
Setelah pembagian piala penghargaan, ketiga murid berprestasi yang maju ke depan kelas itu segera kembali duduk di tempatnya masing – masing. Setelah menerima piala penghargaan, bukan wajah bangga ataupun bahagia yang terpancar dari wajah dio. Ia nampak biasa saja, seperti sedang tidak terjadi apa – apa pada dirinya.
Dan dengan entangnya, ia menenteng piala itu, dan berjalan santai ke arah veno. “ekspresi dio saat ini persis kayak gua waktu masih sekolah.!” Ucap veno dalam batin. Mengingat kejadian saat veno masih sekolah di bangku Sekolah Dasar, hingga ia lulus SMA, veno selalu mendapat peringkat pertama. Bahkan lulus kuliah pun veno adalah lulusan dengan predikat Cumlaude dengan nilai terbaik se angkatan. Gelar juara pun sudah melekat dengan erat pada diri veno. Karena sudah seringnya veno dipanggil maju karena meraih juara, ekspresi veno bukan lagi bahagia ataupun bangga. Ia merasa biasa – biasa saja.
Dio segera duduk di kursinya, yakni di sebelah kursi veno. “nih bawa’in.!!” Dio berkata, sembari memberikan piala yang ia pegang itu kepada veno. Indah memutar badannya, dan menghadap ke arah dio yang tengah duduk tepat di belakangnya. “selamat ya di.!, jangan harap gua ngasih hadiah selamat buat lu.!!, bisa miskin mendadak dong gua kalau ngasih elu hadiah mulu.!!”, “gak bosen apa, juara terus – terusan.??” Ucap indah dengan nada yang ketus guna menggoda dio. “lu ketus banget.!! mau ngucapin selamat, atau mau ngajak ribut nih.???” Dio menyauti canda’an indah. “hehehe, lagian lu dikit – dikit juara sih.!!, mama gua terus mbandingin nilau gua sama nilai elu.!!” “saking seringnya gua dibandingin mulu, gua jadi merasa terdzolimi deh.!!, huhuhu.!!” Ucap indah dengan nada yang sedikit kesal.
Tiba – tiba mama indah ikut memutar badannya kebelakang, dan menghadap ke arah dio. “siapa yang terdzolimi hemm.???” Ucap mama indah sembari menjewer salah satu telinga indah. “aaaa,, sakit ma.!!” Indah merengek kesakitan. “kamu ini ndah.!!, masalah pelajaran lemotnya minta ampun.!!, giliran main dan jajan kamu gercepnya gak ketulungan.!!!” Saut mama indah sembari terus menjewer telinga indah. “ampun ma.!!, sakit tau.!!, iya –
iya bakal aku gercepin lagi.!!, hehe” ucap indah sembari tertawa kecil. “apanya.??” Saut mama indah penasaran. “gercep mainnya.!!, hahaha” indah menjawab sembari tertawa usil. “kamu ini ndah.!!, dasar.!!” Percakapan indah
__ADS_1
dan mamanya, membuat dio merasa iri. Karena sudah tak ada lagi sosok ibu dalam kehidupannya, dio hanya bisa mengenang moment – moment bahagianya pada saat mamanya masih ada. Melihat ekspresi dio saat ini, veno sudah paham, jika dio tengah iri dan hanya bisa mengingat moment bahagianya bersama mamanya.
Akhirnya semua kegiatan telah selesai dilaksanakan. Perlahan para tamu dan murid meninggalkan ruang kelas dan segera pulang. Belum beranjak dari tempat mereka duduk, dio dan veno di datangi oleh Bu Ima. “saya boleh minta waktunya sebentar.?, ada hal yang harus saya diskusikan dengan anda, mengenai dio.!!” ucap Bu Ima pada veno. “iya, boleh.!!” Saut veno. “baik kalau begitu, saya tunggu di ruangan saya.!!” Saut Bu Ima dengan senyum yang amat lebar dari bibirnya. Bu Ima pun berjalan keluar menuju ruang kerjanya. “waahh, gak nyangka bibir Bu Ima se elastis itu.!!, senyumnya lebar banget!!, jadi takut ihh.!!” dio berkata dengan ekspresi heran dari
wajahnya. “mirip joker ya.??” Saut veno singkat. Dio memandang ke arah veno dan, “hahahahahaha.!!!!” Dio terbahak – bahak mendengar perkataan singkat yang veno ucapkan itu.
Veno dan juga dio berjalan membuntuti Bu Ima dari belakang, menuju ruang kerja Bu Ima. “lu abis bikin masalah apa.?, kok gua juga ikut di panggil segala.?” Ucap veno sembari berbisik pelan pada dio. “gak tau lah.!!” Jawab dio singkat, sembari mengangkat kedua pundaknya. Mereka bedua akhirnya masuk ke dalam ruang guru, dan berjalan menuju meja ruang kerja Bu Ima. Lagi – lagi veno menarik perhatian para guru yang tengah berada di ruang guru.
