Pernikahan Siswi SMA Yang Rahasia

Pernikahan Siswi SMA Yang Rahasia
Mengunjungi Papa Dio


__ADS_3

Mobil yang veno kemudikan melewati gerbang dan berhenti di halaman, tepat lurus dengan pintu utama rumahnya. Dengan segera mereka berdua turun dari mobil dan masuk beriringan ke dalam rumah. Nampak dari luar gerbang, pria misterius yang mengikuti mobil veno sejak dari sekolah hingga sampai di rumah, terlihat terus mengarahkan kamera ponselnya pada dio dan juga veno secara diam – diam. Selesai mengambil gambar, pria misterius itu bergegas mengendarai motornya dan segera pergi dari kediaman veno.


Di rumah chika.


“papa..!, pa...!” chika merengek memanggil – manggil papanya dengan suara yang cukup keras “hmmm??” sahut Om Devan dengan berdehem santai. Chika menatap papanya sambil memberikan ekspresi sedih yang tergambar jelas pada raut wajahnya. “kenapa lagi?” sahut Om Devan dengan ekspresinya yang tetap santai. Seperti sudah menjadi kebiasaan bagi chika untuk mencari papanya saat ia sedang sedih ataupun marah. Pasalnya chika telah lama kehilangan kasih sayang ibunya, dan hanya memiliki papanya yang dengan senantiasa mendengar segala keluh kesahnya selama ini.


“pa, tadi aku ketemu kak veno!, tapi aku di cuekin pa!, huhuhu!” ucap chika sambil merengek. “huufff!!” Om Devan tak menjawab dan hanya menghembuskan nafas panjang seakan telah lelah mendengar curhatan anaknya yang lagi – lagi membahas pria yang itu – itu saja. “kayak gak ada cowok lain aja chik!” sahut Om Devan meremehkan. “enggak ada yang lebih cocok dari kak veno pa!” chika masih merengek. “papa kenalin sama anak temannya papa aja!” ucap Om Devan sembari berjalan menjauhi chika. “gak mau pa!” sahut chika dengan ketus. Tak menggubris keluhan anaknya, Om Devan tetap beranjak pergi meninggalkan chika.


Di ruang kerja Pak Rudi.


“bos, ini foto dan videonya!” ucap seorang pria sembari menyerahkan beberapa hasil cetak foto dan sebuah kaset berisi video. Dilihat sepintas, ternyata pria tersebutlah yang telah mengikuti dio dan veno dari sekolah hingga rumah. Sudah diketahui, bahwa tujuan utama pria tersebut tak lain hanyalah untuk mencari bukti atas hubungan mereka berdua, dan menyerahkannya pada Pak Rudi. “bagus, untuk sisa uangnya tunggu sebentar lagi bakal ditransfer!” ucap Pak Rudi sembari tersenyum puas.

__ADS_1


“ceklek!” istri Pak Rudi berjalan masuk menuju ruang kerja suaminya, dan mendekat sembari berkata “pa, apa ini memang cara terbaik?” ucap mama kevin dengan penuh kekhawatiran. “tenang ma, hanya dengan cara ini kevin bisa sembuh dari kegilaannya. Papa sudah capek berpura – pura cuek dan acuh tak acuh! apalagi mama tahu sendiri gimana gilanya dia kalau lagi kambuh!” ucap Pak Rudi sambil mengelus lembut pundak istrinya mencoba menenangkan. “iya pa!” sahut mama kevin mencoba tenang.


“brakk!” pintu kerja Pak Rudi terdorong dengan keras, hingga membuat suara bantingan yang cukup keras dan mengagetkan. “kevin!” mama kevin terperanjat kaget melihat kevin yang datang dengan mengepalkan kedua tangannya seakan ingin meninju. Raut wajah kevin nampak menakutkan, pertanda begitu tinggi emosi dalam hatinya saat ini. “apa maksudnya ngirim orang untuk mata – mata i dio!” ucap kevin dengan suara bernada tinggi. “hehehe, kamu sudah tau ya?” sahut Pak Rudi menimpali.


“vin, cukup!, papa cuma mau bantuin kamu!” sahut mama kevin menyela. “kalian lihat aja kalau sampai ada apa – apa dengan dio, aku gak bakalan ngelepasin orang yang bertanggung jawab di belakangnya!” ucap kevin dengan nada meninggi dan berjalan pergi meninggalkan kedua orang tuanya. Begitu tergila – gilanya kevin pada dio, hingga dengan terang – terangan menggertak kedua orang tuanya tanpa rasa sungkan.


...


