
CHAPTER 28
Riko yang sedang menyetir mobil dikagetkan dengan ponselnya yang bergetar tiba - tiba. “drrrttt, drrtttt”,
“halo, ven.!?” Riko menjawab santai. “lu masih di luar.?” Veno bertanya penasaran. “iya, kenapa.??” Jawab riko. “belikan kopi panas dan beberapa camilan, dan anter ke ruangan gua.!!, disana ada dio.!!” ucap veno.
“dio.? ohh, istri lu..?”, ok.!!” Mobil riko melaju dan berhenti di sebuah toko cake and dessert. Setelah memilih
beberapa camilan, dan segelas kopi, riko segera bergegas menuju kantor veno.
Sesampainya di depan kantor veno, riko mengetuk pintu, dan segera masuk ke dalam ruangan kerja veno.
Seperti sebuah keajaiban, melihat kantor veno yang selalu hening tanpa suara, sekarang bagaikan tempat karaoke full musik. Nampak dari belakang kursi kerja veno, seorang gadis tengah bermain game, sambil ikut bernyanyi mengikuti alunan musik yang tengah ia putar. Merasa dalam situasi yang sedikit lucu, riko pun tersenyum dan sedikit tertawa. Ia segera meletakkan kopi panas dan camilan itu di atas meja. Tak segera pergi, namun ia malah berjalan mendekat ke arah istri dari sahabat sekaligus atasannya itu. Karena sebelumnya ia belum pernah bertemu dengan istri veno, ia penasaran bagaimana rupa gadis yang telah dinikahi veno dengan dadakan itu.
Begitu keras suara dio bernyanyi. Sambil mengayunkan tangannya ke kanan dan ke kiri, ia pun memutar badannya ke belakang. Dan “aahhhh..!!” dio berteriak sumbang karena kaget melihat seorang laki – laki tengah berdiri di di belakangnya dari tadi. Dengan rambut tergerai, dan wajah yang begitu menawan, riko terpana pada pandangan pertama pada dio. Riko tak bisa memalingkan pandangannya dari wajah dio.
“ka, kamu dari tadi di situ.??” Dio bertanya dengan malu - malu pada riko. Dengan tertawa, riko pun menjawab
__ADS_1
“haha, iya lumayan..!!”, “gua di suruh veno buat nganter kopi sama camilan, tuuhh.!!” Riko menjawab sambil menunjuk camilan yang telah ia letakkan di atas meja.
“waahhh..!!, ini kan camilan favorit gua..!!” dio terseyum bahagia sambil berjalan menghampiri camilan di atas meja itu. “makasih ya.!!, kamu juga suka camilan ini.?” dio bertanya pada riko sembari membuka paper bag berisi camilan yang ada di depannya. “emm, gua belum pernah nyoba’in sih.!!” Riko menjawab dengan sedikit malu.
““kalau gitu, nih coba’in.!!” Dio menyodorkan satu potongan cake pada riko. Dengan malu – malu, ia meraih cake yang di sodorkan dio padanya. Riko yang belum pernah merasakan hal seperti ini sebelumnya, hatinya merasa berdebar. “makasih ya.!!” Riko mengucap terima kasih pada dio. Dengan mulut yang terisi penuh dengan makanan, dio pun menjawab, “iya sama – sama.!”
Menyadari telah tertarik pada istri atasannya itu, veno segera pamit untuk segera pergi. “kalau gitu, gua pamit keluar. Kalau butuh apa – apa, ruangan gua di sebelah kanan ruangan ini.!!” karena mulutnya yang penuh, dio tak menjawab dan hanya memberi isyarat dengan memberikan jempolnya pada riko. Riko tersenyum melihat tingkah dio. “sadar rik,.!! tuh istri atasan lu.!!”, “gak se pantesnya lu suka sama dia.!!” Riko berkata pada batin. Sambil terlihat lesu, riko pun meninggalkan ruangan veno dengan sepotong kue di tangannya.
Kini hanya dio sendiri yang berada di ruang kerja veno. Sudah cukup lama dio menunggu veno, hingga sudah banyak pula cake yang telah ia habiskan. Dio yang tengah kekenyangan itu hanya memegangi perutnya yang sudah terisi penuh itu dengan lemas. “adduuh, kekenyangan.!!, perut gua berasa mau meletus nih.!!”, “lagian veno lama banget deh.!, tau gitu gua nunggu di rumah aja.!!” Dio menggerutu kesal.
