
“kenapa Bik Susi telefon?” ucap dio dalam batin sembari memandang ponselnya dengan rasa perasaan dan pikiran yang tak tenang. “hallo??” ucap dio menyahut. “non, nona ke Rumah Sakit sekarang!, tuan kritis non!” Bik Susi berkata dengan terbata – bata dengan suara yang terdengar seperti sedang menahan tangis. “apaaa???” diopun terperanjak kaget dengan sedikit berteriak. Bagaikan luka yang hampir kering tiba – tiba tersayat lagi, hati dio serasa teriris untuk kedua kalinya.
Seketika mata diopun berkaca – kaca dan menatap sedih ke arah kevin. Melihat perempuan yang amat dicintainya itu nampak sedih dan hampir menangis, kevin bertanya sembari meraih kedua pundak dio. “kenapa di??” ucap kevin dengan ekspresi yang penasaran. “papa kritis vin!!” ucap dio dengan tangan yang masih gemetaran karena syok. “ayo gua anterin ke Rumah Sakit!” ucap kevin dengan panik, sembari berlari menuju tempat parkir untuk mengambil motornya.
Takut jika hal yang tak di inginkan tiba – tiba menimpa papa dio, kevin yang ikut gugup itupun Memacu motornya dengan kecepatan penuh bak seorang pembalap yang dengan lincah menyalip kendaraan yang ada di depannya. Diopun menyabukkan kedua tangannya melingkari perut kevin dengan erat. Meskipun kevin bukan sepenuhnya pria yang baik, namun bagi dio kevin adalah seseorang yang selalu ada di sampingnya, terutama dalam kondisi ketika dio sedang tertekan dan menyedihkan seperti saat ini.
Mengingat kejadian saat mama dio yang tiba – tiba kritis dan akhirnya meninggal, Kevinlah yang mengantar dio dari sekolah menuju Rumah Sakit. Sehingga saat ini kevin ikut takut jika Papa dio tak tertolong sama seperti yang terjadi pada mama dio beberapa waktu yang lalu. “kamu tenang ya di, semoga papa kamu gak kenapa – kenapa!” ucap kevin sembari mengelus lembut tangan dio. Diopun mengangguk guna meng iyakan.
Sesampainya di Rumah Sakit, dio langsung berlari menuju ruang perawatan papanya dengan wajah yang nampak ketakutan. Diopun menghampiri Bik Susi yang saat ini sedang mondar mandir kebingungan di depan ruang perawatan papannya. “bik, papa kenapa??” ucap dio dengan penasaran. “tuan kritis non, semoga tuan baik – baik aja!” ucap Bik Susi sembari memeluk tubuh dio yang nampak lemas tanpa tenaga. “semoga papa kamu baik – baik aja di, kamu yang sabar dan tenang ya?” ucap kevin menyaut sembari mengelus pudak dio dengan lemah lembut.
__ADS_1
Melihat pria lain bersama majikannya yang telah bersuami, Bik Susi memandang kevin dengan tatapan penasaran. Begitu banyak pertanyaan yang muncul dalam benak Bik Susi yang ingin ia tanyakan pada majikannya, namun dalam kondisi seperti saat ini, Bik Susi hanya bisa berfikir positif dan mengubur rasa penasarannya terhadap pria tampan yang bersama majikannya itu.
Nampak seorang dokter keluar dari ruangan perawatan Pak Rafli dan berjalan menghampir dio maupun Bik Susi. “gimana keadaan papa saya dok?” ucap dio dengan penasaran, dan jantung diopun terpacu kencang menunggu jawaban dari dokter yang berdiri depannya itu. “pasien atas nama Tn Rafli telah keluar dari masa kritis, dan saat ini beliau masih harus menerima perawatan yang intensif dan belum bisa dijenguk !” ucap Dokter paruh baya tersebut menjelaskan. Mendengar kabar baik jika papanya telah keluar dari masa kritis, seketika diopun bisa bernafas lega dan perasaannya menjadi lebih tenang.
