
“seorang bapak?” dio menatap kaget ke arah veno. “iya, aku jadi seorang bapak, dan kamu jadi seorang ibu!” saut veno dengan tatapan nakal. “ii,ibu?” dio terbata – bata menyadari maksud dari perkataan suaminya itu. “apa’an sih ven, belum siap gua!” dio yang ketakutan itupun seketika membuat jarak dengan veno sembari nampak ketakutan. “hahaha, asyik juga ya punya istri polos kayak gini!, sini sayang gak sakit kok!!” ucap veno mencoba menggoda dio. “apa’an sih!, gak lucu tau!!” dio menimpali dengan ketus.
Keseokan harinya, dio berangkat ke sekolah kembali diantar jemput oleh riko. “ven, gua berangkat dulu ya?” ucap dio berpamitan. “iya sayang, hati – hati di jalan ya?” saut veno sembari mengecup kening dio dengan mesra. Dio segera masuk ke dalam mobil, dan nampak riko telah menunggu cukup lama di dalam mobil.
“ceklak!” dio menutup mobil riko “kuy, gass!!” ucap dio pada riko. “pfftt!!” terdengar riko sedang menahan tawanya. “kenapa ko?” saut dio dengan ekspresi penasaran. “apa tiap harinya lu selalu bilang kayak gitu sama Pak Anton?” saut riko sembari masih menahan tawa. “iyalah, ya kali gua harus bilang “waktunya Pak Anton selaku sopir untuk menginjak gas. Waktu dan tempat kami persilahkan!”, kan lucu!, hahaa” dio menyauti sembari tertawa. mendengar perkataan dio yang lucu, rikopun ikut tertawa “hahaha”.
Dari kursi kemudi, riko melempar sebuah bungkusan kecil sembari berkata “nih buat lu, selamat ulang tahun ya!”. Bungkusan itupun mendarat tepat di kursi sebelah dio duduk “apa’an nih?” dio yang penasaran segera meraih bungkusan kecil itu dan membukanya. “waahh, coklat??” ucap dio dengan bersemangat. “namanya ghirardelli chocolate, coklat khas amerika!” jawab riko. “tapi kenapa cuma satu pack kecil ini aja ko?” saut dio. “lu tanya aja sama veno, kita disana tuh kerja!, gak ada waktu buat belanja!” saut riko menjelaskan. “huufft iya deh, thank you ko!” ucap dio.
__ADS_1
“gua masuk dulu ya?” ucap dio sembari turun dari mobil riko. “iya hati – hati!” saut riko. Diopun berjalan masuk melewati gerbang sekolah dengan ceria. Riko masih belum beranjak dan memandangi dio yang perlahan mulai menghilang dari pandangannya. “seperti ini ya rasanya kalau nganter pacar ke sekolah?” ucap riko dalam batin sembari tertawa kecil. Menyadari ucapannya yang tak seharusnya ia katakan, rikopun mnggeleng – gelengkan kepalanya sembari menggerutu “astaga, sadar ko dio tuh istri veno!, sepertinya gua harus lebih jaga jarak sama dio!” ucap riko dengan nada yang sedih. Sebelum riko meninggalkan sekolah, ia menoleh ke arah bangku belakang tempat dio duduk. “lho, itu kan tasnya dio? dia lupa gak bawa tas ternyata!, hahaha kok bisa sih tuh anak” rikopun tertawa terpingkal – pingkal.
Di kelas
Sesampainya di depan kelas, dio dikagetkan oleh suara kevin “di, tas kamu mana?”, “tas?” dio yang kaget itupun menoleh “gawat tas gua ketinggalan!” ucap dio sembari berlari kencang kembali ke gerbang. “semoga riko belum berangkat!” ucap dio dengan gelisah. Takut jika riko telah beranjak pergi, dio mempercepat lagi langkah larinya. Dari jarak yang tak begitu jauh dari gerbang, nampak riko sedang berdiri di samping gerbang sekolah sembari membawa tas milik dio. Merasa lega, diopun menghentikan larinya dan berjalan pelan sembari ngos - ngosan “huffftt, hufff, hufftt!!” “syukur aja riko belum pergi!” ucap dio dengan mengambil nafas dalam – dalam.
Seakan tak percaya, mereka bertiga menatap riko dari bawah ke atas, dan dari atas ke bawah dengan tatapan penuh keheranan. Pria tampan berbalut barang branded diseluruh tubuhnya, dan dengan entengnya dio sebut sebagai sopir, jelas saja mereka bertiga seakan tak percaya dengan apa yang didengarnya dengan yang dilihatnya saat ini. Cukup syok bagi riko disebut sebagai seorang sopir di depan teman – teman dio. Jabatannya sebagai asisten Direktur yang tinggi itu serasa jatuh mendadak dan terinjak. Sakit rasanya dikatai sebagai seorang sopir, namun ia tak punya pilihan lain dan tak ingin menyulitkan dio sehingga rikopun hanya bisa diam.
__ADS_1
“udah lah, kalian urusi hidup kalian aja!, gak perlu kalian capek - capek ngurusi hidup gua” ucap dio dengan ketus dengan suara yang cukup keras, sehingga memancing satpam gendut yang cerewet berjalan ke arahnya. Takut dihukum oleh satpam, ketiga perempuan usil itupun memutuskan pergi dengan ekspesi wajah kesal. Setelah ketiga perempuan itu pergi, diopun berjalan meninggalakan riko. “gua masuk dulu ya!!” saut dio sembari berjalan masuk meninggalkan riko. “iya!” saut riko.
Sesampainya di kelas, dio yang kelelahan itu duduk dengan lemas dan menyandarkan kepalanya di atas meja. “tumben – tumbennya lu lemes gini di?” saut indah sembari duduk di sebelah dio. “ceritanya panjang ndah!” saut dio dengan singkat. “gua punya berita heboh di!” saut indah dengan antusias. “drrtt!!” ponsel milik dio tiba – tiba bergetar dan mengagetkan dio “ada telfon dari veno?, ada apa ya?” dio yang penasaran segera mengangkat panggilan dari suaminya itu dengan penasaran.
“sayang, ada berita dari kantor polisi!” ucap veno. “apa? Gimana ven?” saut dio penasaran. “kedua pria yang sengaja bikin kamu kecelakaan udah ditemukan!, tapi masalahnya salah satu pelakunya itu ditemukan tewas. Jadi sekarang polisi sedang menyelidiki salah satu pelakunya yang masih hidup!, semoga dalang dibalik musibah yang menimpa kamu ini segera terbongkar!” ucap veno dengan nada yang puas. “waah syukur deh kalau gitu!!” dio menyaut dengan gembira.
Setelah menerima panggilan telefon, diopun mengakhiri panggilan dari veno dan memandang ke arah indah “tadi lu mau cerita apa ndah?” ucap dio sembari tersenyum. “di, lu tau dika yang dikeluarin dari sekolah gara – gara berantem sama kevin kan?” ucap indah dengan serius. “yupss, kenapa?” saut dio. “dia ditemukan jatuh ke dalam jurang dengan motornya, sepertinya dia kecelakaan tunggal dan jatuh deh!, ngeri kan?” ucap indah menjelaskan sembari bergidik ngeri.
__ADS_1
“tapi yang paling bikin gua ngeri lagi, ternyata dika salah satu tersangka perencana’an pembunuhan di!, iihh ngeri, gua sampai merinding!” saut indah sembari mengelus kedua lengannya yang merinding. “dika meninggal kecelakaan?, tersangka perencana’an pembunuhan?” dio terbelalak kaget dan tak berkata – kata sembari memandang ke arah kevin yang tengah bermain ponsel.