepalanya.


Okta memandangi mereka berdua,


Cih... ada apa dengan mereka berdua? sejak kapan mereka sedekat itu?


Setelah melihat jam Okta kemudian menyuruh Wilona masuk ke ruang tunggu pemberangkatan.


"Hey... ayo masuk!"


"Ah... iya. Jud kita berangkat dulu ya." Kata Wilona sambil mengucapkan salam perpisahan dengan melambaikan tangannya.


"Baik, hati-hati tuan dan nyonya." Sambil menundukkan kepala.


Sekali lagi Okta tampak heran melihat Wilona yang selalu tersenyum cerah pada Judika. Okta memutuskan untuk masuk terlebih dahulu dengan berjalan lebih cepat sehingga membuat Wilona berlari menyusulnya.


Wilona tampak tersenyum-senyum sendiri di bandara, selain perjalanan keluar negeri, ini juga pengalaman pertama Wilona menaiki pesawat, dia sangat antusias, terlebih kekagumannya berlanjut setelah melihat semua yang ada di dalam pesawat.


Wilona mendapat pelayanan First Class yang sangat luar biasa. Dia duduk di kursi yang sangat empuk dan nyaman, beberapa makanan ala restoran pun di sajikan.



Tidak mau menyia-nyiakan kesempatan Wilona pun menyantap semua makanan yang disajikan.


Sedang Okta tampaknya tertidur pulas di sampingnya.


Perjalanan yang panjang dan perut yang sangat kenyang membuat Wilona akhirnya juga tertidur pulas. Sebaliknya Okta justru terjaga saat itu.


 Bodoh bagaimana dia bisa tidur dengan gelas di tangannya?


"Hey ... hey ... !" Mencoba memanggil tapi ternyata  Wilona tidak berkutik.


Lalu kemudian Okta mengangkat tangan meminta pramugari mendekat.

__ADS_1


Hanya dengan perintah tangan saja sepertinya Pramugari tersebut tahu,  dan segera mengambil gelas dari tangan Wilona dengan sangat hati-hati.


Huh... harusnya aku berangkat sendiri saja tadi. Wanita ini sepertinya akan merepotkan.


...


Perjalanan panjang dimulai, akhirnya mereka tiba di Paris, kota dengan julukan Ia Ville des Lumières atau kota cahaya. Mobil jemputan yang di sediakan bagi penumpang First Class siap mengantar mereka menuju hotel. Keindahan bangunan bersejarah dengan dekorasi lampu yang cantik seolah menyambut mereka di sepanjang jalan.



Waaah, ini seperti mimpi, benar-benar seperti mimpi berada disini. Wilona tidak pernah melepaskan pandangan matanya menyaksikan keindahan kota di sepanjang jalan dari dalam mobil.


Saat itu waktu menunjukkan pukul 2 dini hari dan mereka langsung menuju hotel.


Wilona hanya bisa diam saja saat mendengar Okta berbicara dengan resepsionis hotel dengan bahasa Perancis.


Okta kemudian mengambil waktu sebentar untuk menelpon seseorang di sudut ruangan.


"Jud, apa maksudnya ini, kenapa hanya satu kamar?"


"Maaf tuan, ini untuk sehari saja, hanya untuk berjaga-jaga kalau Tuan Wahardian coba mengecek keberadaan tuan, hari selanjutnya saya sudah booking kamar terpisah untuk tuan dan nyonya."


"Kenapa kamu tidak bilang saja dari awal?"


"Maaf tuan".( Judika diam tak menambahkan apa-apa).


Kalau saya katakan dari awal, pasti tuan hanya akan kesal sepanjang perjalanan.


"Baik tuan."


Bahkan kalau ini terulang lagi, saya akan melakukan hal yang sama tuan ... maafkan saya. (Judika menyibakkan rambutnya, melihat jam dinding dan kemudian tidur kembali).