Saat ini dio tengah duduk di kursi tunggu Rumah Sakit dan hanya ditemani oleh kevin yang duduk di sebelahnya. Dio yang teramat panik saat baru tiba di Rumah Sakit, tak Menyadari jika ia telah berlari kencang dari tempat parkir menuju ruang perawatan yang letaknya cukup jauh. Dan saat ini Yang dio rasakan hanyalah pegal pada kakinnta. Saat ini dio tak lagi panik ataupun gelisah, namun ia nampak lebih santai dan lebih tenang dari sebelumnya. Ia pun duduk di kursi tunggu dengan posisi kaki yang ia biarkan mengulur ke depan dan menyandarkan punggungnya pada permukaan tembok di belakangnya .
Kevin masih setia menemani dio yang tengah tertidur. Ia terus memandangi wajah polos dio dengan tatapan penuh ketertarikan dan sesekali mengelus lembut rambut dio yang tergerai indah. Kevin tak mengerti mengapa hasrat untuk memiliki dio dari dalam tubuhnya semakin dalam. Padahal sebelum ia menyampaikan perasaannya terhadap dio, ia masih bisa sedikit menahannya. Namun saat ini ia benar – benar tak bisa mengontrol perasaan maupun gejolak dari dalam hatinya yang menggebu – gebu untuk memiliki wanita yang tidur di sampingnya itu.
Tak lama, kevin dan riko pun tiba di Rumah Sakit dan berjalan dengan tergesa – gesa dengan ekspresi yang nampak gelisah. Memandang ke arah kursi di depan ruang perawatan papa mertuanya, veno memperlambat langkahnya melihat Istrinya tengah tertidur pulas di sebelah kevin. Tak berkata – kata, veno segera menghampiri dio dan langsung menggendongnya untuk ia bawa menuju mobil dan pulang. Melihat dio yang digendong oleh veno, hati kevin terasa seperti terbakar.
__ADS_1
Keesokan harinya.
“hoaaamm!” dio menguap sembari membuka matanya perlahan. “selamat pagi sayang!” veno menyambut kebangunan dio dengan ramah. “ehm pagi!” dio menyahut dengan malu – malu. “muaah!” veno mengecup mesra kening dio dengan tiba – tiba. Melihat begitu tulusnya veno terhadapnya, rasa sesak dalam hati dio pun bergejolak. Mengingat kejadian kemarin yang terjadi diantara dirinya dan juga kevin, termasuk sebuah tindakan pengkhianatan. “maafin gua ya ven!” ucap dio dalam batin.
Tiba – tiba dio teringat dengan dirinya yang tertidur di depan ruang perawatan papanya, dio segera bangkin dan menghampiri veno “ven, kemarin lu jemput gua di rumah sakit kan? Gimana keadaan papa?” dio bertanya dengan ekspresi kawatir. “tenang aja, papa sekarang udah keluar dari masa kritis, hanya saja papa masih belum sadar, kamu tenang aja, kamu harus tetap fokus sekolah” veno mencoba menenangkan dio yang tengah panik. “makasih ya ven!” sahut dio sembari memeluk veno dengan erat. “gua akan fokus sekolah dan mencapai tujuan utama gua buat nerusin perusahaan papa,dan ngambil alih seluruh perusahaan yang udah diambil oleh om dan tante!” dio menimpali. Veno pun tersenyum dan mengelus lembut rambut dio.
Di meja makan.
“ven, nanti siang gua mau ke perusahaan lu!” ucap dio. “mau mampir?” veno menyahuti. “bukan!, gua mau kerja sama dengan perusahaan lu!” dio menambahkan. “mana proposalnya, biar gua lihat!” ucap veno sembari mengulurkan tangannya ke arah dio. “biar kelihatan lebih formal dan buat dokumentasi, gua bakal kesana sama temen kelas gua. Tapi lu jangan keluar ya!, soalnya temen – temen gua mikirnya lu cuma karyawan biasa di situ!” dio menjelaskan. “yaelah ribet!” veno menyahuti. “inget pesen gua, jangan nemuin kita loh!” dio memperingatkan lagi. “iya bawel!, ucap veno sembari mencubit pipi dio dengan gemas.
__ADS_1