
Dio telah selesai menandatangani seluruh berkas – berkas berkaitan dengan pemindahan hak milik perusahaan dan masalah lainnya bersama om jonathan di depan notaris. Veno senantiasa menemani dio sepanjang proses berlangsung, sembari duduk menyimak di samping dio. Setelah seluruh proses selesai dilaksanakan, om jonathan segera berpamitan pulang pada dio. “dio, om pamit pulang.!!, jika butuh sesuatu, jangan sungkan untuk hubungi om.!” Ucap om jonathan. Tak hanya itu, om jonathan juga berpesan terhadap veno. “veno, om titip dio ya.!!, tolong jaga dio, karena yang dio punya sekarang cuma kamu.!!” Ucap om jonathan. “iya om, veno pasti akan menemani dan mendukung dio” veno menjawab dengan nada yang tegas dan pasti. Mendengar jawaban dari veno yang tegas dan lugas, om jonathan pun tersenyum puas. Setelah selesai berpamitan, om jonathan dan notaris itu akhirnya meninggalkan rumah dio.. Dio yang masih syok setelah mendengar semua kabar mengenai masalah perusahaan , dan biaya perawatan papanya, membuat dio terdiam dantak bisa berkata apa - apa.
Saat ini hanya veno dan juga dio yang tengah duduk di ruang tamu. Melihat istrinya yang terdiam karena masih syok, veno pun memberanikan diri untuk memegang kedua tangan dio. Dengan perasaan yang campur aduk, dan getaran pada dadanya yang berdebar kuat, veno menggenggam kedua tangan dio dengan kedua tanganya. Kini kulit tangan dio dan juga veno saling bersentuhan satu sama lain. Merasakan kedua tangannya yang tengah digenggam oleh veno, dio tak memberikan respon penolakan. Ia hanya memandang wajah veno dengan ekspresi sedih, dan kedua mata yang berkaca - kaca. Melihat respon dio yang tak memberikan penolakan terhadap dirinya, veno merasa bersyukur. Ia pun berkata “meskipun hubungan kita belum terlalu dekat, aku bakal ada buat kamu dalam kondisi apapun itu.!!”, “kamu jangan takut ya.!! Ada aku disini.!!” ucap veno dengan segala ketulusan dari dalam hatinya. Mendengar perkataan veno yang begitu dalam, tangis di kedua mata dio pun pecah. Dengan sadar, dio pun memeluk tubuh veno untuk pertama kalinya. Saat ini ia sedang menagis tersedu dalam pelukan veno. Veno pun membalas pelukan dio dengan memeluknya balik, dan sesekali mengelus rambut dio dengan lembut.
7 hari kemudian.
Sudah genap 7 hari sudah mama dio berpulang untuk selama - lamanya. Dan sudah 7 hari juga dio melewatkan pelajaran yang harusnya ia terima di sekolah. Selama 7 hari ini, dio tak banyak melakukan kegiatan.
Hanya diam di rumah, dan rutin pergi ke Rumah Sakit untuk menjenguk papanya yang masih belum sadarkan diri. Semenjak tersitanya semua aset maupun rumah orang tua dio, pembantu rumah dio yakni bik susi tak lagi bekerja untuk keluarga dio. Melihat kondisi bik susi yang begitu setia dan bertanggung jawab dengan pekerjaannya, veno pun memutuskan untuk memperkerjakan bik susi untuk secara bergantian merawat papa dio.
Pagi ini dio sedang bersiap untuk berangkat ke sekolah.
Veno yang masih kawatir dengan kondisi psikis dio itu sedang mondar mandir di depan meja makan, sembari menunggu dio yang keluar dari kamar. Karena begitu banyak kejadian yang telah menimpanya dio, membuat dio merasa begitu terpukul dengan kondisinya saat ini. Dio seorang pribadi yang bawel dan ceria, kini berubah menjadi seseorang yang pendiam, dan cenderung tertutup. Veno kawatir dengan perubahan psikis dio saat ini, akan membuat dio menjadi kesulitan saat berada di sekolah. Sempat terfikir dalam benak veno, untuk membawa dio ke
psikiater. Namun veno percaya, bahwa dio pasti kuat dan bisa kembali menjadi diri dio sendiri.
“taak.!. taak.!.tak.!!” suara langkah kaki dio mulai terdengar berjalan menuju ruang makan.
Veno yang mendengar suara langkah kaki dio yang semakin dekat itu, menjadi gelisah.
__ADS_1
“pagi ven!!” dengan senyum cerah yang terlukis dalam bibir mungil dio, ia menyapa veno. Veno hampir tak
percaya dengan apa yang dilihatnya saat ini. veno terdiam dan hanya memandang dio kaget.
“ven..!!” dio melambaikan tangannya di depan veno yang tengah bengong dengan mulut menganga itu.