Okta dan Wilona pun akhirnya menuju ke kamar hotel.


"Pak, kita menginap di satu kamar lagi ya?" Wilona bertanya akan tetapi Okta yang sedang kesal diam saja tak menjawab.


Ingatan Wilona muncul kembali pada saat malam setelah hari pernikahannya, ketika ia tidak bisa tidur kedinginan saat sekamar dengan Okta.



"Pak, boleh tidak minta ekstra selimut satu lagi?" Wilona memegang tangan Okta dan berbicara dengan nada memelas, membuat Okta juga tiba-tiba berhenti berjalan.


"Diam saja kamu." Okta yang masih terbawa emosi mencoba menarik napas dalam, mencoba menenangkan diri.


Wilona kemudian melepaskan pegangannya dengan kesal dan mereka kembali berjalan.


Mereka kemudian memasuki kamar hotel.


Kamar yang sangat luas, dengan berbagai fasilitas di dalamnya.


Suit dengan bathtub dan walk-in shower yang luas, ruang tamu, ruang makan dan kantor kecil di dalamnya,  ditambah dengan kaca jendela yang besar yang menampilkan pemandangan cantik dengan lampu lampu kota dari balik jendela kamarnya.

__ADS_1


Berhubung mereka sudah sangat lelah setelah hampir 17 jam perjalanan, tanpa basa basi mereka bersama langsung menuju wastafel hanya untuk mencuci muka.


Okta bahkan  sudah tidak menggubris Wilona di sampingnya yang juga turut serta menggosok gigi, setelah itu mereka langsung tertidur.


Untung saja sudah ada ekstra selimut disitu dan kursi panjang yang sangat empuk dan nyaman. Wilona pun langsung naik ke atasnya, dan tertidur pulas sampai pagi.


Paginya sesuai perjanjian, staff hotel mengantarkan makanan tepat pukul 10 pagi. Mendengar bel berbunyi di pintu, Wilona beranjak bangun dari tidurnya dan membukakan pintu.


Dia melihat dua orang berdiri dengan membawa troli di depannya dan karena tidak tahu harus berkata apa-apa Wilona kemudian membangunkan Okta yang rupanya masih tertidur pulas.


"Pak...pak Okta" Wilona menepuk nepuk punggung Okta.


"hm...?" Okta terbangun sambil menggosok-gosok matanya.


"Itu ada ... orang di depan."


Okta kemudian melihat jam dari hp nya dan segera beranjak bangun dari tidurnya, kemudian mempersilahkan staff hotel membawa masuk makanan ke ruang makan.


Mereka pun makan bersama setelah selesai membersihkan diri.



"Em ... hari ini acara kita kemana pak?" tanya Wilona.


Sambil mengiris daging Okta tersenyum, "hari ini aku ada janji dengan seseorang.


Ah ... iya kamu,  nanti akan ku kenalkan pada rekanku juga, dia akan menemanimu berjalan-jalan disini." jawab Okta.


"Jalan-jalan?" Mata Wilona berbinar-binar mendengarnya.


Tapi tunggu ... itu maksudnya nanti kita terpisah pak?


"Tentu..."


Wilona menggelengkan kepalanya.


Bagaimana dia bisa tega meninggalkan aku sendiri di tempat asing bersama orang yang tidak kukenal sama sekali.


"Tenang saja, nanti kamu akan di antar kembali kesini dengan selamat setelah bersenang-senang." Okta kembali tersenyum sambil menyantap makanannya.


"Oh iya, pakai saja kartuku kalau kamu butuh beli sesuatu disini."


"Iya." Kali ini Wilona menjawab dengan tidak bersemangat.


Huuuh, bukan itu masalahnya pak, masalahnya aku tidak tau apa-apa tentang paris. Apa aku benar-benar bisa bersenang senang nanti?


...


Bersambung


▪▪▪▪▪

__ADS_1


Dukung dengan Like nya ya ❤


__ADS_2