
Selesai melakukan panggilan telefon, pria paruh baya itu memutar kursinya menghadap meja kerjanya, dan meletakkan ponsel yang dipegangnya itu di atas meja. Ternyata pria paruh baya itu adalah Pak Rudi yakni papa kevin. Entah apa yang sedang Pak Rudi rencanakan, sampai – sampai ia membentak seseorang yang ia hubungi dalam telefon dan mengatakan untuk segera mengumpulkan bukti. Mencurigakan, entah bukti apa yang sedang Pak Rudi kumpulkan.
Di sekolah.
Veno turun dari panggung bak seorang penyanyi papan atas yang disambut meriah oleh para penggemarnya. Beberapa perempuan berebut untuk membantu veno turun dari panggung. Padahal dengan mudah veno turun tanpa harus menerima bantuan dari siapa pun. Melihat ganjennya para gadis terhadap suaminya, dio pun menggerutu “udah gedhe, bukan bayi lagi yang perlu di tuntun!” ucap dio dalam batin.
Serasa menjadi idola baru bagi para gadis, hampir seluruh gadis yang mengerumuni veno rela berdesakan untuk meminta nomor telefon veno “kak ven, boleh aku minta nomor telefonnya?” ucap seorang gadis yang mendekat menghampiri veno. “iya kak, aku juga minta nomornya kakak!” sahut gadis lain menyela, dan di ikuti dengan permintaan yang sama dari banyak gadis lainnya. “maaf !” ucap veno sambil berlalu meninggalkan gadis – gadis yang mengelilinginya itu, dan berjalan menuju dio yang saat ini tengah memasang wajah menyeramkan menatap dirinya yang tengah dikerumuni oleh gadis – gadis.
“maaf ya di, hehe!” ucap veno sambil nyengir ke arah dio. Belum sempat dio menjawab, tiba - tiba “kak ven, kamu tadi waktu di atas panggung keliatan keren banget loh!” ucap chika yang datang tiba – tiba dan menyela pembicaraan diantara veno dan dio. “oh, iya makasih!” veno hanya menjawab datar. “ya ampun, kutu air yang gatel ngapain juga kesini, huufft!” ucap dio dalam batin sembari membuang nafas panjang. “kak ven, kalau ada waktu papaku pengen makan bareng sama kakak!” chika meneruskan perkataannya. “oh maaf, aku masih sibuk!” veno menyahut masih dengan nada yang datar. “tenang aja kak, kapan pun kalau kakak ada waktu kakak bilang!” chika menyahuti sambil tersenyum menggoda.
__ADS_1
Tak tertarik dengan tatapan nakal dari chika, veno membuang muka dan terus menatap dio yang saat ini ekspresinya nampak garang, seperti seekor buaya yang siap mencaplok mangsa di depannya. Melihat ekspresi dio yang semakin menakutkan, veno memberi sinyal pada riko untuk mengalihkan perhatian chika, agar veno bisa kabur bersama dio.
Riko memutar otak dan berusaha mencari ide cemerlang untuk membuat chika fokus padanya. “chik, papa lu di rumah?” ucap riko dengan tiba – tiba. “gak tau, di kantor mungkin!, emang kenapa?” sahut chika sambil terus menatap ke arah veno. Merasa gagal, riko terus mencoba “chik, papa lu pernah makan bambu gak?” ucap riko dengan spontan hingga dio dan veno seketika menahan tawa. “lu kira papa gua panda? Kurang ajar lu!” chika melotot sambil mengomel ke arah riko. Alhasil dio dan veno segera berjalan menjauh dengan mengendap – endap.
“bukan gitu maksud gua, kan tunas bambu yang baru muncul itu bisa di olah jadi makanan!” riko mencoba menjelaskan secara positive thinking pada chika. “itu namanya rebung!, kalau bambu itu yang udah tumbuh tinggi! Gimana sih lu!” chika mengomel menatap riko, hingga tanpa ia sadari jika veno dan dio telah beranjak pergi. “iya gua paham, jadi papa lu pernah kan makan rebung?” riko memperbaiki pertanyaannya. “iya lah!” sahut chika dengan ketus sambil menoleh ke arah veno yang ternyata telah menghilang dari pandangannya.
