
Mengingat kembali pada ucapan riko saat berada di kantor “ven, mungkin mulai hari ini istri lu bakal ngalamin hal gak menyenangkan di sekolah. Dan dalam beberapa hari ke depan, mungkin hubungan kalian berdua akan sedikit renggang, karena dio pasti berfikir kalau lu gak ada niatan buat ngambil tindakan buat mengatasi masalah ini!", "selama beberapa hari ini lu harus terus ngalah, dan hindari pertikaian!” ucap riko memberikan wejangan terhadap veno.
“lho, nyonya gak pamitan sama tuan?, tadi nyonya talfon saya, nyonya bilang kalau masih mau keluar sama temannya tuan!” saut pak anton menjelaskan dan membuyarkan lamunan veno. “huufffttt!!” veno pun menghembuskan nafas panjangnya sembari berjalan menuju ruang TV. Dengan penyesalan yang terus membayangi pikirannya, veno merasa telah gagal menjadi seorang suami yang baik.
“maafin gua ya di, gua terlalu ceroboh!” ucap veno menggerutu dalam batin. “tuan, makanan sudah saya siapkan di meja makan!” ucap bu ani dengan sopan. “biarin bik, gua masih mau nunggu dio pulang!” ucap veno sembari memegang perutnya yang mulai kelaparan itu. Menunggu cukup lama, veno akhirnya ketiduran di sofa di depan TV dengan kondisi perut yang masih belum terisi.
Tak begitu lama setelah veno tertidur, dio pun tiba di rumah. Kaget dengan suaminya yang tengah tertidur pulas di atas sofa, dio pun menghentikan langkahnya, dan berhenti sejenak untuk memandang wajah suaminya itu. “aaaaa!!, aaaaa!!!” tiba – tiba veno berteriak histeris dengan keringat yang mengucur deras dari kening beserta sekitar wajahnya. Karena tak tega melihat suaminya dalam kondisi yang seperti ini, dio tak bisa meninggalkan veno sendiri, dan dengan sabar duduk menunggu hingga veno terbangun dari mimpi buruknya.
Setelah cukup lama menunggu, akhirnya veno pun terbangun dari mimpi buruknya dengan gelagapan. Wajahnya pucat pasi, dan tangannya nampak gemetar ketakutan. Melihat dio tengah duduk menunggu di sampingnya, veno pun spontan menggenggam tangan dio dengan erat “dio!” ucap veno sembari menatap wajah dio.
Karena perasaan kesalnya terhadap veno masih belum hilang, dio pun memalingkan wajahnya dan berjalan meninggalkan veno sendiri. “di, kamu udah makan malam? Ayo kita makan bersama!” saut veno dengan suara cukup keras agar dio mendengar. “udah makan!” dio pun menyahut dengan ketus, sembari terus berjalan menuju kamar.
__ADS_1
Sejujurnya veno merasa sedikit kecewa. Pasalnya, setelah menunggu cukup lama dan menahan rasa lapar yang amat menggelitik perutnya, veno berharap bisa makan bersama istrinya. Namun sayangnya dio sudah makan saat berada di luar bersama temannya. “kruyuk !!” perut veno pun berbunyi ke sekian kalinya. Tak bisa menahan lagi, veno pun berjalan menuju ruang makan “gua makan sendiri aja deh!” ucap veno sembari memegang perutnya yang terasa perih itu.
Veno mulai menyantap makanan dingin yang telah tersaji sedari tadi di meja makan. “lho, tuan veno kok baru makan? Padahal makanannya sudah saya siapkan dari tadi sore. Apa saya angetin lagi makanannya tuan?” sahut bu ani dengan tiba – tiba. “enggak usah bik!” saut veno. Nampak dio yang berjalan menuju dapur untuk minum pun tak sengaja mendengar percakapan antara veno dan juga bu ani.
Mengetahui jika veno sedari tadi telah menunggunya untuk makan bersama, dio pun merasa terharu. “ternyata veno dari tadi nunggu’in gua buat makan bersama, jadi merasa bersalah deh gua!, tapi kalau gak gara – gara tindakan veno yang ceroboh, gua gak mungkin di bully di sekolah!. Gimana pun gua harus bikin perhitungan sama veno, biar dia gak se enaknya sendiri kalau bertindak!” ucap dio dalam batin.
Mengingat kembali atas kesalahan yang veno buat, dio pun berencana membuat perhitungan dengan cara berperilaku ketus dan cuek terhadap veno. Dio pun melanjutkan langkahnya yang sempat terhenti itu ke arah kulkas. Melihat dio di depan kulkas, veno pun berkata “di, tadi waktu pulang gua beli'in camilan kue kering kesuka’an kamu loh!, gua taruh di meja kamar!!” ucap veno dengan suara yang cukup keras. “ya!!” dio menyahut singkat. Lagi – lagi dio merespon dengan ketus, hingga membuat veno pun seketika menjadi sedih.