Waktu silih berganti, hari dan bulan telah dilewati. Tak terasa telah enam bulan berlalu. “kriiiing!!” terdengar nyaring suara bel pertanda berakhirnya Ujian Nasional, disusul dengan pengumpulan lembar jawaban oleh pengawas. “huuuff, gua lega banget!, akhirnya Ujian Nasional udah selesai !” ucap indah dengan rasa lega. “gimana di, pasti soalnya biasa aja ya buat lu?” indah menambahkan. “ehm ya lumayan lah, hehehe!” sahut dio sembari meringis. “lumayan gampang?” indah menebak. Tak menjawab, dio pun hanya tersenyum menatap indah.


“kamu mau langsung pulang sayang?” ucap kevin yang dengan tiba – tiba menyela pembicaraan diantara dio dan indah. “he’em!” dio menyahut dengan berdehem sambil mengangguk. Seperti sudah biasa bagi dio mendengar kevin memanggilnya demikian. Pasalnya hampir setiap hari kevin memanggilnya dengan sebutan sayang, dan sudah sering dio ingatkan untuk tak memanggilnya dengan sebutan tersebut. Namun sampai bosan dio mengingatkan, kevin tetap tak menggubris dan terus memanggilnya dengan sebutan sayang. Apalagi sudah bukan lagi rahasia umum jika kevin merupakan siswa yang tergila – gila dengan dio, hingga hampir seluruh murid di kelas dio tak merasa kaget atau bingung melihat kevin yang selalu menemani dio.

__ADS_1


Dio, indah, dan kevin berjalan beriringan menuju gerbang sekolah. “guys, ayo kapan – kapan kita bikin parti kecil – kecilan!” ucap indah dengan bersemangat. “kelihatannya seru!, dimana tapi!” dio menyahuti. “emm dimana ya?, menurut lu dimana vin?” sahut indah. “apa di rumah gua aja?, tiga hari lagi ada pesta kecil – kecilan di rumah!” kevin mengusulkan. “wah, boleh – boleh!” dio dan indah nampak kegirangan. “ini kita langsung pulang kah? Gak main dulu?” indah bertanya dengan penasaran. “kalau aku nurut dio aja!” kevin menyahut. “maaf ya guys, hari ini gua mau jenguk papa di rumah sakit. Besok – besok kalau ada waktu, kita main..” belum selesai dio berkata, tiba - tiba “tiinn!” terdengar suara klakson mobil mengejutkan dio beserta teman – temannya.


Nampak mobil merah milik veno telah terparkir dengan veno di dalamnya. “gua udah dijemput guys, gua duluan ya!” dio berpamitan dan melambaikan tangannya pada indah dan kevin. “hati – hati sayang!” ucap kevin lirih. Mendengar ucapan kevin, dio dan indah kaget dan dengan spontan “plak!” indah menepuk pundak kevin untuk menyadarkan kevin untuk menjaga ucapannya. “vin, jangan bilang gitu dong!, nanti dio sama pacaranya bisa salah paham!” ucap indah dengan berbisik. Tak menjawab, kevin hanya tersenyum menatap dio.


Sesampainya di Rumah Sakit, dio yang begitu bersemangat berjalan dengan tergesa – gesa sembari bernyanyi menuju ruang perawatan papanya. “hati – hati kalau jalan!” ucap veno mengingatkan. “iya!” sahut dio sembari melanjutkan langkahnya yang masih tergesa – gesa. “dasar anak kecil!” ucap veno sambil tersenyum melihat tingkah istrinya yang masih ke kanak – kanakan.


Di ruang perawatan.


“pa, dio udah selesai Ujian Nasional loh!, tinggal nunggu pengumuman kelulusan aja. Jangan bilang – bilang ya pa, tadi soalnya gampang banget!, dijamin lulus deh, hehehe!. Dio sebentar lagi jadi mahasiswi dan bakal masuk kuliah jurusan Manajemen Bisnis. Tujuan utama dio sekarang buat ngambil semua hak keluarga kita pah!, papa cepet sehat ya!” dengan bersemangat dio bercerita mengenai kegiatan maupun tujuan hidupnya pada papanya. Penuh semangat dan ambisi, dio menahan matanya yang berkaca untuk tetap kuat dan tak meneteskan air mata yang terus mendesak keluar.


Di depan tubuh papanya yang hanya terbaring tanpa respon, dio terus berceloteh seakan papanya sedang duduk dan mendengarkan seluruh ceritanya . Namun kenyataannya, bahkan untuk membuka mata pun papanya tak mampu, apalagi untuk merespon cerita yang disampaikan dio. Melihat istrinya yang begitu tabah dan kuat, veno hanya termenung sembari mengepalkan kedua tangannya. Hatinya amat bergejolak, matanya ingin sekali menangis dan tak bisa dipungkiri jika saat ini veno sangat merasa terpukul. Mengingat kembali sebuah telefon masuk dari orang yang tak ia kenal dua hari yang lalu. Kata – katanya bagai belati yang menyayat hati maupun pikirannya.

__ADS_1


__ADS_2