
Mengingat ucapan terakhirnya sebelum diomengalami kecelakaan, kevin berpesan pada dio untuk menghubunginya sewaktu - waktu jika terjadi sesuatu hal yang tidak di inginkan di jalan. Namun kenyataanya, kevin menemukan riwayat panggilan dari dio menghubungi veno. Dan lebih kesalnya lagi, veno malah mengabaikan telefon penting dari dio itu.
Kevin merasa kecewa dengan dirinya sendiri, mengapa ia tak langsung membuntuti dio di belakangnya. Mungkin jika ia langsung membuntuti dio dari belakang, kejadian na’as ini tak akan terjadi pada dio.
“keluarga atas nama nona dio!!” ucap salah satu dokter yang menangani perawatan dio di ruang UGD. Dengan sigap kevin dan sopirnya menghampiri dokter tersebut dengan rasa was – was dan juga kawatir berlebih. “gimana dok keadaan dio?” ucap kevin penasaran. “karena tanda vital dari pasien mulai stabil, keluarga pasien boleh menemani di dalam!!” ucap dokter itu dengan sopan.
Tak memberi jawaban, kevin pun berjalan dengan tergesa – gesa menghampiri dio yang masih terbaring lemas. Dengan seksama, kevin memandangi dio dengan hati yang teramat sakit. Melihat wanita yang ia cintai dalam kondisi yang seperti ini, kevin tak bisa membohongi diri jika saat ini ia merasa begitu hancur. Melihat kepala dio yang berbalut kasa sebagai penutup luka, dan terpasangnya penyangga leher pada leher dio, serta beberapa luka lecet di sekujur tubuh dio, membuat kevin semakin bergetar ketakutan. Dengan langkah yang masih ragu – ragu, kevin mendekat ke arah dio, dan memegang tangan dio yang lemas tak berdaya itu.
“dio, kamu harus sadar!” ucap kevin dalam batin. Merasakan adanya gerakan pada tangan dio, seketika kevin pun memandang tangan dio dengan seksama. Dengan jelas, dio menggerakkan jari jemarinya yang lemas itu dengan perlahan. ‘kevin!!” terdengar suara dio memanggil kevin dengan lirih. “di,dio kamu udah sadar?” ucap kevin dengan bersemangat sembari meremas tangan dio dengan cukup keras, hingga dio pun merasa kesakitan. “aduh vin, sakit tau!!” ucap dio dengan ketus. “maaf di, maaf!!, apa yang kamu rasa’in sekarang?, masih pusing atau enggak?, bagian tubuh mana yang masih sakit di?” kevin pun menyerang dio dengan pertanyaan bertubi – tubi karena rasa kawatirnya terhadap dio.
__ADS_1
“lu mau tanya, apa mau wawancara vin?, nerocos mulu!!” saut dio dengan ketus guna menggoda kevin. “maaf di, gua panik!” kevin menyahut sambil menunduk sedih. “vin makasih ya!” ucap dio dengan suara pelan. Mendengar ucapan terima kasih dari bibir dio, kevin pun merasa terharu hingga membuat kedua matanya memerah menahan air mata yang mendesak keluar.
“gua peringatin ya vin, lu jangan sampai mewek disini!!, yang harusnya mewek disini tuh gua!” ucap dio mencoba menghentikan reaksi sedih berlebihan yang kevin berikan. Dimata orang lain, kevin adalah seorang sosiopat yang tak memiliki rasa empati terhadap orang lain. Ia selalu menunjukkan reaksi cuek dan datar pada orang lain, dan terkadang memberikan reaksi yang cukup kasar. Namun dibalik itu semua, kevin hanyalah seorang pria lemah dan seorang budak cinta ketika berada di hadapan dio.
“dio!!” terdengar sautan dua orang pria dengan bersamaan hingga membuat dio maupun kevin menoleh kaget. Nampak veno dan riko terbelalak kaget memandang dio yang terbaring lemah diatas bed. Dengan bersamaan, mereka pun berjalan mendekat ke arah dio. Melihat veno berdiri di depannya, emosi dari dalam diri kevin pun muncul.
Merasa jika veno sama sekali tak mempedulikan dio dan cenderung mengabaikannya, membuat emosi kevin pun memuncak. Kevin pun berdiri dan mencengkeram kerah kemeja veno dengan kencang. “kenapa lu disini?, bukannya tadi waktu dio butuh bantuan, lu malah gak peduli?” ucap kevin sembari melotot ke arah veno. Tak terima di cengkeram kevin, veno pun mencengkeram balik kerah baju kevin dengan tenaga yang juga kencang.