Kehidupan dingin, kesepian dan monoton yang dulu begitu melekat dalam kehidupan veno, kini telah sirna dan berubah menjadi hangat semenjak dio hadir dalam kehidupannya. Namun perasaan tersebut hadir lagi, sejak dio tak lagi mau bercengkrama bersama, dan acuh tak acuh terhadap dirinya. Sungguh sulit bagi veno menerima perlakuan istrinya yang teramat dingin itu. Tak tahan dengan situasi keluarganya yang menyiksa batin, veno pun tak mau hal ini terus terjadi dalam hubungannya bersama dio.
Dio sedang membaca komik di meja belajarnya. Nampak veno yang baru pulang dari kantor sedang berjalan mendekat ke arah istrinya. “baca apa sayang?” ucap veno dengan mesra. Namun lagi – lagi dio tak memberi respon hangat, dan hanya diam tanpa memberikan jawaban. Tak menyerah, veno membungkukkan badannya, mencoba mencium istrinya. Namun dio yang masih kesal itu pun berkata “apa’an sih!, lu ganggu aja!” ucap dio dengan ketus dan kasar. Mendengar ucapan dio yang ketus, veno membalikkan badannya dan berjalan meninggalkan dio.
__ADS_1
Namun ide cemerlang tiba – tiba melintas di tengah otak veno yang tengah kacau itu. veno pun mencoba mengasah kemampuanya dalam berakting. Mencoba melemaskan otot tubuhnya, veno membungkukkan badannya dan berjalan terseok – seok. Mulai melambatkan langkah kaki dan gerakan tubuh, veno mulai memejamkan matanya dan “bruaak!!” veno pun menjatuhkan tubuhnya di lantai tepat di pinggir tempat tidur. Cukup sakit bagi veno yang sejatinya masih sadar itu, namun veno ingin melihat bagaimanakah reaksi istrinya itu.
Dio pun menoleh dan memandang ke arah veno. Melihat suaminya yang tiba - tiba jatuh tersungkur, dio pun melompat dengan spontan, dan dengan sigap menghampiri veno. Begitu apik veno mendalami akting, hingga dio tak menyadari jika suaminya tengah memainkan perannya yang sedang tak sadarkan diri. Alhasil dio pun histeris dan ketakuktan melihat suaminya yang terkulai lemas tanpa kesadaran. Dio pun berusaha memanggil nama suaminya berulang kali “ven, please ini gak lucu, bangun ven!, ven bangun ven!, veno!!” ucap dio sembari menggoyang - goyangkan badan veno.
Menyadari jika suaminya tak kunjung sadar, dio nampak syok dan mencoba menahan air mata yang mendesak keluar dari kedua matanya. “ven, please ven lu harus bangun ven!!” dio terus mencoba membagunkan veno yang tengah kehilangan kesadaran itu. Merasa jika istrinya begitu tulus terhadapnya, dan tak sanggup lagi bagi veno terus melihat dio dalam kesedihan, veno pun membuka matanya sembari tersenyum cengingisan “hihihi”.
Merasa telah tertipu, dio pun memukul tubuh veno itu dengan cukup keras “buu!, buuk!, berani – beraninya lu mainin gua ya ven!!” ucap dio sembari terus memukul veno. “aduh, ampun di ampun!!, gua cuma mau perhatian dari lu di!” saut veno dengan ekspresi sedih. “tapi gak gini juga caranya ven!” saut dio dengan nada meninggi. “tapi gua udah kehabisan akal buat ngebujuk lu biar gak marah, terus gua harus gimana di?, apa gua harus bikin konferensi pers buat ngumumin pernikahan di antara kita?” ucap veno. “lu gila? Apa lu pengen gua di DO dari sekolah?” ucap dio dengan ketus. “terus gua harus gimana buat minta maaf?” saut veno dengan penuh penyesalan.
“udah lah, males gua sama lu!” dio menyahut dengan ketus. “ok, kalau gitu jangan salahin gua, kalau gua bakal bikin konferensi pers buat ngumumin kalau lu adalah nyonya veno sebastian, istri gua!!” saut veno dengan nada mengancam. Nampak ekspresi veno saat ini tengah serius. Hingga dio pun merasa gentar melihat veno yang terkesan nekat iku. “apa’an sih lu ven, jangan aneh – aneh!!” saut dio dengan ekspresi yang nampak kebingungan.
Tak menjawab, veno pun segera duduk dan mengambil ponsel dalam sakunya, dan mencoba menghubungi riko. “hallo ko!” ucap veno datar. “hallo ven, ada masalah apa?” sahut riko penasaran. Riko telah mengenal veno dengan baik, dan mengerti betul jika veno tak akan menghubunginya duluan jika bukan karena masalah yang amat penting. “gua mau bikin konferensi pers!” saut veno dengan tegas dan lugas.
__ADS_1