“lho, kak veno mana?” chika kebingungan dan menoleh ke kanan maupun ke kiri, mencoba mencari keberadaan veno. “kalau lu, pernah makan rebung atau bambunya chik? Pffttt!!” riko kembali bertanya sambil menahan tawa. “gua kanibal, sini lu gua makan!” sahut chika dengan ketus sembari berjalan mencoba mencari keberadaan veno. “okey, misi berhasil!” ucap riko dengan rasa lega.
Melewati beberapa stand yang cukup menarik, lagi – lagi dio melongo melihat stand yang ada di depannya saat ini juga memiliki tema yang nyeleneh. “jaga kesehatanmu”. Sebuah tema untuk tetap menjaga kesehatan. Bukan alat olahraga maupun makanan sehat yang di pamerkan, melainkan praktek pengobatan bekam dan akupunkturlah yang dipamerkan dalam stand tersebut. Sedikit nyeleneh, tapi cukup nyambung lah.
__ADS_1
Melewati stand bekam dan akupunktur, dio memutuskan untuk duduk karena kakinya yang
sudah lelah. “gua capek ven!, gua duduk dulu ya?” ucap dio.”iya duduk aja!” sahut veno. “ven, kayaknya disana jual gula kapas deh!, beli’in dong!” ucap dio dengan memasang wajah memelas. “iya tunggu di sini ya!” veno menyahut sambil pergi menuju stand yang menjual berbagai macam makanan manis. Kue, coklat, permen, hingga gula kapas pun semua tersedia.
Veno menatap ke arah tusukan gula kapas yang berukuran cukup besar, dengan warna cantik yang terbungkus rapi dengan plastik. “dek, gula kapasnya semua!” ucap veno pada murid penjaga stand. “se-mu-a?” perempuan penjaga stand terbata – bata mendengar perkataan veno. “iya semua!” veno mengulangi perkataannya. Dengan segera, perempuan itu mengambilkan gula kapan dan memberikan kepada veno. “harganya per gula kapas 20 ribu, dikali 8 totalnya 160 ribu!” ucap perempuan itu sembari menyerahkan gula kapas dengan sedikit kesulitan kepada veno. Veno pun menyerahkan dua lembar uang seratus ribuan pada gadis penjaga stand sembati berkata, “kembaliannya ambil aja dek!” ucap veno sambil berjalan meninggalkan stand.
Pria tampan dengan begitu banyak gula kapas warna – warni di tangannya, terlihat lucu dan sungguh menggemaskan. Banyak gadis yang seketika histeris melihat veno yang berjalan sembari membawa banyak gula kapas di tangannya. “ini di gula kapasnya!, habisin!” ucap veno sambil menyerahkan. Dio pun menoleh ke arah veno “ astaga ven, lu mau bikin gigi gua ompong? Kenapa beli banyak banget?” ucap dio dengan syok. “gua gak tahu lu pengen yang warna apa, jadi gua beli semuanya deh!” veno menjawab dengan santai tanpa rasa sesal. “apa pun itu, lain kali jangan beli terlalu banyak!” ucap dio sembari menerima gula kapas yang veno belikan.
Selesai acara pameran, dio dan veno bergegas pulang ingin segera mengistirahatkan tubuhnya yang sudah lelah sedari tadi. Dio yang kelelahan hanya diam sembari menyandarkan punggungnya di kursi sebelah veno mengemudi, dan mengubah posisi kursinya menjadi sedikit lebih condong ke belakang agar dio bisa lebih rileks, dan kursi penumpang belakang nampak terisi dengan gula kapas milik dio.
__ADS_1
Mobil veno telah meninggalkan sekolah dan melaju kencang di jalan raya. Nampak di belakangnya di ikuti oleh seorang pria misterius yang mengendarai motor tengah membuntut mengikuti laju mobil yang veno kemudikan. Begitu lelah dan fokusnya veno mengemudi, hingga tanpa veno sadari seorang sedang membuntutinya.