
Pertemuan tak terduga dan perpisahan yang tak diharapkan. Wilona berlalu sembari menatap jalan dengan lesu. Mengetahui keadaan itu Okta lalu meremas genggamannya.
"Au ... sakit pak." Wilona meringis karena tangannya tiba-tiba diremas oleh Okta.
Setelah mereka sampai di mobil, Wilona mengebaskan tangannya yang sejak tadi di remas oleh Okta.
"Jadi ini tujuanmu?" Okta menatap marah pada Wilona.
"Apa?"
"Dan kamu mengajakku keluar hanya untuk bertemu dengannya? Hah?"
Wilona menutup mulutnya dan tersadar bahwa ia ingin menghibur Okta tetapi justru berakhir meninggalkannya.
"Tadi .... itu tadi ..." Wilona mencoba memberi alasan, akan tetapi saking kesalnya Okta langsung masuk ke mobil dan membiarkan Wilona berdiri di luar.
Wilona kalut dan memandang Judika yang saat itu masih berdiri diluar menunggu nyonya masuk mobil.
Dan sambil menggaruk-garuk kepalanya dia bertanya pada Judika.
"Jud, aku harus bagaimana?"
"Nyonya pasti bisa menenangkannya lagi." Dengan santai dan tersenyum Judika menjawab pertanyaan Wilona.
Kenapa kamu tersenyum melihat situasi ini.
Wilona tidak mengerti lagi apa yang dipikirkan asisten satu ini.
"Yasudah, ayo kita masuk."
"Baik nyonya." Judika membukakan pintu dan mempersilahkan nyonya Wilona masuk ke dalam mobil.
Wilona tidak yakin namun memberanikan dirinya memegang lengan Okta. Okta segera menangkisnya.
"Maaf ... aku minta maaf." Sekali lagi Wilona memegang lengan Okta.
Berhubung tidak ada respon sama sekali, Wilona lalu menyodorkan kepalanya di dada Okta.
"Pukul saja aku ... ayo pukul."
Okta dengan segera menyingkirkan kepala Wilona, tapi sekali lagi Wilona melakukan hal yang sama.
"Ayo cepat pukul saja. Mana tanganmu? sini pukul disini." Wilona menarik tangan Okta dan mengarahkannya di kepalanya.
"Apa yang kamu lakukan?"
"Pukul aku supaya kamu puas melampiaskan kemarahanmu."
__ADS_1
"APAAA?"
"Pukul saja, aku tidak apa-apa. Tapi setelah itu jangan marah lagi." Nadanya memelas.
Judika tersenyum mendengar percakapan mereka dari bangku depan.
Nyonya ... anda imut sekali. Siapa yang akan marah melihat sikapmu seperti ini. Tuan sepertinya engkau akan kalah sebentar lagi.
Setelah menghela napas Okta kemudian berkata.
"Ayo Jud kita pulang sekarang."
"Baik tuan."
"Tunggu! Sebentar Jud, Setelah kamu memaafkan aku baru kita bisa pulang." Pinta Wilona.
"Kalau begitu kita pulang."kata Okta dengan kesal.
"Maafkan aku dulu baru kita pulang." Rengek Wilona
"Dasar bodoh.
Kenapa kebodohanmu itu masih saja menempel di kepalamu."
"APA?" Tanya Wilona kesal.
Sebelum berlanjut parah akhirnya Judika mencoba menengahi mereka.
Walaupun ikut kesal tetapi Wilona menjadi lega. Mobil pun melaju meninggalkan area parkir.
Karena merasa bersalah, Wilona kembali berpikir dan ...
*Plok* wilona menepuk tangannya setelah mendapat ide.
Baiklah kalau begitu, aku akan mengajak Okta ke suatu tempat sekali lagi, kali ini pasti lebih menyenangkan. Batin Wilona
"Pak, ayo kita main ke satu tempat lagi."
"Tidak." Sambung Okta.
"Ayo pak ... sekali ini saja. Ayolah aku mohon. Besok kan hari libur pak."
"Aku tidak mau, semua idemu tidak pernah benar"
Semua ideku, memangnya kapan aku pernah melakukan kesalahan selain hari ini.
"Ayolah pak, please."
__ADS_1
"Ah .... cerewet sekali."
"Kita ke sana ya? ya? ya Pak?"
"Terserah kamu." Lanjut Okta.
Wilona tersenyum dan menyentuh pundak Judika.
"Jud, ayo kita jalan sekarang."
"Baik nyonya."
●●●●●
Dan tibalah mereka di bukit bintang, sebuah tempat dengan hawa dingin dan menyajikan keindahan malam. Dengan lampu-lampu kota yang terlihat dari atas bukit.
Dan Okta merasa heran, bahwa ada tempat indah, yang ia tidak ketahui selama ini
"Pak silahkan duduk disini."
Lalu Okta segera berjalan menuju bangku yang di tunjukkan Wilona.
"Ini bukit bintang, karena kita bisa melihat keindahan kota dari atas sini seperti melihat bintang."
Wilona tersenyum senang sebab ini adalah tempat favoritnya di kala ia ingin mencari hiburan.
Melihat keindahan bintang dan keindahan lampu kota yang sangat memanjakan mata. Tak henti-hentinya senyum tersungging di wajahnya, Okta pun memperhatikan keindahan bukit bintang dengan puas. Sampai pandangannya jatuh di wajah Wilona yang tersenyum senang, Okta menjadi ikut tersenyum melihat ekspresi itu.
Hawa dingin di atas bukit membuat Wilona mengusap usap lengannya tanpa sengaja. Melihat itu Okta segera melepas jaketnya dan menaruh di pundak Wilona
"Ah ... ah tidak perlu pak."
"Aku tidak tahan melihatmu kedinginan, nanti kamu merepotkan aku lagi." Jelas Okta.
"Oh ... seperti kejadian di hotel itu ya. Hahahaha."
Wilona kembali mengingat kejadian waktu itu dan
"Hahahaha ....lucu sekali."
"Apa yang kamu tertawakan?"
"Hah ... ah ... Tidak pak, cuma ingat kejadian waktu itu. Hahahaha."
Wilona masih tertawa geli dan mereka tiba-tiba tertawa bersama.
__ADS_1
●●●●●
Bersambung