“kalian berdua silahkan keluar, disini Rumah Sakit tempat orang dirawat!, bukan tempat untuk berkelahi!!” terdengar seorang dokter menegur kevin maupun veno dengan suara tegas dan cukup keras. “ada yang mau gua omongin sama lu diluar!!” ucap kevin dengan tegas pada veno. Merasa tertantang, veno pun menyetujui permintaan kevin untuk berbicara empat mata dengan kevin di luar ruangan perawatan.
__ADS_1
Tak nampak seperti siswa SMA, kevin yang teramat tegas dan lugas dalam berbicara, membuat dirinya nampak seperti seorang pria dewasa. Mereka berdua bagai dua orang pria dewasa yang tengah memperebutkan seorang wanita. “kenapa lu gak becus jadi suami dio?, kalau lu gak mampu ngelindungi dio, lebih baik lu nyerah atau cera’in dio!!, gua siap jadi suaminya!!” saut kevin ketus terhadap veno.
“gua tau banyak hal yang udah lu lakui’in buat dio, dan gua tau semua perbuatan jahat lu, alih – alih buat ngelindungi dio!!, gua tekanin lagi sama lu, gua suaminya dio dan lu bukanlah siapa – siapa dimata dio!!” ucap veno dengan ketus. Tak mau kalah, kevin pun menjawab “suami? kalian nikah karena paksa’an kan? Dan harus lu inget, selamanya gua gak akan nyerah sama cinta gua sama dio!” ucap kevin lirih dengan nada yang tegas terhadap veno.
Di rumah Om Fadli
“kenapa kalian gagal terus sih?, kalian itu becus atau enggak kalau kerja??, saya udah bayar mahal – mahal, tapi kinerja kalian jelek begini!!, berarti kalian gak tahu dengan pasti dia masih hidup atau mati??” , dasar kalian bodoh!!” nampak istri Om Fadli tengah mengomel marah pada seseorang dalam panggilan telefonnya. Tanpa disadari, seseorang tengah besembunyi dibalik tirai pintu tengah rumah Om Fadli, dan dengan sengaja mengarahkan ponselnya pada istri Om Fadli yang sedang mengomel itu. Hingga istri Om Fadli menutup panggilan telefonnya, kamera ponsel itu masih menghadap ke arah istri Om Fadli. Bisa dipastikan, bahwa seluruh percakapan diantara istri Om Fadli dengan seseorang dalam panggilan itu telah terekam dengan jelas.
Saat ini kevin, veno, dan juga riko tengah berdiri menghadap dio. Tak seperti orang sakit yang dijenguk, namun dio merasa bagaikan seorang tawanan yang diawasi oleh para penjaga. Berniat untuk istirahat dengan tenang, namun dengan adanya tiga pria di depannya yang terus menatap dengan serius, membuat dio pun merasa risih dan tak bisa beristirahat dengan baik.
__ADS_1
Karena dio telah meninggalkan ruang UGD dan berpindah ke ruang perawatan, ketiga pria itu makin leluasa untuk menunggu dan menjaga dio, hingga situasi di dalam ruangan terasa begitu canggung. “karena keselamatan dio terus terancam, gua putusin untuk memberi dio seorang bodyguard yang menemani dio saat beraktivitas di luar rumah!!” ucap veno dengan tegas. Mendengar pernyataan veno, seketika dio, kevin, maupun riko terbelalak kaget dan saling memandang satu sama lain.
“oke gua setuju!!, mulai hari ini bakal jadi bodyguard dio!” ucap kevin mengusulkan diri. “gak bisa!!, lu gak pasti manfaatin kesempatan untuk ngajak dio selingkuh!” saut veno dengan tegas. “ehmm ven, gua rasa gua baik – baik aja deh tanpa bodyguard!” saut dio dengan suara pelan. “gak boleh!!” tiba – tiba ketiga pria itu bersaut bersamaan. “hanya pria yang jago berkelahi, dan memiliki profesional kerja lah yang boleh jaga’in dio!!, dan kriteria itu gua!!” saut veno dengan rasa percaya diri yang tinggi. “terus perusahaan siapa yang nge handle ven?, lu itu Direktur Utama perusahaan!!, lawak lu??, ckckck” ucap riko sembari menggelengkan kepala dengan heran. “selain dua kriteria itu, bodyguard dio harus orang yang gua kenal dan gua percaya!, oke gua putuskan mulai hari ini riko akan jadi bodyguard dio, selama dio keluar dari rumah lu harus jaga dio, dan ngelaporin jika ada hal yang mencurigakan!!” ucap veno dengan tegas.