
Dua hari yang lalu.
Jam menunjukkan pukul 23.00 WIB. Veno masih berada di ruang kerjanya dan fokus memeriksa beberapa berkas sembari menahan kantuk yang sudah menyerang kedua matanya. Dengan sesekali menyeruput kopi hitam dalam mug besar miliknya, veno terus membaca dengan teliti lembar demi lembar dari seluruh berkas tebal yang ada pada genggamannya saat ini. “drrrttt!” ponsel veno bergetar keras di atas meja membuat veno terperanjat kaget.
Nampak sebuah nomor tak dikenalnya memanggil. “siapa telefon malam – malam gini?” ucap veno dalam batin sembari meraih ponselnya. “nomor siapa nih?” veno begitu penasaran dengan nomor asing yang berani menelefonnya saat ini. “hallo?” ucap veno dengan suara datar. “veno sebastian, pengusaha yang menikahi gadis di bawah umur! Hahahaha!” ucap seorang pria dengan tiba – tiba dari dalam panggilan. “siapa ini!” sahut veno dengan membentak. “hahaha, kamu gak perlu tahu. Yang harus kamu tahu, kira – kira bagaimana respon Dinas Pendidikan mengenai gadis SMA yang kamu nikahi itu? Hahaha!” pria bersuara berat itu meneruskan ucapannya sembari tertawa.
“deg!!!” hati veno bedetak kaget memikirkan hal apa yang akan dio terima jika kabar tersebut sampai ditelinga pihak sekolah maupun Dinas Pendidikan. “kurang ajar, siapa lu! Gak usah ikut campur urusan pribadi gua!” ucap veno dengan nada meninggi. “hahaha, gua gak bakal ikut campur!, tapi jika dalam tiga hari lu gak pisah sama istrimu yang masih anak – anak, jangan salahin gua kalau istrimu bakal dikeluarin dari sekolah, kehilangan cita – cita, dan pastinya hidupnya akan lebih menderita!” ucap pria misterius itu sambil menutup panggilan telefonnya. “kurang ajar!, hallo!, hallo!” veno membentak dan berusaha memanggil suara asing tersebut. Namun apalah daya karena panggilan telah di akhiri.
__ADS_1
Karena kedua tangan beserta seluruh tubuhnya yang seketika lemas tanpa daya, genggaman tangan veno pun melonggar dan “praak!” ponsel veno terjatuh membentur lantai. “ven, veno!” ucap dio sembari menepuk pelan pundak veno hingga veno pun terperanjat kaget dari lamunannya. “oh, iya di!” ucap veno sembari menoleh ke arah dio. “lu knapa ven?, kok nangis?” ucap dio dengan terkejut manatap veno. “oh gak papa kok di!” sahut veno sembari mengusap air mata yang telah membasahi sebagian pipinya. “kenapa lu jadi lemah gini sih ven?, lu kan laki!” ucap dio memarahi veno. “emang gua laki!, siapa bilang gua bencong!, apa perlu gua bukti ‘in?” sahut veno sambil menatap nakal pada dio. Dio pun spontan menutup area tubuh bagian depannya dengan kedua tangan “iya – iya percaya!, lagian lu laki kok mewek!” dio menggerutu.
“lu pikir gua mewek karena bahagia?, gua lagi sedih dio!, please ngerti situasi dikit lah!. Lu kan bisa peluk gua, ngelus rambut, atau minimal ngelapin air mata gua!. Atau sekalian ingus gua juga kalau perlu!” ucap veno dengan ketus pada dio. “sekarang udah gak sedih kan?” ucap dio mencoba menggoda. “sedihnya enggak, kalau emosi iya!” veno menyahuti dengan ketus. “hehehee bagus deh!” dio menjawab dengan santai tanpa rasa bersalah. “apa?, bagus?” veno yang kaget langsung melingkarkan tangannya pada leher dio untuk memiting, sekaligus menggelitik perut dan pinggang dio. “ampun, ampun!, hahaha!” dio yang merasa geli mencoba melepaskan diri sembari terus meminta ampun.
Veno dan dio berjalan keluar dari Rumah Sakit menuju trmpat parkir sembari berbincang santai. “kita langsung pulang nih?” ucap dio sembari menyenggol lengan veno dengan keras. “emang masih mau main?” sahut veno sambil membalas dio dengan menyenggol balik. “iya dong!” dio menyahut sembari menyenggol keras, dan berjalan cepat meninggalkan veno di belakang. “dasar anak kecil, hehehe!” ucap veno dalam batin sembari tersenyum melihat tingkah laku dio yang lucu.
