Pernikahan Siswi SMA Yang Rahasia

Pernikahan Siswi SMA Yang Rahasia
Trauma


__ADS_3

  Kembali pada 8 tahun yang lalu.


  Dio yang saat itu masih berusia 9 th sedang bermain bersama teman – teman sebayanya.


Mereka bermain tangkap bola, dan berlari kesana kemari dengan senyum yang begitu ceria.


Namun sayangnya, bola terlempar jauh ke arah halaman sebuah rumah kosong.


Dio pun berlari menghampiri bola yang terlempar jauh itu.


“huhuhuuu.!!” Terdengar suara tangisan berasal dari dalam rumah kosong itu.


Dio yang mendengar suara tangisan itu langsung terdiam. “huhuhu..!!” suara tangisan itu masih terdengar.


Dio kecil yang begitu penasaran dengan suara tangisan itu, akhirnya mendekat dan berjalan masuk ke arah rumah kosong yang menyeramkan itu.  Hampir seluruh halaman rumah kosong itu tertutup oleh rumput ilalang yang tingginya hampir sama dengan tinggi badan dio. Sambil menyibakkan rerumputan yang menjulang tinggi itu, dio kecil masuk dan mendekati arah suara tangisan yang semakin terdengar jelas itu.


  Dio yang sudah berada di dalam rumah kosong segera berjalan menuju sumber suara itu.


“huhuhu..!!” suara tangis itu semakin jelas dan kencang. Terlihat seorang anak laki – laki yang sedang menangis sambil berjongkok, dengan memegang kedua kakinya. Salah satu kaki dari bocah itu terlihat berdarah.


Dio berjalan mendekati bocah yang nampak kesakitan itu.


  Entah apa yang terjadi pada bocah laki – laki itu, hingga ia bisa terjebak dalam kondisi yang memprihatinkan ini. Melihat seorang gadis kecil menghampirinya, bocah laki – laki itu menghentikan tangisannya.


“pergi.!!’ Bocah laki – laki itu membentak dio. “cepat pergi dari sini.!!” Bocah laki – laki itu terlihat kebingungan, sembari kepalanya menoleh ke kanan dan juga ke kiri, ia terus menyuruh dio untuk pergi meninggalkannya. Namun, dio tak kunjung pergi meninggalkan bocah laki – laki itu.


  “sraakkk.!! sraak..!! sraakk!!”


Terdengar suara langkah kaki  yang terseret datang mendekati mereka berdua.

__ADS_1


Bocah laki – laki itu terlihat semakin kebingungan. Dan akhirnya seorang wanita dengan penampilan menyeramkan muncul dari balik pintu. Rambut wanita itu berwarna putih memanjang. Bajunya sudah amat kotor,


hingga tak bisa di tebak lagi apa warna baju perempuan menyeramkan itu. Dengan memegang botol kaca kosong pada kedua tangannya, wanita itu membanting salah satu botol kaca itu tepat di depan kaki dio.


“praang.!!” Botol itu pecah berkeping – keping. Dio yang terkejut itu akhirnya jatuh karena kaget. Dengan posisi tangan dan kaki yang jatuh bersamaan, dio menimpa botol yang telah menjadi kepingan tajam itu dengan keras. Darah merah segar seketika mengalir dari luka – luka itu.


  Begitu takutnya dio, hingga ia tak berani mengeluarkan suara menjerit untuk meminta tolong, bahkan untuk menangis pun ia tak mampu. Melihat gadis kecil yang terluka di depannya tengah ketakutan, bocah laki – laki itu segera menghampiri dio yang penuh luka dan darah. Ia pun segera mencondongkan badannya ke arah dio, ia menutupi badan dio agar tidak disakiti lagi oleh wanita jahat itu. “kamu gak papa.??” Bocah itu bertanya pada dio. Dio pun memandang bocah itu dengan tatapan yang berkaca – kaca. Dio yang tak mampu bersuara itu akhirnya menesteskan air matanya.


  Melihat dua bocah tengah ketakutan di depannya, wanita itu tertawa puas. “ha..ha..ha..ha..!!”


suara tawa wanita itu melengking dengan keras. Dengan ekspresi wajah yang menyeramkan, ditambah lagi kedua


bola mata yang seakan mau lepas itu, membuat kedua bocah di dedepannya semakin bergetar karena ketakutan. Melihat mereka yang semakin ketakutan, wanita itu tak henti – hentinya tertawa “ha..haa.haa..!!” dan “praaang..!!” botol kaca yang ada di tangan kirinya pun dibanting lagi. Botol kaca itu akhirnya jatuh dan pecah tepat di depan punggung bocah laki – laki yang sedang meringkuk, dan melindungi tubuh dio itu.


