
Jam dinding menunjukkan pukul 22.00 WIB. Sudah waktunya dio menjemput veno di bandara.
Dengan sangat bersemangat, dio segera berganti pakaian. Namun membutuhkan waktu yang cukup lama bagi dio untuk menimbang dan memilih pakaian mana yang cocok untuk ia kenakan ke bandara. Setelah selesai berganti pakaian, dio segera turun dari kamarnya . Ia pun berangkat bersama pak anton menuju bandara untuk menjemput veno. Sepanjang perjalanan, dio terlihat ceria. Sesekali ia terlihat tersenyum melihat pemandangan di luar jendela. Namun, mengingat lagi bahwa ia akan bertemu veno, dio menciutkan bibirnya yang tengah tersenyum lebar itu. “tapi kenapa gua bahagia banget ya..?” “gak mungkin karena mau ketemu veno kan.?, ah gak mungkin.!!” Dio menggerutu pelan.
Mobil berhenti tepat di depan pintu masuk bandara.
Dio segera turun dari mobil dan berjalan masuk ke area bandara. Melihat dio yang sudah masuk ke dalam area bandara, pak anton segera memarkirkan mobil yang ia kendarai itu di tempat parkir. Dio yang hanya berjalan sendiri terlihat kebingungan, dan terus menoleh ke kanan dan juga ke kiri. Karena tidak terbiasa menjemput sendirian seperti saat ini, dio merasa sedikit bingung. Namun dio mencoba untuk tetap tenang. Ia berdiri di dekat sekumpulan orang yang sedang menunggu penumpang seperti dirinya saat ini. Satu persatu penumpang pesawat yang telah landing itu keluar. Namun cukup lama dio berdiri, pandangannya mais belum juga melihat veno. Karena kakinya yang kelelahan, dio memutuskan untuk duduk dan menunggu veno di tempat tunggu. Sampai beberapa lama, veno belum juga muncul. Dio yang sedikit kesal itu akhirnya memberanikan diri untuk menelfon veno. “tuuuttt.!.tuuuttt.!!” veno masih belum mengangkat telefon dari dio. Sampai dua kali dio melakukan panggilan, veno belum juga mengangkat panggilan itu.
Dari jauh, terlihat seorang laki – laki tampan yang tak lain adalah veno tengah berjalan ke arah dio.
Mata dio terbelalak, dan sedikit berbinar. Dio yang dari tadi merasa bingung dan gelisah, langsung merasa tenang dan lega melihat veno yang sedang ia tunggu itu akhirnya muncul. Veno berhenti tepat di depan tempat duduk dio. Ia membuka kedua tangannya ke arah dio, seakan memberikan kode untuk meminta peluk.
Melihat kedua tangan veno yang terbuka, dio pun segera berdiri dan berpaling sembari mengomel pada veno,
“lu mau ngeprank gua apa gimana? Gua dari tadi nungguin lu tau..!!” “ lu harus tanggung jawab udah nyita banyak waktu gua..!!” ucap dio ketus kepad veno.
Mendengar istrinya mengomel sambil pergi, veno mengikuti dio dan menjawab, “iyaa.., lu mau apa??"
"Bilang aja, apapun itu bakal gua turutin..!!” mendengar jawaban dari veno yang memuaskan itu, dio berbalik ke arah veno sambil tersenyum. “bener ya..!!” jawab dio. Veno pun meninggalkan dio sambil menjawab, “iyaaa..!!” akhirnya mereka berdua berjalan berdampingan menuju parkiran. Tanpa mereka sadari, seseorang sedang memotret mereka berdua dengan sembunyi – sembunyi. Nampaknya orang itu adalah seorang wartawan.
Karena veno merupakan salah satu pebisnis muda yang sukses, di imbangi juga dengan wajahnya yang rupawan, tak heran ia menjadi pebisnis yang paling sering diliput wartawan ataupun pers. Wajahnya bagaikan selebriti yang sudah tak asing lagi bagi khalayak umum.
__ADS_1
Dalam perjalanan pulang, dio menagih janji yang sudah di ucap veno. “janji lu gimana nih..!!”.
Veno mencoba menggoda dio dan menjawab “pulang aja deh..!! gua capek..!!”.
Mendengar jawaban veno, wajah dio yang semula cerah, berubah menjadi suram seketika.
Ia pun memukuli pundak dan punggung veno dengan pelan sambil berkata “capek.??"
"Gua yang capek dari tadi berdiri kayak manekin nungguin lu..!!” “tadi bilangnya mau cari angin, sekarang bilang pulang aja..!!” dio menggerutu kesal sambil memalingkan wajahnya, dan menyilangkan kedua tangannya.
Veno pun menjawab “buka jendela lu..!!”. Dio menyauti dengan kesal, “buat apa..??”
“ayo kita cari camilan di pinggir jalan di depan persimpangan itu..!!”
dio berkata ketus sambil menunjuk ke arah persimpangan yang akan mereka lewati. “kenapa harus camilan di pinggir jalan.??” Veno bertanya dengan penasaran. Mendengar pertanyaan veno, dio pun menjawab “dah lah lu nurut aja..!!” dalam pikiran veno, ia penasaran dengan permintaan dio yang begitu sederhana itu.