Mobil veno terus melaju, dan berhenti di sebuah warung nasi padang berukuran kecil yang berada di pinggir jalan raya. Dengan pasrah, veno menuruti permintaan dio untuk makan nasi padang di warung tersebut yang nampak biasa dan bukan rumah makan mewah ataupun ternama. “serius makan di sini?” ucap veno dengan ekspresi tak yakin. “udah lah ayo ven, jangan pilih – pilih!” ucap dio memarahi. Seperti seorang bocah, veno di digandeng masuk oleh dio masuk ke dalam rumah makan padang tersebut.
__ADS_1
“nasi padang 2 porsi dimakan sini buk!” ucap dio sambil tersenyum menatap si penjual nasi padang. Wanita paruh baya tersebut menatap dio cukup lama. “nak dio!” wanita tersebut mengenali bahwa pembelinya itu adalah dio. “pak, sini ada dio!, temannya rara dulu di SMP!” teriak wanita itu dengan suara yang cukup keras pada suaminya. “dio!” sahut pria paruh baya itu sambil menghampiri dio. “ya ampun dio, kamu sudah besar sekarang!, kenapa kamu lama gak main kesini!” ucap pria berambut putih itu dengan kegirangan. “biasanya dikit – dikit kamu kesini meskipun rara udah gak ada!, tapi udah beberapa lama dio gak main kesini, ibuk jadi kangen!” ucap perempuan tersebut sembari memeluk hangat tubuh dio, layaknya memeluk anaknya sendiri.
“andai rara masih ada, pasti dia sebesar kamu ya dio!” ucap perempuan paruh baya itu sembari mengelus lembut pundak dio. “hush!, gak baik bu bilang begitu!, rara sudah tenang di sana!” sahut pria berambut putih itu mengingatkan. Melihat adegan mengharukan di depannya, veno merasa kagum pada istrinya, ternyata tujuan utamanya bukan semata – mata hanya makan, namun di balik itu ia ingin mengunjungi kedua orang tua temannya yang telah tiada.
Sungguh semakin jatuh cinta veno terhadap dio saat ini. Begitu luluh hati veno, melihat istrinya yang tak hanya cantik rupawan, namun begitu mulia hatinya. “nak dio, yang ganteng ini siapa?” perempuan tersebut menatap penasaran ke arah veno. “oh, ini calon buk!” sahut dio dengan malu – malu. Mendengar jawaban dio, veno pun tersipu dan sedikit malu. “kenalkan, saya veno calonnya dio!” ucap veno dengan sopan. “ya ampun nak dio, kamu pinter banget milik laki – laki kerene begini. Kalian duduk dulu!, ibuk buatkan dulu nasi padangnya. Ucap perempuan itu sembari menyiapkan pesanan dio dan juga veno.
Dio dan veno begitu lahap memakan nasi padang yang ada di depannya saat ini. “gimana ven, enak kan?” dio berbisik lirih. “he’em!” sahut veno dengan mulut yang penuh. Ketika asyik makan, seorang gadis berpenampilan modis masuk ke dalam warung tersebut. “dio!” perempuan itu menyapa dio dengan tatapan sinis. “nada!” dio menyahut. “ternyata lu masih sering makan di sini ya?, pfft!” ucap nada dengan ekspresi mengejek. “emang di sini lu ngapain kalau gak makan?” sahut dio dengan acuh. “gua di sini mau pesen makan buat tukang sama kuli di rumah, ehmm!” nada menjawab dengan menatap remeh pada dio. “buk, nasi padang 15 bungkus!” ucap nada dengan suara yang cukup keras, seakan ingin dio mendengarnya.
__ADS_1
Menatap pria tampan di samping dio, nada pun penasaran “lu kesini sama siapa?” ucap nada sembari menatap penampilan veno dari atas ke bawah, dan dari bawah ke atas. “aneh, semua yang dipakai pria di samping dio semua barang mahal. Tapi kenapa mereka makan di tempat kayak gini?, apa jangan – jangan barang pria itu KW?, hahaha” ucap nada dalam batin, sembari terus menatap veno. “calon suami gua!” sahut dio dengan bangga. “ohhh!!” ucap nada meremehkan. “emang lu kesini sama siapa?, sendiri?” ucap dio dengan cuek. “gua sama cowok gua!, sebentar lagi cowok gua masuk kok!” nada menjawab dengan rasa percaya diri yang menjulang tinggi.