Veno dan dio saat ini duduk tepat di depan Bu Ima di ruang kerja Bu Ima. Dengan posisi ruang kerja Bu Ima yang sedikit memojok, tak jauh dari meja para guru. Karena Bu Ima adalah seorang wali kelas, maka ruang kerja Bu Ima terpisah dari meja guru lainnya, dan tersekat oleh dinding. Berbeda dengan meja guru mata pelajaran biasa yang saling berjerjer satu sama lain, meja Bu Ima lebih memiliki privasi. Dengan wajah yang masih berseri – seri, bu Ima memulai obrolannya dengan veno. “baik, sebelum saya menyampaikan beberapa hal mengenai dio, boleh saya tahu apa hubungan anda dengan dio.?”.
__ADS_1
“gawat.!!, gua belum briefing veno buat jawab pertanyaan semacam ini.!!” dio berkata pada batin.
Nampak dari ekspresi dio saat ini, ia tengah kawatir dan juga gelisah, akan jawababan apa yang akan veno
berikan pada Bu Ima. “saya tunangannya dio.!!” veno menjawab dengan tegas. Mendengar jawaban dari veno, Bu Ima terbelalak kaget. “tu, tunangan.??, bukannya masih terlalu dini bagi siswi yang baru naik kelas 3 SMA seperti dio untuk bertunangan.?” Ucap Bu Ima kaget. Seakan tak percaya dengan hubungan mereka berdua, Bu Ima nampak terdiam karen syok. “good boy.!!, untung veno gak bilang kalau dia tuh suami gua.!!”, dio merasa lega dengan jawaban yang keluar dari mulut veno. “selagi pasangan saya bisa berkomitment, usia bukan halangan
bagi saya.!!” Ucap veno menyauti pernyataan Bu Ima. Mendengar perkataan veno barusan, Bu Ima nampak lebih syok lagi dan, “jleeebbb..!!!” jantung Bu Ima bagaikan tertancap paku yang telah berkarat. Karena usia Bu Ima yang saat ini menginjak 28 tahun, dan masih menyandang status jomblo, Bu Ima bagai tertampar melihat anak didiknya yang bahkan masih belum lulus SMA itu telah bertunangan, dengan seorang pria tampan yang juga mapan. Sungguh hal yang bisa membuat orang lain iri.
Mendengar jawaban tegas dan dewasa dari mulut suaminya, membuat hati dio merasa tersentuh. Dan secara reflek, dio memegang tangan veno dengan erat. Seperti tak sanggup berkata apa – apa atas hubungan dio dan juga veno, Bu Ima terdiam sejenak tak bisa berkata – kata. Sampai beberapa lama, Bu Ima meluruskan tujuan awal dirinya memanggil veno , yakni untuk mendiskusikan beberapa masalah pada dio. Yakni pilihan minat dio yang terlampau jauh dari bakat dan kemampuan yang ia miliki saat ini. “baik saya luruskan lagi, tujuan utama saya memanggil anda sebagai wali dio yakni guna membahas masalah bakat dan minat yang telah dio pilih.!!” Ucap Bu Ima menjelaskan. Nampak veno tengah menyimak perkataan Bu Ima.
__ADS_1
“jadi saya akan jelaskan.!!”. “dio adalah salah satu siswi dengan jurusan IPA, dengan segudang prestasi yang telah dio raih. Khususnya dibidang matematika!”. Namun sayangnya, saat pengumpulan lembar minat, dio memilih untuk masuk Perguruan Tinggi dengan jurusan Management Bussines.”, “menurut saya, ini adalah sebuah pilihan yang kurang tepat bagi dio!”, “berdasarkan kemanpuan yang di miliki dio, harusnya dio tidak memilih untuk masuk kuliah dengan jurusan bisnis.!!” Ucap Bu Ima dengan tegas. “lalu menurut ibu, pilihan terbaik apa yang harus dio ambil.?” Veno menjawab singkat. “menurut saya, dio harusnya melanjutkan kuliah dengan jurusan yang masih berkesinambungan dengan kemampuannya saat ini.!, misalkan jurusan Ilmu Matematika, Statiska, atau Fisika Murni.!!” Saut bu ima mejelaskan. “apa ibu yakin, jika dio memilih salah satu dari tiga jurusan itu, dio bakal hidup sukses dan bahagia.?, apa ibu bisa menjaminnya??” Veno bertanya balik dengan nada menantang. Belum sempat Bu Ima memberi jawaban, veno meneruskan perkataannya “menurut saya sebagai orang terdekat dio saat ini, saya akan mendukung apa pun jurusan yang akan di ambil oleh dio nanti.!!”. “karena saya yakin, dio adalah seseorang yang bisa bertanggung jawab atas pilihan hidupnya.!!” Veno berkata dengan penuh kebijaksana’an.