
Mendengar veno menugaskan riko untuk menjadi bodyguard dio, kevin pun langsung memandang riko dengan seksama dari atas ke bawah, dan dari bawah ke atas. Setelah memperhatikan riko dan merasa cocok, kevin pun menyetujuinya “oke gua setuju!” ucap kevin sembari mengangguk. “udah malem, lebih baik lu pulang!, dari pada orang tua lu nyari’in!” ucap veno ketus pada kevin. “gua masih mau nunggu’in dio di sini!!” saut kevin cuek. “vin, lu pulang dulu ya?, besok kan lu masih bisa jenguk gua lagi!” saut dio dengan lemah lembut guna membujuk kevin untuk pulang. Mendengar dio menyuruhnya pulang, kevin yang patuh itupun tertunduk lemas dan segera berpamitan pulang pada dio.
“ven, kenapa lu biarin tuh cowok di sekitar istri lu sih?” saut riko berbisik pelan pada veno. “sebenarnya gua gak berharap anak ingusan itu terus di sekitar dio!, tapi ngelihat begitu gigihnya dia buat ngelindungi dio, gua yakin tujuan utama dia hanya ingin jaga’in dio!!” saut veno dengan berbisik balik pada riko. “lu liat pria baju hitam di kursi tunggu di ujung lorong itu, perhatikan baik – baik, pria itu terus menatap ke arah ruangan dio!, pasti pria itu suruhan kevin!!” saut veno menambahkan.
Riko pun tak bisa menjawab, dan hanya diam. “ven, veno!!” terdengar suara dio memanggil veno dengan suara yang cukup keras dari dalam ruang perawatan. Dengan bergegas, veno pun menghampiri dio dengan penasaran. “ada apa sayang?” jawab veno dengan mesra. “gua laper!, lambung gua kosong mlompong!!, isinya cuma angin doang nih!, kalau sampai kentut, bisa langsung kempes nih lambung!!” ucap dio menggerutu sembari memegangi perutnya.
__ADS_1
“lu mau makan apa, biar gua beli’in!!” saut veno. “pesenin delivery order ayam bakar sambel matah sama jeruk anget dong ven!” saut dio sembari menelan ludah. “lu lagi sakit di, harusnya lu makan bubur ayam atau makanan yang lembek – lembek gitu!, masak iya lu mau mukbang ayam bakar disini?” saut veno dengan heran. Mendengar permintaan dio yang nyeleneh, riko pun tak bisa menahan tawanya, “hahahaha!”. “apa boleh buat, karena gua juga laper, gua juga pesen juga deh!” ucap veno sembari mengeluarkan ponselnya. “gua juga dong ven, gua juga laper!” saut riko menimpali.
Tak menunggu lama, pesanan mereka pun datang. “ko, lu bawa ponsel tablet punya veno gak?” ucap dio. “nih!” saut riko menyodorkan ponsel tablet pada dio. Sembari menunggu veno dan riko menyiapkan makanan yang akan mereka santap bersama, dio mengutak atik tablet veno dan memutar sebuah film untuk ditonton bersama. Akhirnya mereka bertiga pun makan sembari menonton film bersama. Tak nampak seperti berada di Rumah Sakit, mereka bertiga begitu santai layaknya sedang berada di rumah sendiri.
Keesokan harinya, dio terbangun dari tidunya dengan badan yang kaku dan sekujur badannya yang lebam akibat benturan keras pada saat kecelakaan kemarin. Mencoba meregangkan otot dan juga persendiannya, dio pun terbelalak kaget memandang veno yang tidur di sampingnya. “bisa – bisanya dia tidur di bed di samping gua!!, kalau kesenggol dikit bisa – bisa gua jatoh dari bed dong ckckck!!” ucap dio dalam batin. Melihat riko tertidur di atas sofa dengan posisi satu kaki di atas sandaran sofa, dan satunya menggelantung ke lantai, dengan televisi yang masih menyala, dio pun bergumam “nih juga!!, bisa – bisanya dia tidur kayak tidur di rumahnya sendiri aja!” ucap dio dalam batin sembari menggelenngkan kepalanya.