“ohh, hai di..!!” veno pun menjawab dengan ekspresi yang masih bingung. “Bu Ani masak apa nih..??”
dio mendekat ke arah Bu Ani yang sedang menata makanan. “saya masak bubur ayam kuah kari kesukaan nyonya.!!” bu ani menjawab sambil tersenyum. “waaahhh..!!, jadi tambah laper nihh., aku mau makan ahh..!!”
dio mengambil bubur yang telah tersaji di atas meja makan itu, dan segera menghabiskannya.
Dio yang sudah selesai sarapan, bergegas untuk berangkat ke sekolah.
“tunggu di.!!” Veno menghampiri dio yang hampir masuk ke dalam mobil. “kalau ada yang ganggu’in lu di sekolah, bilang ke gua.!!, biar gua kasih pelajaran.!!” Veno berkata serius kepada dio. “pfftttt.!!” Dio menahan tawa, “pelajaran.?? Pelajaran apa nih.?, matematika?, fisika?, atau pelajaran apa nih.?” Dio mencoba menggoda veno yang tengah berkata serius itu.
Mendengar jawaban dio, veno melepas nafas panjang.
Tangan kangan veno diangkatnya sejajar dengan kepala dio. dan “cettak.!!!” Veno menyentil kening dio karena gemas. “uuhh, sakit tauuuk.!!!” “ceplaasss.!!” Dio membalas dengan memukul punggung veno dengan sekeras tenaga. Melihat veno kesakitan sambil memegangi punggungnya itu, ia segera kabur masuk ke dalam mobil.
__ADS_1
“ayo pak cepat gasss..!!” dio meminta pada pak anton untuk segera menginjak gas. Mobil dio pun mulai melaju. Sembari setengah kepalanya keluar dari jendela ia menjulurkan lidahnya guna menggoda veno yang sedang kesakitan itu. “awaaass aja nanti gua bales.!!” Veno mengomel sambil mengepalkan tangan kanannya mengarah pada dio yang tengah melet itu.
Akhirnya dio sampai di sekolah. Dalam perjalanan menuju kelas, dio hanya berjalan sendirian.
Beberapa siswa terlihat sedang berbisik sambil sesekali melirik ke arah dio. Dan beberapa siswa lain terlihat memandang dio dengan pandangan yang iba. Saat ini diio tengah menjadi sorotan bagi para siswa di sekolahnya. Seperti sebuah tontonan, para siswa memandang dio dengan seksama. Namun, sebagian besar siswa
yang tengah memandang dio saat ini, menunjukkan ekspresi wajah yang kurang mengenakkan pada dio.
Dio merasa kurang nyaman dengan dirinya yang tengah menjadi pusat perhatian, sekaligus bahan perbincangan bagi siswa di sekolahnya. Namun dio mencoba tetap terlihat tenang, seakan tak ada masalah yang sedang menimpanya.
Dio sampai di dalam kelas.
“haaii sayangku..!!” dio menghampiri indah yang tengah berbincang dengan teman lainnya. “dio..?, waahh.!, akhirnya lu masuk sekolah” indah memeluk dio dengan ekspresi bahagia dan histeris. Indah terlihat begitu senang melihat dio yang telah kembali bersekolah. Kevin yang tengah menyandarkan kepalanya di atas meja, dan hampir saja tertidur itu kaget mendengar suara dio. Ia segera mengangkat kepalanya, dan menoleh kepada sosok dio yang berada tak jauh dari bangkunya itu. “dio.!!” mata kevin berbinar melihat wanita yang ia sukai itu telah kembali bersekolah.
Mendengar suara indah dan dio yang tengah histeris, dina menoleh ke arah mereka berdua sambil berkata ketus “duuhhh.!!, kalian apa’an sih.!!, berisik banget.! Kalau mau....!”, belum selesai dina berkata ketus pada dio, “bruuaaakk.!!” kevin menendang kursi yang ada di sampingnya, hingga kursi itu terpental jauh.
Ia memandang ke arah dina dengan tatapan tajam dan penuh amarah. Kevin pun berkata pada dina “lu berisik
banget..!!” melihat kevin yang memberikan ekspresi marah terhadap dirinya, dina terdiam seketika.
__ADS_1
Ia hanya bisa menggigit bibir bawahnya karena kesal melihat kevin yang tak henti – hentinya membantu dio.
Karena suara kursi yang begitu keras, seluruh murid yang berada di dalam kelas terdiam, dan secara bersamaan menoleh ke arah kevin. Kevin berdiri dan berjalan menghampiri dio. “hai di..!!, akhirnya kamu bisa masuk sekolah lagi.!” dengan senyum yang begitu lebar, kevin menyapa dio. Para siswa lain itu terkejut, melihat sikap kevin yang tadinya penuh amarah, bisa berubah 360 derajat menjadi lemah lembut hanya dalam hitungan detik saja di depan dio. sungguh bukan lagi rahasia bagi murid di sekolah, jika kevin menyukai dio. Namun, karena kevin belum pernah mengutarakan perasaannya secara langsung pada dio, membuat dio menganggap kevin sebagai salah satu sahabatnya. Dan tak pernah berfikir aneh – aneh mengenai perasaan kevin terhadapnya. “haii, vin.!!, dio menjawab sapa’an kevin sambil tersenyum.