Dengan kondisi perutnya yang kenyang, dan kondisi ruangan veno yang segar dan wangi, membuat dio yang tengah duduk di atas sofa itu akhirnya tertidur.
veno saat ini tak lagi terang seperti saat ia meninggalkan dio sendiri. Cahaya mentari saat ini tak lagi masuk ke dalam ruang kerja veno melalui jendela. Karena lampu ruangannya yang belum menyala, ruang kerja veno terlihat gelap, dan sedikit menyeramkan. Namun melihat dio tengah tertidur dengan pulas, veno merasa sedikit lega.
Dio merasa ada seseorang tengah berdiri tepat di depannya. Dengan berat hati, ia mulai membuka matanya dengan perlahan. Alangkah kagetnya dio saat ini, menyadari bahwa ia terbangun dalam ruangan yang gelap, dan sebuah bayangan hitam berbentuk manusia tengah berdiri tegak di depannya. “aaa...!!” dio yang kaget itu berteriak keras, sambil mengangkat salah satu kakinya seperti atlet taekwondo, dio menendang bayangan itu dengan sekuat
tenaga. “duukk..!!”, “aduuhh” veno yang kesakitan itu akhirnya jatuh tepat di atas badan dio. “ve,veno.??” Menyadari bayangan yang telah ia tendang adalah veno, dan posisi veno saat ini tengah menimpa tubuhnya, dio tak bisa bergerak maupun berkata – kata. Dio tak dapat berkutik, ia hanya tertunduk malu pada veno yang tepat di depannya itu.
__ADS_1
Veno mendekatkan bibirnya ke samping telinga dio. Hembusan nafas veno terasa seakan membelai telinganya dio, dan membuat dio merasa geli. “kayaknya kamu emang perlu di hukum.!!” Veno berkata dengan mesra pada salah satu telinga dio. Dio tak mampu menjawab atau berkata apa pun di depan veno.
Veno yang saat ini tak dapat mengontol gerak tubuhnya, memandang dengan buas ke arah dio. Saat ini yang veno rasakan hanyalah hawa panas yang menggebu – gebu dari dalam tubuhnya. Dan seluruh anggota tubunya tengah terangsang dengan posisinya bersama dio saat ini.
Veno membelai rambut dio yang tergerai itu dengan lembut. Dengan perlahan, ia mendekatkan bibirnya ke arah bibir dio yang berada tepat di depannya saat ini. Semakin dekat, veno tak lagi mampu mengontrol tubuhnya.
Ia pun mendaratkan bibirnya tepat di atas bibir dio. Seakan mengikuti ritme ciuman veno, dio terlihat mengikuti gerak bibir veno. Seperti sedang *******, veno mengisap bibir dio dengan mesra. Mereka berdua begitu panas dan menggebu – gebu. Seperti ingin lebih dan lebih, tangan veno meraba wajah dio, dan meraba menuju area depan tubuh dio. merasakan tangan veno yang mencoba membuka kancing seragamnya, dio memegang tangan veno itu sambil menggelengkan kepalanya. Seperti tak mau tau, veno terus mencoba membuka kancing seragam dio. Kancing dio saat ini terbuka satu, dan veno mencoba membuka kancing kedua.
Veno terlihat begitu ganas dan buas. Namun, dio lagi – lagi memegang tangan veno sambil melepaskan ciuman mesranya besama veno. “ven..!!, cukup..!!”. seakan bertambah ganas, veno menciumi bibir dio, sambil terus mencoba membuka kancing seragam dio. Akhirnya kancing kedua seragam dio pun terbuka. “ven.!! cukuupp..!!” dio melepaskan bibirnya dari bibir veno dan berkata dengan membentak veno.
Veno yang mengganas itu mulai sadar. Ia pun memandang ke arah mata dio yang saat ini terlihat ketakutan.
Ia pun menurunkan pandangannya lagi ke arah seragam dio yang telah ia buka secara paksa.
“maaf’in aku ya..!!” veno yang sudah sadar itu menutup kembali kancing – kancing seragam dio yang telah ia buka dengan paksa. Semua kancing milik dio saat ini sudah kembali tertutup. Veno pun memeluk dio dengan erat, sembari berkata “maaf’in aku ya, aku janji gak bakal ngelewatin batas tanpa persetujuan kamu.!!” Dio yang jatuh dalam pelukan veno itu hanya menjawab dengan anggukan.
“ayo kita cari makan dulu, terus pulang.!!”, “kamu mau makan apa malam ini.?” veno bertanya dengan lembut pada dio. “aku mau makan mie ayam yang toping ayamnya banyak.!!” Dio menyauti dengan bersemangat.
__ADS_1
“mie ayam pake ayam utuh aja kalau gitu.!, hahaha.!!” Veno menyauti dengan mencoba menggoda dio. Mereka akhirnya keluar dari perusahaan veno dengan bergandeng tangan dan penuh tawa.