__ADS_1
Mendengar suara wanita asing yang cukup jelas dan dekat darinya, veno pun segera membuka kedua matanya. Alangkah terkejutnya veno, melihat seorang dokter dan perawat tengah berdiri di sampingnya. Dengan ekspresi kebingungan, veno menoleh ke kanan dan kirinya guna mencari dio. Melihat istrinya yang tiba – tiba menhilang dari sampingnya, veno pun nampak kebingungan. “lho, dio kemana?” ucap veno. “harusnya kami yang bertanya demikian!!”saut dokter tersebut sembari menghembuskan nafas panjang. “ceklek!!” pintu kamar mandi pun terbuka. Nampak dio keluar dari kamar mandi sembari menarik tiang infus denga kesusahan. Melihat istrinya tengah kesulitan, veno segera menghampiri dio dan membantunya berjalan dan naik ke atas bed.
Setelah melakukan serangkaian pemeriksaan dan menyatakan keadaan dio telah berangsur membaik, dokter pun memutuskan bahwa dio boleh meninggalkan Rumah Sakit. Tak terasa sudah seminggu lamanya dio dirawat di Rumah Sakit dengan berbagai tindakan medis maupun non medis yang ia perolah. Dan kini tiba saatnya bagi dio untuk meninggalakan kamar perawatan VVIP yang telah dio tempati selama seminggu ini, dan bersiap untuk segera pulang ke rumah. “drrtttt!!!” ponsel dio pun bergetar. Nampak sebuah panggilan masuk dari wali kelasnya, yakni Bu Feli.”tumben banget Bu Feli telfon gua!!, pasti ada maunya nih!, hmmm angkat gak ya??” ucap dio dengan bimbang dalam bantin.
Cukup lama ponsel dio bergetar karena panggilan masuk dari Bu Feli, namun dio tak kunjung mengangkat telefon yang nampak penting itu. Melihat dio tak kunjung mengangkat panggilan masuk di ponselnya, veno pun bertanya “siapa di?” ucap veno dengan penasaran. “guru gua!!”. Setelah berfikir cukup lama, dio pun mengangkat panggilan masuk dari Bu Feli. “hallo Bu?” ucap dio. “hallo, dio bagaimana kabar kamu sekarang?, apa masih di Rumah Sakit?” ucap Bu Feli dengan nada khawatir. “saya udah baikan kok bu!, hari ini saya keluar dari rumah sakit!” saut dio dengan sopan.
__ADS_1
“syukurlah kalau kamu udah keluar dari rumah sakit!, sebenarnya ada hal penting yang perlu ibu sampaikan sama kamu!, apa boleh ibu main ke rumah kamu?” ucap Bu Feli dengan serius. “ke rumah?” dio pun terbelalak kaget sembari terbata – bata. “iya dio!, mangkanya ibu bermaksud berkunjung menjenguk kamu di rumah, sekaligus menyampaikan hal yang penting di!!, boleh gak ibu minta alamat rumah kamu yang terbaru?” saut Bu Feli dengan serius. Tapi saya sudah baik kok bu, Bu Feli gak perlu jauh – jauh jenguk saya!” saut dio dengan terbata – bata.
Dio pun bercucuran keringat dingin, dan jantungnya berdegub karena takut jika rahasianya akan terbongkar. “dio?, kenapa diam gak jawab ibu?” saut Bu Feli dengan penasaran. “anu, bu!!, apa gak bisa ibu menyampaikannya tanpa harus ke rumah saya ya bu?” ucap dio mencoba mengalihkan tempat untuk bertemu Bu Feli. “emangnya kenapa kalau di rumah kamu dio?, apa ada hal yang kamu sembuyikan dari ibu?” saut Bu Feli dengan nada yang curiga. Nampaknya Bu Feli memilik kecurigaan terhadap dio.