“Kenapa dio yang terlahir dari keluarga kaya itu tak seperti gadis lain yang suka berfoya – foya.?”,"bukannya meminta hal mewah, ia malah meminta hal sederhana seperti ini..?"
Pak anton menepikan mobilnya. Dio dan veno akhirnya turun dari mobil.
Veno penasaran dengan tempat yang ingin dikunjungi dio itu. Veno menoleh ke kanan dan kiri, yang terlihat hanyalah stand penjual makanan maupun minuman yang begitu ramai. Begitu banyak pedagang kaki lima yang berjajar rapi di pinggir jalan menjajahkan dagangannya. Melihat begitu banyak makanan di depannya,
__ADS_1
dio tersenyum bahagia. Mereka pun berjalan bersama sambil kebingungan memilih camilan mana yang akan mereka beli. Tanpa disadari, mereka terlihat akur dan sesekali bercanda bersama. Tak nampak seperti sepasang suami istri, mereka malah terlihat seperti pasangan kekasih yang sedang kasmaran. Wajah veno yang begitu rupawan itu begitu menarik perhatian hawa. Siapa pun gadis yang memandang veno, pasti tak bisa melepaskan pandangannya. Sedikit kurang nyaman bagi dio, melihat para gadis itu memandangi suaminya dengan senyum menggoda.
Beruntungnya dio karena suaminya adalah seorang pria yang cuek. Veno tak sedikitpun tertarik dan cenderung menjaga pandangannya. Melihat sikap veno yang cuek itu, dio merasa tenang. Karena hubungan mereka yang masih belum begitu dekat, mereka hanya berjalan berdampingan tanpa bergandeng tangan. Mengingat peraturan yang buat oleh dio yakni “dilarang melakukan kontak fisik tanpa persetujuan dio”, veno pun tak berani untuk berinisiatif.
Di tengah keseruan mereka berdua, datang lah seorang wanita cantik menghampiri veno.
Sepertinya wanita cantik itu mengenal veno . “ hai ven..??” sambil memberikan senyumannya, wanita itu menyapa veno. “oh, hai.!!” Jawab veno singkat. “udah lama gk ketemu, kamu makin ganteng ya..!!” sambil terlihat malu – malu, wanita itu memulai percakapan dengan veno. “oh,, gak kok..!!” lagi – lagi veno menjawab dengan singkat. “kamu tumben mau beli makanan di pinggir jalan.? Dulu waktu SMA kan kamu paling gak suka beli makanan di pinggir jalan..!!” mendengar pertanyaan wanita yang sok tau dan sok dekat itu, dio menganggkat bibirnya sebelah. Veno pun menjawab, “ah enggak..! itu dulu..!!” mendengar veno yang menjawab singkat, “pffttt.!!” dio menahan
tawanya. “hehehe iya juga ya, buktinya sekarang kamu keliatan lebih sukses ya sekarang.??”, “by the way, kamu ternyata punya adek ya ven.?, aku kira dulu kamu anak tunggal..!!” wanita itu mengira dio adalah adik perempuan veno.
Mendengar perkataan wanita itu, dio yang mulutnya tengah mengunyah tiba – tiba tersedak karena kaget.
Dalam hati dio berkata “sialan banget nih cewek.!!”. karena geram, veno pun bereaksi sambil mengajak dio pergi, “dia bukan adek gua, dia istri gua..!!” wanita itu terlihat syok mendengar jawaban veno yang singkat, padat, dan menusuk itu. Melihat wanita itu di skakmat langsung oleh veno, dio merasa lega. Baru kali ini dio merasa begitu bangga dengan statusnya yang kini menjadi istri veno. Karena pernikahan veno dan dio yang dilakukan secara mendadak, hanya kerabat dan teman dekat saja yang mengetahui kebenaran bahwa mereka sudah menikah.
Pada dasarnya, veno tak mau menutupi statusnya itu, namun mengingat kondisi dio yang masih duduk di bangku SMA, veno tak mempublikasikannya kepada umum. agar dio tidah terganggu dalam proses belajarnya.
Setelah membeli dan mencicipi hampir semua makanan yang dijual, mereka yang kekenyangan itu memutuskan untuk segera pulang. Veno dan dio sudah berada dalam mobil untuk melanjutkan perjalanan pulang ke rumah. Dio yang masih sedikit kesal dengan perkataan wanita itu pun berkata pada veno, “ngajak lu keluar tujuannya biar ngelepas beban pikiran, eh ini malah nambahin pikiran jadi emosi!!, tiap hari keluar bareng lu bisa – bisa gua kena
darah tinggi.!, tepat setahun gua kena setroke.!!” Mendengar perkataan dio, veno menjawab sambil tersenyum
“itu resiko jadi istrinya Veno Sebastian..!!” mendengar jawaban veno yang narsis, dio menyandarkan punggungnya ke kursi mobil. iapun memalingkan pandangannya ke arah luar jendela sambil membuang nafas “huuffft..!!”
__ADS_1