Begitu kerasnya lemparan wanita kejam itu, hingga membuat pecahan botol yang telah menjadi bekeping – keping itu terpental dan menancap pada punggung dan pundak bocah laki – laki itu.


  Terdengar dari dalam rumah, suara beberapa orang yang sedang memanggil – manggil nama dio.


Bisa ditebak, beberapa orang itu tengah mencari dio yang tiba - tiba menghilang saat sedang bermain bersama teman - temannya. Beberapa orang dan polisi mulai masuk ke dalam rumah kosong itu. Mereka begitu kaget, melihat seorang perempuan gila yang agresive dengan dua bocah yang sedang terluka dan ketakutan  di


depannya. Salah satu orang yang ikut masuk ke dalam rumah itu adalah papa dio. Melihat anaknya yang tengah ketakutan dengan begitu banyak luka dan darah pada tubuhnya, papa dio murka dan mengutus polisi segera menangkap wanita gila itu. Setelah wanita itu tertangkap, dio dan bocah laki – laki itu segera dilarikan ke Rumah Sakit terdekat untuk segera mendapatkan penanganan. Hingga beberapa bulan, dio tak dapat masuk sekolah karena harus menjalani terapi terhadap kesehatan psikisnya yang telah terguncang. Setelah dio keluar dari Rumah Sakit, hingga ia selesai menjalani terapi, dio tak pernah bertemu lagi dengan bocah laki – laki itu.


Bahkan namanya pun, dio tak tahu.


  Kembali pada pesta yang tengah berlangsung.


  Suara gelas dio yang jatuh itu membuat semua perhatian tertuju padanya.


Dari jauh, terlihat seorang laki – laki berlari dengan sigap menghampiri dio.

__ADS_1


Dio yang teramat kaget dan terpaku itupun digandengnya menuju pintu keluar.


Veno yang juga terkejut itu seketika menatap ke arah dio. Melihat dio yang nampak syok,


veno berjalan menuju tempat dio berdiri. Namun alangkah kagetnya ia, ternyata seorang pria sedang berlari menghampiri dio dan tiba lebih dulu dari pada veno. Dengan tanpa basa – basi, pria itu lansung menggandeng


tangan dio menuju pintu keluar.


  Veno menghampiri dio yang tengah di gandeng oleh pria lain itu.


“kevin..!!” veno kaget melihat pria yang menggandeng istrinya itu adalah kevin.


kevin hanya menatap sinis ke arah veno. Veno yang melihat istrinya tengah digandeng pria lain itu nampak geram. Ia pun menarik tangan dio dengan kencang, hingga badan dio ikut tertarik dan jatuh pada pelukan veno.


Melihat dio yang jatuh pada pelukan veno, kevin yang tengah kesal itu berbisik di dekat telinga veno. “tau gak lu, kalau dio punya trauma sama kaca yang pecah.??, enggak kan.? Kalau emang lu gak bisa jaga’in dio, biar gua yang jaga’i dia.!!” Dengan ekspresi sebal, kevin berjalan meninggalkan mereka berdua.


Kevin yang tak bisa menutupi emosinya itu melangkahkan kakinya dengan cepat, sembari mengepalkan kedua tangannya..


  Setelah mereka keluar dari aula pertemuan,


  Dio yang berada dalam pelukan veno itu masih diam tak bergeming dengan keringat dingin membasahi tubuhnya. Melihat dada yang bidang di hadapannya, dio menyandarkan kepalanya tepat di atas dada veno.


Dio pun menangis hingga sesenggukan. Hingga beberapa lama, dio masih tetap menangis dalam pelukan veno. Bagaikan sebuah pertunjukkan drama, mereka berdua menjadi pusat perhatian bagi orang – orang yang tengah lewat. Pundak veno hampir mati rasa, karena terlalu lama menahan beban dio yang tengah menempel itu.


Dio yang mulai sadar akan perbuataannya itu, sudah menghentikan tangisnya. Jas veno menjadi basah oleh air mata dan ingus dio yang dari tadi tak henti – hentinya mengalir. Namun sungguh malu bagi dio untuk mengangkat kepalanya dan menatap veno.


  Menyadari bahwa dio telah sadar, dan tak kunjung bangun dari dada veno yang hampir mati rasa itu, veno berkata lirih pada dio. “diterusin di rumah aja nyendernya.!!” Mendengar perkataan veno, dio pun segera mengangkat kepalanya, dan membuat jarak pada veno yang telah lama di tempelinya itu. Karena merasa malu, dio segera berjalan meninggalkan veno tanpa mengucap sepatah kata pun.


  Dio dan veno masuk ke dalam mobil, dan segera pulang menuju rumah. Sepanjang perjalanan pulang, dio yang masih merasa malu itu hanya diam membisu.

__ADS_1


__ADS_2